Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
86. Aku sangat merindukannya


__ADS_3

Steven menghentikan langkahnya yang baru saja hendak masuk ke kantor polisi, lalu berbalik badan menatap Ajis yang tengah membeku. Dia datang ke kantor polisi itu dan meminta Ajis untuk datang juga.


"Kenapa malah berdiri di situ? Ayok masuk!" titahnya sambil menggerakkan kepala.


"Sa-saya takut, Pak," kata Ajis terbata. Dia mengenggam telapak tangannya sendiri yang terasa basah.


"Kenapa takut? Kamu akan jadi saksi nanti."


"Tapi kesaksian saya bohong, Pak. Kan nggak sesuai fakta."


"Itu sesuai fakta!" tegas Steven.


"Kalau misalkan saya yang dimasukkan ke penjara bagaimana?"


"Siapa yang mau memasukkanmu ke penjara? Itu nggak akan terjadi!" Steven mencengkeram kuat pergelangan salah satu tangan Ajis, lalu menariknya dan membawanya masuk ke dalam.


"Kalau saya kenapa-kenapa Bapak tanggung jawab, ya?" pinta Ajis dengan jantung yang tiba-tiba berdebar kala Steven sudah mengajaknya ke 'Ruang Keluhan'


"Iya!" jawab Steven tegas.


"Selamat malam Pak Steven, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang polisi yang bernama Hartono, dia polisi yang sama dengan saat Steven menonjok Udin.


"Aku ingin melaporkan seorang pria yang membawa kabur istriku!" tegas Steven sembari memberikan surat keterangan. Surat tersebut dia dapatkan oleh seorang pengacara yang sebelum datang ke sini sudah Steven sewa. Hanya saja pria itu tidak ikut.


Polisi yang bernama Hartono itu membaca selembar kertas yang Steven taruh di atas meja. Steven pun menarik kursi untuk duduk di depan dan Ajis juga melakukan hal yang sama.


"Saudara Gugun membawa istri Anda pergi dengan tuduhan ingin merebut istri Anda?" tanyanya yang memang benar, isi keterangan itu Steven buat kalau Gugun ingin merebut Citra darinya sampai nekat membawa kabur.


"Iya," jawab Steven dengan semangat.


"Oke, kejadiannya kemarin dan saudara Ajis menjadi saksi Gugun membawa pergi Nona Citra." Polisi itu kembali membaca isi kertas tersebut, lalu perlahan matanya menatap ke arah Ajis. "Coba Bapak ceritakan saat Pak Gugun membawa kabur Nona Citra."


Ajis menoleh ke arah Steven, wajah pria itu tampak menyeramkan sekali dan terus melototinya.


Sejujurnya Ajis tak mau ikut-ikutan dengan masalah Steven, tetapi bosnya itu mengancam kalau tidak menurut akan memecatnya. Berhubung dia sangat butuh uang dan gaji dari Steven terbilang cukup besar, jadi dia pasrah.

__ADS_1


"Pak," panggil polisi itu yang mana membuat Ajis terhenyak dan langsung melihat ke arahnya.


Ajis menelan ludahnya dengan kasar. "Maaf, Pak. Kejadiannya saya nggak tahu pasti. Hanya terakhir kali saya bertemu Nona Citra ... dia bilang ingin bertemu Pak Steven di rumah sakit. Lalu setelah itu dia bilang pulangnya akan diantar Pak Gugun," jelas Ajis dengan gugup.


"Kenapa Nona Citra minta dijemput oleh Pak Gugun? Dan ...." Polisi itu menoleh ke arah Steven. "Bapak ngapain ada di rumah sakit?"


"Jualan. Ya sakit lah, Pak. Bapak ini ngaco!" tukas Steven kesal.


Polisi itu mengangguk. "Lalu, hubungan diantara Nona Citra dan Pak Gugun itu apa? Dan apa Bapak tahu dia meminta jemput sama Pak Gugun?"


"Gugun adalah asisten almarhum Ayah mertuaku. Dia memang kenal dekat dengan Citra dan memang sering aku tugaskan untuk mengantar jemput Citra kalau aku sedang sibuk. Tapi aku nggak tahu kalau dia diam-diam malah suka sama Citra dan kemarin dia sampai nekat membawanya kabur!" geram Steven dengan kedua tangan yang mengepal kuat di atas meja.


"Oke baiklah. Perintah dari Bapak akan saya jalankan. Mulai besok saya akan meminta beberapa anggota untuk mencari keberadaan saudara Gugun."


"Kenapa harus besok? Sekarang saja!" tekan Steven.


"Ini sudah larut, Pak. Saya juga perlu mencetak foto Pak Gugun dulu untuk mempermudah pencarian."


"Tapi pokoknya besok Bapak harus giat mencari keberadaan Gugun dan membawa Citra kepadaku, ya! Awas saja kalau pekerjaan Bapak lelet! Aku akan memenjarakan Bapak!" ancam Steven sambil melolot.


Steven segera mengirimkan foto keduanya melalui chat. Foto Citra dia punya dari foto yang pernah Danu berikan, sedangkan foto Gugun dia ambil dari data yang ada di kantornya.


Setelah itu dia dan Ajis pamit.


*


*


Mobil yang ditunggangi Steven masih melaju dengan kecepatan sedang mengitari jalan raya ibu kota Jakarta. Hanya saja arah tujuannya tak jelas, Steven hanya meminta Jarwo untuk mengemudi.


Kini, pria tampan itu tengah menyandar di kursi mobil sembari menatap kaca jendela. Matanya memang menatap pemandangan sekitar, tetapi justru wajah Citra yang terus bergelayut dalam penglihatannya. Dia melihat gadis itu tengah tersenyum, tertawa, menangis dan sampai sedang mendessah di bawah tubuhnya.


Gadis itu begitu aktif dan sangat lincah dalam hal apa pun. Hampir semua yang dia lakukan selalu membuat Steven geleng-geleng kepala dan emosi. Tetapi sekarang, semua momen itu sepertinya sudah seketika hilang seketika. Yang tertinggal hanya rasa sedih di hati Steven. Sedih karena dia tak berhasil bertemu dengan Citra dan gadis itu juga mengatakan kalau tak bisa tinggal lagi bersamanya.


"Kamu ke mana, Cit? Kok kamu malah pergi dengan Gugun? Harusnya kamu jangan pergi dulu. Aku akan menjelaskan semuanya, kamu hanya salah paham," gumam Steven bicara sendiri. Pelan-pelan dia pun membuang napasnya kasar sembari memijat dahinya. Kepalanya terasa pusing sekali. "Nggak ada Fira di hatiku, Cit. Dan katanya kita akan selalu bersama selamanya. Tapi kenapa sekarang justru kamu yang meninggalkanku?"

__ADS_1


Bola mata Steven berkaca-kaca dan perlahan buliran air matanya terjatuh, mengalir membasahi pipinya. Namun cepat-cepat dia mengusap kasar wajahnya. "Katanya kamu cinta padaku? Namanya cinta nggak akan meninggalkan! Tapi kamu malah pergi! Aaakkkkhhh!" teriak Steven dengan penuh emosi. Dia merasa begitu frustasi dengan keadaannya saat ini.


Sontak—Jarwo yang tengah menyetir sambil menahan rasa kantuk seketika terperanjat kala mendengar suara bariton Steven. Bola matanya ikut melebar sempurna. Dia pun segera mengerem mobilnya di sini jalan raya.


"Kenapa berhenti?" tanya Steven sambil mengatur napasnya naik turun.


"Pak, maaf banget. Saya ngantuk sekali. Saya ingin cuci muka dan minum obat dulu sebentar, boleh nggak? Takutnya bahaya kalau dipaksakan," pinta Jarwo sambil menguap.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama."


"Iya." Jarwo mengangguk cepat. Lantas dia pun turun dari mobil.


Steven melihat ke mana Jorwo pergi, pria berbadan besar itu masuk ke dalam gerbang masjid dan kebetulan mobilnya berhenti tepat di depan masjid yang cukup besar.


Mendadak, Steven mengingat ucapan Harun yang menyarankannya untuk sholat istikharah. Mungkin selain bisa memantapkan hati, Steven juga bisa menemukan di mana Citra berada—pikirnya


Pria tampan itu lantas menatap arloji pada pergelangan tangannya. Di sana menunjukkan pukul setengah 2. Sepertinya waktunya sangat pas untuk melaksanakan sholat Sunnah dua rakaat itu.


Dia pun segera turun dari mobil, kemudian berjalan masuk ke dalam masjid itu.


*


Usai melaksanakan sholat, Steven pun lantas memanjatkan do'a dengan telapak tangan yang terbuka.


Perlahan dia pun membuang napasnya, lalu berkata, "Ya Allah ... tolong jangan buat hatiku bimbang. Tolong tentukan dimana hatiku berlabuh. Apa kepada Citra atau Fira. Fira adalah wanita idamanku, sedangkan Citra bukan. Tapi ... aku nggak rela berpisah dengannya. Aku nggak rela melihat Citra bersama orang lain. Yang aku inginkan dia terus bersamaku. Dan aku minta ... tolong pertemukan aku dengan Citra. Ya Allah ... jujur, saat ini aku sangat merindukannya."



...Ayok aminkan Gays, kalau kalian masih dukung Citra balik sama Om Ganteng. Dikabulin atau nggaknya itu urusan nanti 😁...


3x up ya Gays, tapi dijam berbeda. Nggak usah nanya kenapa, karena sengaja 🤭


Jangan lupa beri dukungan, ya! Nggak boleh pelit, nanti aku pelitin balik🤣


like, komen, vote dan hadiahnya lemparkan semau kalian. Terima kasih 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2