
"Ngidam itu kalau kita kepengan makan sesuatu, Cit. Itu ngidam namanya," kata Steven.
"Kata Mama ngidam itu keinginan, bukan tentang makan, Om."
"Tapi masalah aku sibuk, kamu jangan ikut ke kantor." Steven bersikukuh tak mengizinkan. "Oh, kalau nggak besok saja."
"Besok 'kan aku kuliah."
"Pulang kuliah. Nanti pas pulang langsung ke kantorku." Dia mengusap rambut kepala Citra, berusaha membujuk. Akan tetapi istrinya itu malah melepaskan pelukan dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Dia merengut kesal, tangannya terlipat di atas dada.
"Dih, jangan marah dong, Cit." Steven melingkari perut Citra, kemudian mencium rambutnya.
"Orang aku kepengen ikutnya sekarang kok, bukan besok." Mata Citra tampak berkaca-kaca, sedih sekali rasanya. Perlahan dia pun mengelus punggung tangan Steven dengan lembut. "Katanya Om cinta sama aku dan mau membahagiakan aku. Tapi masa cuma ikut ke kantor saja nggak boleh?"
"Lagian 'kan aku nggak bakal gangguin Om. Aku janji," imbuh Citra. Masih berusaha merayu.
Steven menghela napasnya dengan berat. 'Bukan masalah nggak bakal ganggu, tapi aku sendiri yang takut keganggu. Nanti nggak fokus.'
"Kalau kekeh nggak boleh juga, Om aku sapih ah. Nggak boleh nyusu," ancam Citra seraya menyentuh kedua dada. "Ini buat anak kita saja."
"Enak saja!" protes Steven. Kalau sudah berbicara tentang aset favorit, Steven menyerah. Dia kalah. "Ini buatku, hanya untukku seorang." Steven perlahan ikut merabanya, meremmas dengan lembut dan seketika si Elang tegak berdiri.
"Tapi 'kan orang melahirkan harus menyusui, Om."
"Bapaknya saja yang disusui, nanti anak kita minumnya susu formula."
"Mana bisa begitu. ASI itu 'kan buat bayi. Dan ASI jauh lebih bagus daripada susu formula. Aku pernah baca dibuku, Om."
"Terus kenapa? Kan kata kamu aku bayimu."
"Iya sih, tapi bagi-bagilah Om. Kan sama anak sendiri." Citra mengusap perut ratanya.
"Iya, nanti aku bagi kalau aku sudah kenyang."
"Jadi aku boleh ikut ke kantor nggak, nih?"
"Boleh."
"Asik!" Citra tersenyum girang. Akhirnya Steven luluh juga, tidak sia-sia Citra mengancamnya.
*
*
"Selama aku meeting ... kamu jangan kemana-mana, di ruanganku saja. Nanti kalau butuh apa-apa bilang sama Pak Jarwo." Steven mengelus punggung Citra, wajah istrinya itu tampak berseri. Sepertinya dia benar-benar senang ikut ke kantor.
Ketiganya tengah berdiri di depan pintu ruang CEO.
"Iya." Citra mengangguk patuh. Steven segera mengecup bibirnya sekilas.
"Aku titip Citra, Pak," pinta Steven pada Jarwo yang berada di samping. Pria itu mengangguk cepat.
Setelahnya—Steven bergegas melangkah menuju ruang rapat, lalu masuk ke dalam sana.
Ceklek~
"Selamat pagi Pak Steven," sapa mereka semua yang ada di sana.
__ADS_1
Ada 8 orang termasuk Dika, namun seketika matanya membulat kala melihat seseorang yang berada di kursi paling ujung. Sebab dia adalah Gugun.
Semenjak pertengkaran di antara keduanya, mungkin baru sekarang takdir menemukan mereka lagi.
"Pagi juga." Steven tersenyum tipis, kemudian melangkah menuju kursinya dan duduk. Dika menghampiri dan memberikan proposal di atas meja. "Eh, Dika, kok si Kumis Lele ikut meeting, sih?" tanyanya berbisik.
"Kumis Lele siapa, Pak?" Kening Dika mengerenyit.
"Gugun."
"Oh, ya memang dia ikut. Memang Bapak lupa? Kan sudah jadwalnya."
Steven menatap sengit Gugun, namun pria berkumis tipis itu tengah sibuk menatap laptopnya.
'Jangan sampai Citra ketemu dengannya, apalagi saling sapa. Nggak ikhlas aku,' batin Steven.
"Apa bisa dimulai sekarang meetingnya, Pak?" tanya Dika.
"Bisa, tapi di mana ...." Steven menatap sekeliling orang-orang di sana, mencari keberadaan sekertaris yang tak terlihat batang hidungnya. "Si Arif mana? Belum datang?"
"Si Arif hari ini izin nggak masuk, Pak."
"Baru sehari kerja sekarang sudah bolos? Cih!" Steven berdecih. "Nggak mencerminkan karyawan teladan."
"Tapi dia bilang sakit sama saya."
"Sakit apa?"
"Bokongnya kena bisul, dia sampai nggak bisa duduk katanya."
"Bisul penyakit, itu darah kotor namanya!" tukas Steven marah. Sejujurnya dia kesal lantaran ada Gugun, tapi entah mengapa jadi meluap lantaran Arif tak datang. "Lagian orang kena bisul itu termasuk orang jorok, kok bisa Kak Sofyan memberikanku sekertaris jorok? Mana gemulai lagi."
"Ah bersih darimana. Sama saja kamu jorok."
"Memangnya Bapak belum pernah kena bisul?"
"Ya belum, bahkan nggak akan. Masa orang ganteng—"
"Om maaf," sela Rizky cepat. Dia sejak tadi duduk di samping Steven. "Kok jadi bahas bisul? Itu nggak ada di meeting yang mau kita basah, Om."
"Ah iya, maaf, Riz." Steven mengusap kasar wajahnya, lalu langsung berdiri. Dia pun memimpin rapat tersebut.
***
"Pa! Aku dikeluarkan dari kampus!" seru Udin yang baru saja pulang ke rumah dengan membawa deraian air mata. Tapi bukan air matanya saja yang mengalir, ingusnya pun ikut-ikutan.
"Dikeluarkan? Kenapa?" tanya Yanti. Dia yang berada di dapur langsung berlari menghampiri Udin. Kemudian mengusap wajah basah Udin dengan serbet yang dia bawa. Padahal serbet itu bekas mengelap kompor.
"Katanya aku menganggu anak kampus, padahal aku nggak ganggu siapa-siapa, Ma." Udin sesenggukan. "Dan Pak Dekan juga malah ngatain aku bau ketek."
"Tapi 'kan kamu memang bau ketek, sama kaya Bapakmu," ungkap Yanti jujur.
Mungkin hanya dia seorang yang tidak bau ketek di rumah itu. Akan tetapi, Yanti sudah terbiasa mencium aroma itu. Dia anggap sebagai pengharum ruangan.
Dia pernah menegur keduanya, tentang aroma tubuh. Namun mereka menampik hal tersebut, mereka beranggapan kalau mereka tak bau badan.
"Enak saja! Aku wangi!" protes Udin tak terima. Kepalanya pun menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari seseorang. "Di mana Papa, Ma?"
"Dia sudah berangkat ke pabrik."
__ADS_1
Udin langsung berlari keluar, kemudian mengendarai motornya dengan menggunakan helm. Dia hendak pergi ke tempat kerja Sugiono, mengadu akan masalah yang telah terjadi.
***
Siang hari di jam istirahat.
Adam yang tengah menyantap menu makan siang di dalam ruangannya itu langsung menghentikan aktivitasnya sejenak kala terdengar suara ponselnya berdering. Setelah dilihat ternyata dari Steven, segera dia pun mengangkatnya.
"Siang Pak Adam, maaf menganggu," ucap Steven dengan sopan.
"Siang juga, Stev. Ada apa?"
"Bagaimana si Udin? Jadi 'kan Bapak keluarkan dia?"
"Jadi. Bapak sudah keluarkan dia tadi pagi."
"Bagus. Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Panggilan Steven terputus. Namun, tak berselang lama ponselnya kembali berdering. Panggilan masuk itu dari satpam kampus. Adam lantas mengangkatnya.
"Pak Adam. Aduh gawat, Pak!" serunya dari seberang sana. Suara satpam itu terdengar terengah-engah.
"Gawat kenapa?" Kening Adam mengerenyit.
"Pak Sugiono, Bapaknya Udin Jamaluddin ngamuk di halaman kampus. Dia minta untuk bertemu Bapak, padahal saya larang."
Sebetulnya boleh siapa saja bertemu dengan Dekan. Namun terkecuali dijam istirahat. Adam juga sekarang tengah makan.
"Kenapa ngamuk?"
"Katanya dia nggak terima sama Bapak anaknya dikeluarkan karena bau ketek."
Adam berdecak. "Dia datang sama Udin?"
"Iya."
"Ya sudah, izinkan dia ke ruanganku. Tapi kamu juga ikut." Adam tak ambil resiko, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Namanya orang emosi.
"Tapi dia sangat bau, Pak."
"Bau apa?"
"Ketek, sudah begitu nggak pakai baju."
"Ke mana bajunya?"
"Nggak tahu, dia datang memang nggak pakai baju."
"Tapi celana pakai?"
"Pakai, kolor merah."
"Ya sudah, biarkan saja dia ke sini."
"Baik."
'Ah, lagi enak-enak makan ada aja yang ganggu. Ditunda dulu deh,' batin Adam seraya menutup panggilan.
__ADS_1
...Harusnya makannya dihabisin dulu, Pak, takutnya habis ini Bapak nggak nafsu makan 🤣...