Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
254. Buah cinta kita


__ADS_3

"Oe ... Oe ... Oe." Terdengar tangis bayi kedua pecah, tandanya mereka berdua sudah lahir ke dunia.


"Alhamdulillah, bayinya semua selamat dan sempurna," ucap Dokter itu penuh syukur. Kemudian segera membawa bayi itu pergi untuk segera dimandikan.


"Apa pun jenis kelamin anak kita, tolong berikan nama Ayah di ditengahnya, A," pinta Citra lemah seraya mengenggam tangan Steven.


"Iya, Sayang." Steven mengangguk. Dia lantas mengecup bibir Citra lalu mengusap seluruh keringat di wajah istrinya. "Aku nggak menyangka, kamu adalah wanita yang sangat hebat. Terima kasih telah melahirkan buah cinta kita, Sayang."


Citra mengangguk, lalu mengulas senyum. Tak lama suster datang menghampiri Steven.


"Bapak silahkan ke ruangan bayi untuk mengadzani anak Bapak. Nona Citra akan diperiksa dulu sebelum dipindahkan ke kamar inap," ucap Suster.


"Iya." Steven mengangguk. Dia kembali mengecup Citra, tetapi seluruh wajahnya. Setelah itu dia pun melangkah keluar dari sana.


Ceklek~


Diluar, keluarganya itu sudah berdiri di hadapannya. Apalagi Angga, pria itu langsung menangkup kedua pipi Steven dengan wajah penasaran.


"Bagaimana si Kembar dan Citra? Mereka semua selamat 'kan, Stev?" tanya Angga.


"Si kembar jenis kelaminnya apa, Stev?" tanya Sindi.


"Semuanya normal 'kan, Stev?" tanya Tian. "Citra melahirkan secara normal, kan?"


"Mereka mirip siapa? Apa Kakak?" tanya Sofyan.


"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya belum?" tanya Nissa. "Mau Mbak kasih saran?"


"Wajah Om kenapa? Kok merah dan bibir Om monyong?" Berbeda dengan yang lain yang bertanya tentang Citra dan bayinya. Juna justru gagal fokus pada keadaan Steven.


Wajah tampannya itu tampak merah, rambutnya pun acak-acakan dan terlihat ada pitak di bagian depan. Ternyata memang benar, tarikan Citra membuat rambut Steven rontok. Juga bibirnya agak monyong akibat diremmas.


Bukannya menjawab, Steven justru melangkah berlalu pergi begitu saja. Angga yang melihatnya langsung berlari mengejar, begitu pun dengan Juna.


"Mau kemana kamu, Stev?" tanya Angga seraya mencekal pergelangan tangan Steven.


"Aku mau mandi dulu, habis itu mau mengadzani kedua anakku, Pa." Steven menoleh.


"Nggak usah mandi, ambil air wudhu saja. Tapi nanti Papa ikut melihatnya, ya?" pinta Angga.


"Juna juga mau ikut, Opa," pinta Juna seraya mengenggam tangan Angga. "Juna mau lihat Dedek kembar."

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu, sebentar. Kalian boleh ikut, tapi jangan berisik."


"Memangnya si kembar ada di—" Ucapan Angga mengantung kala anaknya itu sudah berlari pergi menuju toilet.


"Mama juga mau lihat dong, Pa," pinta Sindi seraya mendekat.


"Giliran saja, Ma. Nanti si Steven marah. Kan Mama tahu, orang tuanya galak," jawab Angga.


"Nanti Mama lihatnya bareng aku dan Tian saja." Nissa menimpali.


"Ya sudah deh," jawab Sindi dengan lesu.


***


Seusai mandi wajib karena tadi sempat berhadas besar, Steven yang sudah berganti pakaian pun kini melangkah masuk ke dalam ruangan bayi.


Angga yang tengah mengandeng tangan Juna mengikuti langkahnya dari belakang. Sampai mereka pun berhenti di sebuah boxs yang cukup besar, bertuliskan,


...'Boy twins Mr. Steven And Mrs. Citra'...


Dari tulisan saja mereka dapat mengetahui jika kedua bayi itu kembar laki-laki.


Mata Steven langsung berbinar bahagia, kedua bayi itu tampak sangat tampan dan putih. Wajahnya kombinasi antara dia dan Angga. Ah tapi, wajah mereka 'kan sama juga.


Namun, hidung keduanya yang mancung itu sangat mirip Citra.


Mereka berbungkus kain bedong rumah rumah sakit berwarna biru awan. Juga dengan kopi kumpul. Keduanya itu tampak anteng tertidur lelap.


"Ganteng banget mereka, Stev, mirip Papa," ujar Angga. Dia hendak meraih salah satu dari mereka, tetapi dengan cepat ditepis oleh Steven.


"Mereka mirip aku, Pa!" tegas Steven pelan. "Aku mau adzanin mereka dulu." Perlahan, Steven pun meraih salah satu dari mereka, lalu mengecup seluruh wajahnya dan setelah itu mengumandangkan adzan ke telinga sebelah kanan.


Juna berjinjit dan mengangkat kedua tangannya ke atas, meminta Angga untuk menggendongnya sebab dia tidak melihat sepupu kembarnya itu dengan jelas.


Angga langsung menggendong Juna, dan lantas bocah itu tersenyum memandangi wajah si kembar. "Opa, kok Dedek kembar mirip Om Steven, bukan mirip Juna?" tanyanya sedih seraya berbisik ke telinga kanan Angga.


"Mereka 'kan anaknya Om Steven, jadi wajar kalau mirip."


"Tapi 'kan Om Steven juga mirip Opa. Berarti Dedek bayi juga mirip Opa. Tapi kok ... Juna nggak mirip Opa?" Juna merengut lesu. Dia sendiri memanglah tidak mirip Angga kalau dari wajah, dia mirip dengan Papinya. Tetapi percayalah, sifat dan sikapnya lebih mirip Angga.


"Kamu mirip Opa, kata siapa nggak mirip?"

__ADS_1


"Bu Gisel yang bilang."


"Dia berbohong."


Setelah Steven selesai mengadzani kedua bayinya, Angga pun menurunkan Juna sebab dia ingin mengendong bayi yang satunya. Segera, dia pun mengecupi seluruh wajahnya.


Juna yang melihatnya pun langsung ingin ikut menciumnya.


"Jangan banyak-banyak ciumnya, nanti bau iler." Baru saja Steven menegurnya. Tetapi sontak kedua matanya itu melotot lantaran Juna tengah menjilati pipi kiri sang bayi. Cepat-cepat Steven mendorong tubuh Juna supaya menghentikan aksinya, lalu mengusap pipi anaknya. "Kamu gila, ya, Jun? Kenapa kamu menjilatinya? kamu kira dia es krim?" bentaknya marah.


Suara Steven yang menggelegar itu sontak membangunkan para bayi yang ada di sana. Semuanya menangis bersamaan.


Seorang suster yang sejak tadi berada diluar menunggu mereka kini masuk. Kemudian berlari menghampiri mereka. Dia pun lantas mengusir ketiganya untuk keluar.


"Kamu sih gara-garanya, Om 'kan belum puas lihat anak Om. Jadi kita diusir!" omel Steven dengan tatapan sengit pada Juna. Bocah itu tampak cemberut mengandeng tangan Angga. Rencana ingin sekalian memberikan nama pun jadi ditunda. "Papa juga, si Juna jilatin anakku didiemin? Kasihan dia, nanti mual bagaimana?" celotehnya marah.


Dia, Angga dan Juna kini tengah melangkah menuju ruang bersalin. Menghampiri keluarganya.


"Papa juga nggak tahu si Juna jilatin anakmu, Stev," jawab Angga jujur.


"Om nggak usah lebay kenapa, sih?" ketus Juna yang tampak tak menyukai sikap Steven yang menurutnya berlebihan. Apa yang dia lakukan tadi bentuk dari rasa gemasnya, karena lucu melihat bayi kembar itu. "Dia nggak mungkin mual, napas Juna 'kan wangi, nggak bau pete kaya Opa."


"Papa juga jilatin anakku tadi?" Steven menatap tajam Angga dengan penuh curiga. Pria tua itu langsung menggeleng cepat.


"Enak saja, nggaklah."


"Awas saja kalau kalian jilatin anakku!" ancamnya sambil melotot.


"Ah pelit Om Steven, mentang-mentang punya anak. Nanti kalau Mami punya anak lagi, Om Steven nggak boleh menciuminya!" Juna mencebik bibirnya sambil bersedekap.


"Nggak masalah, lagian itu masih lama."


"Masih lama apanya? Om Tian sama Mami mau menikah besok," ucapnya asal.


Steven sontak menghentikan langkahnya, dan membulatkan matanya dengan lebar. "Apa katamu? Menikah besok?"


"Kamu jangan ngarang, Jun." Angga menyahut. "Masa besok, itu terlalu cepat."


Juna langsung melambaikan tangannya ke arah Tian yang berada di depannya. Sedang duduk bersama Nissa dan Sindi. Pria itu lantas berdiri dan berlari menghampiri.


"Ayok minta restu sama Om Steven sekarang, Om," pinta Juna seraya meraih tangan kiri Tian dan menggenggamnya dengan erat. Menurutnya, ini adalah momen yang tepat.

__ADS_1


Tian langsung menelan ludahnya dengan kasar, lalu menatap ke arah Steven yang sama-sama menatapnya.


...Maaf telat up🙈...


__ADS_2