Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
335. Gagal menjadi anak bungsu


__ADS_3

"Ma ... ayok kita ...." Ucapan Dono terhenti di dalam kamar yang baru saja dia buka pintunya. Dia melihat sang istri tengah terlelap dari tidurnya. Akan tetapi Silvi yang berada di samping tidak tidur.


Bayi mungil itu lantas menoleh ke arahnya, kemudian tersenyum dengan kedua tangan yang bergerak-gerak.


"Anak Papa kok nggak pakai baju? Kenapa, Sayang? Apa gerah, ya?" tebak Dono sambil tersenyum. Kakinya melangkah mendekati kasur, lalu meraih tubuh kecil Silvi dan langsung mencium pipi. Semerbak aroma kecut bayi dia hirup, akan tetapi bukan bau yang dia rasakan, melainkan harum. "Wangi banget kamu, Sayang, ternyata belum mandi, ya? Mandi dulu sama Papa mau?"


"Ah Pa!" Della seketika mengerjapkan matanya akibat kaget, sebab meraba kasur yang tak ada Silvi di sampingnya. Dono yang baru saja hendak keluar kamar langsung terhenti, lalu menoleh. "Silvi mau dibawa ke mana, Pa? Jangan diserahkan sama Pak Tian, dia anak kita!" tegasnya.


Della bergegas bangun, lalu berlari dan merebut Silvi dari gendongan Dono.


"Papa mau mandiin Silvi tadinya. Kalau begitu Mama saja yang mandiin, nanti kita ngobrol," ucap Dono.


"Papa jangan serahkan Silvi ke Pak Tian, Mama nggak mau." Della menggeleng cepat.


"Nggak kok. Silvi akan tetap di sini sama kita. Sekarang Mama mandiin dia, kasihan Silvi dari pagi belum mandi. Pasti dia kegerahan." Dono mengusap keringat pada dahi anaknya. Lalu mencium kening.


"Iya." Della mengangguk sambil menghela napasnya dengan lega, kemudian melangkah menuju dapur.


Dono pun melangkah ke arah kasur, lalu duduk sambil menyandarkan punggungnya pada dipan ranjang.


Selang 20 menit, Della pun kembali dengan Silvi yang sudah dimandikan. Bayi cantik itu memakai handuk dan tampak girang sekali dia, tangan dan kakinya sampai tak bisa diam.


"Papa pilihin baju buat Silvi ya, Ma," ucap Dono seraya membuka lemari plastik, lalu mengambil sebuah kaos labasan berwarna merah bunga-bunga. Popok, celana dallam dan juga kaos ku*tang.


Della membaringkan tubuh Silvi yang sudah dikeringkan oleh handuk. Segera, dia mengambil tas bayi. Isinya ada perlengkapan bayi dari mulai bedak, minyak angin, minyak rambut dan lain-lain. Kebetulan produk itu adalah produk yang dibelikan oleh Juna kemarin.


"Oh ya, Ma. Habis Silvi memakai baju ... Mama siap-siap ganti pakaian. Kita akan ke rumah sakit," ucap Dono lalu menaruh apa yang sudah diambil di atas kasur, dia juga membantu sang istri yang tengah memakaikan pakaian kepada Silvi.


"Ke rumah sakit mau apa, Pa? Apa mau melakukan tes DNA?" tebak Della, lalu dia pun menggeleng cepat. "Mama nggak mau, kan Mama sudah bilang kalau Silvi itu anak kita. Pak Tian atau siapa pun nggak boleh mengambilnya!" tegasnya yang tiba-tiba marah.


"Mama tenang dulu." Dono mengusap dada istrinya yang tampak naik turun. "Pak Tian hanya melakukan tes DNA saja, untuk mengetahui kalau Silvi benar-benar anaknya atau bukan. Tapi dia nggak akan mengambil Silvi dari kita."

__ADS_1


"Dia pasti bohong, Pa. Mama nggak percaya."


"Pak Tian akan membuat kesepakatan sama Papa, dan kita sama sekali nggak dirugikan. Mama tenang saja dan Papa yakin ... Pak Tian nggak mungkin berbohong. Nanti Papa bisa laporkan dia ke Pak Angga, kalau dia berbohong. Dia kan menantunya."


"Kesepakatan apa itu? Papa jangan asal terima-terima saja dong. Bisa saja dia menipu kita."


"Kita nggak boleh su'uzan." Dono mengusap puncak rambut istrinya, lalu mengecup kening dan juga pipi kanannya. Dia masih berbicara lembut dan mencoba membujuk. "Pak Tian bilang ... kita bisa merawat Sisil dengan batas sampai kita punya anak, Ma."


"Punya anak?!" Kening Della tampak mengernyit. "Mana bisa, kan Mama mandul, Pa."


"Mama jangan bicara seperti itu. Papa yakin ... Mama bisa hamil dan melahirkan dengan selamat." Tangan Dono kini beralih mengusap perut rata istrinya. "Pak Tian juga bilang ... kalau dia akan mencarikan dokter spesialis kandungan yang paling bagus di kota ini untuk Mama. Sampai Mama hamil dan Pak Tian yang tanggung semua biayanya."


"Bukannya kita sudah sering ke dokter kandungan, ya? Gonta-ganti, tapi hasilnya nihil." Raut wajah Della seketika menjadi sendu.


Sedih sekali rasanya kalau mengingat dia divonis susah untuk memiliki keturunan. Tentu dia juga ingin seperti wanita lain, bisa hamil, melahirkan dan menyusui. Hanya saja Allah belum berkehendak sampai sekarang.


"Nggak ada salahnya kita coba lagi, Ma. Di dunia ini 'kan nggak ada yang nggak mungkin. Kita harus ikhtiar dan berusaha. Papa yakin ... masih ada kesempatan untuk kita memiliki keturunan," ucap Dono lembut. Dia langsung menangkup kedua pipi istrinya dan mengecup singkat bibirnya. Dilihat Della tengah terbengong, dia seperti memikirkan sesuatu.


Capek karena berulang kali gagal dan ujungnya dia frustasi.


"Iya. Ini yang terakhir." Dono perlahan memeluk tubuh Della dan tak lama wanita itu menangis dalam pelukannya.


Dia mengerti, kalau sudah berbicara tentang hamil dan anak, Della paling sensitif. Apalagi jika ada orang lain yang mengatakan jika dirinya mandul.


Setelah membujuk dan memberikan pemahaman, akhirnya Della menurut juga dan mengizinkan Silvi untuk melakukan tes DNA.


Namun, dia dan Dono ikut mengantar. Untuk mengawasi sebab masih khawatir kalau sampai Tian membohonginya.


Tian hanya tersenyum di kursi kemudi, sambil menatap Della dan Silvi di kursi belakang pada kaca depan. Terlihat jelas jika Della begitu menyayangi Silvi. 'Ayah harusnya senang 'kan, Nak, meskipun Ibu kandungmu nggak menyayangimu ... ternyata ada Ibu angkat yang begitu menyayangimu. Ayah berharap ... Mami tirimu juga bisa menyayangimu juga. Kamu harus mendapatkan cinta dari orang banyak. Dan kamu pantas bahagia.'


***

__ADS_1


Di rumah sakit.


Citra dan Sindi berada di dalam toilet, yang letaknya di dalam ruang kandungan. Citra membantu Sindi yang tengah buang air kecil sambil melakukan pengecekan lewat tespeck. Dia menemani lantaran khawatir jika sang mertua jatuh. Sindi juga sejak tadi masih muntah-muntah.


"Cit, Mama kok deg-degan sama hasilnya, ya?" ucap Sindi saat memasukkan ujung benda yang sejak tadi dia pegang pada air kencingnya, yang sudah ditampung sebelumnya pada mangkuk kecil. Jantungnya yang berdebar kencang itu sampai bisa didengar oleh Citra.


"Deg-degan kenapa? Santai saja, Ma," ucap Citra sambil tersenyum.


"Mama takut kalau Mama beneran hamil, Cit."


"Lho, ngapain takut? Mama 'kan punya suami."


"Bukan masalah punya suami, Cit. Tapi 'kan Mama sudah tua. Dan Mama juga maunya—"


"Wah, alhamdulilah!" seru Citra yang memotong ucapan Sindi. Lantas mengambil tespeck di tangan sang mertua yang terlihat jelas ada garis dua. "Mama hamil, Aa Ganteng dan aku punya adik!"


Gadis itu tampak girang sekali, berbeda dengan Sindi yang raut wajahnya langsung memucat.


Dia lantas melangkah keluar dari toilet lebih dulu. Kemudian berlari keluar dari ruangan itu untuk menghampiri Angga dan Steven.


Mereka berdua sejak tadi menunggu dan pas sampai rumah sakit Steven langsung menghubungi Angga, memintanya untuk datang ke ruangan dokter kandungan. Akan tetapi, pria tua itu belum diberitahu alasannya dengan jelas.


"Aa Ganteng, ternyata garis dua," ucap Citra seraya mengulurkan benda itu ke arah Steven. Pria berlesung pipi itu sontak membulatkan matanya dengan lebar.


"Lho, kamu hamil lagi, Dek?" tanya Angga yang tak tahu apa-apa. Asal menebak saja dia.


"Bukan Citra yang hamil!" sahut Steven. Nada suaranya terdengar begitu tinggi dan dia tampak kecewa melihat hasilnya.


"Terus siapa?" Angga menatap Steven dengan alis mata yang bertaut. Dia keheranan.


"Mama!" jawabnya marah. "Papa tega banget sama aku. Masa aku punya adik?! Umurku 'kan sudah tua, Pa!" berang Steven dengan emosi yang mendidih. Hatinya terasa sakit sekali, sebab gagal menjadi anak bungsu.

__ADS_1


...Wah Opa, pro banget, ya 😆padahal udah ber'uban banyak dan punya cicit pula🤣...


__ADS_2