Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
105. Pasti rasanya sangat mengigit


__ADS_3

"Memang mau ngapain kamu berduaan dengan Citra? Kalian belum muhrim dan Citra masih pingsan, Stev. Jangan aneh-aneh kamu!" kata Sindi dengan mata yang sedikit melolot.


"Aku nggak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku bisa membuat dia sadar dan kalau sudah sadar ... aku mau bicara dengan dia, Ma. Menyelesaikan masalah, supaya kita nggak bertengkar lagi."


"Cara buat dia sadar apa, Stev? Dan coba kamu turun deh. Itu Citra ketindihan." Sindi menarik lengan Steven, supaya anaknya itu turun dari tubuh Citra. Terlalu intim rasanya, tak enak dipandang.


Dengan penuh keterpaksaan Steven menurut, padahal aslinya posisi seperti itu sangatlah enak. Miliknya sempat menempel pada salah satu paha Citra.


Kini Steven duduk di samping Sindi. "Ada, tapi Mama nggak boleh lihat."


"Kenapa memangnya?"


"Pokoknya nggak boleh, rahasia. Sekarang Mama keluar dulu deh, aku dan Citra juga butuh waktu berdua. Mama mau memangnya Citra marah lagi sama aku? Nggak, kan?" Steven rasanya sudah sangat tak sabar ingin melihat Sindi pergi. Birahi di dalam dadanya sudah mulai memuncak dan dia ingin cepat-cepat menyalurkannya.


"Tapi kamu jangan berbuat macam-macam, ya! Apa lagi melecehkannya. Meskipun cinta juga harus tahu aturan, kecuali kalian sudah menikah," tegur Sindi sembari menatap Steven dengan serius.


"Iya, iya. Aku mengerti masalah itu." Steven mengangguk cepat.


Sindi berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Belum sempat keluar, dia pun berbalik. Dilihat Steven tengah membuka kancing kemeja atasnya.


"Katanya nggak berbuat macam-macam? Kok lepas kemeja?"

__ADS_1


Pertanyaan Sindi sukses membuat Steven terperanjat dan cepat-cepat mengancingi kemejanya lagi. Dia sempat mengira kalau Sindi sudah keluar dan menutup pintu.


"Tadi ada semut di dadaku. Aku cuma mau ngambil kok," elak Steven sambil tersenyum canggung menatap Sindi. "Mama sekarang keluar deh, Mama kayak nggak pernah muda saja. Orang pacaran 'kan nggak boleh diganggu."


"Jadi mau pacaran kamu, bukan menyelesaikan masalah?"


"Ya menyelesaikan masalah dulu baru pacaran. Sudah Mama keluar, dih!" Steven berdecih kesal. Kedua tangannya sudah mengepal di atas paha.


"Iya, iya, Mama keluar. Tapi kamu jangan sampai tidur sekamar, ya? Kalau sudah ngantuk pindah ke kamar tamu. Dan besok Mama mau ngobrol sama Citra."


"Iya, tapi Mama jangan bilang sama Papa dulu kalau Citra sudah ketemu. Nanti dia kesini mengangguku."


Steven masih menganggapnya biasa, tetapi tetap—rasa cemburu itu pasti akan ada. Dan dia tak pernah suka jika ada seseorang yang menganggu saat dia tengah melakukan aktivitas yang menurutnya penting. Siapa pun itu, tanpa terkecuali.


"Iya, Mama nggak bilang. Tapi besok Mama akan bilang padanya." Sindi mengangguk, dia pun memegang handle pintu dan melebarkan pintu. "Pintunya biarkan dibuka, jangan ditutup."


"Iya." Steven mengangguk, dia pun menatap Sindi yang berlalu pergi dari sana sembari turun dari kasur. Dia memperhatikan Sindi sampai wanita tua itu masuk ke dalam kamar.


Perlahan Steven menghela napasnya dengan lega, cepat-cepat dia pun menutup pintunya dengan rapat dan menguncinya. Setelah itu kuncinya dicabut dan dia kantongi ke dalam saku jas.


'Semoga saja Mama dan Papa langsung tidur, biar nggak ada yang akan menganggu waktuku berdua dengan Citra,' batin Steven dan tak lama dia pun terkekeh. 'Akhirnya aku buka puasa. Pasti rasanya sangat mengigit dan uh ah uh ah.'

__ADS_1


Dia pun melangkahkan kakinya menuju kasur sembari melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Juga dengan gesper, celana luar dan dalam.


Pakaian di tubuhnya sudah tak ada, semuanya berserakan di lantai dan kini tubuhnya polos sempurna. Miliknya tampak begitu tegak dan kokoh, sudah sangat siap untuk bertempur malam ini.


Kemudian, Steven pun naik ke atas kasur seraya menyibakkan selimut di tubuh Citra sampai benda itu jatuh ke lantai.


Lantas setelah itu, pelan-pelan Steven naik ke atas tubuh Citra. Wajahnya mulai mendekat ke wajah istrinya. Bibir Steven sudah terbuka dan perlahan dia pun melahap bibir merah muda yang sejak tadi menggodanya.


Cup~


'Manis, enak sekali. Aku sangat merindukanmu, Cit. Ayok kita ciuman,' batin Steven. Pria tampan itu langsung melummat kasar bibir itu dan menikmati kekenyalannya. Tangan nakalnya langsung menyusup ke dalam kaos putih yang Citra kenakan, lalu merambat ke punggung untuk mencari-cari pengait bra.


Agak susah untuk bisa melepaskannya, tetapi akhirnya berhasil juga.


Steven melepaskan ciumannya, lalu menyingkap kaos Citra ke atas beserta dengan bra hitam dengan model brukat. Dua agar-agar itu terlihat begitu menantang dan montok, rasanya siap untuk dia lahap.


Baru saja Steven hendak menyentuhnya, namun tiba-tiba ada tangan yang menyilang ke atas dada dan ternyata itu adalah tangan sang pemilik agar-agar.


"Om Ganteng. Apa yang mau Om lakukan?" tanya Citra dengan suara agak keras. Dia baru saja bangun dan sekarang terlihat begitu syok dengan apa yang hendak Steven lakukan. Cepat-cepat dia pun mendorong tubuh Steven hingga bokong pria itu terhentak di atas kasur, kemudian dia duduk dan membereskan bajunya.


...Mau nyusu dia, Cit 🤣🙈...

__ADS_1


__ADS_2