Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
68. Kok tiba-tiba aku takut


__ADS_3

"Wah ... Kakak benar-benar cerdas! Ide Kakak begitu brilian!" Tian merasa takjub dengan rencana Tegar yang sama sekali tak terpikirkan olehnya. Refleks dia pun bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.


"Iyalah jelas! Tegar dilawan. Mana bisa!" ungkapnya dengan bangga sembari menepuk dada.


"Terus sekarang bagaimana? Kita 'kan belum tahu di mana kamar perawatan Steven. Kalau dia ada masih di UGD bagaimana?" tanya Tian. Ruangan UGD terlalu diawasi dokter dan suster, rencana itu tentu akan sulit dilaksanakan.


"Nggak mungkin dia masih di UGD. Pasti dia sudah berada di ruang perawatan," kata Tegar dengan yakin. "Dan tugas kita adalah mencari ruang perawatannya itu. Tapi sebelum itu ... aku mau kamu pergi untuk mengambil pakaian perawat. Jangan lupa masker dan sarung tangannya. Kita akan menyamar."


"Kita yang melakukannya? Kenapa nggak menyuruh perawat atau dokter saja, Kak? Kita bayar dokter seperti dulu."


"Itu prosesnya lama. Dan belum tentu juga dokter dan perawatnya mau. Karena setahuku ... di rumah sakit ini ada dana dari Kakaknya Steven. Aku takut nanti yang ada kita ketahuan. Kita 'kan harus main cantik," jelas Tegar.


Tian manggut-manggut, mengerti dengan apa yang pria itu sampaikan. "Ya sudah sini, kasih aku uang untuk membayar perawat. Kan aku nggak mungkin juga langsung mengambil seragam itu."


Tegar mengambil dompet kulit berwarna hitam, lalu memberikan lima lembar uang seratus ribuan pada adiknya. "Nih, tapi nanti bilang saja alasanmu meminjam untuk apa gitu, jangan jujur. Eh, trolinya jangan lupa."


"Oke, aku mengerti soal itu." Tian mengangguk paham, lalu dia pun keluar dari toilet, kemudian berdiri sambil memperhatikan beberapa orang yang lewat. Mencari-cari seorang perawat.


"Eh kau! Tunggu sebentar!" seru Tian memanggil seorang perawat pria yang tengah mendorong troli. Dia pun lantas menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Pak?" tanyanya.


Tian berjalan mendekatinya seraya berkata, "Apa kau mau uang?"


"Uang? Uang untuk apa?"


"Aku ada uang asal kau mau membantuku." Tian langsung memberikan uang yang dia lipat ke tangan pria tersebut.


"Membantu apa, Pak? Kalau kejahatan saya nggak mau," tolaknya sambil menggeleng cepat. Dia memberikan uang itu pada Tian, tetapi tidak diterima olehnya.


"Masa kejahatan? Nggaklah," elaknya sambil menggeleng. "Jadi begini lho ...." Tian terdiam beberapa detik untuk memikirkan ide, kemudian dia pun berkata, "Jadi pacarku di rawat di sini. Dan rencananya aku mau ngasih dia kejutan karena kebetulan dia juga berulang tahun. Kau bisa nggak pinjamkan aku dua pakaian perawat? Aku mau menyamar."


"Bagaimana, ya?" Pria itu tampak bingung. Dia menatap wajah Tian dengan serius. Pria itu kini tengah menangkupkan kedua tangannya, seolah memohon padanya.

__ADS_1


"Hanya sebentar, tenang saja," pinta Tian lembut.


"Ya sudah deh, tapi hanya satu jam ya, Pak. Tapi ngomong-ngomong ... kenapa harus dua pakaian perawat yang Bapak inginkan? Kan Bapak seorang diri?"


"Aku bersama Kakakku. Karena aku orangnya suka gampang grogi, jadi dia akan menemaniku," jelasnya berbohong.


"Oh, begitu. Ya sudah ... tunggu sebentar."


"Masker dan sarung tangan, bila perlu troli ini aku juga pinjam." Tian memegang gagang troli besi tersebut yang berisi beberapa botol obat dan piring stainless.


"Iya, Pak. Tunggu sebentar." Pria tersebut mengangguk cepat. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Tian.


*


*


Lima belas menit akhirnya kakak beradik itu keluar dari toilet. Mereka sudah menyamar dengan menggunakan pakaian perawat. Wajahnya tertutup masker dan kedua tangannya memakai sarung tangan.


"Kakak yakin kita nggak ketahuan?" tanya Tian dengan jantung yang tiba-tiba berdebar. Mungkin ini adalah kali pertamanya dia melakukan kejahatan dengan turun tangan langsung. Biasanya mereka hanya membayar orang.


"Nggak akan, mangkanya jangan buat orang curiga," jawab Tegar pelan.


Mereka akhirnya sampai di lantai dua. Dan keduanya langsung berjalan melewati lorong itu.


"Permisi, Sus. Pasien yang bernama Steven Prasetyo di rawat di kamar nomor berapa, ya?" tanya Tegar pada seorang suster yang baru saja lewat.


Wanita itu langsung menghentikan langkahnya dan menghampiri mereka.


"Di kamar nomor 333. Bapak bawa apa itu?" Suster itu hendak mengambil obat kaca di atas piring stainless, tetapi dengan cepat Tegar menghalanginya.


"Ini obat mempercepat luka dalam di dadanya. Kata dokter saya disuruh untuk menyuntikkan pada beliau," jelas Tegar.


"Oh begitu. Bapak ke sana saja." Suster itu mengarahkan tangannya ke arah yang di maksud. Ada dua orang perempuan yang tengah duduk bersebelahan di depan ruang perawatan. Sekilas Tian memperhatikannya, tetapi yang dia perhatian adalah perempuan berambut pendek, yakni Fira.

__ADS_1


'Fira? Ngapain dia ada di sini? Apa dia kenal Steven?' batin Tian dengan kening yang mengerenyit. Cepat-cepat dia pun memalingkan wajah kala melihat Fira tengah berjalan ke arahnya, sampai gadis itu berhasil melewatinya.


"Baik terima kasih, Sus," kata Tegar lalu menoleh pada Tian. Adiknya itu mengangguk, lantas mendorong troli tersebut sembari berjalan mengikuti langkah Tegar dari belakang.


"Pagi, Bu. Saya diminta dokter untuk mengecek kondisi Pak Steven," ujar Tegar dengan sopan pada Sindi. Dia bahkan membungkukkan badannya sedikit.


"Oh, silahkan masuk, Pak," jawab wanita paruh baya itu. Sindi sama sekali tak menaruh curiga apa-apa.


Tegar menurunkan handle pintu, kemudian melebarkannya dan masuk bersama Tian di belakangnya.


Terlihat Steven masih berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Matanya terpejam, mulut dan hidungnya terpasang ventilator oksigen.


Dada bidangnya yang putih itu terekspos jelas sebab dia tak memakai baju. Ada sebuah perban besar yang menempel tepat pada dada bagian tengah.


Melihat dia seorang diri di dalam kamar itu, tentu akan sangat mudah memberikan mereka peluang untuk melancarkan aksinya. Tetapi entah mengapa, baru saja mereka masuk dan menutup pintu, seketika keduanya merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada perasaan takut di dalam dada yang entah apa sebabnya.


Mata Tegar dan Tian mengelilingi kamar perawatan yang cukup luas itu. Bernuansa putih dan cukup bagus. Tetapi anehnya mereka merasa ada yang janggal, perasaan takut itu muncul diibaratkan seperti sedang masuk ke kamar mayat.


"Kak, kok tiba-tiba aku takut, ya?" tanya Tian lirih. Bibirnya sampai bergetar mengatakan hal itu. Kini langkah mereka berhenti di dekat Steven. Meja troli itu berada di samping tempat tidurnya.


"Takut kenapa, sih?" Tegar mencoba mengikis rasa takut yang memang dia sendiri merasakannya. Dia mencoba tenang sebab tak mau rencananya gagal. "Cepat pindahkan obatnya ke dalam suntikan, terus masukan cairan itu ke dalam kantong infusan. Biar nggak ketahuan," kata Tegar memberikan interupsi. Berbisik pelan di telinga kiri Tian.


...Mereka yang mau nyuntik kok aku yang deg-degan 😬😬...


Like


Komen


Vote


Hadiah


jangan lupa tinggalkan ya, Gays 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2