Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
339. Mama kesepian


__ADS_3

Tian dan Nissa sepertinya salah paham, padahal maksud Juna mengatakan tidak mau bukanlah ke arah sana.


"Juna suka dan sayang sama Dedek Silvi, Mi ... Pi." Juna menatap Nissa terlebih dahulu, kemudian beralih kepada Tian. "Tapi Juna sudah ngomong sama dia dan Tante Della, kalau setelah besar ... Dedek Silvi harus menikah sama Juna, nggak boleh sama orang lain," jelasnya. "Jadi, kalau Juna dan Dedek Silvi kakak adik ... kita nggak bisa nikah, dong," ringisnya. Bola mata Juna seketika berkaca-kaca.


"Ya ampun." Nissa tepok jidat, lalu geleng-geleng kepala. "Kamu masih kecil kali, apalagi Silvi yang masih bayi. Ngapain juga mikirin nikah? Dan kalian nggak boleh nikahlah, orang saudara."


"Mangkanya Juna nggak mau Dedek Silvi jadi adiknya Juna. Semoga saja nanti hasilnya nggak cocok deh, amin." Juna mengusap wajahnya, seolah-olah berdo'a dan mengaminkannya sendiri.


"Dih, Jun, jangan begitu dong," keluh Tian. Mendengar itu dia justru merasa sedih. "Papi hampir gila gara-gara mikirin Tina yang belum ketemu. Cuma Silvi harapan Papi satu-satunya. Masa kamu berdo'anya begitu, itu 'kan nggak baik."


"Iya, Jun, kamu nggak boleh kayak gitu," tegur Angga. "Fokus sekolah saja sekarang, jangan mikirin hal yang aneh-aneh. Lagian ... tau apa sih kamu tentang menikah? Pas sudah dewasa nanti kamu pasti berubah pikiran."


Juna tak menanggapi, dia hanya memanyunkan bibirnya dan langsung memeluk tubuh Tian. 'Maafin Juna, Pi. Tapi Juna sudah punya Dedek Melati diperut Mami sebagai adik, dan Dedek Silvi harusnya bukan adik Juna. Karena Juna nggak mau ... nanti setelah besar Atta atau Baim yang nikahin Dedek Silvi.' Juna melirik ke arah Atta dan Baim yang masih sibuk mengunyah ciki yang mereka pegang masing-masing.


"Nis, Mama kayaknya nggak bisa lama jenguk kamu. Kepala Mama rasanya sakit banget," ucap Sindi. Dia menyentuh tangan Nissa dengan lembut dan perlahan berdiri sembari menyentuh kepalanya.


Angga langsung berlari untuk membantunya, lalu merangkul bahu sang istri.


"Nggak apa-apa, Ma," jawab Nissa sambil tersenyum. "Mama istirahat dan jaga kesehatan, sebenar lagi 'kan Mama akan punya cucu baru dariku." Mengusap perutnya dengan wajah merona.


"Iya, Sayang. Kamu juga jaga kesehatan, ya? Besok pas kamu mau pulang ... Mama akan ikut jemput." Sindi perlahan ikut mengusap perut Nissa.


"Iya." Nissa mengangguk.


"Oh ya, nanti malam Papa ke sini lagi tapi buat jemput Juna, ya. Nanti mandi sorenya pakaikan Juna jas kiriman dari Papa," ucap Angga.


"Jemput Juna mau apa, Pa?" tanya Nissa.


"Papa lupa ngasih tau kalau kemarin sore Papa dapat undangan, dari Yahya. Kamu sama Tian diundang, Steven sama Citra juga. Si Steven belum Papa beritahu juga, Nis. Rencana ini pas Papa pulang ... sekalian ngasih tau dia."


"Yahya yang Papa maksud itu Om Yahya Papanya Pak Rama, bukan?" tebak Nissa. Angga pun mengangguk.


"Iya, si Rama menikah hari ini, Nis. Kamu dan Tian nggak perlu datang, biar Juna saja sama Papa. Papa juga nanti sekalian ngajak Sofyan."

__ADS_1


"Sama siapa nikahnya, Pa?" tanya Tian. Dia perlahan duduk di atas kasur, lalu mendudukkan Juna juga. Akan tetapi bocah itu sejak tadi memeluknya dengan masih cemberut.


"Ceweknya Prisilla namanya. Tapi Papa nggak tau siapa dia."


"Oh, ya sudah nanti Papa ajak Juna saja. Nanti salamin ke Pak Rama dan istrinya, semoga langgeng, ya, Pa," ucap Nissa.


"Iya." Angga mengangguk.


"Nanti aku titip kado buat mereka ya, Pa," ucap Tian. Angga pun mengangguk lagi.


"Ya sudah, Papa sama Mama pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Angga kemudian melangkah menuju pintu bersama Sindi.


"Walaikum salam." Semua orang di dalam sana menjawab salam.


*


*


Dia dan Angga sudah berada di halaman rumah sakit. Akan tetapi melihat mobil di depannya sudah berganti berwarna hitam, justru dia jadi bingung sendiri.


"Tadi saya sempat pulang lagi ke rumah, Bu, buat ngambil mobil. Soalnya mobil tadi dipakai Pak Steven sama Nona Citra," jelas Jarwo.


"Oh begitu, ya sudah nggak apa-apa." Sindi tersenyum. Dia pun lantas masuk ke dalam mobil bersama Angga.


Jarwo juga ikut masuk ke dalam kursi kemudi dan tak lama mobil hitam itu melaju pergi.


"Sebelum pulang, Mama mau beli apa dulu? Barang kali si utun pengen jajan sesuatu?" tanya Angga dengan lembut seraya mengusap perut Sindi.


"Nggak kepengen apa-apa Mama, Pa." Sindi menggeleng. "Mama mau cepat pulang, pengen ketemu Citra dan Steven. Perasaan Mama nggak enak kayaknya."


"Nggak enak kenapa? Santai aja, Ma." Angga mengelus pipi kiri Sindi, lalu menciumnya dengan lembut.


*

__ADS_1


*


30 menit berlalu, mobil itu pun sampai di rumah Angga. Setelahnya mereka turun dan Jarwo sendiri sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Pak Angga!" seru Bejo yang berlari dari pos satpam mendekat ke arahnya.


Angga yang hendak melangkah bersama Sindi urung dilakukan, lantas mereka pun menoleh. "Ya?" sahut Angga.


"Kevin, Janet dan anak-anaknya pergi pindah bersama Pak Steven dan Nona Citra, Pak," ucap Bejo memberitahu.


"Pindah?" Kening Sindi dan Angga mengernyit secara bersamaan. "Apa maksudmu, Jo?" tanya Angga bingung.


"Tadi pas Pak Steven pulang bareng Nona Citra, mereka langsung mengajak si kembar masuk ke dalam mobil. Sama Suster Dira juga, Pak. Dan mereka bawa dua koper," jelas Bejo.


"Dua koper? Tapi mau pindah ke mana mereka?" tanya Angga.


"Saya dengar sih mereka katanya mau pindah ke apartemen. Terus anehnya ... si Kevin, Janet dan anak-anaknya justru ikut mereka, Pak. Mereka bilang mau pindah."


"Lho, kok pindah? Tapi kenapa mereka musti pindah? Kan ini juga rumah mereka?"


"Pak Steven sih bilangnya sama Kevin karena dia mau punya adik, eh Kevin malah ikut-ikutan," jawabnya jujur. "Tapi memangnya benar, ya ... Bu Sindi sedang hamil, Pak?" tanya Bejo memastikan.


"Iya, bener. Tapi masa cuma gara-gara punya adik mereka pindah? Mana serombongan lagi," ucap Angga heran dan tak habis pikir.


"Tuh 'kan bener, Steven dan Citra pasti marah sama Mama, gara-gara Mama hamil," keluh Sindi sedih. "Sampai pindah dan bawa si kembar segala. Padahal 'kan dari dulu Mama sudah bilang sama Steven ... kalau dia sudah menikah dan punya anak ... dia ikut kita, Pa. Mama juga nggak mau kalau di rumah ini nggak ada si kembar sama Citra, Mama kesepian," lirih Sindi dengan buliran air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi kedua pipinya. Dia menangis tersedu-sedu.


"Steven melakukan hal itu karena lagi emosi saja kali, Ma. Kan Mama tau si Steven ambekan anaknya. Nanti kalau sudah reda dia bakal balik lagi kok," sahut Angga menenangkan. Dia pun meraih tubuh Sindi lalu memeluk dan mengusap punggungnya.


Angga tau bagaimana sikap Steven yang memang pemarah, tapi dia yakin—jika pria itu besok pasti akan kembali dengan Citra beserta anak dan keluarga burung.


"Kalau mereka nggak balik lagi gimana? Si Kevin juga, Mama kepengen minum teh buatan dia, Pa. Dia sudah bisa buat teh manis lho sekarang." Sindi sampai sudah sesenggukan.


...Om Steven, Kevin, tanggung jawab tuh. Mama Sindi nangis, kasihan 😖...

__ADS_1


__ADS_2