Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
128. Elangku sakti


__ADS_3

"Kita nggak ngelakuin apa-apa," jawab Sindi. "Ayok bawa dia ke kamar hotel, Stev."


"Tapi panggilkan Dokter, Ma."


"Ada apa?" Angga tiba-tiba datang menghampiri. Dan sontak—dia membelalakkan matanya kala melihat Citra pingsan dalam gendongan Steven. "Kok Citra pingsan?"


"Papa antar Steven ke kamar hotelnya, Mama akan telepon dokter untuk datang." Sindi mengambil ponselnya di dalam tas jinjing, lalu segera menghubungi Dokter.


Steven dan Angga berlari menuju lift, Kevin yang melihat mereka masuk pada pintu lift itu segera terbang menyusul hingga masuk ke dalam sana.


"Kasihan Nona cantik! Dia pingsan!" kata Kevin seraya menengadahkan kepalanya menatap Citra.


"Dedek Gemes kenapa sebenarnya?" tanya Angga.


"Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba dia pingsan pas sama Mama, Mbak Maya dan Nella, Pa. Atau jangan-jangan Citra kena flu burung, ya?"


"Flu burung? Mana ada flu burung?" Kening Angga mengerenyit.


"Ya bisa saja. Seharian dia 'kan ngelus-ngelus si Kevin mulu."


"Saya sehat! Saya tidak flu!" seru Kevin.


"Iya, Kevin nggak sakit, Stev. Buktinya dia nggak bersin-bersin." Angga membela Kevin, dia juga yakin kalau burung itu memang tidak sakit atau menularkan penyakit.


"Memangnya Papa sudah periksa dia? Nggak, kan? Bisa saja itu benar." Setelah pintu lift itu terbuka lebar, cepat-cepat Steven keluar. Begitu pun dengan Angga dan Kevin.


"Kamu tunggu di sini, jangan masuk." Angga mencegah Kevin yang hendak masuk ke dalam kamar hotel, menyusul Steven yang lebih dulu masuk.


"Kenapa?"


"Nanti kamu diperiksa ke Dokter dulu, baru bisa bertemu Nona cantik."


Kevin mengangguk patuh, lalu membiarkan Angga masuk ke dalam kamar.


Perlahan Steven membaringkan tubuh Citra di atas kasur.


Angga yang baru masuk lantas menatap sekeliling ruang kamar itu. Dan seketika keningnya mengerenyit. "Ini kamar apaan? Rame banget," celotehnya.


Kasurnya berukuran besar dan terlihat kokoh. Di atasnya ada kelopak bunga mawar dan tentunya wangi.


Di dinding ada beberapa lampu kecil-kecil menempel dan menyala kelap kelip. Ada dekorasi nama Steven dan Citra juga tertempel di sana. Di sisi tembok ada lilin, hanya saja tidak menyala. Dan yang terakhir, posisi kasur itu terletak di dekat jendela dan memperlihatkan pemandangan diluar


Kamar itu benar-benar sesuai keinginan Steven.


"Kamar pengantin, wajar kalau rame. Kan namanya juga malam pertama." Steven menarik selimut untuk Citra sampai di atas dada, lalu menempelkan jarinya pada lubang hidung. Ingin mengecek masih bernapas atau tidak.


"Memang kamu dan Dedek Gemes belum bercinta sama sekali?"


Belum sempat Steven menjawab, tiba-tiba Sindi datang bersama seorang Dokter wanita berambut pendek yang membawa tas. Cepat-cepat Dokter itu duduk di atas kasur, di dekat Citra, lalu membuka tasnya.


"Yang berjenis kelamin laki-laki harap keluar, saya akan periksa Nona Citra," kata Dokter seraya memasangkan stetoskop ke telinganya.

__ADS_1


"Papa keluar sana!" usir Steven pada Angga.


"Kok Papa?" Angga menunjuk wajahnya sendiri. "Kamulah yang harusnya keluar, kan laki-laki."


"Dih, kalian berdua laki-laki! Jadi kalian keluar sana!" omel Sindi seraya mendorong tubuh keduanya dengan tangan. "Cepat! Si Citra mau diperiksa!" tekannya marah. Sindi terlihat panik sekali.


"Iya, iya," jawab mereka bersama. Keduanya langsung berlari terbirit-birit keluar kamar itu, lalu menutup pintu.


"Menurut Papa Citra sakit apa? kok aku jadi deg-degan, ya?" Steven menyentuh dadanya yang naik turun mengatur napas. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


"Kata kamu dia kena flu burung."


"Eh, iya, iya."


Kevin menatap keduanya, tetapi dia diam saja dan kini tubuhnya menyandar pada tembok.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar itu dibuka oleh Dokter wanita. Tetapi dia langsung menutup pintunya kembali.


"Bagaimana keadaan Citra, Dok?"


"Bagaimana keadaan Dedek Gemes, Dok?"


Mereka bertanya secara bersamaan.


"Dia nggak kena flu burung, kan?" tanya Steven lagi.


Dokter itu menggeleng cepat lalu tersenyum. "Nona Citra tidak terkena flu burung, tapi dia hamil."


"Hamil? Citra hamil?" tanya Steven sekali lagi dan tiba-tiba bola matanya berkaca-kaca.


Angga berekspresi sama, dia bahkan sudah menangis. Perasaan sedih dan senang, bercampur jadi satu di hatinya.


Sedih karena menurutnya Citra masih terlalu muda untuk hamil. Tetapi senang karena memang Angga juga mau mempunyai cucu dari Steven.


"Dokter serius? Dedek Gemes hamil?" tanya Angga yang tampak masih abu-abu.


Dokter itu mengangguk. "Iya, dia hamil. Usia kandungannya baru 3 Minggu."


Steven dan Angga langsung berpelukan dan menangis bersama.


"Aku nggak nyangka bisa secepat ini, Pa. Tapi aku sangat bahagia. Ternyata burung Elangku sangat sakti." Steven mengelus punggung Angga.


"Siapa burung Elang?" Kening Angga mengerenyit. "Papa ikut bahagia, Stev. Papa bisa punya cucu dari kalian. Papa juga bangga ... ternyata burungmu tidak berkarat meskipun menikah diusia tua."


"Enak saja kalau ngomong!" Steven langsung marah. "Burungku mana ada berkarat. Papa noh udah peot. Kan keriput." Steven cepat-cepat melepaskan pelukan. Dan dia langsung merengut.


"Kalian dilarang masuk!" Dokter itu menghalanginya Steven dan Angga yang hendak membuka pintu.


"Kenapa? Bukannya diperiksanya sudah? Aku mau lihat Citra, Dok," kata Steven.


"Diperiksanya memang sudah, tapi Nona Citra butuh banyak istirahat. Kalian lebih baik pergi. Dia juga ada demam dan sekarang Bu Sindi sedang mengompresnya," jelas dokter itu.

__ADS_1


"Dih, nggak usah Mama. Aku saja, Dok, kan aku suaminya." Steven menepuk dadanya.


"Aku juga Papa mertuanya, biarkan aku saja yang mengompres." Angga ikut-ikutan. Keduanya benar-benar ingin melihat kondisi Citra.


"Tapi Bu Sindi yang melarang. Katanya kalau kalian nggak nurut ... kalian nggak diizinkan bertemu Nona Citra selamanya!" Dokter itu sengaja menekan kata 'selamanya' supaya mereka menurut.


Sebenarnya, Sindi bukan melarang mereka untuk bertemu. Hanya saja dia merasa kasihan pada Citra. Selain demam, gadis itu juga sepertinya kecapekan. Kalau keduanya masuk, bisa-bisa akan rame dan menganggu waktu istirahatnya.


"Dih, kejam amat," kata Angga sambil bergidik. Jujur dia takut dan tak mau membantah sebab belum dikasih jatah.


"Iya, ini sih kejam namanya. Padahal kita 'kan mau melihat mahmud."


"Siapa Mahmud?" Angga menoleh ke arah Steven.


"Mama Muda."


"Oh, iya iya. Tapi ya sudah deh. Biarkan saja Citra istirahat." Angga merangkul bahu Steven, mengajaknya untuk pergi. Tetapi pria tampan itu menolak dan menggerakkan tubuhnya hingga tangan Angga terjatuh di bahunya.


"Aku mau bertemu Citra, Pa."


"Nanti malam saja. Kalau nggak dituruti Mamamu bisa ngamuk, lho. Mau kamu dikutuk?"


Steven mengerucutkan bibirnya. Meskipun berat, akhirnya dia menurut dan melangkah pergi bersama Angga. Kevin yang melihat mereka pergi langsung terbang menghampiri.


***


Sementara itu di praktek Mbah Yahya.


"Apa alasan Bapak ingin bertemu Mbah Yahya?" tanya seorang pria yang memakai peci hitam dan jubah hitam. Pria itu duduk di kursi depan meja. Ali dan Aldi yang baru saja masuk ke dalam gerbang langsung ditanya-tanya olehnya.


"Aku mau cari Fira," kata Ali.


"Fira siapa?"


"Ah, maksud kami Mbah Yahya." Aldi menyahut.


"Ada keperluan apa? Silahkan tulis keperluan Anda." Pria tersebut menyodorkan selembar kertas dan pulpen. Kemudian meminta salah satu dari mereka untuk duduk di kursi kosong, di depan meja.


Ali langsung duduk.


"Kalau langsung bertemu dengan Mbah Yahya memang nggak bisa?" tanya Ali.


Ingin rasanya dia dan temannya langsung masuk ke dalam rumah itu. Akan tetapi, tepat di depan pintu ada dua penjaga bertubuh besar. Mungkin bobotnya sama dengan mereka. Dan tempat itu cukup ketat penjagaan. Di dekat gerbang juga ada dua orang seperti mereka lagi.


Ali dan Aldi tak boleh gegabah hingga salah langkah. Nanti yang ada celaka.


"Nggak bisa, Bapak harus daftar dulu dan memberitahu tentang keluhan mengapa kalian datang ke sini," jelas pria berpeci itu.


"Oh ini ...." Aldi terdiam beberapa saat mencari ide. Jujur saja, baik dia atau pun Ali—mereka tak tahu Mbah Yahya itu siapa dan dia bisa apa. Tetapi rasanya tak ada pilihan, terpaksa Aldi mengarang cerita untuk bisa daftar lalu masuk menyusul Fira. "Teman saya ...." Aldi menepuk pundak kiri Ali. "Dia kalau kentut sering keluar ampasnya. Jadi kira-kira ... Mbah Yahya bisa nggak mengatasi masalahnya, Pak?"


...Aduh, mana nih yang like? kok makin merosot aja perbabnya 😫 ga sebanding sama yang baca setiap harinya. 🤧...

__ADS_1


__ADS_2