Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
266. Ijab kabul


__ADS_3

Tian membulatkan matanya, terkejut sekaligus senang mendengar apa yang Angga katakan. Bahkan sangking senangnya dia refleks memeluk Angga.


"Sekarang aku akan menikah, Pak? Serius, Pak? Alhamdulillah."


"Iya, nggak usah lebay gitu!" omel Angga. Dia yang merasa risih langsung mendorong tubuh Tian, demi melepaskan pelukannya.


***


"Jun! Bangun, Jun!" Juna perlahan mengerjapkan matanya, saat merasakan tubuhnya terguncang pelan akibat tepukan Sindi.


"Jam berapa ini Oma? Dan apa Juna ketiduran?" tanya Juna seraya menatap sekeliling. Dia juga baru sadar, jika saat ini berada di kamar Angga.


"Udah sore, ayok mandi habis itu pakai jas," titah Sindi. Bocah itu menarik tubuhnya untuk bangun dan menatap wajah sang Oma dengan kening yang mengerenyit. Dia merasa heran sebab Sindi memakai full make up dan kebaya berwarna putih.


"Oma mau kondangan ke mana?" tanyanya sembari mengucek kedua mata.


"Bukan mau kondangan, tapi Mamimu 'kan mau ijab kabul sekarang."


Juna membelalakkan matanya. "Ijab kabul? Sama Om Tian?"


"Iya lah, sama siapa lagi?"


Juna langsung beranjak dari tempat tidur, lalu berlari keluar dari kamar. Sindi yang memanggil tidak dia gubris sama sekali. Bocah itu menuju kamar tempat biasa dia dan Nissa menginap di rumah Angga.


Pintu kamar itu dibuka dan segera dia masuk. Nissa sudah memakai kebaya berwarna putih. Wajahnya tampak cantik sekali sudah mendapatkan polesan make up oleh perias pengantin yang ada di sana.


"Mami cantik banget, kayak bidadari!" seru Juna sambil lompat-lompat.

__ADS_1


Nissa menatap anaknya dari pantulan cermin, lalu tersenyum. "Kamu juga tampan, Sayang. Cepat mandi sama Oma dan pakai jasmu."


"Om Tiannya ke mana, Mi?"


"Ada di kamar sebelah."


Juna langsung berlari ke kamar sebelah. Lalu mendorong pintu yang terbuka sedikit. Terlihat ada Tian di sana, tengah memakai jas putih dibantu Sofyan. Gegas dia berlari, lalu memeluknya dari belakang. "Juna seneng banget, Om sama Mami akhirnya bisa menikah!"


Tian mengulum senyum, lalu mengelus puncak rambut bocah itu. "Om juga seneng, Sayang."


***


"Saya terima nikah dan kawinnya, Nissa Arianna Prasetyo binti Anggara Prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 10 juta rupiah dibayar tunai!" seru Tian dengan lantang sambil menjabat tangan Angga.


Di depannya sudah ada Pak Penghulu dan Pak Ustadz, sedangkan disekelilingnya sudah ada seluruh keluarga Nissa. Tetapi hanya Citra, yang sebagai keluarga Tian. Sedangkan Tegar, tidak datang. Padahal tadi Tian sudah memberitahu.


"Sah!"


"Sahh!!" sorak mereka yang ada di sana.


"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri," ujar Pak Penghulu, lantas menjabat tangan saat Pak Ustadz langsung memanjatkan do'a.


'Alhamdulillah ya, Allah. Terima kasih. Terima kasih telah memperlancar prosesku menuju halal dan menjadikan Nissa sebagai jodohku,' batin Tian. 'Semoga pernikahan ini menjadi yang terakhir. Serta sakinah, mawadah dan warahmah.'


'Ya Allah, aku mau pernikahan ini adalah pernikahan yang terakhir. Aku juga mau, semoga Tian adalah orang yang tepat untukku. Bisa menyayangiku dan menyayangi Juna tanpa lelah,' batin Nissa.


Seusai do'a itu berakhir, Nissa langsung mencium punggung tangan Tian, lalu beralih Tian lah yang mengecup keningnya.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, Nis. Aku mencintaimu," bisik Tian sambil tersenyum. Dia menatap lekat wajah Nissa.


"Terima kasih, kamu juga tampan." Nissa tersenyum manis.


Setelah itu, mereka pun langsung bertukar cincin. Dan Juna yang berada di samping Steven langsung menghampiri mereka, lalu memeluk keduanya.


*


*


Acara yang Angga adakan secara mendadak itu hanya proses ijab kabul saja. Serta mengundang anak serta cucu, sekalian mengajak mereka makan bersama.


Sekarang, keluarga besar Angga ada di restoran Nissa. Mereka semua makan bersama, menyantap menu andalan di sana.


"Malam ini kalian menginap saja di rumah Papa, ya?" ajak Angga seraya menatap Tian dan Nissa yang duduk di depannya. Ada Juna juga di samping mereka.


"Juna mau tidur di rumah Om Tian, Opa." Juna yang menyahut. Bocah itu tengah mengunyah makan malamnya oleh Tian yang menyuapi.


"Panggil Papi dong, Jun. Jangan Om lagi," tegur Tian seraya mengelus pipi anak tirinya.


"Ah iya, Juna lupa. Maksudnya Papi. Papi Tian." Juna mengulum senyum, lalu memeluk tubuh Tian.


"Jangan kecewakan aku, ya, Ti. Tolong bahagiakan Nissa dan Juna. Tangan lupa juga untuk menuruti perjanjian yang dia ucapkan padamu," tegur Angga.


Tian mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Pak. Ah, maksudku Papa," ralatnya cepat. "Papa tenang saja, aku akan melakukan semua hal yang membuat mereka bahagia. Sebisa dan semampuku."


...Maaf Guys, segini dulu, ya, yang penting Om Tian dan Mbak Nissa udah sah....

__ADS_1


...Author lagi ada di kampung soalnya, kakak lagi hajatan, jadi ikutan sibuk 🙈...


__ADS_2