
"Nggak boleh!" tegas Steven. Mimik wajahnya tampak masam mendengar nama asal yang mereka usulkan. "Saran nama dari kalian nggak ada yang bagus, semua jelek. Masa iya, seganteng itu dikasih nama Udin Idin." Steven mendengkus kesal. Lalu menghampiri kedua anaknya yang berada di tangan Angga dan Sindi. Lantas memandangi keduanya.
"Aku sudah menyiapkan nama kok untuk mereka, sebelum kalian memberikan usul nama secara asal." Bibir Steven mengeriting.
"Apa nama darimu?" tanya Angga.
"Elvaro dan Elvano."
"Oke juga, Stev." Sindi menyahut sambil tersenyum. "Jadi Elvaro Prasetyo sama Elvano Prasetyo, ya?"
"Elvaro Danu Prasetyo, dan Elvano Danu Prasetyo."
"Namanya terlalu susah kayaknya, Stev," kata Angga.
"Susah apanya? Nanti panggilannya Varo sama Vano saja, biar gampang."
"Bagus, A. Aku setuju," sahut Citra sambil tersenyum. Nama apa pun tidak masalah menurutnya, yang terpenting ada nama Danu di tengah-tengah nama si kembar.
"Ngomong-ngomong ada artinya nggak Stev? Apa cuma nama asal doang?" tanya Angga.
"Elvaro itu pelindung, sedangkan Elvano kalau nggak salah berwarna," jawab Steven.
"Tapi cara bedain mereka gimana? Dan Varo dan Vano yang mana? Mereka 'kan mirip dan seukuran," tanya Angga seraya menciumi cucunya. Bayi mungil yang berada dalam gendongan itu tengah tertidur pulas.
"Kata Dokter, yang pertama lahir yang ada tahi lalat di lehernya, Pa." Citra menyahut.
"Oh begitu, ya."
Angga dan Sindi langsung mengangkat dagu si kembar, mencari tahu siapakah yang memiliki tahi lalat di lehernya.
"Ternyata Abangnya yang sama Papa, Dek. Berarti dia namanya Vero, ya?" tebak Angga.
__ADS_1
"Varo, Pa. Pakai a," ujar Steven.
"Iya, Varo."
"Hafalin namanya, biar nggak lupa. Awas kalau salah," ancam Steven.
"Iya. Bawel amat."
*
*
Malam hari.
Angga dan Steven tengah duduk di luar kamar inap, mereka diusir oleh Sindi sebab Citra untuk pertama kalinya menyusui si kembar.
"Bagaimana perasaanmu setelah punya anak, Stev?" tanya Angga basa basi seraya menoleh ke arah Steven. Supaya suasana tak sepi. Nella, Rizky dan Jihan baru saja pulang tadi.
"Tentunya bahagia dong, Pa," jawab Steven sambil tersenyum.
"Ya sayang lah, masa nggak."
Angga perlahan meraih tangan kanan Steven, lalu menggenggamnya. "Sama Juna juga sayang 'kan kamu?"
"Iya."
"Tadi Juna marah, dia bilang mulai sekarang nggak mau ketemu kamu dan si kembar lagi."
"Marah kenapa? Masalah tadi?"
"Sepertinya iya." Angga mengangguk.
__ADS_1
"Ah nanti juga baikan lagi. Namanya juga bocil."
"Tapi Papa kasihan banget sama dia, Stev. Dia mau punya Papi baru. Kan kamu tahu, selama ini Juna kekurangan kasih sayang dari sosok Ayah."
Angga sudah diberitahu Nissa, jika Tian tidak setuju dengan rencana yang dia buat. Awalnya Angga kesal, tetapi saat mendengar alasannya—justru dia berpikir kalau memang apa yang dikatakan pria itu ada benarnya.
"Tapi 'kan masih ada kita, Pa. Yang sayang sama dia."
"Iya. Tapi namanya kasih sayang dari orang tua itu rasanya berbeda, Stev. Ketimbang dari saudara atau Kakek. Apalagi seumur Juna itu masih terbilang kecil. Dia juga masih doyan main."
"Tapi aku nggak suka sama Om Tian, Pa. Kan Papa sudah pernah aku kasih tahu bagaimana jahatnya dia. Aku khawatir kalau sampai dia mengeret Mbak Nissa dan menyakitinya. Dia juga doyan main perempuan."
"Manusia ada berubahnya, Stev. Nggak perlu jauh-jauh deh. Kita lihat aja si Rizky yang jadi contoh. Dulu Papa nggak suka banget sama dia, Papa merasa Nella terlalu sempurna untuk Rizky yang banyak kekurangan. Dia perempuan doyan, minum apa lagi. Tapi coba kita lihat sekarang ... buktinya Nella dan Rizky bahagia."
"Tapi Rizky dan Om Tian itu berbeda. Rizky 'kan orangnya nggak haus harta. Dan dia juga tajir. Sedangkan Om Tian iya. Hartanya keponakan saja dia mau, padahal dia sudah dapat bagian."
"Tapi nggak ada salahnya kasih dia untuk sekali kesempatan, Stev. Citra yang sebagai keponakan pribadinya saja bisa memaafkan, masa kamu nggak? Memang, selama ini apa yang kamu rugikan? Ada Tian nguras hartamu? Atau ada harta Citra yang diambil sama dia secara paksa? Ada nggak, uangmu yang sudah Tian makan?"
"Nggak ada sih, terakhir waktu itu dia minjam. Tapi nggak aku kasih karena aku tahu dia pasti berbohong. Tapi nggak tahu ya, Pa. Aku tuh nggak ikhlas banget. Mbak Nissa sama Om Tian. Ibarat barang, dia tuh udah rusak."
Angga menghela napas dengan berat, lalu kembali memutar ide. "Kalau nggak, kamu bikin surat perjanjian tertulis saja sama dia, Stev," usulnya.
"Perjanjian tertulis gimana?"
"Biar dia nggak macam-macam sama Nissa dan Juna. Kita ancam dia."
"Memang boleh seperti itu? Terus, ancamannya apa?"
"Kamu maunya apa? Burungnya dipotong juga bisa. Atau kalau nggak ... biasanya sih paling masuk penjara. Kita pidanakan dia, karena sudah melanggar janji."
Steven langsung terdiam. Memikirkan apa yang Angga ucapkan. Tetapi dia sama sekali tak memberikan jawaban.
__ADS_1
...Maaf dua hari baru bisa up 🥲 ada kendala ide yang mendadak hilang 🙈 biasanya kalau sambil nongkrong di WC ideku bermunculan. Tapi ini mendadak hilang entah kemana 😭...
...Yok vote sama hadiahnya jangan lupa kasih. biar aku semangat 🥺 kalau idenya udah muncul banyak, nanti aku akan up banyak juga 🥲...