
"Kapan Papi sama Mami ke hotel?" Juna justru berbalik tanya.
"Aku 'kan tanya kamu. Kok kamu nanya balik? Aneh deh," kekeh Baim.
"Jangan-jangan kamu nggak diajak Mami sama Papimu, ya?" tebak Atta.
Juna langsung berlari mendekat ke arah Tian dan Nissa, kemudian menarik lengan sang Papi dan membuatnya menoleh.
"Ada apa, Sayang?" tanya Tian.
"Papi sama Mami kemarin ke hotel kok nggak ngajak Juna? Tega banget," ujar Juna dengan wajah merengut.
Tian dan Nisa saling melayangkan pandangan sebentar, lalu kembali menatap ke arah Juna.
"Bukan Papi yang nggak mau ngajak kamu, Jun," jawab Tian sambil mengelus rambut anaknya. "Tapi 'kan kemarin kamu menginap di rumah Om Dono."
"Tapi kenapa harus di hotel, Pi? Dan kalian ngapain sebenarnya?"
"Hanya ada urusan sebentar, ketemu teman Papi," jawab Tian berbohong. Rasanya malu jika jujur. "Tapi nanti besok-besok, Papi akan mengajakmu, deh. Kamu nggak perlu marah, ya?" Tian mengelus pipi kanan anaknya. Bocah itu mengangguk pelan.
__ADS_1
"Janji ya, Pi?" Juna mengangkat jari kelingkingnya, dan Tian segera menautkannya.
"Selamat ulang tahun Arjuna anak Papi satu-satunya dan paling Papi sayang!" seru Abi yang baru saja datang dengan Aulia dengan memakai batik couple. Kedatangannya karena Tian juga sempat mengundang kemarin.
Melihat tak ada tanggapan apa-apa dari anaknya, Abi langsung berjongkok dan memeluk tubuh Juna. Membawanya ke dalam dekapan. Tak peduli bocah itu senang atau tidak. Akan tetapi ekspresi wajahnya terlihat datar.
"Semoga kamu panjang umur, sehat, pintar dan selalu sayang Papi, ya? Karena Papi sayaaaangg banget sama kamu, Nak," tambahnya sambil mencium kening.
Tian dan Aulia saling memandang, dan sontak kedua bola mata lelaki itu membulat sempurna. Dia tampak terkejut melihat wanita muda yang tengah menggandeng Abi. Wajahnya terlihat familiar sekali dalam penglihatan Tian.
'Apa dia Aulia? Aulia mantan istriku?' batin Tian.
Nama Aulia adalah nama mantan istrinya yang keempat, sebelum dia menikah dengan Fira. Dulunya dia berselingkuh dengan temannya dan mereka sempat tak pernah ketemu lagi.
"Iya. Namanya Aulia," jawab Abi.
"Kenapa memangnya, Yang?" tanya Nissa yang tiba-tiba menggeser wajah Tian untuk menatapnya. Sebab sejak tadi dia diam-diam memperhatikan suaminya yang memandangi Aulia. Dadanya terasa panas, ada sesaknya juga. "Jangan bilang kamu suka juga sama dia?! Sudah cukup Mas Abi saja!" ketus Nissa yang tiba-tiba saja emosi. Dia mengingat akan penghianatan Abi dan rasanya takut jika suami barunya kembali melakukan hal yang sama.
Nissa mundur beberapa langkah, kemudian berlari pergi masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Tunggu, Sayang!" Tian langsung berlari mengejarnya. Pasti Nissa sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Hei! Kamu mau ke mana?!" Abi mencekal lengan Juna saat bocah itu hendak mengejar Nissa. Kemudian dia menunjuk dua orang yang mengangkat sebuah boxs besar pada mobil pick up di depan gerbang. "Itu hadiah untukmu, pasti kamu senang, kan?"
Sementara itu, Tian masuk ke dalam kamarnya. Dilihat Nissa tengah duduk didekat dipan sambil menatap ke arah jendela. Kedua pipinya tampak basah.
"Yang, kamu kok nangis? Aku minta maaf, tapi ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan." Tian berjongkok di depan Nissa, lalu menyeka air mata di pipi dan menggenggam tangannya.
"Terus apa?!" Nissa menata Tian dengan tajam, wajahnya tampak merah. Bola matanya kembali berair. "Aku lihat kok tadi kamu itu lihatin si gatal Aulia sampai nggak berkedip! Kamu pasti suka, kan? Ah kamu dan Mas Abi sama saja! Kalian penghianat!" berang Nissa emosi.
"Ya Allah nggak, Yang." Tian langsung memeluk tubuh istrinya, lalu mengelus punggung. Nissa kembali menangis. "Aku bersumpah demi apa pun. Aku nggak tertarik sama Aulia atau perempuan yang lainnya. Kan kamu tahu, dari dulu sampai sekarang ... hanya kamu yang aku cintai."
"Tapi sekarang cintamu sudah luntur, kan?!" ketus Nissa. Sangking kesalnya dia sampai mengigit bahu kiri Tian dan membuat pria itu meringis kesakitan.
"Nggaklah Sayang. Malah makin bertambah. Apalagi goyangan kamu sangat mantap," jawab Tian sambil mengelus-elus punggung Nissa. Perlahan wanita itu meregangkan gigitannya.
"Beneran apa bohongan?" tanya Nissa tak percaya.
Tian merelai pelukan, lalu dia berdiri dan menangkup kedua pipi mulus istrinya. "Bener dong. Kamu nggak lihat apa kemarin aku sampai merem melek?" Menoel hidung mancung istrinya. "Itu sangat nikmat, bikin aku ketagihan, Yang." Tian membungkuk lalu mengecup bibir Nissa dan melummatnya sebentar.
__ADS_1
"Masa sih kamu ketagihan?" tanya Nissa penasaran. Perlahan tangannya menyentuh inti tubuh suaminya yang terlihat begitu menonjol itu, lalu meraba dan meremmasnya tipis-tipis. Sejak Tian memakai kostum Superman, itu membuat birahi Nissa memuncak. Maka dari itu sejak tadi menyambut tamu, Nissa sibuk menutupinya dengan sayap kostum. "Kalau begitu kita coba lagi gimana, Yang? Aku di atas lagi," ajak Nissa dengan wajah merona.
...Itu pestanya gimana, woy, Mbak?! 🤣...