
"Kamu ngusir Mama?"
"Bukan ngusir. Tapi ini 'kan sudah malam. Aku mau istirahat. Mama juga kalau capek mending istirahat. Mama dan Papa pesan kamar hotel juga, kan?"
Sindi mengangguk. "Iya, kamar Mama dan Papa di sebelahmu. Tapi kayaknya malam ini Mama mau tidur sama Citra deh."
"Dih, jangan." Steven menggeleng cepat. "Aku dan Citra mau bercinta, Ma. Dan sudah ada bintang juga yang nungguin kita." Steven menunjuk ke arah jendela. Terlihat beberapa bintang yang kelap kelip di sana.
"Citra 'kan habis pingsan dan baru juga demamnya turun. Masa kamu tega sama dia?"
"Teganya bagaimana? Orang ngajak bercinta kok tega?" Kening Steven mengerenyit.
"Ya dia pasti capek, Stev. Bercintanya nanti saja."
"Ih nggak mau!" Steven menggeleng cepat. "Kemarin sudah ditunda, masa sekarang ditunda lagi. Ngeces dong Elangku."
"Elang itu siapa?"
"Burungku maksudnya. Aku namain Elang. Si Kakaktua aja punya nama."
"Oh."
Ceklek~
Pintu kamar mandi itu dibuka oleh Citra. Steven pun lantas menatap gadis itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Dress yang Citra pakai terlihat seksi sebab hanya panjang sepaha, tetapi yang Steven inginkan dia memakai baju tidur yang jauh lebih seksi.
"Kamu habis mandi, Cit? Kok nggak pakai baju tidur dari Mama?" Steven mendekat lalu mengecup pipinya. Dia juga sempat mengendus aroma mawar.
"Aku habis pipis, Om. Dan ...." Ucapan Citra menggantung karena kaget saat Steven tiba-tiba mengendongnya, lalu membawanya menuju kasur. Perlahan Steven merebahkan tubuhnya di atas sana.
"Citra nggak mandi, cuma dielap saja. Tadi Mama suruh orang buat elap tubuhnya pas Citra masih pingsan, Stev," jelas Sindi.
__ADS_1
"Dih, jadi Mama membiarkan Citra bugil dilihat banyak orang?" Steven membelalakkan matanya dengan lebar. Dia tampak begitu syok dengan apa yang Sindi katakan. "Kalau mereka nafsu bagaimana? Mama kok tega, mempermalukan menantu sendiri?"
"Apaan sih kamu!" sentak Sindi marah. Makin ngelantur saja dirasa ucapan Steven, sudah mirip Angga. "Mana ada Mama mempermalukan Citra! Yang ngelap mereka itu perempuan dan cuma 2 orang! Lagian Citra nggak bugil kok, masih pakai dalemman. Mama cuma mengganti gaunnya supaya dia nyaman saat tidur!" Sindi langsung naik ke atas kasur, lalu membaringkan tubuhnya sembari menarik selimut untuk dia dan Citra sampai di atas dada.
"Dih, sekarang Mama mau ngapain? Kok berbaring di samping Citra?" Steven menatap nanar Sindi. Dan setelah diperhatikan, ternyata wanita tua itu sudah tak memakai kebaya lagi. Melainkan baju tidur. Sepertinya dia memang sengaja mengganti pakaian lebih dulu karena ingin tidur bersama Citra.
"Kan Mama sudah ngomong mau tidur sama Citra. Kamu tuli?" Sindi memutar bola matanya dengan malas, lalu meringkuk membelakangi Steven yang masih berdiri memperhatikannya.
"Dih, Mama jahat banget. Jangan dong. Ini 'kan malam pengantinku dengan Citra, masa mau diganggu?" Bola mata Steven sudah berkaca-kaca. Dia tampak begitu sedih. Momen ini benar-benar dia nantikan, tetapi Sindi dengan mudah mengganggunya.
"Malam pengantinnya ditunda besok saja. Malam ini Citra sama Mama." Sindi tersenyum lalu mengelus kiri pipi Citra. Gadis itu sejak tadi diam dan menatap Steven. Suaminya sudah menangis sekarang. Tetapi tanpa suara. "Nih kunci kamar sebelah, kamu bisa tidur dengan Papa." Sindi merogoh kantong celananya, lalu menaruh card system di atas nakas.
'Enak saja tidur sama Papa. Mana enak. Dia 'kan tukang ngorok,' batin Steven kesal.
"Oh ya, Cit. Kamu sudah pernah dengar cerita Malin Kundang belum?" tanya Sindi dengan lembut.
"Sudah, yang ceritanya tentang anak durhaka itu 'kan, Ma?" tebak Citra.
"Tapi Citra udah gede, Ma. Ngapain didongengin. Dan Mama juga ngapain sih tidur sama Citra?" Steven masih menangis. Dia duduk di sofa. Ingin rasanya dia menarik Sindi untuk keluar, tetapi tak berani. Alhasil dia hanya memendamnya di dalam hati dengan kedua tangan yang mengepal kuat meremmas jasnya. 'Mama tega banget ya, ampun. Dia benar-benar nggak sayang sama aku dan Elangku.' Steven menyeka air matanya, lalu mengelus miliknya dibalik celana.
"Mama tanya Citra, bukan kamu, Stev." Sindi berdecak. "Bagaimana, Cit? Kamu mau dengar lagi nggak kisahnya. Ini bagus untukmu." Sindi mengelus perut Citra.
Niat Sindi adalah supaya calon cucunya bisa mendengarkannya. Tetapi waktunya sebenarnya belum tepat, dia masih terlalu kecil. Hanya saja Sindi merasa ingin menceritakan kisah itu sekarang juga.
"Boleh, Ma. Aku juga sudah lama nggak didongengin sama Ayah." Citra mengangguk cepat. Lalu tersenyum menatap Sindi. Kemudian, Mama mertuanya itu langsung berdongeng. Menceritakan kisah itu sesuai apa yang dia tahu.
Steven yang ikut mendengarkannya seketika merasa panas di telinga. Bukan karena kisahnya, tetapi sebal pada Sindi yang menganggunya.
Dia pun lantas berdiri, kemudian melangkah menuju lemari putih dan membukanya. Diraihnya handuk kimono putih, dan setelah itu Steven mendengkus kesal seraya masuk ke kamar mandi.
*
__ADS_1
*
Sembari berendam di dalam bathtub, Steven memikirkan sebuah ide. Ide supaya rencananya tak gagal dan tentunya menjauhkan Citra dengan Sindi.
'Aku harus bercinta malam ini dengan Citra. Ini 'kan malam pengantin kita. Pokoknya harus! Aku nggak mau ekpektasiku hancur gara-gara Mama!' batin Steven bertekad dalam hati.
Satu jam seusai berendam, lantas dia pun memakai handuk kimono dan mengantongi ponselnya di dalam saku handuk itu. Kemudian, pelan-pelan Steven membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.
Pandangan matanya tertuju ke arah kasur. Dua perempuan yang dia sayangi itu tampak tertidur pulas. Dilihat tangan Sindi berada di atas perut Citra. Posisi tidur istrinya terlentang.
Steven terdiam beberapa saat, dan setelah itu melangkah mengendap-endap menghampiri keduanya. Diambilnya card system di atas nakas, lalu pelan-pelan Steven memindahkan tangan Sindi yang sejak tadi di perut Citra.
Wanita tua itu sempat menggeliat, dan segera Steven mundur beberapa langkah supaya dia tak bangun akibat kehadirannya.
'Please ... jangan bangun, Ma. Mama tidur yang lelap saja dan mimpi indah, ya? Aku nggak akan membiarkan Mama menggagalkan rencanaku,' batin Steven.
Setelah dirasa Sindi sudah cukup pulas dan aman. Steven dengan cepat menghampiri Citra, lalu meraih tubuhnya seraya mengendongnya.
'Aku akan pindahkan Citra,' batin Steven.
Gegas dia pun berjalan cepat menuju pintu dan mencoba membuka kunci hotel itu. Terlihat agak susah untuk menempelkan card, tetapi setelah berusaha akhirnya bisa.
Steven bernapas lega saat dirinya berhasil menutup pintu kamar itu. Napasnya terdengar tersengal-sengal dan keringatnya mengalir membasahi wajah tampannya.
Kedua kaki itu kini melangkah menuju kamar sebelah, itu adalah kamar hotel milik Sindi dan Angga. Kembali Steven berusaha untuk membuka kunci dengan tangan yang tengah menahan bokong Citra dalam gendongannya.
Namun, saat sedang berusaha, tiba-tiba ada seorang yang memanggil dari belakang dan sontak membuat Steven terperanjat.
"Mau ngapain kamu, Stev?"
...Ribet banget ya, Om, padahal cuma mau bercinta doang 🤣🤭...
__ADS_1
...Yok bisa yok, vote dan hadiahnya. nggak lupa sama hari seninnya, kan? 😁🙏...