Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
324. Ingin tahu kebenarannya


__ADS_3

'Jangan bilang dukun beranaknya meninggal,' batin Tian dengan tubuh yang bergetar.


Nurul berlari masuk ke dalam gerbang rumah itu, menghampiri beberapa orang di sana.


"Maaf, yang meninggal siapa, ya? Apa Mbah Dijah?" tanya Nurul entah kepada siapa. Yang jelas, siapa pun yang menjawab dia butuh kepastian.


Tian dan Nissa menyusul, masuk ke dalam sana.


"Bukan, Bu," jawab seorang pria berkumis tebal yang memakai koko putih.


Mendengar jawabannya, seketika dada Tian terasa plong. Dia yakin, yang Nurul maksud tadi adalah dukun beranak itu.


"Terus siapa yang meninggal, dan ke mana Mbah Dijahnya?" Nurul kembali bertanya dengan raut wajah yang begitu penasaran.


"Anaknya yang meninggal, pas melahirkan. Mbah Dijahnya lagi di dalam, mungkin ikut mengurus, Bu," jelas pria itu.


"Innalilahi," ucap Tian dan Nissa secara bersamaan. Mereka juga saling memandang satu sama lain.


Nurul menoleh, lalu mendekat ke arah mereka. "Dukun beranaknya namanya Mbah Dijah, Ti. Dan kata orang-orang, anaknya meninggal," ujarnya memberitahu. Padahal Tian dan Nissa sendiri sudah mendengarnya tak sengaja.


"Iya, Ma. Sebaiknya kita nanya-nanyanya mungkin nanti saja kali, ya, setelah acara pemakamannya selesai. Soalnya Mbah Dijah pasti sangat berduka," ucap Tian.


Meskipun dia sangatlah penasaran, tetapi melihat kondisi seperti ini dia jadi merasa tak enak. Tentunya, Tian juga pernah diposisi Mbah Dijah, yakni kehilangan anaknya.


"Berarti kita tunggu, ya?" tanya Nurul.


"Iya, aku juga mau ikut ngelayat deh. Bantu-bantu. Mama dan Nissa tunggu di sini saja, ya?" pinta Tian. Kedua wanita itu mengangguk patuh.


Tak lama kemudian, jenazah yang sudah terbalut kain kafan itu dibawa keluar, lalu memasukkannya ke dalam keranda.


Mbah Dijah ikut keluar dengan suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan dia berteriak histeris. Sepertinya dia begitu terguncang, wajahnya pun sangat pucat.


Usia wanita itu sebaya Nurul. Hanya saja bedanya kulitnya hitam manis.


***


Sebelumnya di tempat berbeda.


Sesudah makan siang bersama teman-temannya, sebelum sampai ke rumah Dono, Juna berencana pergi ke minimarket, membelikan sesuatu untuk Silvi. Tak enak rasanya jika dia datang dengan tangan kosong.

__ADS_1


Mobil itu sudah terparkir rapih di depan minimarket, Juna langsung merogoh kantong celana seragamnya, hanya saja cuma ada uang 50 ribu di dalam sana. Sepertinya itu tak akan cukup.


"Om, Om punya uang nggak?" Juna bertanya kepada sopirnya. "Juna mau pinjam uang tadinya."


"Ada, ayok turun. Biar nanti Om yang bayar," ajaknya.


Juna mengangguk sambil tersenyum ceria, Atta dan Baim pun ikut turun. Sopirnya langsung membuntuti ketiga bocah itu, yang masuk ke dalam minimarket.


"Kamu mau beli apa, sih, Jun? Susu kotak?" tebak Baim yang berjalan di samping Juna. Temannya itu menatap rak minimarket dan seperti mencari-cari sesuatu.


"Kamu bukannya tadi sudah makan, kan? Masa laper lagi," kata Atta yang juga berada di samping Juna.


"Aku mau belikan sesuatu untuk Dedek Silvi, tapi bingung." Juna menghentikan langkahnya di depan rak aneka coklat. Perlahan jari telunjuknya mengusap-usap dagu.


"Kata Opamu kemarin, bukannya Dedek Silvi cuma boleh minum susu, ya?" ucap Atta.


"Iya. Tapi susu rasa apa kira-kira, coklat, strawberry, kacang atau apa?" Juna berpindah ke rak bagian beberapa varian rasa susu dan merk-nya.


Atta mengambil susu kotak berukuran sedang, lalu memperhatikannya. "Rasa coklat saja, Jun. Enak, lebih manis," usulnya.


"Om." Juna mendongakkan wajahnya, menatap Sopirnya yang berada di dekatnya.


"Iya, kenapa, Dek?"


"Memang berapa umurnya?" tanyanya.


"Seumuran sama Dedek kembarnya Tante Citra."


"Oh, mungkin baru beberapa bulan, ya? Berarti dia belum boleh minum susu kotak, Dek." Sopir itu melangkah mendekat ke arah rak, lalu mengambil satu kotak susu formula yang berada di rak paling atas. "Susu ini saja mungkin bisa, tapi tergantung merk yang dia minum juga, sih." Bertuliskan untuk bayi 0 tahun pada dusnya.


"Itu 'kan susu kotak juga, Om." Juna menunjuk kotak susu tersebut.


"Beda, ini 'kan susu bubuk formula. Ini khusus untuk bayi."


"Aman buat Dedek Silvi?" tanya Juna yang terlihat ragu.


"Insya Allah aman, tapi balik lagi dia cocok atau nggaknya."


"Ya sudah, beli satu deh, Om. Juna juga mau belikan Dedek Silvi dot bayi. Buat ganti-ganti."

__ADS_1


Sopir itu mengambil keranjang, lalu menaruh susu formula di dalam sana. Selanjutnya Juna dan teman-temannya memilih dot bayi.


"Yang ini saja, Jun, lucu." Atta mengambil sebuah botol dot bayi berbentuk Hello Kitty. Juna melihat harganya, 100 ribu.


"Terlalu murah kayaknya, Ta. Carikan yang mahal."


"Mahal sama murah 'kan sama saja, Jun. Sama-sama dot bayi." Atta merengut sebab pilihannya tak diambil, padahal dia suka melihat bentuknya. Lantas dia pun menaruh botol itu kembali ke rak.


"Kata Mamiku ... harga itu tergantung kualitas barang, Ta. Masa bayi secantik Dedek Silvi pakai barang murah? Kan kasihan," jelas Juna memberitahu. "Ah ini saja, nih! Bagus." Dia menemukan dot yang bentuk botolnya seperti donat, ada lubang. Harganya 500 ribu tapi dapat diskon menjadi 400 ribu.


"Iya, itu bagus, Jun," sahut Baim. Juna langsung menaruh botol dot tersebut di dalam keranjang yang dijinjing sopirnya.


"Udah, Dek? Apa ada lagi?" tanya sang sopir.


"Apalagi, ya?" Juna langsung terdiam dan berpikir.


"Sabun buat Dedek Silvi nggak sekalian?" Atta mengambil satu set perlengkapan bayi dalam kemasan sebuah tas. Ada shampoo, body wash, baby oil, baby lation dan lain-lain. Aromanya buah apel.


"Wah, bener juga, nih!" Juna mengambil tas tersebut, lalu dia menatap harganya senilai 600 ribu.


"Sudah Dek, jangan banyak-banyak," tegur sang sopir saat Juna memasukkan perlengkapan bayi itu ke dalam keranjang. "Bukannya nggak boleh, tapi takutnya nggak cocok, kan sayang kalau nggak dipakai. Adek juga pasti nggak tahu, kan, merk susu atau sabun yang Silvi pakai?"


"Iya, Om." Juna mengangguk. "Ya sudah, segitu saja. Ayok kita bayar ke kasir pakai uang Om dulu, ya? Nanti bayarnya kalau Juna sudah besar."


"Iya." Sopirnya itu terkekeh, lalu mengajak Juna dan teman-temannya ke kasir.


***


Setelah 2 jam lebih, akhirnya proses pemakaman anak Mbah Dijah berjalan lancar meskipun berulang kali Mbah Dijah pingsan. Tian jadi bingung sendiri ingin bertanya tentang anaknya, dia merasa tak tega. Tapi masih penasaran.


'Bagaimana ini? Aku ingin tahu tentang Tina, tapi kayaknya Mbah Dijah sangat berduka,' batinnya.


"Pak, maaf," ucap Tian pada suami Mbah Dijah yang baru saja keluar dari pintu rumahnya sambil membawa satu dus air kemasan gelas, lalu menaruhnya di atas bale. "Apa aku bisa bicara sebentar dengan Mbah Dijah?"


"Bapak ada perlu apa? Istriku sangat berduka sekali sekarang," jawabnya. Wajah pria tua itu tampak sendu. Kantung matanya pun menghitam.


"Aku hanya mau tanya makam anakku di mana. Karena kata Fira mantan istriku ... pas dia melahirkan, Mbah Dijah yang memakamkan anak kami saat dia meninggal pas lahir," jelas Tian. Raut wajahnya tampak memohon. Selain itu, wajah Tian juga begitu muram dan berminyak.


"Sebentar ... saya temui istri saya dulu, ya, Pak. Tapi kalau dia belum bisa diajak bicara, mohon Bapak bisa memakluminya. Karena kami sekarang sedang berduka."

__ADS_1


"Iya, Pak. Nggak apa-apa." Tian tersenyum di depan pintu. Dia pun langsung berdo'a dalam hati ketika suaminya Mbah Dijah masuk ke dalam rumah dan mendekati istrinya yang tengah duduk sambil menangis memegang sebuah bingkai foto. 'Semoga Mbah Dijah mau bicara, aku hanya ingin tahu kebenarannya,' batinnya penuh harap.


...Masih sabar nggak nih, Guys, kira-kira? 🤣 apa udah mulai kezel 😆...


__ADS_2