
Steven tiba di sebuah Mall Grand Indonesia tidak sendiri, melainkan dengan beberapa polisi.
Sengaja dia memintanya datang supaya dapat membantunya mempercepat pencarian Citra.
"Kalian berpencar! Pokoknya cari sampai dapat!" titah Steven dengan lantang. Berbicara dengan 10 pria berseragam di depannya. Di samping Steven ada Jarwo, pria itu selalu menemani kemana pun dia pergi.
"Baik, Pak!" sorak mereka bersamaan. Lantas, mereka pun segera menyebar. Tidak hanya masuk ke dalam Mall, tapi sebagian ada yang mencari disekitar wilayah itu.
Steven menghampiri seorang satpam yang berjaga di depan pintu kaca, lalu menunjukkan layar ponselnya. "Apa Bapak melihat gadis ini?"
Satpam itu menatap foto pada layar ponsel itu cukup lama, lalu beberapa detik dia pun menggeleng. "Maaf, saya nggak tahu, Pak."
"Apa aku boleh minta tolong sama Bapak?"
"Tolong apa?"
"Tolong Bapak bantu aku mencari gadis ini. Dia istriku, Pak. Dia sedang marah dan kabur dari rumah. Aku ingin meminta maaf padanya." Menurut Steven, semakin banyaknya orang yang mencari, itu akan mempermudah pencariannya.
Satpam itu pun menoleh ke arah rekan seprofesinya, lalu mengangguk seakan memberikan isyarat.
"Baik, saya akan membantu Bapak." Satpam itu mengangguk, kemudian berlalu masuk ke dalam mall.
Steven menyunggingkan senyum. Jantungnya langsung berdegup kencang. Jujur, ketika mamanya memberikan informasi kalau Citra ada di sini, dia sungguh merasa senang sekali. Dan saat ini Steven begitu tak sabar ingin bertemu dengannya.
'Kita harus meluruskan kesalahpahaman ini. Setelah itu aku akan mengajakmu ke rumah Mama dan Papa, Cit. Aku nggak peduli kalau misalkan nanti Papa atau Mama nggak suka dan nggak merestui kita. Tapi yang jelas ... aku akan selalu bersamamu. Aku mencintaimu dan sangat merindukanmu, Cit.'
__ADS_1
Steven berlari masuk ke dalam mall itu, kemudian disusul oleh Jarwo dari belakang. Sambil mencari dia juga terus berdoa supaya pencariannya berhasil.
Setelah beberapa jam berlalu. Dari siang menuju sore, sore menuju malam hingga sampai di mana mall itu tutup pada jam 21.00.
Kini beberapa perwira polisi itu berkumpul di depan halaman mall bersama Steven yang berwajah kecewa. Jelas kecewa sebab pencariannya tak berhasil.
Entah kemana gadis itu, semua toko dan tempat pusat perbelanjaan itu sudah mereka telusuri, tetapi nyatanya Citra tak ada di mana-mana.
"Maaf, Pak. Mallnya sudah tutup dan Nona Citra nggak ada," kata salah satu polisi yang mewakilkan untuk bicara pada Steven.
Steven membuang napasnya dengan kasar, lalu berdecak kesal. Nyatanya Steven sangat tak puas dengan bantuan dari para polisi itu. Sebab sudah hampir seminggu lebih semenjak dia melaporkan Citra hilang, sampai detik ini mereka tak berhasil menemukannya.
"Nggak becus memang kalian! Sudah sana pergi dan cari ke tempat lain!" titahnya sambil mengumpat. Wajah Steven begitu garang dan emosinya mendidih.
Mereka semua mengangguk, kemudian berjalan pergi dari sana. Ada yang menaiki mobil dan ada pula yang naik motor. Tetapi mereka masih terus berusaha mencari keberadaan Citra dan Gugun.
Namun, rasa sakit di lututnya tak sebanding dengan rasa sakit menahan rindu di dalam dada. Sungguh, itu sangatlah sakit dan berat.
Steven seperti sudah gila sekarang, mulutnya terus mengoceh memanggil nama Citra dan mengungkapkan isi hatinya yang terdalam.
Perlahan dia pun menyentuh dada, luka jahitan dari luar itu sudah sembuh, tetapi luka hati Citra mungkin belum sembuh karena sampai sekarang belum ingin kembali padanya. Seketika terbesit pikiran seperti itu di otaknya.
"Citra! Kembalilah kepadaku, Cit! Kembalilah ...," pinta Steven memohon. Sorotan matanya menatap gedung mall di depan. Netranya tampak berkaca-kaca. "Aku ... aku merindukanmu! Sangat sangat merindukanmu!"
Jarwo hanya berdiri di sana, di samping Steven, tetapi dia tak berani berkata apa-apa sebab takut jika nantinya Steven marah.
__ADS_1
"Dulu kamu bertanya padaku ... kapan Om mencintaiku. Sekarang aku sudah mencintaimu bahkan sangat cinta. Tapi kamu malah pergi dariku, Cit. Kenapa kamu tega sekali padaku ...."
"Tolong ... beri aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin kita bertemu, aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ... Aaakkkkhhh!" Steven memekik keras sembari menyentuh kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri. Begitu sakit dan itu membuat penglihatannya menjadi buram.
Mendadak, bayangan Citra seketika berada di depan mata. Dan itu sungguh membuat Steven bahagia. "Citra, apa itu kau? Ah, aku sangat merindukanmu," katanya berbicara sendiri. Segera Steven pun memeluk udara dan mengelus-elusnya.
Jarwo mengerutkan keningnya, bingung dengan tingkah Steven yang rasanya aneh. Pria itu seperti orang gila yang bicara sendiri bahkan sekarang seolah-olah tengah mencium seseorang padahal tidak ada siapa-siapa di depannya.
Namun, kelakuannya yang seperti itu justru membuatnya bergidik ngeri. Bahkan bulu kuduk Jarwo seketika berdiri.
"Iya, aku cinta sama kamu, Cit. Ayok pulang bersamaku. Aku akan kenalkan kamu dengan Mama dan Papa." Steven berdiri dan mengusap pipinya sisa air mata, dia pun perlahan melangkah menuju mobil Jarwo yang terparkir tidak terlalu jauh dari posisi sekarang.
Jarwo ikut menghampiri, tetapi baru saja dia hendak membuka pintu mobil untuk Steven masuk, tiba-tiba pria itu langsung menoleh ke belakang. Sepertinya sedang mencari-cari seseorang.
"Bapak cari siapa?" tanya Jarwo.
"Citra! Mau ke mana kamu?" Tiba-tiba Steven langsung berlari begitu saja menuju jalan raya, seperti mengejar seseorang yang nyatanya tidak ada siapa-siapa. "Citra jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"
Dari kejauhan arah barat, ada sebuah mobil ambulan melaju dengan kencang. Posisi mobil itu tepat di mana Steven berdiri yakni di tengah jalan.
Tit!!!
Mobil itu mengklakson Steven untuk minggir, atau setidaknya cepat menyebrang. Akan tetapi Steven malah berdiri saja, menatap lurus dan terus mengoceh nama Citra, dia seolah tak mendengar apa-apa.
Titittt!!!
__ADS_1
Mobil itu makin mendekat ke arah Steven dan akhirnya ......
...Apa yang akan terjadi selanjutnya?🤔...