
"Cuma minta gelang terus nggak dikasih langsung minta putus?" Angga mengulang ucapan Tian. Wajahnya tampak heran.
"Bukan nggak dikasih, Pak. Tapi belum. Dan sekarang aku sudah kasih, mangkanya dia mau balikkan sama aku sampai hamil dan menikah," jelasnya.
"Itunya gelang emas?"
"Berlian, Pak. Harganya juga mahal."
"Oh, berarti si Fira itu nggak beneran cinta padamu, Tian." Dari apa yang diceritakan oleh Tian, Angga bisa menangkap jika Fira tak beneran suka pada pria itu. Seperti ingin memanfaatkannya saja. Ah tapi, tidak penting juga sebenarnya untuk Angga.
"Nggak mungkinlah, Pak. Kalau dia nggak cinta ... Fira nggak mungkin memberikan kesuciannya padaku. Sebelum aku menikah dengannya," bantah Tian. Akibat cintanya yang berlebihan, dia seolah menutup mata.
"Tapi kalau dia beneran cinta ... terus kenapa semenjak dia kerja jadi sekertaris Steven, dia bilang nggak punya pacar? Itu sama saja kamu nggak diakui. Katanya sudah tunangan?"
"Memangnya Bapak ada tanya-tanya sama dia?"
"Bukan tanya, tapi Fira sempat ingin menjadi—"
"Ada apa ini?" tanya Sindi yang baru saja datang bersama Kevin. Dia menyela ucapan suaminya.
Burung Kakatua itu langsung terbang menghampiri Angga, berdiri lalu melebarkan sayapnya ke arah perut, memeluknya.
"Papa! Saya tidak mau pulang sama si Hidung Belang!" serunya sambil melirik sekilas pada Tian. Dia sepertinya berpikir jika kedatangan Tian ingin membawanya pergi.
"Siang Tante," sapa Tian dengan ramah. Dia langsung berdiri.
"Ada keperluan apa kamu ke sini? Mengambil Kevin?" tanya Sindi.
"Ini, Ma, Tian mau menjual Kevin sama Papa katanya." Angga yang menyahut.
"Sungguh teganya, saya dijual!" seru Kevin dengan suara parau.
"Papa mau membelinya?" tanya Sindi menatap Angga.
"Kalau Mama mengizinkan. Papa sih mau saja." Angga mengelus jambul Kevin sebentar, lalu menarik kursi kosong yang berada di depan untuk digeserkan ke samping. Sindi pun langsung duduk di sana.
Tian juga duduk kembali.
"Kenapa kamu jual Kevin? Memang nggak sayang sama dia?" tanya Sindi.
__ADS_1
Sepertinya proses negosiasi akan dimulai. Namun sebelum itu Sindi ingin mengetahui alasan Tian ingin menjual Kevin.
"Dia memang tidak sayang sama saya, Tante." Yang menyahut justru Kevin. Kini dirinya berpindah, berdiri di pangkuan Sindi seraya memeluk perutnya.
"Bukan aku nggak sayang padamu. Tapi kamunya yang nggak mau ikut denganku!" tukas Tian sambil melotot.
"Saya tidak mau ikut karena ada Fira di rumahmu! Saya membencinya!" jawab Kevin sambil menggelengkan kepalanya.
"Tahu dari mana kamu, Fira tinggal di rumahku?"
"Kemarin saya ke rumahmu. Saya lihat dia ada di teras!"
"Memang kenapa kamu nggak suka sama Fira? Kan aku sudah bilang dari dulu kalau dia akan menjadi istriku. Akan hidup dengan kita."
Memang sejak awal Tian mengenalkan Fira kepada Kevin, burung itu selalu mengatakan kalau dia tak suka padanya. Berikut dengan ucapan-ucapan yang menurut Tian tidak masuk akal. Seperti mengatakan Fira tidak cantik, tidak baik, matre sampai jahat.
Tian tak tahu alasan yang jelas Kevin mengatakan hal itu, sebab dia sendiri tak memberitahunya. Akan tetapi Tian akui jika burung itu memang selalu berkata jujur.
"Karena dia wanita jahat dan matre! Dia juga sering bilang kalau saya akan dibunuh! Daripada saya mati lebih baik saya pindah rumah!" Kevin memalingkan wajahnya. Kesal pada Tian yang lebih memilih bersama Fira daripada bersamanya.
Sindi dan Angga melayangkan pandangan sebentar, lalu menatap ke arah Tian lagi.
"Ya sudah, jadi kamu mau jual Kevin berapa padaku?" tanya Angga.
Sontak—kedua mata Sindi dan Angga terbelalak. Terkejut dengan nominal yang Tian sebutkan.
"Kamu gila, ya, Tian?! Mana ada burung seharga 1 M?" protes Sindi yang tak percaya.
"Ada, coba cek saja digoogle kalau nggak percaya. Bahkan ada yang lebih mahal."
Sindi mengambil ponselnya di dalam tas, kemudian mengetik pada kolom pencarian tentang harga burung termahal.
Mata Sindi langsung melotot. Ada sebuah artikel yang baru saja dia baca tentang harga burung 2 Milyar. Akan tetapi itu jenis merpati, bukan Kakatua.
"Kevin aku rawat sejak dia baru saja keluar dari cangkang telur. Sekarang usianya sudah dua puluh tahun. Dua puluh tahun bukan waktu yang sedikit untuk membesarkannya. Apalagi dia makannya banyak dan maunya yang enak-enak," tambahnya seraya melirikkan matanya ke arah Kevin.
"Jadi kamu tidak ikhlas membesarkanku?" tanya Kevin sinis.
"Ikhlas. Kalau nggak ikhlas kamu sudah aku racun."
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan mengirim uangnya." Angga cepat-cepat mengambil ponselnya di dalam celana kolor. Dia terlihat bersemangat ingin membeli Kevin.
Baru saja hendak membuka m-banking, akan tetapi benda pipih itu direbut cepat oleh Sindi.
"Aku nggak setuju, harga Kevin terlalu mahal." Sindi menggeleng cepat. Tidak semudah itu baginya memberikan uang apalagi dengan jumlah banyak. "Kalau tentang kamu mengurusnya hingga berumur 20 tahun, itu jangan kamu hitung. Karena selama 20 tahun Kevin sudah menemanimu, dan kamu sendiri menjadikan dia hewan peliharaanmu."
"Jadi Ibu mau Kevin harga berapa?" tanya Tian. Mungkin Sindi memang ingin menawar harga.
"1 juta."
Mata Tian sontak terbelalak. "Itu terlalu murah, Bu. Aku nggak mau. Kevin juga burung pintar." Menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ya kalau kamu nggak mau ya, sudah. Bawa saja Kevin lagi. Itu pun kalau dia mau." Sindi mengangkat tubuh Kevin, lalu meletakkan di atas meja. Akan tetapi burung itu justru terbang masuk ke dalam rumah. Kebetulan pintu rumah itu terbuka lantaran bibi pembantu baru saja keluar.
"Cepat, mau atau nggak? Aku mau masuk ke dalam," tanya Sindi. Dia menatap Tian yang tengah termenung.
Tian sangat bingung. Yang dibutuhkan uang satu milyar, bukan satu juta. Akan tetapi, bernegosiasi dengan Sindi rasanya sulit. Dia justru membandrol harga belinya sendiri.
"Kalau kamu nggak menjawab, tandanya kamu menolak. Nanti suruh saja orang untuk mengambil paksa Kevin," tantang Sindi seraya berdiri. Lantas menarik lengan Angga hingga membuat tubuhnya ikut berdiri. Pria itu sejak tadi diam saja.
"Ya sudah deh. Nggak apa-apa satu juta juga," ucap Tian dengan penuh keterpaksaan. Daripada dia tak mendapatkan uang sama sekali, sedangkan Kevin tak mau ikut. Yang ada sia-sia. Fira pastinya akan marah.
Baru menikah beberapa hari hampir setiap waktu mereka selalu berantem. Fira selalu saja marah dan mengeluh masalah uang. Dan sekarang Tian tak mau itu kembali terulang, meskipun dia sendiri tak yakin.
Sindi yang baru saja menarik Angga untuk masuk ke dalam rumah seketika menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. Dia tersenyum penuh kemenangan menatap Tian.
"Berapa nomor rekeningmu?" tanyanya sembari mengetik layar ponsel.
Tian langsung menyebutkannya.
*
*
"Apa, Mas? Jadi Kevin hanya seharga satu juta?!" seru Fira terkejut. Matanya terbelalak. Tian baru saja selesai bercerita, memberitahu harga jual Kevin.
"Ya." Tian mengangguk frustasi. Kalau boleh jujur, hatinya masih tidak ikhlas untuk merelakan Kevin. Hanya saja dia bingung musti gimana, Fira jauh lebih penting menurutnya. Ketimbang Kevin yang hanya seekor burung.
"Kenapa murah sekali burung itu? Dan satu juta cukup untuk untuk apa, Mas? Baju yang mau aku beli saja 5 juta harganya!" protesnya. Fira mengerang kesal.
__ADS_1
Tian membuang napasnya dengan kasar lalu memijat dahi. Mendadak kepalanya terasa sakit, telinganya pun ikut berdengung mendengar Fira yang terus menggerutu.
...Udah kere, punya istri matre. Pusing-pusing dah tuh 🤣...