
"Eh serius? Aku mau, Cit!" sahut Arya tanpa pikir panjang.
"Tapi pacar pura-pura saja ya, Kak."
"Pacar pura-pura?" Alis mata Arya bertaut. "Kok begitu?"
"Iya, aku ingin buat Om Ganteng cemburu, Kak."
"Om Ganteng itu siapa?"
"Dia ...." Citra terdiam beberapa saat, lalu berkata. "Dia pacarku."
"Oh, kamu sudah punya pacar." Wajah Arya seketika kecewa, padahal dia sempat mengira kalau Citra suka padanya. Itu juga alasannya mengapa dia langsung menerima, tak mungkin juga gadis secantik Citra dia tolak.
"Iya, tapi dia orangnya cuek. Dia juga pernah bilang kalau dia nggak akan cemburu kalau melihatku dekat dengan laki-laki lain," jawab Citra murung.
"Kalau begitu mah namanya nggak cinta dong. Masa nggak cemburu?"
"Ya mangkanya aku mau lihat, kalau aku dan Kakak dekat ... kira-kira dia cemburu atau nggak."
"Eeemm ... gimana, ya?" Arya mengusap tengkuknya, dia seperti tengah mempertimbangkan.
"Nanti aku bayar Kakak deh sekali akting pura-pura pacaran."
"Tapi nanti kalau dia marah aku ditonjok bagaimana? Kan resikonya gede."
"Ya mangkanya, nanti aku bayar Kakak."
"Ah kalau bayar mah jangan deh. Ya sudah ... aku mau kita pura-pura pacaran, itung-itung ngebantu saja." Rasanya tak enak jika menolak, apa lagi melihat wajah Citra yang suram hari ini. Tidak seceria hari-hari biasa saat dia berpapasan.
Mata Citra seketika berbinar, dia pun langsung mengulum senyum. "Terima kasih ya, Kak. Kakak baik banget. Nanti kalau butuh apa-apa bilang saja. Aku kasih uang."
Arya menggeleng lalu tersenyum. "Nggak usah. Terus pura-pura pacarannya gimana? Eh, pacarmu kuliah di sini?"
"Pacarku udah kerja, Kak. Dia juga cukup dewasa, tapi sangat ganteng. Pura-puranya supaya buat dia cemburu, Kakak emang udah pernah pacaran belum sih sebelumnya?"
"Pernah."
"Ya sudah, nanti kita pura-puranya saat ketemu dia."
"Ketemunya di mana? Kan pacarmu kerja."
"Besok kita berangkat ke kampusnya bareng, nanti aku kirim alamat apartemenku ke Kakak."
__ADS_1
"Kenapa nggak nanti malam saja? Kan malam Minggu tuh."
"Kalau malam aku nggak yakin bisa pergi, Kak." Citra terdiam lalu manggut-manggut. "Eemm ... tapi dicoba boleh juga sih."
"Ya sudah, mana nomormu? Biar gampang kita kabar-kabarannya."
Citra mengambil ponselnya pada tas ransel. Setelah mencatat nomor Citra, Arya segera memiskolnya. Supaya Citra bisa menyimpan nomornya.
"Aku sudah save, kalau begitu aku duluan ya, Kak. Sudah masuk jam kelas." Citra segera berdiri lalu memanggil ibu kantin untuk membayar sarapannya yang masih utuh, dia hanya minum susu saja.
"Semangat belajarnya, Cit!" ujar Arya setengah berteriak kala Citra sudah berjalan menjauh, gadis itu pun menoleh dan tersenyum manis padanya. Setelah itu pun berlalu pergi.
Senyuman Citra sontak membuat kedua pipi Arya bersemu merah. Jantungnya tiba-tiba berdebar. 'Manis banget senyumannya, ngalahin gula.'
***
"Nona, tadi pagi Nona naik taksi ke kampus?" tanya Gugun saat melihat Citra masuk ke dalam mobilnya, setelah gadis itu melambaikan tangan pada teman-temanya.
"Iya."
"Kok nggak bareng Pak Steven? Apa Nona marah sama dia setelah tahu tentang map coklat?" Gugun menarik gasnya, lalu mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Kata siapa aku marah?" Wajah Citra tampak cemberut, Gugun dapat melihatnya dari kaca depan mobil.
"Aku nggak marah, cuma kesel aja."
"Alasannya?"
"Karena Om Ganteng menyebalkan orangnya. Sudah nggak usah tanya-tanya lagi. Aku lagi males ngomong." Citra bersedekap lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela, baginya, bicara dengan Gugun sama saja bicara dengan Steven. Kedua pria itu sama-sama menyebalkan menurutnya.
"Tentang map coklat itu sudah ketemu?"
"Belum. Sudah jangan tanya. Aku nggak mau jawab."
"Ah iya, iya, maaf." Tak lama terdengar suara deringan pada ponsel Gugun, pria itu pun segera menghubungkan aerphone bluetooth pada ponselnya, lalu menempelkannya pada telinga. Supaya mempermudah aktivitasnya untuk mengangkat panggilan masuk sambil mengemudi.
"Halo, Pak."
"...."
"Ini saya lagi jemput Nona Citra, sekarang ada di jalan."
"..."
__ADS_1
"Oke, Pak." Gugun mengangguk. Setelah sambungan telepon itu terputus, lantas Gugun pun menoleh ke arah Citra. Gadis itu tengah bermain ponsel.
"Nona, Pak Steven mengajak Nona makan siang di restoran. Jadi kita langsung ke sana saja, ya?"
Mata Citra sontak terbelalak, dia terkejut dan tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar kencang. Padahal hanya makan siang dan dia tentu sering makan bareng Steven, tetapi rasanya aneh saja kalau sampai mengajak ke restoran. Seperti spesial saja—pikirnya.
'Tumben? Ada apa nih? Biasanya 'kan Om Ganteng nggak pernah mengajakku makan diluar?' batin Citra bertanya-tanya. Seketika terlintas akan rencananya untuk membuat Steven cemburu, sepertinya sekarang momen yang tepat.
"Om, di restoran mana Om Ganteng mengajakku makan siang?" tanya Citra dengan penuh antusias.
"Restoran pertama kali Nona bertemu dengannya."
Citra segera mengirim chat pada Arya, memintanya untuk datang ke restoran itu dan berharap misinya akan berhasil. Sunggingan senyum itu tercetak jelas pada bibir Citra, belum juga apa-apa. Tetapi dia sudah sangat senang ingin membuat Steven cemburu.
'Awas saja ya, Om. Aku akan membuat Om cemburu. Bila perlu sampai kebakaran jenggot.' Citra tersenyum menyeringai, tetapi wajahnya yang cantik itu sama sekali tak memperlihatkan kalau senyumannya seram. 'Ah tapi ... Om Ganteng 'kan nggak ada jenggotnya. Eh, kebakaran bulu yang di bawah saja deh kalau begitu. Ya ... biar telurnya yang bergelantungan itu botak.' Citra sudah cengengesan sendiri dengan mata yang berbinar, sudah seperti orang gila saja dia. Gugun yang melihatnya hanya mengerutkan kening. Ingin bertanya rasanya tak enak, takut jika Citra marah.
***
Citra melangkah seorang diri masuk ke dalam restoran bintang lima, sangat mewah dan begitu elite. Gugun hanya mengantarkan saja, setelah itu pulang. Suasananya sangat ramai, tetapi tidak terlihat penuh sebab jarak diantara masing-masing meja itu lumayan jauh.
"Nona Citra bukan?" tanya seorang pelayan wanita yang menghampirinya. Citra sempat berdiri mematung sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari meja nomor 5 yang Gugun katakan bahwa Steven duduk di sana.
"Iya, Mbak." Citra mengangguk cepat.
"Mari saya antar." Pelayan itu berjalan lebih dulu dan Citra mengekorinya dari belakang, tak lama langkahnya terhenti di depan sebuah meja.
Tiba-tiba, semerbak aroma minyak wangi mengguar masuk ke dalam rongga hidung, aroma itu Citra kenal betul milik siapa. Yaitu milik Steven.
Pria tampan itu tersenyum manis dengan kedua lesung pipinya. Dia tampak seperti habis mandi, wajahnya cerah dan putih. Tubuhnya yang cukup kekar itu memakai setelan jas berwarna biru nevi dengan rambut yang terlihat sedikit basah. Sangat tampan dan mempesona.
Citra berusaha untuk tidak terlalu memperhatikannya. Dia hanya melihat sekilas dan langsung mengalihkan pandangan ke arah lain sembari mencoba mengontrol debaran di jantungnya.
'Kenapa harus ganteng banget?' Citra mengepalkan kedua tangannya. Merasa kesal pada situasi yang saat ini dia hadapi. 'Ah menyebalkan sekali Om Ganteng ini. Orang mah nggak usah mandi, sengaja banget kayaknya untuk tebar pesona padaku.' Citra menarik napasnya dalam-dalam, lalu perlahan menghembuskannya. 'Tenang Cit, jangan meleleh duluan. Niatku akan membuatnya kebakaran bulu.'
"Kok kamu malah diam saja? Ayok duduk," ucap Steven lembut. Tetapi ucapannya membuat gadis itu terhenyak sebab bengong sejak tadi.
Citra langsung menarik kursi kemudian duduk di depannya. Di atas meja persegi itu sudah tersaji rapi dua porsi Beefsteak dan dua gelas jus alpukat. Menunya benar-benar sama dengan menu saat mereka pertama kali kencan. Hanya saja bedanya steak yang di depan Citra sudah dipotong-potong.
'Semoga Kak Arya cepat datang sebelum makan siangnya selesai,' batin Citra penuh harap. Kemudian mengambil garpu dan pisau yang dibalut tissue di samping piring steak. Dan tak lama terdengar seseorang yang memanggil namanya dan itu membuatnya langsung menoleh.
"Citra!"
...Semoga dia Arya ya, Cit. Biar bulu Om suamimu itu rontok 🤣🤣...
__ADS_1
...Btw Author nulis kebanyakan🤭, jadi dibagi menjadi dua bab. Bab selanjutnya nanti siang atau sore aku up, ya 😆✌️...