
Ceklek~
Pintu ruangan IGD itu dibuka bertepatan dengan kedatangan Rama. Lantas Angga dan Nissa pun berdiri lalu melangkah mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok. Kenapa dengan Juna?" tanya Nissa yang masih terlihat panik.
"Ibu tenang, nggak perlu khawatir. Saya akan memberitahu apa yang terjadi." Ketiga orang itu langsung menatap serius kepada dokter itu. "Tapi saya akan menyampaikannya dengan Opanya Juna saja. Apa Bapak orangnya?" Menatap wajah Angga dan pria tua itu langsung mengangguk cepat.
"Bapak ikut saya ke ruangan. Nanti Juna akan dipindahkan ke ruang rawat."
"Kamu dan Rama temenin Juna, Papa menyusul Dokter dulu, ya?" Angga mengusap rambut kepala Nissa. Wanita itu mengangguk cepat. Segera, Angga mengekori dokter itu menuju sebuah ruang pribadinya.
Dia masuk, lalu menutup pintu dan perlahan duduk di kursi di depan meja. Dokter itu juga duduk di depannya.
"Juna mengalami demam dan sakit magh, Pak," ucap Dokter itu memberitahu.
"Oh, jadi itu penyebab Juna kejang-kejang dan muntah?"
"Memang tadi dia sempat mengalami kejang?" Dokter itu berbalik tanya.
"Iya, itu malah yang membuatku khawatir."
"Kemungkinan seperti itu. Oh ya, Pak. Juna juga mengalami stres, seperti ada sebuah tekanan di otaknya." Mungkin dengan apa yang dokter itu katakan dapat membantu Juna.
Namun, apa yang dikatakannya tidak bohong sebenarnya, sebab memang psikis Juna kena akibat rasa sedih dan keinginan yang belum terwujud.
"Stres gimana, Dok? Juna 'kan masih kecil, masa gila?" Angga seketika teringat akan penyakit Steven dulu. Dia juga merasa dejavu dan kebetulan, dokter yang awalnya mengetahui Steven mengalami gejala gangguan mental adalah dokter yang sama. Yang saat ini berada di depannya.
"Dia nggak gila, Pak. Cuma Juna bisa dikatakan anak broken home."
"Broken home itu apa, Dok?"
"Anak yang mengalami keluarga yang tidak utuh. Seperti perceraian antara Ayah dan Ibunya. Hilangnya sosok Ayah di mata Juna membuat dia terluka dan sedih, Pak. Saya khawatir kalau nantinya akan berpengaruh pada sifat dan perilaku Juna. Soalnya kebanyakan anak broken home itu pendiam, tempramental, nakal dan nggak sopan," jelas dokter itu. Dilihat Angga menyimak dengan serius. "Tapi yang saya lihat, Juna masih mempunyai mental yang cukup kuat. Dia bisa mengontrol emosi dan tidak mudah menangis. Tapi hal ini juga jangan dibiarkan begitu saja, Pak. Bapak harus ikut bertindak."
"Bertindak? Apa maksudnya Juna harus mempunyai Papi baru?" tebaknya.
"Ya." Dokter itu mengangguk penuh semangat. Jawaban inilah yang dia inginkan, supaya mampu merayu Angga. "Tapi sebaiknya, Papi baru untuk Juna adalah pilihan dia sendiri, Pak. Keinginan Juna sendiri, tanpa campur tangan orang lain."
Penjelasan itu seperti bentuk sindiran halus.
"Aku sebenarnya sudah punya calon untuk Papi barunya, hanya saja Juna seperti nggak setuju," keluh Angga kecewa.
__ADS_1
"Juna sendiri sudah ada pilihan nggak?"
"Ada, tapi akunya yang nggak setuju, Dok."
"Maaf kalau ini bersifat pribadi. Tapi, apa saya boleh tahu alasannya?"
"Menurut anakku, Steven, dia bukan pria yang baik, Dok. Suka main cewek, minum, haus akan harta dan pokoknya semua kejelekan ada didiri dia semua. Selain itu, dia juga adalah Omnya menantuku. Memang, dalam Islam nggak haram kalau mereka menikah. Diperbolehkan. Toh, nggak ada hubungan darah juga. Tapi ... tetap saja aku merasa Tian itu nggak cocok dengan Nissa. Nissa terlalu sempurna untuk Tian yang banyak kekurangan, Dok."
Dokter itu menghela napasnya perlahan. "Manusia di dunia ini nggak ada yang sempurna, Pak. Dan apa Bapak pernah melihat langsung apa yang anak Bapak katakan itu benar, tentang Tian?"
"Belum. Tapi aku yakin Steven anakku nggak mungkin berbohong."
"Tapi manusia 'kan ada berubahnya, Pak. Apa selama ini Tian nggak ada keinginan untuk berubah? Dan apa Tian menyukai Maminya Juna?"
"Dia suka. Dia juga bilang mau berubah, tapi aku nggak percaya." Angga menggeleng.
"Agak sulit juga ya, Pak. Kalau nggak percaya. Tapi, menurut saya, nggak ada salahnya untuk memberikan pria itu kesempatan."
"Maksud Dokter, Dokter memintaku untuk menikahkan Maminya Juna dengan Tian?"
"Saya nggak minta, saya hanya memberi saran. Ini 'kan untuk cucu Bapak juga. Sekarang coba Bapak pikir, kalau misalkan Juna mendapatkan Papi baru bukan sesuai keinginannya ... lalu, apa yang dia dapatkan? Apa Bapak yakin Juna akan bahagia nantinya?"
"Sebaiknya Bapak pikir-pikir dulu. Dan coba ngobrol dengan Juna. Saya harap, hubungan Bapak dan Juna terjalin dengan baik dan Bapak bisa menuruti permintaannya. Saya tahu apa yang mungkin Bapak inginkan adalah hal yang baik, tapi kebahagiaan Juna tentu hal yang jauh lebih baik," jelas Dokter itu.
"Baik, Dok. Lalu, apa ada lagi?"
"Tidak ada. Silahkan Bapak temui cucu Bapak di kamar nomor 40 khusus anak, ya, Pak."
"Terima kasih, Dok." Angga berdiri dan tersenyum.
"Sama-sama."
*
Di depan kamar inap Juna, ada Rama yang tengah duduk seorang diri di kursi panjang sambil memainkan ponselnya. Dan pria itu langsung mengangkat wajahnya serta berdiri ketika Angga mendekat.
"Kok kamu diluar? Kenapa nggak masuk ke dalam?" tanya Angga.
"Tadi aku sudah masuk. Tapi Junanya melarangku, Om. Sepertinya dia mau istirahat. Ngomong-ngomong aku permisi dulu kalau begitu, ya, Om. Aku mau pergi ke toko. Nanti malam aku ke sini lagi sama Daddy."
"Oh begitu. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, Ram. Salam untuk Daddymu." Angga mengusap bahu kanan Rama, kemudian melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
Juna langsung sumringah melihat Angga datang, tetapi senyuman yang baru saja dia ukir itu seketika lenyap sebab sang Opa datang seorang diri.
"Opa kok nggak sama Om Tian?" tanya Juna seraya menelan bubur di mulutnya. Wajahnya tampak sedih menatap Angga.
Pria tua itu melangkah mendekat, lalu duduk di atas ranjang sembari mengusap rambut kepala Juna. "Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?"
Juna langsung menyentuh dadanya, dan bola matanya terlihat berair.
"Kenapa? Kamu sesak napas?" tanya Angga.
"Juna sakit hati."
"Sakit hati kenapa?"
"Ternyata Opa nggak sayang sama Juna."
"Kata siapa? Opa sayang sama kamu. Bahkan sangat."
"Opa bohong." Juna memalingkan wajahnya dan air matanya pun seketika meleleh. Dia yakin, jika Angga tadi sudah berbicara dengan dokter. Tetapi sepertinya, hati pria itu masih belum luluh juga.
"Kapan Opa bohong? Dan apa selama ini Opa terlihat tidak menyayangimu?"
"Buktinya Opa nggak mengizinkan Juna ketemu sama Om Tian." Juna menatap kembali Angga sambil menangis. "Padahal Juna sedang sakit kayak gini. Tapi Opa tetap saja masih egois. Belum mempertemukan Juna dengan Om Tian. Apa Juna harus mati dulu?"
"Apa yang kamu katakan! Jangan bicara seperti itu!" tegas Angga marah dan langsung menutup bibir Juna.
Nissa perlahan menyentuh punggung tangan Angga, lalu tersenyum. "Pa, kasihan Juna. Tolong jangan seperti ini, izinkan dia bertemu dengan Tian. Aku nggak mau Juna kenapa-kenapa," pintanya memohon.
Saat baru bertemu dengan Juna, bocah itu terus mengoceh meminta bertemu dengan Tian. Dan Nissa sendiri mengatakan untuk bersabar, tunggu Angga datang.
Namun, mendengar jawaban Angga yang tampak tak peduli sama sekali tentunya membuat Nissa ikut sedih.
Juna menarik tangan Angga yang berada di bibirnya. "Mulai besok Juna mau berhenti sekolah! Terus berhenti makan dan minum! Juna juga nggak mau tidur di rumah setelah Juna keluar dari rumah sakit! Juna mau tidur di kolong jembatan! Terus mau ngamen sambil joget-joget di lampu merah!" geram Juna dengan emosi yang menggebu-gebu. Kedua tangannya mengepal dan wajahnya merah. "Dan satu lagi, Juna juga mau nyuri telurnya Janet! Nanti Juna goreng dua-duanya!" teriaknya kencang.
Angga memijat pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak terasa pusing dan telinganya berdengung mendengar ocehan cucunya. Perlahan dia pun membuang napasnya dengan berat, lalu menatap Nissa. "Telepon Tian, suruh ke sini."
...Apakah ini artinya Opa udah luluh? 🤔...
Like, komen yuk~ Jangan lupa.
Hari ini 2 bab aja cukup 'kan, ya 🙃
__ADS_1