Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
69. Orang yang tega menjahatimu


__ADS_3

Tian mengangguk cepat, dengan tangan yang mendadak bergetar itu dia pun langsung membuka plastik suntikan. Membuka penutup dan perlahan mencoba menusukkan pada penutup botol obat tersebut.


Akan tetapi akibat rasa takut yang makin menyeruak ke dalam dadanya, tiba-tiba saja jarumnya patah. Padahal tutup botol itu tidak terlalu keras.


'Kenapa malah patah?' batin Tian kesal. Dia pun menaruh suntikan itu, kemudian menggantinya. Beruntung Tegar membeli dua suntikan, jadi ada serep.


Tak!


Entah apa sebabnya lagi, kedua kalinya jarum itu patah. Padahal tadi Tian mencoba untuk bersikap tenang.


"Sudah belum?" tanya Tegar seraya menoleh pada adiknya. Dia sejak tadi menatap pintu, rasanya takut jika ada yang datang.


"Jarumnya patah, Kak. Dua-duanya. Bagaimana ini? Nggak bisa dipakai." Tian tampak cemas. Keringat pada dahinya itu seketika bercucuran dan dengan cepat dia pun menyekanya.


"Kamu gimana, sih? Kenapa malah dipatahin?" gerutu Tegar marah. "Sekarang buka saja botolnya, lalu tengakkan ke mulut Steven!" titahnya dengan nada menekan.


"Kakak saja deh, tanganku gemetar. Nggak kuat buat buka tutupnya." Tian menyerahkan botol kaca itu pada Tegar. Dia merasa tak kuat menahan rasa takut dan gemetar di tubuhnya.


Tegar mengambil botol tersebut, lalu dengan cepat dia putar hingga terbuka. Tangannya terulur ke arah wajah Steven, lalu menarik ventilator itu ke bawah dagu.


Dia pun mencengkeram pipi Steven hingga bibir Steven agak terbuka. Baru saja dia hendak mengarahkan botol itu ke bibirnya, tetapi seketika matanya melotot kala melihat wujud Steven berubah menjadi Danu.


Entah itu nyata atau hanya halusinasi, tetapi yang jelas—apa yang Tegar lihat adalah kakaknya.


Degh!


"Kak Danu?!" Tegar terperanjat hingga tangannya refleks menjatuhkan botol kaca itu ke lantai.


Prang!


Cepat-cepat dia pun menarik tangan lalu mundur beberapa langkah. Wajah Danu tampak begitu menyeramkan, dia tersenyum menyeringai dengan tatapan tajam.


"Kak, Kakak kenapa?" tanya Tian yang tampak bingung dengan tingkah Tegar. Pria itu seperti ketakutan, kakinya terus mundur beberapa langkah hingga menempel tembok.


"Kita pergi dari sini, Tian!" teriak Tegar dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia pun segera mengenggam pergelangan tangan adiknya, kemudian menarik dan membawanya berlari keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Dengan deru napas yang tersenggal-senggal, Tegar pun menyeka keringat pada dahinya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menyandarkan punggungnya pada besi lift. Kini mereka sudah berada di dalam sana.


"Kakak kenapa sih sebenarnya? Kok malah lari? Steven belum kita bunuh."


"Aku tadi melihat Kak Danu di sana," jawab Tegar dengan wajah ketakutan.


"Di sana di mana?" Kening Tian mengernyit heran.


"Di tempat tidur, dia tersenyum dan melolotiku Tian."


"Di tempat tidur di mana sih, Kak? Kan cuma ada Steven yang tiduran."


"Nggak." Tegar menggeleng cepat seraya mengusap dadanya yang masih terdengar berdebar. "Tadi aku justru melihat Kak Danu, bukan Steven. Kita sepertinya salah masuk kamar."


"Kakak ini bicara apa, sih?" Sumpah, Tian benar-benar bingung dengan tingkah Tegar yang tampak cemas tak karuan itu. Ditambah perkataannya seperti ngelantur menurutnya. "Tadi itu kamarnya Steven. Dan sedikit lagi Kakak akan menenggakkan cairan mematikan. Tapi malah gagal!" Tian mendengkus kesal sambil mengacak rambutnya.


"Aku bicara serius, aku melihat Kak Danu bukan Steven. Kita tunda rencana ini dulu, Tian." Tegar menelan ludahnya dengan kasar.


***


Mata Sindi seketika membulat kala melihat ventilator itu terbuka dan tampak jelas Steven seperti tengah sesak napas. Dadanya naik turun. Cepat-cepat Sindi berlari menghampiri dan memasangkan alat itu ke wajah anaknya, lalu berlari keluar memanggil dokter.


Tak lama dia pun kembali bersama Dokter dan suster.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Sindi cemas saat melihat dokter pria berkacamata yang telah selesai memeriksa anaknya.


"Dia mengalami sesak napas tadi, Bu. Untung nggak kenapa-kenapa," jawab dokter itu.


"Sepertinya ada yang mau menjahati Pak Steven, Dok," kata Suster yang baru saja berdiri habis memungut botol kaca kosong dan jarum suntik yang patah.


"Menjahati bagaimana?" tanya Dokter itu lalu mengambil botol yang diberikan oleh suster.


"Kalau nggak salah itu adalah racun arsenik, Dok."


"Racun arsenik? Apa itu?" tanya Sindi dengan mata yang membulat, wajahnya tampak begitu penasaran.

__ADS_1


Dokter memberikan botol itu kembali pada Suster. "Bawa itu untuk dicek nanti, Sus."


"Iya." Suster mengangguk. Kemudian menaruh botol dan suntikan itu ke atas meja troli dan setelah itu mendorongnya keluar dari sana.


"Apa ada seseorang yang baru saja datang ke sini, Bu?" tanya sang dokter pada Sindi. Wanita paruh baya itu langsung mengangguk cepat.


"Iya, dua orang perawat. Mereka katanya mau mengecek kondisi Steven, Dok."


"Lain kali jangan boleh masuk ya, Bu. Selain saya dan suster tadi. Dan saya sarankan hanya pihak keluarga saja yang boleh menjengkuk Pak Steven," terang Dokter itu.


"Memangnya dua orang tadi mau ngapain, Dok? Dan tadi suster bilang menemukan racun. Racun apa itu?" tanya Sindi penasaran.


"Itu racun arsenik. Itu adalah racun mematikan, Bu. Kalau racun itu berhasil masuk ke tubuh Pak Steven ... beliau bisa tiada dalam kurun waktu sejam."


Sindi terbelalak dengan dada yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dokter itu paparkan. "Kok mereka tega sama Steven? Padahal dia nggak punya musuh, Dok."


"Saya nggak tahu kalau masalah itu, Bu. Tapi nanti saya akan tindak lebih lanjut. Siapa dua perawat yang masuk tadi dan saya sarankan Ibu juga lapor polisi. Ibu juga harus dengar apa kata saya tadi, jangan biarkan siapa pun masuk ke sini, selain saya dan suster tadi. Serta hanya pihak keluarga yang Ibu percayai saja yang boleh menjengkuk Pak Steven," saran dokter itu.


Sindi mengangguk cepat. "Iya, Dok. Lain kali saya akan lebih hati-hati melihat orang yang datang berkunjung."


"Ya sudah ... kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Nanti siang atau sore saya akan datang lagi untuk mengecek kondisi Pak Steven." Dokter itu tersenyum, lalu berjalan keluar dari sana.


Sindi berjalan mendekati Steven, dia pun membungkukkan badannya lalu mengecup kening anak bungsunya itu. Perlahan tangannya terulur, kemudian mengusap lembut rambut Steven dan tak lama buliran bening pada sudut matanya terjatuh.


Siapa orang tua yang tak sedih melihat ada orang yang berniat menjahati anaknya? Tentu tidak ada, bukan? Itulah hal yang saat ini Sindi rasakan. Hati ibu dari tiga orang anak itu bak teriris, sakit sekali.


Kemarin saja dia tampak begitu frustasi saat mengetahui kondisi Steven kritis, sekarang ada lagi yang membuat hatinya terguncang.


"Kasihan banget kamu, Stev. Kamu 'kan anak baik. Kok ada, ya. Orang yang tega menjahatimu," lirihnya sambil menatap Steven dengan penuh kasih sayang. Berkali-kali air matanya mengalir membasahi pipi.


Tak lama terdengar suara handle pintu kamar yang diturunkan dari luar. Sindi langsung menatap ke arah sana dan melihat seseorang membuka pintu. Mungkin baru sejengkal kaki itu melangkah, tetapi dengan cepat Sindi berkata,


"Kamu dilarang masuk!" tegasnya dengan penuh penekanan.


...Siapa yang masuk, Ma? Kok dilarang?😲...

__ADS_1


__ADS_2