Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
186. Musuh bebuyutan


__ADS_3

Steven cepat-cepat membungkam mulut dan hidungnya. Namun, kepalanya mendadak terasa pusing akibat aroma itu.


"Om Ganteng!" seru seseorang yang telah datang, berdiri di hadapannya dengan kening yang mengerenyit.


Steven yang melihatnya pun sontak membulatkan mata, kala orang tersebut adalah Udin.


Merasa malas bertemu dengannya bercampur mual sampai ulu hati, Steven pun dengan cepat membuka pintu, lalu keluar dari sana. Baginya, lebih baik disengat tawon, daripada mencium aroma ketek Udin.


"Om Ganteng kenapa tega padaku? Kenapa aku diDO dari kampus hanya karena menyapa Citra, Om?" tanya Udin seraya melangkah mendekati Steven yang berjalan mundur.


Bukannya menjawab, Steven justru berlari begitu saja bak orang yang kesetanan. Pergi meninggalkan Udin dan menghindari racunnya.


Untungnya tawon itu sudah tak ada, lalu tak lama kemudian sebuah mobil lewat mengklakson.NItu adalah mobil yang Bejo tunggani. Pria kurus itu lantas menurunkan kaca.


"Pak Steven, ayok masuk!" ajaknya.


Steven membuka pintu, baru saja dia hendak masuk namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang. Dia menoleh, kembali matanya membulat kala orang tersebut adalah Udin.


Pemuda itu memakai helm dan menunggangi motor.


"Aku mau Om cabut permintaan Om kepada Dekan! Aku nggak mau diDO, itu kampus favoritku, Om!" tekan Udin yang terlihat marah.


"Aku nggak peduli!" sentak Steven lalu menghentakkan lengannya hingga tangan Udin terlepas. Gegas dia pun masuk ke dalam mobil.


Melihat Steven menghindarinya, Udin langsung ngebut, mengejar mobil. Sejak kemarin-kemarin dia dan papanya pergi ke apartemen untuk menemui Steven. Namun nyatanya pria itu tak pulang-pulang.


Satpam di sana juga tak mengatakan apa-apa. Dan wajar juga Steven tak pulang, sebab dia memang tinggal di rumah Angga.


"Bejo! Percepat mobilnya! Si Udin mengejar kita!" titah Steven yang melihat ke belakang. Udin dengan kecepatan full masih mengejar.


"Udin itu siapa, Pak?" tanya Bejo. Segera dia pun mempercepat laju kendaraannya.


"Dia musuh bebuyutanku."


"Bapak takut sama Udin? Kenapa nggak dihadapin saja?"


"Bukan aku takut. Tapi si Udin itu beracun. Perutku 'kan kosong dan badanku lemes. Aku kena muntaber, bisa-bisa KO dong." Steven mengambil sebotol air mineral yang ada di samping kursi, lalu membuka segel dan menenggaknya sampai tandas.


"Si Udin bawa racun apa memangnya, Pak?" tanya Bejo. "Apa racun burung?"


"Racun ketek. Ini lebih berbahaya dari racun burung." Mata Steven masih menatap ke belakang, melihat Udin yang masih mengejarnya.


"Ngapain sih si Bau Ketek itu mengejarku? Kalau sudah diDO ya tinggal pindah, memangnya kampus hanya satu apa di Jakarta? Banyak kali," gerutu Steven.


Demi menghindari kejaran Udin, Bejo terpaksa membawa mobil itu ke jalan tol. Karena dengan begitu, Udin tak akan ikut. Sepeda motor tidak diperbolehkan masuk.


"Alhamdulillah." Steven menghela napas lega seraya mengelus dada, lalu menyandarkan punggungnya dan menoleh ke samping. Keningnya mengerenyit lantaran tak ada Angga di sana. "Lho, Papa ke mana, Jo?"


"Astaghfirullah!" Bejo menepuk jidatnya. Perjalanan mereka sudah jauh, namun baru sekarang ingat Angga yang tertinggal. "Pak Angga masih di rumah orang yang punya kelapa. Apa kita putar balik saja?"


"Jangan!" tekan Steven. "Nanti kita bisa ketemu Udin lagi. Aku telepon Papa saja." Steven mengambil ponselnya di dalam kantong celana, kemudian menghubungi Angga.


"Halo, Stev. Bagaimana keadaanmu? Kamu disengat tawon nggak?" tanya Angga dari seberang sana.


"Nggak, Pa. Ini aku sama Bejo lagi dijalan. Maaf banget, Papa pulangnya naik taksi, ya. Soalnya ada masalah tadi."

__ADS_1


"Masalah apa?"


"Panjang ceritanya. Nanti aku cerita pas di rumah. Papa jangan lupa bawa pulang air kelapa mudanya. Aku kepengen."


"Iya, sudah dibungkus sama daging kelapanya juga."


"Bagus. Terima kasih ya, Pa. Papa baik banget."


"Ah lebay kamu, biasanya juga bilang Papa jahat."


"Ah Papa ini. Dibilang baik salah, jahat salah. Ya sudah deh." Steven merengut, lalu matikan sambungan telepon.


***


Angga masuk ke dalam gerbang rumahnya, lalu langkahnya terhenti di depan sangkar burung. Ada Kevin dan Janet di sana. Dua burung itu berdiri dengan menjaga jarak.


Sebenarnya, Janet ingin menempel terus dengan Kevin. Namun burung jantan itu selalu menghindar, dia merasa risih.


"Mana jagung bakarnya, Pa?" tanya Kevin.


"Siapa yang beli jagung bakar? Papa pergi 'kan mengantar Kakak Steven. Oh ya, kamu dan Janet sudah kawin belum?"


"Belum," ucap Kevin.


"Sudah," ucap Janet. Dua burung itu berucap secara bersamaan, namun dengan jawaban yang berbeda. Kening Angga mengerenyit, bingung dengan jawaban mereka.


"Siapa yang benar? Jangan bohong."


"Saya jujur!" Keduanya kembali menyahut secara bersamaan.


"Ada apa, Pak?" tanyanya dengan sopan.


"Apa Kevin dan Janet sudah kawin?"


"Saya nggak tahu." Dono menggelengkan kepala.


"Kok nggak tahu, kan dari tadi kamu ada di sini."


"Iya. Tapi saya nggak memperhatikan mereka, Pak."


"Oh. Ya sudah, habis ini perhatian mereka. Jangan lupa abadikan juga, aku mau lihat mereka kawin."


"Itu 'kan privasi, Pak. Masa diabadikan?"


"Diem-diem kamu mengabadikannya. Jangan sampai ketahuan."


"Oke deh." Dono mengangguk patuh.


***


Malam hari.


Steven tengah duduk di samping Citra di sofa di kamarnya. Mereka sedang makan malam bersama namun pria itu pengennya disuapi. Manja sekali dia.


Citra pun menurut, sekarang dia tengah menyuapi Steven dengan bubur buatan sendiri namun hasil diajari Sindi.

__ADS_1


"Buburnya enak nggak, Om?"


"Enak. Siapa yang buat? Kamu?"


"Iya, tapi dibantu Mama."


Steven mengelus puncak rambut Citra dan tersenyum.


"Oh ya, Om kok tadi lama banget? Dan kenapa nggak bareng sama Papa pulangnya?" tanya Citra.


"Ada masalah sedikit."


"Masalah apa?" Citra kembali menyuapi Steven. Menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.


"Ada pokoknya. Tapi nggak penting. Oh ya, gimana kuliahmu? Apa Udin atau Arya mengganggumu?" tanya Steven seraya mengelus pipi kiri Citra yang tampak merona.


"Nggak. Malahan aku dari kemarin nggak bertemu Udin. Kak Arya juga. Nggak tahu mereka kemana."


"Bagus kalau begitu. Aku sudah kenyang, Cit. Udahan ah makannya." Steven menggeleng kepala saat Citra kembali memberikan suapan.


"Ya sudah, Om minum obat dulu biar cepat sembuh."


Citra meletakkan bubur itu di atas meja, lalu membuka beberapa strip obat dan memberikan tiga biji obat kepada Steven. Pria itu pun langsung menelannya dengan dorongan air.


"Sekarang Om mau apa? Mau aku kupasin buah? Atau mau langsung tidur?"


"Seperti biasa. Nyusu sambil bercinta." Steven langsung meraih kancing baju tidur yang Citra kenakan, lalu mencopoti satu persatu.


"Memangnya Om nggak lemes? Kan Om abis muntah-muntah tadi."


"Kan aku sudah makan. Minum obat juga sudah. Lagian aku juga mau kamu yang mimpin. Ayok naik." Steven sudah menurunkan celananya. Dan menyentuh si Elang yang menegang.


"Sebentar. Aku bereskan ini dulu, Om."


Citra hendak meraih mangkuk, namun dicegah oleh Steven. Pria itu pun langsung menyambar bibirnya, memberikan kecupan dan ciuman mesra.


"Nggak usah diberesin. Biar Bibi saja, nanti besok. Ayok sekarang naik," bisiknya di telinga kiri Citra seraya merammas dada. Tubuh gadis itu seketika meremang. Dia pun menelan ludahnya kasar kala merasakan sentuhan nakal tangan Steven.


"Kita bercintanya di sofa?"


"Iya. Sambil duduk kayaknya enak."


Steven segera melucuti seluruh pakaiannya, lalu pakaian Citra juga hingga keduanya sama-sama polos. Setelahnya, Citra duduk di atas paha Steven sambil melakukan penyatuan.


***


Maaf baru up, Guys 🙏. Author juga sekalian mau ngasih tahu kalau penutupan GA sampai jam 9 malam hari ini. Masih ada kesempatan sebelum ditutup buat kalian, semoga beruntung.


Dan, pengumuman pemenangnya besok. Author umumkan diakhir bab kayak gini. kalau nggak di akun Instagram.


yang belum follow silahkan follow dulu, Ig Author.


rossy_dildara


Jangan lupa like dan komentar, ya! 😘

__ADS_1


__ADS_2