
"Kalau Mbak nggak percaya, nanti malam kita buktikan. Mbak pasti tahu."
Fira tercengang. Wajahnya seketika pucat dan jantungnya berdebar kencang.Dia lantas beranjak dari tempat tidur kemudian berlari menuju pintu. Berkali-kali dia menurunkan pintu itu tapi sayangnya terkunci dari luar.
"Kenapa pintunya dikunci, Tri? Siapa yang menguncinya?!" tanya Fira dengan wajah ketakutan.
"Aku nggak tahu, Mbak." Tantri menggeleng cepat, lalu menarik tubuhnya untuk duduk. "Mungkin Mami."
"Coba kamu telepon Mami. Soalnya tugasku ada sama dia," titah Fira.
Bukan hanya tas Fira, tapi seluruh tas wanita yang Mami bawa disandera. Sengaja dia melakukan hal itu karena takut mereka berencana menghubungi orang lain untuk membantu melarikan diri.
"Aku nggak punya hape Mbak."
"Terus, bagaimana aku bisa keluar dari sini?! Aku nggak mau menjual diri, Tri!" Fira menggeleng cepat. Seluruh tubuhnya terasa bergetar dan ada perasaan takut menghadapi dirinya.
"Mbak keluar mau apa? Apa kabur?"
"Iya lah, mau apa lagi? Aku nggak mau jual diri!" tegas Fira.
"Tapi kita nggak bisa kabur dari sini, Mbak. Kita sudah tanda tangan kontrak."
"Tanda tangan kontrak?!" Fira membeku di tempat. Seketika dia cetakan saat kemarin adalah surat kontrak kerja. 'Apa jangan-jangan surat kontrak itu adalah kontrak saya untuk menjual diri? Ini artinya aku ditipu?'
Iya, tanda tangan kontrak. Udah seumur hidup lagi, Mbak. Kita baru bisa bebas kalau Mami sendiri yang buka, ujar Tantri.
Sekujur tubuh Fira seketika lemas tak berdaya. Dia beringsut jatuh dengan pandangan kosong menghadap ke depan. 'Maksudnya, seumur hidup aku harus jadi jaalang? Ya ampun, bagaimana ini? Kenapa jadi begini?' batinnya yang membuat frustrasi.
***
Di kantor Steven.
Arif tengah berdiri di depan meja kerja Steven, menunggu sang bos menyelesaikan tiga tanda tangan pada proposal yang dia bawa. Sebelum itu Steven membacanya terlebih dahulu.
"Pak Steven kok saya perhatikan... dari awal masuk kerja lagi murung gitu dianya, kenapa, Pak?" tanya Arif penasaran.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Steven malas dengan mata yang masih membocorkan proposal.
"Tapi saya tahu kok, itu pasti karena istri Bapak yang habis melahirkan, ya? Bapak kurang kasih sayang?"
__ADS_1
"Bicara apa sih kamu!" Steven mengangkat wajahnya. Menatap Arif dengan tatapan nyalang. Padahal niat hati sekertarisnya itu ingin menghibur. Tetapi pria itu justru marah. Jelas juga Steven marah, sebab memang alasannya karena kurang dimanja oleh Citra.Jadi moodnya selalu buruk setiap kali berada di tempat bekerja. "Bawa semua ini dan pergi dari sini!" perintahnya sambil menggeser lamaran di atas meja, yang telah selesai dia tanda tangani.
Arif mengerucutkan topi, lantas mengambil. "Maaf, Pak. Ya sudah, saya permisi," pamitnya kemudian melangkah keluar ruangan.
Sepeninggal Arif, Steven pun mengambil ponselnya di dalam saku jas. Dia hendak menelepon Citra. Hari ini, wanita muda itu sudah masuk kuliah lagi.
"Halo Bunda Citra, lagi ngapain kamu?" tanya Steven saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.
"Aku baru istirahat, A. Ini mau samperin Sisil ke toilet. Soalnya dia nggak balik-balik."
"Oh begitu. Pulang jam berapa kamu?"
"Jam dua, ada kelas tambahan. Sudah dulu ya, A."
"Iya. Aku mencintaimu, Cit. Mmuuahh!" Bibir Steven monyong mencium layar ponselnya sendiri.
"Aku juga mencintai Aa."
Setelah memutuskan panggilan dan berdiri hendak keluar untuk makan siang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok... Tok... Tok.
“Siang Stev, udah makan belum kamu?” tanya Sofyan. Pria itulah yang mematahkan pintu. Dia menenteng beberapa kantong plastik dan juga paper bag berukuran sedang di tangan, kemudian meletakkannya ke adiknya.
"Belum, Kak. Kakak bawa apa ini?" Steven mengambil apa yang Sofyan berikan.
"Itu rendang buatan Maya. Kakak sengaja minta dia bawa agak banyak, soalnya mau ngajak kamu makan bareng di sini." Sofyan masuk ke dalam, kemudian duduk di sofa.
“Memangnya Mbak Maya bisa masak?” Steven lalu melambaikan tangannya kepada OG yang baru saja tanya lewat. Dia meminta piring dan sendok juga menyuruhnya membeli es jeruk di kafe depan. Tidak lupa dengan uangnya.
"Bisa lah. Si Citra kali yang nggak bisa masak mah."
"Enak saja. Dia juga bisa kok." Steven menutup pintu kemudian melangkah mendekati Sofyan.Lalu duduk di sofa di sampingnya dan meletakkan barang-barang itu di atas meja. “Ini apaan sih, Kak?” Yang membuat Steven penasaran sejak tadi adalah isi di dalam paper bag. Dan ternyata masih dibungkus juga dalam plastik hitam dengan lakban di sekelilingnya. Ukuran benda itu sedang dan berbentuk persegi.
"Buka saja. Itu sengaja Kakak beli lewat online pas lagi promo 1 1 mau tahun baru, lagi diskon gede-gedean. Kakak yakin pasti kamu membutuhkannya."
Steven yang tampak penasaran segera membuka. Dia juga mengambil gunting di meja kerjanya supaya cepat mengetahui benda apa yang Sofyan berikan.
Namun, sontak kedua matanya membulat kala itu adalah sebuah dus yang isinya di dalamnya seperti pantaat mainan. Steven membuka dusnya. Kemudian mengambil benda yang berbungkus plastik itu. Kenyal-kenyal seperti agar-agar saat dia merematnya.
__ADS_1
"Ini apaan, Kak? Kok kayak pantaat?" Kening Steven mengerenyit. Dia baru pertama kali melihat benda semacam itu.
"Itu pantaat mainan, Stev. Kamu seneng kan? Nanti pas dipakai bayangin aja punya Citra."
"Maksudnya?" Steven masih tampak bingung tak mengerti
Sang Kakak mengambil benda itu dan membuka resleting celananya. Sedikit lagi dia hendak menyembulkan miliknya, demi memberitahu kegunaan alat itu. Tetapi dengan cepat Steven mencegahnya.
"Kakak ngapain? Kok mesum banget?!" Steven mengira, Sofyan ingin memamerkan burungnya yang tanpa bulu. Sebab kemarin saat bertemu pria itu dia sempat memamerkannya sekaligus memberitahu alat pencukur andalannya. Memang tidak penting sekali, terkadang receh juga pria itu menurut Steven.
Namun agak memaklumi juga, karena Kakaknya gen pertama dari Angga.
"Dih, siapa juga yang mau merayumu? Kakak justru ingin memberitahu cara menggunakan alat ini. Supaya kamu nggak bingung pakainya nanti."
"Maksudnya alat ini buat burungku?"
“Iya lah, memang buat apa? Pajangan? Kamu ini terlalu lama menjomblo sih, jadi seperti itu saja nggak ngerti,” ledek Sofyan sambil terkekeh.
"Tapi apa enaknya pakai beginian? Kakak aneh deh, ini kan cuma mainan." Steven meremmas-remmas benda itu, tetapi dia justru membayangkan dada Citra.
"Ya cobain dulu mangkanya nanti malam. Siapa tahu kamu kepengen. Pasti kamu sekarang lagi puasa kan?"
"Nggak mau ah." Steven menggeleng cepat.Dia mengerti arah pembicaraan pria itu. "Mana enak kalau pakai mainan. Geli aku, mending punya Citra kemana-mana."
"Kan lagi puasa kamu. Dosa tahu menggauli istri yang masih nifas."
"Iya, itu juga nggak kok. Tapi aku nggak mau pakai alat begituan. Buat Kakak saja." Steven menggeleng lagi saat benda itu diberikan oleh Sofyan. Dia menolaknya.
"Kakak buat apa pakai begituan? Kakak 'kan nggak puasa. Lagian Kakak beli juga spesial buat kamu, Stev. Terima dong." Wajah Sofyan tampak kesal. Jarang sekali dia membelikan barang untuk adiknya. Dan sekalinya membelikan malah ditolak. Itu membuatnya seperti tidak dihargai.Cukup alat cukur dan obat kuat saja. Yang lainnya harus diterima.
"Tapi aku nggak mau," tolak Steven.
"Rezeki itu nggak boleh ditolak. Kakak belikan itu tandanya Kakak sayang sama kamu. Kakak juga takut kamu jajan diluar, kasihan Citra nanti. Jadi jangan ditolak." Sofyan masih berusaha membujuk.
"Tapi ada alternatif lain, dan Citra sudah melakukannya, Kak." Steven yakin Sofyan mengerti apa yang dia maksud.
"Nggak apa-apa. Itu buat jaga-jaga kalau Citranya lagi nggak mau." Sofyan memberikan benda itu kembali ke tangan Steven secara paksa. Akhirnya Steven menerimanya, meskipun dia sendiri tak mau memakai.
'Nanti aku kasih ke Papa saja deh, siapa tahu Papa demen pantaat mainan. Dia 'kan mesum orangnya,' batinnya.
__ADS_1
...Selamat tahun baru 🥰 semoga apa yang kita inginkan terwujud di tahun ini 🤲 Dan semoga kita menjadi manusia yang jauh lebih baik ❤️...