Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
361. Kesabaran setipis tissu


__ADS_3

Pada akhirnya, mau tidak mau satpam itu menuruti permintaan Steven. Selain takut jika pria itu berbuat nekat dengan membakar rumah, dia juga berpikir kalau Steven lah yang akan menanggung semua kemurkaan Sofyan, ketika terjadi nanti.


"Bener ya, Pak, kalau Pak Sofyan marah Bapak yang harus bertanggung jawab. Saya nggak mau karena ini dipecat," tegur satpam itu. Mengingatkannya lagi.


Steven mengangguk yakin. "Iya. Cepat dobrak pintunya. Tapi pakai alat saja, soalnya 'kan tubuhmu kerempeng. Nggak mungkin bisa mendobrak pintu." Dia memerhatikan tubuh pria di depannya yang memang terbilang kurus. Mirip seperti Bejo.


Satpam itu mengangguk, kemudian melangkah menuju pos satpam. Ingin mencari alat yang akan digunakan untuk mendobrak pintu.


"Aa, nggak perlulah sampai mendobrak pintu segala. Jangan merusak rumah orang apalagi rumah Kakak sendiri," tegur Citra.


"Iya, Om." Juna ikut-ikutan menimpali. "Kan tadi kata Om Satpam juga Opa sama Oma udah pulang. Mungkin saja mereka memang sudah pulang ke rumah."


"Udah kalian mending diem dan duduk di sana." Steven tak menggubris ucapan Citra, apalagi Juna yang hanya seorang anak kecil. Dia lantas menunjuk beberapa kursi kosong yang berada di depan pos satpam.


Citra yang tak mau berantem memilih untuk diam dan menurut. Dia pun langsung mengajak Juna duduk kursi.


"Tan, Juna haus banget. Pengen minum." Juna menyentuh tenggorokannya yang kering kerontang. Dia juga sebenarnya sangat menginginkan susu.


"Kita masuk dulu ke dalam, siapa tau di sana ada air." Citra yang baru saja duduk langsung berdiri lagi, lalu menggandeng keponakannya dan mengajaknya masuk ke dalam pos satpam.


Ternyata dia menemukan satu dus yang sebotol air mineral. Berada di atas meja dekat jendela.


Citra pun mengambil satu, kemudian membuka segelnya dan memberikan kepada Juna. "Nih, minum dulu."


"Tapi Juna pengennya susu coklat, Tan." Juna hanya memandangi botol yang masih di tangan Citra, tapi tak niat untuk mengambilnya.


"Di sini nggak ada susu coklat. Adanya kopi, Jun." Citra mengedarkan pandangan pada ruangan itu. Mencari-cari susu sachet yang ternyata tidak ada, hanya ada beberapa renteng kopi hitam dan luwak, yang menggantung dipaku tembok.


"Juna nggak doyan kopi." Juna menggeleng.


"Ya sudah, minum air putih saja dulu. Nanti minum susunya kalau rumah Kak Sofyan berhasil didobrak, biar nanti Tante yang akan buatkan susu untukmu," bujuk Citra seraya mengelus puncak rambut Juna.


"Memangnya Tante bisa buat susu?"


"Bisa." Citra mengangguk.


Juna pun langsung meraih botol tersebut, kemudian mereka mereka menuju kursi lagi dan duduk. Sebab tak mungkin juga Juna minum dengan posisi berdiri.


"Oh ya, Tan, Om Steven itu nyebelin, ya, orangnya. Apalagi kalau lagi marah," lirih Juna pelan, saat baru saja menghabiskan sebotol air mineral. Dia juga sambil memerhatikan Steven dan satpam dari kejauhan, yang masih sibuk dengan pintu.

__ADS_1


"Itu karena pengaruh lagi kesal saja, Jun, aslinya mah orangnya nggak nyebelin kok," ungkap Citra membela. Dia memang paling tidak suka mendengar orang lain menjelekkan suaminya, entah siapa pun itu. Meski memang dia juga mengakui jika suaminya orang yang menyebalkan.


"Kesal gara-gara Opa dan Oma yang belum ketemu?" tebak Juna.


"Iya." Citra mengangguk.


"Tapi kata Opa ... kalau kita sedang mencari segala sesuatu, itu musti dengan hati yang sabar lho, Tan, kalau emosi mah nggak bakal cepat ketemu."


"Itu memang benar, Jun. Tapi 'kan kamu juga tau, kalau Ommu itu punya kesabaran yang setipis tissue." Citra mengusap rambut kepala Juna dengan lembut.


Juna agak mendongak, lalu menatap wajah Citra. "Kok Tante mau, sih, menikah sama Om Steven?! Juna kalau jadi Tante mah nggak mau, meskipun Om Steven ganteng."


"Namanya cinta, ya susah, Jun."


"Dulu Tante kenalnya di mana sama Om Steven?! Apa kalian satu kelas pas sekolah?"


Citra menggeleng. "Tante dulunya dijodohin sama Ayah Tante, sebelum beliau meninggal. Ayah Tante dan Om Steven rekan kerja."


"Oh, terus pas pertama kali ketemu Tante langsung suka? Eh, sukanya Tante dulu apa Om Steven dulu?"


"Tante dulu. Baru Om Steven. Dulunya Om Steven malah nggak suka sama Tante."


"Panjang lah ceritanya. Kalau diceritain secara rinci bisa sampai lebaran, Jun," kekeh Citra.


"Ngomong-ngomong masalah lebaran, bentar lagi bulan puasa ya, Tan. Nanti Tante puasa nggak?"


"Insya Allah puasa. Kamu sendiri puasanya sudah seharian belum? Apa hanya setengah hari?"


"Juna—"


"Cit, kita ke rumah Rizky sekarang," sela Steven cepat yang baru saja menghampiri mereka.


"Ke rumah Rizky mau apa, A?" tanya Citra seraya berdiri dan menurunkan Juna untuk ikut berdiri. Suaminya itu sudah masuk duluan ke dalam mobil.


"Cepat masuk dulu saja!" titah Steven.


Citra dan Juna mengangguk, lantas masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya. Tak lama mobil putih itu pun melaju pergi dari rumah Sofyan.


Barusan, Steven sudah berhasil mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah. Hanya saja setelah dicek bersama satpam, ternyata memang benar, Angga dan Sindi tidak ada di sana.

__ADS_1


"Kita cari Mama dan Papa ke rumah Rizky. Mereka pasti ada di sana." Steven tentu tau, jika Nella adalah cucu perempuan satu-satunya. Yang pastinya sangat disayang Angga. Jadi dia berpikir jika pria itu dan istrinya pasti berada di sana.


"Kenapa nggak ke rumah Papa dan Mama saja, A? Pasti mereka sudah pulang," saran Citra.


"Kita coba dulu saja."


*


Beberapa menit hingga jam berlalu, nyatanya pencarian mereka tak membuahkan hasil.


Sudah ke rumah Rizky bahkan kembali ke rumah Angga juga, tapi tetap saja—mereka berdua dan si Kembar tidak ada. Seperti hilang atau memang sengaja bersembunyi Steven.


Pencarian itu benar-benar sudah berada dititik buntu. Steven bingung harus ke mana lagi. Sedangkan ponsel keduanya juga masih susah untuk dihubungi.


Hari sudah menjelang dini hari. Citra dan Juna sampai tertidur di kursi karena sangking ngantuknya.


Steven juga merasa sudah tak kuat untuk menyetir, karena memang menahan kantuk sejak tadi. Jika diteruskan khawatir akan membahayakan keselamatan.


"Aku merem dulu sebentar, deh, nggak kuat banget kayaknya," gumam Steven seraya menghentikan mobilnya disisi jalan. Lalu mematikan mesin.


Tangannya perlahan terulur ke arah puncak rambut Citra, lalu mengelusnya dan disaat itu pula matanya mulai terpejam. Dia tertidur pulas oleh sendirinya.


***


Keesokan harinya.


Ceklek~


Angga keluar dari kamarnya, dia terlihat sudah mandi dan memakai baju santai. Kaos berkerah warna merah dan celana kolor pendek berwarna krem.


Kakinya melangkah menuju ruang tengah, tepat di mana Kevin berada. Burung kakatua itu tengah tertidur di sofa seorang diri dengan posisi duduk.


"Vin! Bangun sekarang!" seru Angga seraya duduk di sampingnya, dia juga menyentuh puncak kepala Kevin.


Burung berbulu putih itu lantas mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menoleh ke arah Angga.


"Ya, Pa?" ucapnya pelan.


Angga merogoh kantong celananya, lalu mengambil uang 50 ribuan dan memberikannya ke depan wajah Kevin. "Ambil ini dan sana pergi beli nasi uduk dua bungkus di depan," titahnya.

__ADS_1


...Puasa atuh, Opa, kok beli nasi uduk 🤣...


__ADS_2