Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
235. Harus memperbaiki semuanya


__ADS_3

"Halo, Ya," ucap Angga.


"Halo, ada apa, Ga? Baru aja aku mau merem."


"Besok kita ketemu. Tapi aku maunya kamu datang ke rumahku. Ada hal yang ingin aku bicarakan."


"Oke, besok aku ke rumahmu."


***


Pagi hari.


Ceklek~


Pintu kamar Nissa dibuka oleh Juna yang keluar bersama Nissa. Melihat itu, Angga yang baru naik ke lantai atas segera menghampirinya. Lalu mengendong tubuh Juna.


"Pagi cucu Opa yang ganteng." Mencium kening Juna dan menghirup aroma wangi shampoonya. "Wangi banget kamu."


"Pagi juga, Opa." Juna mencium pipi kiri Angga. "Opa juga wangi."


"Oh ya, Opa mau bicara sama kamu, Jun. Kita bicara sekalian sarapan, ya?"


"Bicaranya nanti saja kalau Juna pulang sekolah," tolaknya. "Juna sekarang mau buru-buru ke rumah Om Tian, mau sarapan dengannya."


Angga melirikkan matanya ke arah Nissa. Wanita itu diam saja. Perlahan Angga pun melangkah menuruni anak tangga, dan Nissa mengekori dari belakang.


"Kan kemarin kamu sudah ketemu sama Om Tian. Jadi pagi ini giliran kamu sarapan sama Opa." Angga menarik kursi di ruang makan, lalu duduk di sana sembari mendudukkan Juna di atas pangkuannya. Nissa juga ikut duduk di sebelah Angga.


Di ruang makan itu hanya ada mereka bertiga, yang lain belum ada yang turun dari kamarnya.


"Tapi Juna mau ketemu sama dia lagi. Kata Om Tian, hari ini dia sudah masuk kerja lagi. Jadi Juna juga mau sekalian lihat di mana kantor Om Tian bekerja." Juna membuka mulutnya saat Angga menyuapi roti yang sudah diolesi coklat. Rupanya Angga sengaja mengajak ngobrol sembari sarapan, supaya fokus Juna teralihkan.


"Kerja di mana dia?"


"Katanya di kantor."


"Kantor? Oh, jadi apa?"


"CEO. Sebentar lagi Om Tian nggak akan kere lagi, Opa. Dia juga bilang, kalau sekarang dia punya usaha ternak lele."


'Banyak juga yang Juna tahu. Sepertinya, mereka sudah cukup dekat. Ini berbahaya,' batin Angga.


"Terus kamu percaya?"


"Kalau kerja di kantor sih belum. Soalnya 'kan baru hari ini Juna mau lihat dia berangkat ke kantor. Mangkanya Opa izinkan Juna ketemu sama Om Tian," pinta Juna seraya mengunyah roti yang Angga berikan lagi.

__ADS_1


"Kalau tentang ternak lele, beneran nggak itu?"


Juna mengangguk. "Iya, lelenya ada di kolam renang. Di belakang rumahnya."


"Oh begitu. Tapi Opa mau, kamu jauhi dia mulai sekarang. Dan keinginanmu kemarin sore sebaiknya diurungkan saja."


"Keinginan yang mana?" Kening Juna mengerenyit. "Tapi Juna nggak mau kalau menjauhi Om Tian. Kan Opa tahu Juna mau dia jadi Papi Juna. Masa dijauhi, harusnya di dekati dong."


Mata Nissa sontak membulat sempurna. Kaget mendengar apa yang dikatakan anaknya. "Kamu ngomong apa, Jun?"


Juna menoleh ke arah Nissa. "Juna mau Om Tian jadi Papi Juna, Mi. Mami mau, kan, kalau menikah lagi?"


"Siapa yang mau menikah lagi?" tanya seseorang yang baru saja datang. Dia adalah Steven. Dia datang bersama Citra.


Juna menatap ke arah Steven yang kini duduk di ruang makan bersama istrinya. "Mami. Juna mau Mami menikah lagi dengan Om Tian, Om."


Steven dan Citra sontak terbelalak. Keduanya tampak kaget, namun wajah Steven langsung merah dan begitu masam.


"Kamu ini gila, ya, Jun? Bukannya Om kemarin sudah bilang kalau Om Tian itu bukan pria baik-baik. Dan Om juga memintamu dan Mami menjauhinya!" tekannya marah. Emosi Steven mulai mendidih.


"Om Tian baik, Om. Dan Juna nggak mau menjauhinya! Juna sayang sama Om Tian!" tekan Juna yang terlihat sama marahnya.


"Kamu, ya, diomongin Om bener-bener tapi nggak ditanggapi. Om Tian cuma nggak sengaja nolong kamu tapi sudah dibilang orang baik. Dia itu cuma pura-pura baik, Jun!"


"Pokoknya Om nggak mau tahu, kamu dan Mamimu harus menjauhi dia. Kamu harus menuruti permintaan Om!" pinta Steven dengan penuh penekanan.


"Juna nggak mau!" tolaknya. Juna langsung lompat dari pangkuan Angga, lalu berlari menaiki anak tangga. Tampak dia marah, wajahnya juga sudah cemberut.


Nissa pun segera berlari menyusulnya. Bocah itu masuk ke dalam kamar.


Steven menghela napasnya dengan gusar, lalu menenggak air minum sampai tandas. Citra menatap wajah suami dan mertuanya, entah mengapa hatinya ikut teriris mendengar perdebatan antara Steven dan Juna tadi. Yang membahas tentang Tian.


"Selamat pagi Pak Angga, Pak Steven, Nona Citra, Bu Sindi," sapa Bibi yang baru saja datang. Kedatangannya bertepatan dengan Sindi yang baru saja datang.


"Pagi." Yang menjawab hanya Angga dan Sindi.


"Di depan kata Bejo ada Pak Tian, beliau ingin bertemu dengan Pak Steven dan Nona Citra."


Mata Citra sontak berbinar. Dia baru saja hendak mengangkat bokongnya untuk berdiri, tetapi lengannya dicekal oleh Steven.


"Usir saja, Bi!" perintah Steven.


"Jangan, A!" sergah Citra dengan gelengan kepala. "Aku juga mau ketemu sam Om Tian," ucapnya dengan sendu.


"Biarkan dia masuk." Angga yang berbicara sambil menatap Bibi pembantu. Wanita berdaster itu membungkuk sopan lalu berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Kenapa Papa izinkan dia masuk? Dia benalu!" gerutu Steven menatap kesal Angga.


"Papa tahu kamu membencinya, Papa juga membenci Tian. Tapi Tian datang ingin bertamu dan untuk bertemu kalian." Angga menatap sebentar ke arah Citra. Alasannya mengizinkan Tian masuk tidak lain karena Citra, tak tega rasanya melihat menantu kesayangannya itu sedih.


"Halah, mau ngapain coba. Paling juga mau minjam duit."


"Aa nggak boleh su'uzan, dosa!" tegur Citra.


*


*


Tian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Angga, saat pintu itu dibukakan oleh bibi pembantu.


Tangan kanannya menenteng plastik merah yang berisi dua bungkus bolu gulung. Dia sempat membelinya untuk dijadikan buah tangan.


Langkah kakinya seketika berhenti di depan ruang tamu saat melihat ada Angga, Sindi, Steven dan Citra. Mereka baru saja duduk di sofa.


Baru saja Tian hendak mengucapkan salam, mulutnya sudah terbuka. Tetapi urung terjadi karena tiba-tiba Citra menghamburkan pelukan.


"Om, aku senang melihat Om sudah sembuh," ucap Citra dengan wajah merona.


Steven yang hendak mengangkat bokongnya ingin menghampiri Citra dan Tian segera ditahan oleh Angga. Dia tahu, pasti Steven tak menyukai apa yang dilihatnya saat ini. Tetapi Angga sengaja melakukan sebab dia tahu Citra pasti merindukan Omnya.


"Om juga senang." Tian mengelus punggung Citra, lalu mencium puncak rambutnya. Perlahan pelukan itu merenggang. "Bagaimana kabarmu, Cit? Maaf, Om baru bisa menemuimu lagi. Om juga baru tahu kalau sekarang kamu sedang hamil, ya?" Tian mengulum senyum sembari menatap wajah cantik keponakannya, kemudian sorotan matanya turun ke perut buncit Citra. Tangannya perlahan terulur hendak menyentuh, tetapi tak jadi sebab dilarang oleh Steven.


"Jangan mengelusnya!" berang Steven marah.


Cepat-cepat Tian menarik tangannya.


"Kabarku baik, Om. Iya, aku sedang hamil," jawab Citra sambil tersenyum.


"Silahkan duduk Tian," ucap Sindi.


"Terima kasih, Bu." Tian mengangguk. Dia pun lantas duduk di sofa single, sedangkan Citra sudah ditarik oleh Steven untuk duduk di sebelahnya.


Tian meletakkan apa yang dia bawa di atas meja. Entah mengapa, mendadak jantungnya berdebar kencang. Bulu kuduknya pun ikut berdiri dan Tian merasakan hawa di ruangan itu sangat panas. Padahal, ACnya cukup dingin.


Sepertinya, panasnya itu berasal dari tatapan mata Angga dan Steven begitu tajam. Wajah keduanya begitu masam dan seperti hendak menerkamnya.


'Tenang Tian, ayoklah. Aku harus memperbaiki semuanya,' batin Tian sembari menelan salivanya dengan kelat.


"Om ada perlu apa datang ke sini? Padahal, aku juga ada rencana ingin jengkuk Om," ujar Citra.


...Ada yang bisa nebak, Om Tian datang mau apa? 🤔...

__ADS_1


__ADS_2