
"Juna!! Kamu benar-benar keterlaluan!!" geram Aulia dengan penuh kemurkaan.
Meski bocah itu tak menyebutkan dengan jelas, jika dia adalah pelakunya. Tapi entah mengapa Aulia sudah dapat menyimpulkan jika menang benar, bocah itulah biang keladinya.
"Nggak usah fitnah keponakanku J*lang!" teriak Steven. Dia tentu tak terima, jika keponakannya itu dituduh. Pastinya Steven juga tak percaya, jika Juna bisa setega itu.
Dengan kasar, Steven pun menarik Aulia lagi. Menyeretnya keluar sampai gerbang rumah Tian.
Citra yang melihatnya langsung menyusul Steven, sedangkan Juna masih membeku di tempat.
Namun disisi lain, entah mengapa ada perasaan tidak enak. Mengingat ucapan Aulia tadi, yang mengatakan jika Abi kritis.
'Beneran nggak, ya, apa yang dikatakan Aulia tentang Papi Abi? Tapi masa sih ... dia sampai kritis hanya karena berak-berak?' batin Juna. Perasaannya pun sekarang campur aduk menjadi rasa bersalah.
"Jun, tadi Opa dan Oma ada di sini nggak?" tanya Steven yang baru saja menghampirinya lagi, bersama Citra.
Dia telah berhasil mengusir Aulia untuk pergi. Memasukkan ke dalam mobil taksi dan menyuruh sopirnya untuk mengantarkannya pulang.
"Ke sini, Om," sahut Juna. Pertanyaan dari Steven seketika mengalihkan pikirannya yang memikirkan Abi.
"Sekarang masih ada Oma dan Opa juga di dalam?" Suara Steven sekarang terdengar bernada rendah. Dia pun merangkul bahu Juna lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah, tangan Citra juga dia gandeng.
"Sekarang mah udah malem, Om. Udah pulang mereka," sahut Juna seraya duduk di sofa panjang pada ruang tamu. Steven dan Citra pun ikut duduk di sampingnya.
"Ke sini pas kapan dan pulang pas kapan?" tanya Steven penasaran.
"Kata Mami sih dari siang, terus sampai habis Magrib," jawab Juna jujur.
Saat Juna dan Tian pulang pada jam 5 sore, mereka memang sudah ada di sini. Pulang-pulang sekitar jam 7 malam.
"Kok kata Mami? Memang kamu nggak tau, Jun?" tanya Citra seraya mengusap puncak rambut Juna dengan lembut.
"Juna sama Papi Tian ada urusan, Tan, dari pagi. Terus pulang-pulang jam 5, dan pas pulang mereka sudah ada di rumah," jelas Juna.
"Apa mereka datang dengan si Kembar?" tanya Steven penasaran.
Juna mengangguk semangat. "Iya, Dedek kembar tadi pakai baju bola juga. Lucu banget, pipinya manis lagi pas Juna jilat."
"Dih kamu, masih suka jilat-jilat!" Steven langsung menjewer telinga kanan Juna, merasa kesal dengan tingkahnya.
Juna sontak memekik kesakitan. "Aaww! Sakit, Om! Ampun! Juna khilaf karena kangen aja, kok," kilahnya sambil meringis.
"Aa, jangan kasar ih! Kasihan!" Citra langsung membantu melepaskan telinga keponakan iparnya. Dia merasa tak tega.
"Khilaf juga nggak boleh, Om saja yang jadi Ayahnya nggak pernah jilat-jilat mereka, Jun!" tegur Steven marah.
__ADS_1
"Tinggal jilat sih. Lagian Om mah pelit. Om Dono sama Tante Della saja nggak pelit meskipun Juna jilatin Dedek Silvi." Juna mengerucutkan bibirnya dengan wajah kesal.
"Siapa Dedek Silvi?" tanya Steven.
"Anaknya Papi Tian. Tapi sudah diadopsi sama Om Dono dan Tante Della," jawab Juna.
"Katanya Om Tian nggak punya anak?"
"Punya katanya, sama istrinya yang kemarin cerai itu, Om," balas Juna.
"Tapi ngomong-ngomong ... Papi Tian sama Mamimu ke mana, Jun? Kok nggak kelihatan?!" Citra menatap sekitar ruangan luas rumah itu. Juga mendongakkan wajahnya ke lantai atas. Suasana rumah terasa sepi sekali.
"Juna nggak tau, Tan," jawab Juna sambil menggelengkan kepalanya. "Dari pas Juna bangun ... mereka udah nggak ada. Nggak tau ke mana."
"Kok bisa, sih?" Citra menatap heran.
"Sekarang kita ke rumah Kak Sofyan, Cit," ajak Steven seraya berdiri. Kemudian menarik tangan Citra.
"Ke rumah Pakde Sofyan mau apa, Om?! Juna ikut dong!" seru Juna.
Dia gegas berlari mengejar Steven yang melangkah dengan menggenggam tangan Citra. Mereka sudah sampai pintu keluar.
"Om sama Tante mau cari Opa dan Oma. Karena mereka membawa kabur si Kembar, kamu nggak usah ikut." Steven mengelus rambut kepala Juna, dan berusaha membujuknya.
Steven langsung membukakan pintu mobilnya untuk Citra, saat keduanya sudah keluar dari gerbang. Perempuan itu segera masuk ke dalam kursi. Akan tetapi Juna justru ikut masuk dan duduk dipangkuan Citra.
"Juna mau ikut, ah. Juna juga mau bantuin Om dan Tante. Kayaknya seru," pinta Juna.
"Seru apanya, sih?" Steven mendengkus kesal, lalu menarik tangan Juna. Berusaha untuk mengeluarkannya dari mobil. "Udah kamu turun, masuk saja ke dalam rumah, Jun!" perintahnya.
Juna langsung menggelengkan kepalanya, lalu menepis kasar tangan Steven. "Juna nggak mau di rumah sendirian. Pasti Papi dan Mami pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Juna, Om."
"Nggak mungkinlah mereka setega itu sama kamu," tegur Citra yang dia sendiri memang tak percaya.
"Iya. Nggak mungkin, Jun. Bisa saja mereka ada di kamar sebelah atau kamar mandi," tebak Steven. Dia masih mencoba sabar membujuk keponakannya, meskipun sebenarnya memang sudah sangat emosional.
"Orang Juna mau ikut!" tegas Juna sambil bersedekap. "Kali-kali kek, Juna ikut Om Steven kalau pergi-pergi. Om Steven mah selalu pelit ah, jahat ... mentang-mentang udah punya Dedek Kembar dan Tante Citra." Dia mencebik bibirnya, seketika wajahnya itu tampak sendu.
"Besok kamu sekolah nggak?" tanya Steven.
"Nggak, Juna libur panjang sampai masuk SD, Om. Udah Om naik, kita otewe ke rumah Pakde, cari Dedek Kembar," sarannya yang terlihat tak sabar..
Steven malas berdebat, apalagi ditambah dia capek karena terus marah-marah. Meskipun sejujurnya tak ikhlas Juna ikut, pada akhirnya dia pun pasrah.
Lantas dia masuk ke dalam mobilnya dan duduk, lalu menyalakan mesin mobilnya serta mengemudi. Berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
"Kok bisa, sih, Tan, Opa sama Oma membawa kabur si Kembar? Apa mereka awalnya berantem ... sama kalian?!" tanya Juna dengan kepo. Tapi sesungguhnya hatinya merasa senang, karena bisa ikut.
"Om sama Tante nggak berantem kok sama mereka." Yang menyahut Steven. Sebab Citra sendiri sempat menoleh kepadanya, ingin langsung menjawab tapi ragu, karena takutnya salah dimata Steven dan membuatnya emosi.
"Tapi kok bisa, sih, mereka sampai bawa kabur si Kembar? Kan aneh," ujar Juna dengan kening yang mengernyit.
"Om juga nggak tau, mangkanya Om mau cari mereka. Untuk mencari tau," jawab Steven simple sambil membuang napasnya berulang kali.
*
*
*
Sementara itu di dalam kamar mandi.
Tian dan Nissa yang tengah bercinta langsung mendesaah nikmat saat sama-sama mencapai kli*maks. Percintaan mereka akhirnya berakhir dalam waktu 30 menit dan saat ini, posisinya Nissa yang berada di atas.
Mereka berdua duduk dengan saling memangku di atas kloset yang tertutup.
"Kamu udah keluar belum, Yang?" tanya Tian yang baru saja melepaskan puncak dada Nissa. Napasnya terdengar terengah-engah.
"Udah," jawab Nissa yang juga dengan napas memburu. Seketika dia pun menghentikan goyangannya. "Kamu kayaknya keluar banyak, ya, rasanya hangat, Yang," tambahnya dengan kedua pipi yang merona, lalu perlahan menyentuh perut. Rahimnya terasa hangat sekali.
"Iya. Mungkin efek udah lama," kekeh Tian. Kedua tangan Nissa perlahan dia tangkup, kemudian melummat bibirnya dengan kasar.
Mereka pun berciuman sebentar, sampai akhirnya membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dan kembali berpakaian, keduanya langsung keluar dari kamar mandi. Tian kembali menggendong Nissa sebab terlihat wanita itu seperti kecapekan. Tadi bercinta lebih dominan dia yang mimpin juga.
"Terima kasih ya, Yang, kamu selalu bisa memuaskanku. Aku sangat mencintaimu," ucap Tian seraya merebahkan tubuh Nissa di atas kasur, lalu mengecup bibirnya sekilas dengan mesra.
"Sama-sama. Aku juga cinta sama kamu, Yang."
Tian tersenyum, segera dia pun merangkak naik ke atas kasur lalu menarik selimut untuknya, Nissa dan Juna.
Namun, saat baru saja membaringkan tubuhnya dengan posisi miring ke arah Juna, Tian justru mendapati bocah itu tak ada di sana.
"Lho, si Juna ke mana, Yang?" tanya Tian heran.
Nissa segera menarik tubuhnya untuk duduk, lalu melihat ke arah dimana posisi Juna tidur tadi. "Jatuh nggak ke kolong, coba cek, Yang!" titahnya.
Tian langsung lompat dari kasur, kemudian berjongkok dan masuk ke dalam kolong tempat tidur.
^^^Bersambung.....^^^
__ADS_1