Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
162. Mencoret namamu di KK


__ADS_3

"Datang ke rumah sakit mau apa, Pa?" tanya Steven. Dia baru saja selesai sholat subuh berjamaah dengan Citra, bahkan masih memakai Koko dan sarung.


"Nggak usah banyak tanya, Papa tunggu kamu di Rumah Sakit Harapan!" tegas Angga kembali seraya mematikan sambungan telepon.


Steven berdecak, lalu menaruh ponselnya di atas nakas dan menyentuh telinga kanannya. Terasa berdengung, bekas suara Angga.


"Telinga Om kenapa?" tanya Citra seraya menghampiri. Dia sudah berganti pakaian, memakai dress selutut dengan tali dipinggang. Kotak-kotak berwarna hitam putih. Rambutnya terurai panjang, tinggal memakai make up saja.


"Telingaku sakit gara-gara Papa. Seperti dia salah sarapan, Cit." Steven bergegas melepaskan pakaian sholatnya, lalu melangkah menuju lemari. Dia memilih pakaian.


"Kok bisa salah sarapan? Memang Papa sarapan apa?"


"Nggak tahu. Tapi dia tadi menyuruhku datang ke rumah sakit. Eh tapi ...." Mendadak, Steven jadi teringat keponakannya yang sakit demam. "Apa mungkin si Juna yang masuk rumah sakit, ya, Cit?"


"Juna siapa, Om?"


"Keponakanku. Anaknya Mbak Nissa."


"Oh, namanya Juna. Ya sudah ayok kita ke rumah sakit, Om." Citra ngolesi lipstik berwarna pink di bibirnya, lalu memasukkan skincarenya ke dalam tas. Biar di mobil saja dia make up. Takutnya Steven buru-buru.


"Kamu pakai bedak dulu saja, Cit. Aku tunggu diluar sambil telepon Pak Jarwo untuk mengantar."


"Oh begitu, ya sudah. Tungguin ya, Om."


Steven mengangguk. Dia pun mengecup kening Citra sebentar, lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


*


*


Setelah bersiap, kedua pun melangkah keluar rumah sama-sama. Citra menatap sekeliling halaman rumah Angga, tampak sepi sekali. Hanya ada Jarwo dan mobil barunya.


"Selamat pagi Pak Steven, Nona Citra," sapa Jarwo sopan seraya membungkuk sedikit.


"Pagi," jawab keduanya.


"Pak, nggak bisanya pintu gerbang terbuka. Dan kunci gemboknya tertinggal. Kenapa, ya? Terus Bejo dan Dono kok nggak ada?" tanya Jarwo seraya menggeser pintu mobil untuk Citra dan Steven masuk.


"Aku nggak tahu, Pak. Mungkin mereka lupa. Tolong kunciin saja, takut ada maling," pinta Steven. Sama sekali dia tak menaruh curiga atas apa yang sudah terjadi.


Jarwo mengangguk, setelah mobil itu berada diluar, dia pun turun untuk mengunci gerbang besi. Kemudian masuk ke dalam mobil seraya mengemudi.


"Kalau Bibi mau keluar rumah bagaimana, Pak?" tanya Jarwo.

__ADS_1


"Dia pegang kunci."


***


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai ditujuan.


Angga mengirim pesan supaya Steven menemuinya di depan ruang ICU. Dan kedatangan mereka bertiga bertepatan dengan Sindi yang baru saja datang.


"Ma." Citra langsung mengecup punggung tangan Sindi, begitu pun dengan Steven.


"Kalian kok ada di rumah sakit? Mau ngapain?" tanya Sindi bingung. Dia sempat memberitahu suaminya saat ingin pulang, minta dijemput. Dan kedatangannya ke rumah sakit karena diantar oleh Dono, Angga memintanya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Papa yang nyuruh, Ma." Yang menjawab Steven. "Mama sendiri kenapa di rumah sakit? Apa Juna sakit?".


Sindi menggeleng cepat. "Nggak, Mama juga disuruh Papa. Ayok kita langsung ke ICU. Dia mungkin sedang menunggu."


Citra dan Steven mengangguk, mereka pun sama-sama melangkah ke sana. Jarwo dan Dono mengekori mereka dari belakang.


Saat sudah sampai, langkah Steven seketika terhenti di hadapan Angga. Matanya sontak terbelalak. Pria itu tengah duduk di kursi panjang bertiga dengan seorang wanita dan bocah laki-laki.


Wanita dan bocah laki-laki adakah keluarga Bejo dari pihak istri tua. Mereka berdua tengah menangis.


Steven tampak kaget bukan karena kehadiran dua orang itu. Akan tetapi, karena ada Kevin di pangkuannya Angga. Dan juga, wajah Angga begitu merah dan masam. Jelas sekali jika pria itu masih memendam emosi yang belum diledakkan.


"Pagi, Pa," sapa Citra yang sudah berdiri di dekat Angga. Dia pun mengulurkan tangannya, hendak mencium punggung tangan.


Tangan Angga terasa dingin dan bergetar saat Citra rasakan. Dan itu membuatnya heran.


"Siapa yang sakit, dan mereka siapa, Pa?" Sindi mengerakkan kepala ke arah keluarga Bejo.


Angga langsung berdiri, dia pun melangkah cepat menghampiri Steven. Anaknya itu tampak terkejut, matanya terbelalak kala tiba-tiba saja tangan kanan Angga melayang di udara.


Plak!!


Pipi kiri Steven berhasil Angga tampar sekuat tenaga. Langsung merah dan terasa cenat cenut.


Sindi dan Citra sontak terperangah dengan mata yang terbelalak. Dua perempuan itu segera menghampiri mereka.


"Kenapa Papa tiba-tiba menamparku? Apa salahku?" tanya Steven sambil meringis. Dia menyentuh pipinya yang terasa kebas. Citra juga ikut menyentuh dan meringis, seolah merasakan apa yang Steven rasakan.


"Apa salahmu katamu?! Apa kau gila, Stev? Kenapa kau begitu teganya ingin membunuh Kevin!" teriak Angga murka. Matanya melotot tajam.


Mata Sindi dan Citra kembali terbelalak. Keduanya langsung menatap ke arah Kevin yang sedang duduk di kursi.

__ADS_1


"Serius kamu ingin membunuh Kevin, Stev? Kok tega kamu?" tanya Sindi yang ikut-ikutan marah.


"Kevin salah apa, Om? Kok Om mau membunuhnya?" tanya Citra dengan mata berkaca-kaca. Bicara tentang kematian, entah mengapa dia jadi sedih.


Kakinya melangkah hendak menghampiri Kevin, tetapi lengannya segera dicekal oleh Steven. Tak rela rasanya istrinya itu dekat dengan musuh bebuyutan.


"Siapa yang mau bunuh Kevin? Nggak kok," bantah Steven dengan gelengan cepat.


"Nggak usah pura-pura kamu, Stev! Sini kamu!" Angga meremmas kuat lengan Steven, lalu menarik tubuhnya ke arah jendela ruangan ICU.


Di dalam sana ada Bejo yang tengah berbaring di atas ranjang dengan memakai pakaian pasien, mulut dan hidungnya terpasang ventilator.


"Lihat! Itu Bejo, Stev!" Angga menunjuk kaca yang mengarah ke arah Bejo.


"Iya, emang dia Bejo," ujar Steven santai.


"Apa kamu tahu, akibat ulahmu yang ingin meracun Kevin ... Bejolah yang kena! Bejo yang keracunan karena makan apel darimu!" berangnya.


Steven terbelalak. "Kok bisa? Tapi itu 'kan racun burung, Pa."


"Jadi bener Om ngeracun Kevin? Tega banget."


Secara tidak langsung ucapan Steven seakan mengakui jika memang dia telah berniat meracun Kevin. Kekecewaan tergambar jelas di wajah Citra. Gadis itu pun segera menepis tangan Steven yang berada di lengannya. Kemudian menghampiri Kevin, duduk di sampingnya sambil mengelus jambul.


'Ah sial! Keceplosan deh,' batin Steven.


Kakinya hendak melangkah ke arah Citra, akan tetapi cengkraman tangan Angga makin kuat dan membuatnya meringis kesakitan.


"Sakit, Pa. Papa ini apa-apaan, sih?! Lepaskan!" Steven menarik lengan Angga, mencoba melepaskan. Namun tiba-tiba ada tangan Dono yang menghentikannya.


"Kamu harus tanggung jawab, Stev. Kondisi Bejo sekarang kritis. Papa juga mau kamu minta maaf sama Kevin!" tekan Angga.


Steven berdecak kesal, matanya menyorot tajam ke arah Kevin. Dendam itu masih ada, malah makin bertambah lantaran burung itu tidak berhasil mati. "Ngapain aku tanggung jawab? Itu 'kan bukan kesalahanku. Yang salah itu Bejo, kenapa dia makan makanan yang aku kasih untuk Kevin?!"


"Apa pun itu intinya kamu yang salah! Kamu telah berbuat jahat! Papa juga sudah pernah katakan kalau Kevin itu akan jadi adik angkatmu!" pekik Angga. Geram sekali rasanya melihat sikap Steven yang seperti itu. Sudah jelas salah tapi tak mau mengakui.


"Mama bukannya sudah pernah bilang, ya, sama kamu supaya jangan membenci apa pun? Ini kamu malah ingin membunuh Kevin." Sindi ikut menyahut, dia sama kesalnya melihat sikap Steven. Pria itu masih diam saja. "Citra itu sedang hamil! Pamali, Stev, dan membunuh itu dosa!" tambahnya.


"Kalau kamu nggak mau tanggung jawab dan minta maaf ... Papa terpaksa akan memasukkanmu ke dalam penjara dan mencoret namamu di KK!" ancam Angga.


Steven langsung terbelalak, dia mengakhiri pelototannya kepada Kevin dan kini menatap Angga dengan mimik wajah tak percaya. "Apa yang Papa katakan? Ini berlebihan namanya!" protesnya.


...Aku setuju Opa 😁 biarkan Om Steven masuk penjara, biar nggak songgong. Emang enak, dikurung 🤪 kagak bisa goyang 🤣...

__ADS_1


__ADS_2