
30 menit kemudian, mobil Steven akhirnya sampai pada parkiran hotel di mana pernikahan Sisil dan Rama berada.
Steven sudah memakai stelan jas berwarna putih. Dasi hitam model kupu-kupu melingkar di lehernya
Si kembar mereka tinggal, dititipkan kepada Suster Dira. Kevin dan Janet juga sudah dimintai Citra untuk membantu menjaga.
"Tunggu sebentar, Cit!" Steven mencegah Citra yang hendak membuka pintu mobil. Sebab dirinya melihat, ada Angga, Juna dan Sofyan yang baru saja turun dari mobil. Jarak mereka cukup jauh tapi saling berhadapan.
"Kenapa, A? Kan sudah sampai," tanya Citra bingung. Kemudian menatap ke arah sang suami.
"Itu ada Papa, Juna sama Kak Sofyan, Cit." Steven menunjuk ke arah depan, kepada tiga lelaki berbeda generasi itu. Mereka bertiga pun melangkah masuk ke dalam gedung hotel. "Ternyata kita datangnya bareng mereka."
"Terus kenapa?"
"Aku nggak mau ketemu Papa, males." Steven menggeleng.
Bukan hanya malas, tapi dia juga merasa sebal. Apalagi Angga orangnya suka bercanda, Steven tak mau jika acara kaburnya dari rumah gagal hanya karena luluh oleh perkataannya.
"Jangan gitu, A, kan Papa adalah Papanya Aa. Tanpa dia Aa nggak ada," tegur Citra.
"Aku tau, tapi aku males banget. Kita pulang saja deh, ya, nggak usah kondangan." Steven menyalakan mesin mobilnya kembali, akan tetapi Citra langsung mencabut kunci mobil.
"Nggak mau ah, A. Aku mau kondangan. Aku mau ketemu Sisil," ucap Citra. Dia langsung turun begitu saja dengan memegang sebuah kado di tangannya.
Steven menghela napasnya, terpaksa dia pun ikut turun. Dilihat kini wajah Citra juga cemberut. Hari ini Steven sudah menghabiskan banyak tenaga karena rasa kesalnya yang mendapat kabar punya adik, jadi dirinya tak mau menambah beban pikiran kalau sampai berantem dengan Citra.
Perlahan dia merangkul bahu sang istri, kemudian mengajak Citra sama-sama masuk ke dalam.
'Semoga saja aku nggak bertemu Papa,' batin Steven.
"Yahya," panggil Angga yang baru saja menghampiri Mbah Yahya. Pria itu sejak tadi berdiri sambil mengusap batu akiknya. "Selamat ya, Ya, akhirnya Rama bisa nikah lagi," tambahnya seraya mengulurkan tangan.
"Terima kasih, Ga." Mbah Yahya langsung tersenyum dan menjabat tangan Angga, dia juga mengelus puncak rambut Juna.
"Katanya burung Om Rama nggak bisa berdiri, Kek, kok dia bisa menikah lagi?" tanya Juna tanpa dosa seraya menatap Mbah Yahya.
__ADS_1
"Jun! Jangan bilang begitu!" tegur Angga sambil menutup bibir sang cucu. "Om Rama pria normal," tambahnya kemudian.
"Maafin Juna ya, Om, kadang dia memang suka gitu," ucap Sofyan yang ikut merasa tak enak. Dia berbicara sambil menatap Mbah Yahya.
"Nggak apa-apa, Yan. Namanya anak kecil." Mbah Yahya tersenyum, lalu berjongkok dan mengusap pipi kanan Juna. "Om Rama normal, Jun. Buktinya dia nikah. Tahu nggak kamu ... Itu istrinya Om Rama adalah temannya Tantemu."
"Oh, Tante Sisil, ya, Kek? Juna pernah ketemu dia sekali. Tapi wajahnya mirip Tante Citra." Juna menatap ke arah sepasang pengantin yang berada di pelaminan. Tengah menyalami beberapa tamu dan berfoto.
"Iya, kembar beda Bapak sama Ibu," kekeh Mbah Yahya lalu berdiri. "Kalian datang cuma bertiga? Di mana yang lain? Nissa nggak datang?"
"Nissa di rumah sakit, lagi dirawat dan Tian yang nungguin. Kalau Sindi lagi istirahat di rumah," jawab Angga.
"Sakit apa si Nissa?" tanya Mbah Yahya.
"Nggak sakit. Dia hamil dan perlu dirawat saja di rumah sakit," jawab Angga.
"Wah, cepet juga, ya, udah bunting aja. Kamu bentar lagi bakal punya cucu lagi. Aku kapan nih, Ga?" Wajah Mbah Yahya seketika sendu. Jika dibilang iri, memang benar.
"Ya 'kan ini Rama baru saja menikah, pasti bentar lagi kamu punya cucu darinya." Angga meraih bahu sang teman, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Iya juga, ya, aku belum kepikiran." Mbah Yahya mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Nanti deh aku belikan."
"Baju kurang bahannya juga, Om. Itu wajib banget dipakai."
"Baju kurang bahan itu apa, Yan?" Mbah Yahya menatap Sofyan dengan kening yang mengernyit.
"Lingerie, masa Om nggak tahu?"
"Oh, kalau itu mah sudah ada di lemari hotel. Sudah disiapkan sama istri Om. Oh ya, kalian makan dulu, yuk, pasti pada laper, kan?" Mbah Yahya merangkul bahu Angga dan Sofyan, kemudian mengajaknya menuju prasmanan.
***
Sementara itu di rumah Angga.
Sindi yang tengah tertidur di atas kasur perlahan mulai mengerjapkan matanya. Kepalanya miring ke arah kanan, tepat di mana nakas berada.
__ADS_1
Dia ingin melihat jam weker di atas sana, ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Tadi setelah makan malam, Sindi langsung beristirahat dan rupanya ketiduran di kamar.
Biasanya, kalau terbangun begini ada suara tangis si kembar. Atau Citra tengah berdebat dengan Steven perkara minta nyusu.
Namun sekarang, semuanya terasa hampa. Mendadak hati dan pikiran Sindi menjadi kesepian. Padahal anak, menantu dan cucunya itu belum ada sehari pergi dari rumah.
"Lagi apa kira-kira si kembar di apartemen? Apa sudah minum susu mereka?" gumam Sindi. Dia lantas menarik tubuhnya untuk duduk, lalu menjatuhkan kedua kakinya ke lantai sembari mengambil ponselnya di atas nakas.
Tadi setelah Magrib dia sudah menelepon Steven, tapi nomor pria itu tidak aktif. Menelepon Citra pun sekalinya aktif tapi tidak diangkat.
Sekarang Sindi berencana ingin menelepon Suster Dira, mungkin saja diangkat.
Tut ... Tut ... Tut. Panggilan itu tersambung, tapi sama sekali tidak diangkat. Sindi pun mendesaah pelan, lalu berdiri dan melangkah keluar dari kamarnya.
"Papa lama banget sih pulangnya, sudah bujuk mereka belum kira-kira? Ah aku nggak sabar banget pengen ketemu si kembar. Ditambah pengen teh manis buatan si Kevin," keluh Sindi dengan raut sedih. Kakinya menuruni anak tangga.
***
Mobil Sofyan telah berhenti di depan apartemen Steven. Angga pun lantas turun dari mobil.
"Kamu sama Juna pulang saja, Yan. Tapi anterin Juna dulu ke rumah sakit, ya!" pinta Angga sembari menatap anaknya. Sengaja dia tak mau mengajak Juna maupun Sofyan, sebab ini juga atas permintaan Sindi. Supaya mereka tak mengetahui kehamilannya.
"Mau apa sih memangnya Opa ke sini?" tanya Juna. Dia duduk di kursi depan di samping Sofyan. Wajar dia bertanya demikian karena tak tahu apa-apa.
"Ada teman Opa yang mau cari apartemen, jadi Opa saranin ke apartemen Om Steven saja. Ini Opa mau ketemuan sama temen Opa, Jun, karena dia mau nempatin apartemennya sekarang," jelas Angga mengarang cerita.
"Ya sudah, Papa temui teman Papa saja dulu. Paling sebentar, kan? Aku sama Juna tunggu di sini." Sofyan tak mungkin tega meninggalkan Angga. Meskipun baru jam 9, dia rasa itu sudah malam dan khawatir kalau Angga kenapa-kenapa.
"Iya, Juna juga mau ... lho, itu 'kan Kevin, Opa!" Juna menyeru saat tak sengaja dia melihat Kevin yang tengah makan pisang di atas meja pos satpam. Tangannya juga menunjuk ke arah yang dimaksud.
Kevin yang mendengar seruan Juna sontak terkejut, cepat-cepat dia pun terbang tinggi. Kemudian masuk ke salah satu apartemen di atas sana lewat jendela.
...Yang belum mampir ke novel Om Rama ayok mampir dan ramein dong, Guys. Author lagi ngejar target biar gajian soalnya 🤧...
__ADS_1