
[Papa ada di mana? Cepat pulang, si Juna ngunciin diri di dalam kamar.]
Itulah isi chat Sindi saat dibuka bertepatan pada Angga yang memang sudah sampai rumah. Pria itu pun berjalan cepat berbarengan dengan Dono dan Bejo, menuju lantai atas.
"Sejak kapan Juna ngunciin diri di kamar?" tanya Angga. Entah dia bertanya kepada siapa, tetapi matanya menatap anak dan istrinya.
"Sejak pagi, Pa." Yang menjawab Nissa.
"Ini mau langsung didobrak apa gimana?" tanya Dono.
"Sebentar ...." Angga mendekat ke arah pintu lalu mengetuknya. "Jun, buka pintunya!" pekiknya. "Kamu katanya udah gede, kok ngambeknya kayak gitu?! Ayok buka!"
"Permisi Pak Angga, coba pakai kunci ini." Bibi pembantu menghampiri Angga sembari memegang kunci di tangannya. "Tadi Bibi cari lagi di gudang." Sehabis memberitahu Bejo dan Dono, Bibi yang masih penasaran dengan kunci serep kamar itu pun mencarinya lagi.
Angga mengambil, lalu masukkan kunci itu ke lubangnya. Dan ternyata cocok.
Ceklek~
Pintu itu dibuka dan didorong perlahan olehnya. Dia, Sindi dan Nissa lantas masuk ke dalam sana. Sedangkan yang lain memilih pergi.
Di dalam kamar itu tidak ada siapa-siapa, tetapi Nissa memilih berjongkok di kolong tempat tidur. Dia tentu mengenal bagaimana Juna, bocah itu ketika sedang marah pasti berada di kolong ranjang.
Juna tengah tengkurap dengan wajah cemberut, kedua tangannya memegang kelereng besar pemberian Tian.
"Jun, ayok makan!" ajak Nissa. Dia hendak meraih salah satu kaki kecil Juna. Tetapi kalah cepat sebab sudah ditarik duluan oleh Angga. Pria tua itu pun langsung mengendongnya, dan duduk di atas kasur.
"Kamu kenapa ngunciin diri di kamar? Kamu marah?" tanya Angga. Juna langsung memalingkan wajah.
"Sepertinya Juna marah karena masalah tadi pagi, Pa," tebak Nissa. Meskipun Juna tak cerita, tetapi dia dapat menyimpulkannya.
"Yang masalah Tian itu?"
"Kayaknya."
"Sekarang kamu bawakan makan siang untuk Juna," titah Angga.
"Juna nggak mau makan!" tolak Juna sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa? Nggak laper memangnya?" tanya Angga.
"Laper." Menyentuh perut yang tiba-tiba keroncongan. "Tapi Juna mau makan bareng Om Tian saja. Kan tadi pagi nggak jadi," ucapnya dengan sendu.
Angga membuang napasnya dengan gusar. Perlahan dia pun mengusap rambut kepala Juna dan mencium keningnya. Dia akan mencoba untuk merayunya lagi.
__ADS_1
"Kan Opa sama Om Steven sudah bilang, kalau kamu nggak boleh ketemu Om Tian lagi. Kok kamu nggak dengerin apa kata Opa dan Om? Katanya mau jadi anak baik, hhmm?"
"Kan Juna udah bilang beberapa kali. Kalau Juna mau Om Tian jadi Papi, Juna, Opa. Opa dan Om Steven nggak ngerti. Kalian jahat!" Juna menggerakkan kakinya, hendak turun dari pangkuan Angga. Tetapi ditahan oleh pria itu.
"Apa yang Opa dan Om Steven katakan itu adalah hal yang baik untukmu dan Mami. Lagian, Om Tian itu Omnya Tante Citra, nggak boleh kalau menikah sama Mami. Kan Mami Kakak ipar Tante Citra," jelas Angga.
"Nggak bolehnya kenapa?" Juna menatap Angga dengan kening yang mengerenyit.
"Nggak boleh, kan dia sudah jadi keluarga kita. Lebih baik Mamimu menikah saja dengan Om Rama. Yang bukan siapa-siapa."
"Kalau Mami nggak boleh menikah dengan Om Tian. Mami nggak boleh menikah dengan siapa pun. Termasuk Om Rama!" tegas Juna sambil bersedekap. "Burung Om Rama juga nggak bangun. Juna nggak mau punya Papi baru nggak normal!"
"Burungnya bangun. Tadi Opa udah tanya sama Kakek Yahya."
"Juna nggak percaya kalau belum lihat langsung."
"Ya nggak boleh dilihat, Jun, malu. Nggak sopan juga. Itu kan namanya kem*luan, musti dijaga lah, nggak boleh dilihat orang lain," jelas Angga.
"Kalau kayak gitu mana bisa Juna tahu, Om Rama normal apa nggak," cetusnya ngambek.
"Ya mangkanya, Mamimu menikah dulu dengan Om Rama. Nanti pasti tahu."
"Aku nggak mau menikah dengan Pak Rama, Pa," sahut Nissa yang sejak tadi diam.
"Tuh, Mami aja nggak mau." Juna menimpali sembari menatap wajah Nissa. "Mami juga maunya nikah sama Om Tian 'kan, Mi?"
"Dih kenapa? Burung Om Tian 'kan besar dan eeemmpptt—" Bibir Juna langsung dibungkam oleh Angga. Rasanya risih sekali, sejak kemarin mendengar Juna terus membahas dan membandingkan burung kedua lelaki dewasa itu. Tidak pantas juga, Juna masih terlalu kecil.
"Berhenti bilang burung-burung lagi. Mau besar atau kecil itu nggak penting. Pokoknya kata Opa nggak, ya, nggak!" tegas Angga marah. Matanya agak melotot. "Kamu harus turutin apa yang Opa katakan. Ini terbaik untukmu dan Mami," tambahnya.
'Ah Opa sama Om Steven sama saja. Mereka menyebalkan. Nggak sayang sama Juna,' batinnya sedih.
Juna segera melepaskan tubuhnya dari lengan Angga yang melingkar pada pinggangnya. Dia lantas turun dari pangkuan dan melangkah menghampiri Nissa.
"Mami, ayok pulang ke rumah," pintanya sembari meraih tangan kanan Nissa.
"Kok pulang? Katanya kamu mau tinggal di rumah Opa terus?" Angga berdiri, lalu mendekat.
"Ayok Mami, pulang!" rengek Juna dengan kaki yang bergerak-gerak. Dia tampak tak sabar.
"Iya, iya, ayok pulang." Nissa menggenggamnya. "Pamit dulu sama Opa dan Oma."
Juna mengulurkan tangannya ke arah Angga, lalu mencium punggung tangan. Begitu pun kepada Sindi. Tetapi wajahnya itu masih merengut.
__ADS_1
Setelah itu Juna langsung menarik tangan Nissa untuk keluar dari rumah Angga. Tetapi pria tua itu mengejarnya, hingga ikut mengantar mereka pulang. Duduk di kursi di samping Bejo.
Angga ingin memastikan, jika cucunya itu langsung pulang ke rumah, tidak meminta untuk ke rumah Tian.
Dreett ... Dreett.
Ponsel Nissa berdering, sebuah panggilan masuk dari Rama. Segera dia pun menjawabnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.
"Halo, Pak."
"Halo, Nis, selamat siang. Bagaimana? Jadi 'kan kita makan siang bareng?" tanya Rama.
"Sebentar, Pak ...." Nissa mengelus pipi Juna yang saat ini bocah itu tengah bergelayut di dada. Duduk di atas pangkuannya. Tetapi saat dilihat, bocah itu justru tertidur pulas. "Maaf, Pak. Kayaknya nggak bisa. Si Junanya tidur."
"Kita makannya di rumahmu saja bagaimana? Aku ke rumahmu terus kita makan siang bareng sambil menunggu Juna bangun," tawar Rama. "Eeemm ... itu sih kalau boleh, kalau nggak ya, nggak apa-apa," tambahnya kemudian.
"Juna kalau tidur suka lama. Bisa sampai sore."
"Nggak apa-apa. Aku tungguin."
"Tapi akunya nggak enak. Selama jadi janda, aku nggak pernah bawa pria masuk ke dalam rumah. Takut jadi fitnah juga."
"Aku tunggu diluar juga nggak masalah, Nis."
"Ya sudah, nanti aku kirim alamatnya."
"Iya. Terima kasih, Nissa."
"Sama-sama." Nissa mematikan sambungan telepon, lalu segera mengirimkan alamat rumah.
"Yang telepon tadi siapa?" tanya Angga kepo. Dia sempat mendengar percakapan Nissa tadi dan merasa begitu penasaran.
"Pak Rama, Pa. Sebenarnya siang ini dia ngajak makan bareng di restoran sama Juna juga. Tapi nggak jadi dan dia bilang, mau ke rumahku."
"Lho, kenapa nggak jadi? Pergi saja."
"Si Junanya ketiduran. Dia juga 'kan belum makan."
"Juna biar sama Papa di rumahmu. Nanti pas bangun Papa suapi. Kamu pergi makan saja berdua dengan Rama. Itung-itung pendekatan," saran Angga.
"Kan aku sudah bilang, aku belum mau menikah, Pa."
"Iya. Tapi temenan dulu 'kan nggak apa-apa." Angga memutar kepalanya untuk menatap wajah anaknya. Nissa tampak terdiam dan seperti memikirkan sesuatu yang entah apa itu. "Kamu jangan menolaknya begitu dong, hargai dia. Tian saja mengajakmu nonton kamu langsung mau. Masa diajak Rama makan siang bareng saja nggak mau? Itu 'kan nggak adil namanya."
__ADS_1
...Terima kasih yang udah do'ain, sehat-sehat juga untuk Kakak Readers 🤗. Alhamdulillah sekarang aku udah baikan....
...Insyaallah nanti aku up lagi. tapi sambil nunggu ... kasih hadiah dan votenya dulu, ya! biar semangat 🥲 like dan komennya juga jangan lupa tinggalin~...