Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
295. Betapa manisnya mereka berdua


__ADS_3

Sementara itu di kamar Angga.


"Opa, Dedek kembar kok tidurnya di kasur bayi? Kenapa nggak di kasur Opa?" tanya Juna yang memperhatikan Angga dan Sindi tengah menaruh si kembar pada ranjang bayi. Bayi mungil itu sudah selesai minum susu formula.


"Nanti sempit, Jun," jawab Angga.


"Kata Opa, Dedek kembar tidur sama Juna?"


"Ya ini 'kan tidur sama kamu. Kita sekamar," jawab Angga.


"Juna maunya tidur di kasur. Juna ditengah dan Dedek kembar di samping kanan kiri."


"Nanti ketindihan dong Dedek kembarnya. Kamu 'kan kalau tidur nggak bisa diem."


"Nggak bakal." Juna menggeleng. "Juna maunya tidur bareng Dedek kembar, di kasur. Nggak mau beda kasur," rengeknya sembari memeluk tubuh Angga dari belakang. Lalu menggoyangkannya.


"Eemm ya sudah." Angga mengalah. "Sekarang kamu berbaring dulu di kasur. Nanti Opa pindahkan Dedek kembarnya," titahnya.


Juna dengan girangnya merelai pelukan, lalu melompat-lompat naik ke atas kasur. Dia lantas berbaring dengan posisi terlentang di tengah-tengah. Kedua lengannya dia bentangkan.


"Kalau si kembar ketindihan bisa bahaya, Pa. Apa lagi ketahuan Steven," ujar Sindi berbisik ke telinga kiri suaminya.


"Sampai Juna tidur saja, Ma. Nanti si kembar dipindahin," sahut Angga.


Dia meraih kembali tubuh Vano, kemudian melangkah menghampiri Juna yang sudah tersenyum lebar. Gigi putihnya sampai terlihat jelas, hidungnya juga ikut kembang kempis.


Sindi menurut, demi keinginan cucu bawelnya itu si Varo dia raih kembali dan membawanya menuju kasur.


"Upin di sebelah kanan dan Ipin di sebelah kiri, Opa, Oma," pinta Juna sembari menoleh ke kanan-kiri lengannya.


Dua orang tua itu tak mengerti yang Juna maksud, Upin yang mana dan Ipin yang mana. Mereka menaruhnya secara asal saja. Yang terpenting kepala kedua bayi itu di lengan Juna, sebab sepertinya dia menginginkannya seperti itu.


"Pegel nggak lenganmu jadi sandaran si kembar, Jun?" tanya Angga. Dia mengusap kening Vano yang berkeringat.


"Kepala mereka 'kan unyu, masa pegel? Nggak lah," bantah Juna. Padahal aslinya, sekarang saja lengannya terasa sakit akibat tertindih.


Juna melakukan hal itu sebab teringat Tian, yang menjadikan lengan pria itu sebagai alas pengganti bantal untuknya. Jadi dia melakukan hal yang sama untuk si kembar. Supaya mereka nyaman tidur bersamanya.

__ADS_1


"Kalau sakit ngomong, ya? Sekarang kamu tidur. Si kembar juga udah tidur tuh." Angga mendekat untuk mencium kening Juna, kemudian beralih kepada Varo dan Vano.


"Iya." Juna mengangguk.


Dia menoleh ke arah Varo terlebih dahulu untuk menjilat pipi kirinya, kemudian beralih pada Vano untuk menjilat pipi kanan. Angga dan Sindi sama-sama meringis. Sejujurnya ingin menegur tetapi takut jika Juna marah. Yang mereka lakukan hanya mengusap bekas air liurnya saja.


"Kok diusap, sih?" Juna mendengkus. "Juna 'kan udah gosok gigi tadi?" Kembali, Juna mengulang perbuatannya. Menjilat keduanya bagaikan es krim. "Biarkan saja jangan diusap, biar kering sendiri!" tegurnya sembari menatap Angga dan Sindi bergantian. "Opa dan Oma nggak tahu sih, betapa manisnya mereka berdua."


"Ya sudah. Sekarang tidur," titah Sindi mengelus kening Juna. Bocah itu langsung memejamkan matanya.


"Selamat tidur Dedek Upin, Ipin, selamat tidur Opa, Oma," ujar Juna.


"Selamat tidur, Jun." Sindi dan Angga menjawab secara bersamaan. Keduanya duduk memperhatikan ketiga cucunya dan kemudian terkekeh melihat tingkah Juna.


"Udah gede si Juna ya, Pa, kepengen adik segala," ucap Sindi pelan.


"Iya." Angga mengangguk sambil tersenyum. "Pasti si Tian lagi beraksi sekarang, Mama awasi Juna dulu, ya, Papa mau keluar sebentar." Angga beranjak dari kasur.


"Papa jangan ngintipin si Tian sama Nissa, nanti bintitan!" tegur Sindi. Ucapannya menghentikan langkah kaki Angga yang baru saja membuka pintu kamar.


"Siapa yang mau mengintip? Papa mau cek si Luna sama Luki kok."


Angga menutup pintu kamarnya pelan-pelan, kemudian melangkah.


"Pa! Ini buat Papa!" Steven berlari menghampiri Angga. Pria tua itu menoleh, lalu mengambil paper bag yang anaknya itu berikan.


"Apaan ini, Stev?" tanyanya penasaran seraya membuka isi di dalamnya. "Tumben kamu baik sama Papa, Papa belum ulang ...." Ucapannya menggantung kala dia melihat isi di dalam paper bag ternyata pantaat mainan. "Dih, kamu gila, ya? Ngapain ngasih kek beginian buat Papa?"


"Ya buat main lah, Pa. Sensasi baru." Steven menarik turunkan alis matanya. menggoda Angga.


"Serabi Mamamu nganggur dong kalau Papa pakai beginian? Nggak ah." Angga menggeleng lalu memberikan mainan itu kembali. Bukannya mengambil, Steven justru berlari masuk ke dalam kamarnya. "Dasar, nggak jelas kamu, Stev!" tegur Angga. Alhasil dia membawa paper bag itu menuju pos satpam.


*


*


Kembali lagi ke kamar mandi di dalam kamar tamu paling ujung.

__ADS_1


Nissa tengah menungg*ng sembari mencengkeram erat sisi bathtub dengan kedua tangannya. Dia menahan tubuhnya sendiri sebab terguncang oleh Tian yang menjamahnya dari belakang.


"Ah! Ah!" desah Nissa.


"Ini sangat enak, Yang. Aahh!" desah Tian yang mempercepat gerakan pinggulnya. Dia juga meremmas bokong putih istrinya.


***


Di Samarinda.


Tepat jam 8 malam, pintu kamar Fira baru dibuka. Yang membukanya adalah dua pria tinggi gede. Keduanya memakai seragam hitam dan kacamata hitam.


Tantri sudah mandi dan berdandan cantik. Tak lupa memakai dress seksi sesuai permintaan Mami.


Namun, tidak dengan Fira.


Jangankan untuk berdandan, pakaiannya saja masih sama dan dia belum mandi.


Rambutnya berantakan berikut dengan make up di wajahnya. Dia menangisi nasibnya sejak siang dan baru berhenti sekarang. Tetapi masih sesenggukan.


"Kalian kenapa belum bersiap? Kita harus pergi sekarang!" teriak salah seorang pria itu. Suara baritonnya membuat gendang telinga Tantri dan Fira sakit.


"Aku sudah bersiap, Pak," jawab Tantri seraya berdiri dari duduknya.


Fira yang bersungkur di lantai itu langsung berdiri. Kemudian berlari keluar. Niatnya mungkin akan kabur, tetapi tentu hal itu tidak akan terjadi.


Salah satu orang itu mencekal lengannya dengan erat. "Cepat mandi dan bersiap! Kalau tidak aku yang akan memaksamu!" ancamnya sambil meremmas lengan.


"Lepaskan aku!" teriak Fira memberontak. "Aku nggak mau menjual diri! Kau kira aku wanita murahan?!" bentaknya emosi.


Pria itu merogoh kantong celananya. Dan sontak Fira terbelalak kala dahinya tertempel sebuah pistol hitam pada tangan pria itu. "Cepat menurut atau kau kutembak!"


Fira menelan ludahnya dengan kasar, mau tak mau dia pun menurut daripada mati. Kakinya perlahan mundur, lalu masuk ke dalam kamar.


"Aku tunggu tiga puluh menit! Kalau sampai lama kau akan jadi almarhum!" pekiknya mengancam.


Fira membanting pintu kamar mandi, lalu duduk bersungkur sambil menangis memeluk lututnya. Kepalanya terasa berdenyut, sakit sekali. "Mama ... tolong Fira, Ma. Fira nggak mau mati, tapi Fira juga nggak mau jual diri." Seketika dia pun teringat wajah Nurul yang tengah tersenyum, kemudian berganti teringat dengan wajah Tian. "Mas Tian, tolong aku, Mas. Aku nggak mau jual diri. Tolong selamatkan aku, Mas ... hiks ... hiks."

__ADS_1


...Mantan suamimu lagi kencing, Fir, ga boleh diganggu 😎...


__ADS_2