
"Kalau suruh putus Steven pasti nggak akan mau, Fir. Kecuali kalau wanita itu yang nyakitin dia. Kita nunggu saja keputusan dari Steven. Tante juga perlu mengenal siapa pacarnya. Kayak gimana anaknya dan bisa apa."
"Aku yakin dia nggak bakal bisa apa-apa sih, Tan. Zaman sekarang 'kan jarang banget perempuan yang bisa masak, kebanyakan apa-apa beli," katanya dengan yakin sambil tersenyum miring.
"Iya, mudah-mudahan. Tante juga berharap kamu kok yang akan jadi menantu Tante." Sindi memeluk tubuh Fira, lalu mencium puncak rambutnya dengan penuh kasih sayang.
***
Sementara itu di tempat berbeda, Steven berkeliling mencari keberadaan Citra ditemani oleh Jarwo. Setelah pulang dari kantor Danu, rumah Danu dan apartemen Gugun, dia pergi ke kantor Harun, lalu sampai ke rumah Lusi dan Rosa. Tetapi sayangnya mereka sama sekali tidak tahu keberadaan Citra.
"Pak, ngapain kita ke kampus?" tanya Jarwo bingung saat menghentikan mobilnya di depan gerbang universitas. Itu atas perintah Steven.
"Pacarku kuliah di sini!" sahut Steven sewot.
"Tapi ini sudah malam, pacar Bapak nggak mungkin ke sini."
Aneh memang, tidak mungkin juga rasanya Citra berada di gedung itu. Sebab sudah tutup jam pelajarannya.
Namun, Steven seolah tak peduli akan hal itu. Dia yang yang sudah hilang arah hanya berpikirโmungkin saja Citra berada di sana.
"Apa Citra ada di sini?" tanya Steven pada seorang satpam yang berdiri di dalam gerbang. Dia langsung bertanya kearah inti maksud dan tujuannya.
"Maaf, tapi kampus ini sudah tutup, Pak. Nggak ada mahasiswa atau dosen yang ada di sini," jelas pria berseragam itu.
__ADS_1
"Ya sudah, aku minta nomor Pak Adam padamu." Steven merogoh kantong celananya, lalu memberikan ponselnya ke celah gerbang.
"Saya nggak bisa segampang itu memberikan nomor dekan pada orang asing, Pak. Itu privasi."
"Orang asing apanya?" Steven tampak marah kala satpam itu tak mengambil ponselnya, matanya sudah merah dan tatapannya begitu nyalang. "Aku Steven Prasetyo! Apa kau nggak tahu aku, hah?!" bentaknya. "Ada danaku di kampus ini! Aku juga bisa buat kau berhenti bekerja!"
"Oh Pak Steven?" Pria itu langsung familiar mendengar nama itu. "Maafkan saya, saya baru seminggu bekerja mangkanya nggak tahu. Saya catat nomor Pak Adam, Pak." Cepat-cepat dia pun mengambil ponsel Steven dan mengetik-ngetik layar tersebut. Dia tampak kebakaran jenggot dan merasa takut.
Setelah mendapatkan nomor dekan, Steven segera meneleponnya.
"Halo, selamat malam, Pak. Ini aku Steven Prasetyo," kata Steven sembari membuang napasnya dengan kasar.
"Selamat malam juga, Stev. Nomormu baru, ya? Dan ada apa telepon?" tanyanya dengan ramah.
"Bantuan apa, Stev? Bicara saja."
"Besok kalau Citra masuk kuliah ... tolong jangan biarkan dia pulang. Tahan dulu dan Bapak kabari aku untuk datang."
"Citra? Lho, bukannya dia sudah nggak kuliah lagi mulai besok ya, Stev?"
"Nggak kuliah lagi?" Mata Steven seketika mendelik. "Nggak kuliah lagi apa maksudnya?"
"Kemarin ... setelah jam kelas kuliah selesai, ada yang datang ke ruangan Bapak, Stev. Kalau nggak salah namanya Gugun, dia bilang Citra akan pindah kuliah."
__ADS_1
"Pindah kuliah? Pindah ke mana?"
"Kalau itu Bapak nggak tahu, Gugun hanya meminta izin dan meminta untuk dibuatkan surat pindah."
"Kenapa Bapak nggak memberitahuku dari kemarin?" Emosi Steven langsung mendidih, ubun-ubunnya terasa panas dan wajahnya terlihat tegang.
"Bapak meneleponmu dari kemarin, Stev. Tapi nomormu susah dihubungi. Dan pria yang bernama Gugun juga mengatakan kalau itu juga disuruh olehmu."
Tut!
Panggilan itu langsung terputus kala Steven mematikannya.
"Aaakkkhhh!" teriak Steven dengan penuh emosi sambil menendang pagar besi sekuat tenaga. Besi itu sampai bergetar dan membuat satpam yang berada di dalam sana terperanjat.
"Bapak kenapa marah-marah?" tanya pria itu. Tetapi Steven sama sekali tak menanggapi. Dia benar-benar seperti sudah kerasukan setan, emosinya tak terkontrol. Dan sekarang sibuk menjambaki rambutnya sendiri.
"Br*ngsek banget si Gugun! Kurang ajar sekali padaku. Awas saja kau, ya!" teriaknya sambil melotot. Cepat-cepat Steven masuk ke dalam mobil. "Kita ke kantor polisi!" perintahnya pada Jarwo yang langsung dianggukan olehnya.
...Hari ini up sebab dulu, ya, Gays ๐ฌโ๏ธ tapi nanti mulai Senin author akan crazy up lagi. sekalian mau nabung bab dulu yang buanyyyaaakkkkk ๐ biar kalian mual bacanya ๐คญ...
...oke makasih, jangan lupa kopi sama bunganya. ๐...
...like sama komennya juga ๐...
__ADS_1