
Angga sontak terbelalak, dia terkejut sekaligus tak menyangka dengan apa yang Steven katakan. "Mama hamil? Masa, sih, Stev?"
"Sudah jelas ini tespecknya garis dua, masa tespeck bohong!" geram Steven. Dia mengambil benda itu dari tangan Citra, kemudian memberikan kepada Angga. Setelah itu Steven mencekal pergelangan tangan kanan Citra, lalu menariknya. "Ayok kita pulang," ajaknya.
"Kok pulang, A? Aku 'kan belum periksa." Tubuh Citra tertarik oleh Steven dan sama-sama melangkah pergi dari Angga.
"Periksa apa? Memang kamu hamil? Kita pulang saja sekarang, aku nggak mau ketemu Mama dan Papa lagi!" tegas Steven.
"Aku mau suntik KB, A."
"Suntik KB mau ngapain?! Kan kita juga sudah lama nggak bercinta, Cit."
"Tapi aku sudah—"
"Pak! sini kunci mobilnya!" titah Steven yang berteriak pada Jarwo. Dia dan Citra sekarang sudah berada di parkiran rumah sakit dan berdiri di depan mobilnya.
Jarwo yang tengah duduk dikursi kecil sambil ngopi, di area yang tak jauh mereka itu pun lantas berdiri. Kemudian menaruh gelas plastik di atas kursi lalu berlari menghampiri Steven.
"Ini, Pak," ucapnya sembari menyerahkan kunci.
Steven mengambil lalu mengajak Citra untuk masuk bersama-sama ke dalam mobilnya, kemudian mengemudi.
"Kamu telepon Suster Dira, Cit. Takutnya dia ke rumah sakit, bilang saja untuk tetap di rumah sama si kembar."
"Iya, A." Citra mengangguk lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
"Suruh juga dia untuk membereskan baju dan perlengkapan si kembar, taruh semua dikoper," tambah Steven.
"Lho, kenapa ditaruh dikoper?"
"Kita mulai sekarang nggak usah tinggal di rumah Mama dan Papa. Kita berempat tinggal di apartemen saja," sahut Steven.
Terlihat jelas wajahnya itu seperti marah. Tentu saja, itu disebabkan dia merasa tak terima akan menjadi seorang Kakak.
Sejak dulu, Steven memang tidak mau mempunyai adik. Yang dia inginkan adalah menjadi anak terakhir.
"Tapi kita harus—"
"Udah kamu nurut saja, jangan banyak bicara," sela Steven cepat. Lagi-lagi ucapan Citra dia potong, padahal gadis itu entah ingin mengatakan hal apa.
***
__ADS_1
Kembali lagi ke rumah sakit.
Sesuai melakukan tes urine, sekarang Sindi tengah berbaring dan melakukan USG. Supaya semuanya jelas, benar atau tidaknya hasil itu.
Sejujurnya, baik Sindi atau pun Angga, keduanya benar-benar tidak percaya kalau mereka akan memiliki keturunan lagi. Selain karena faktor umur, keduanya juga sepakat hanya ingin fokus untuk mengurus cucu dan cicit saja.
"Bagaimana hasilnya, Dok? Aku nggak hamil, kan?" tanya Sindi yang berbaring sambil menatap monitor USG. Angga berdiri di sampingnya, tangannya itu sejak tadi mengelus dahi.
"Anda hamil, Bu, usia kandungannya dua bulan," sahut Dokter.
Sindi dan Angga langsung saling memandang. Namun ternyata, wajah Angga tampak berseri. Tampaknya dia senang, berbeda dengan Sindi yang terlihat sedih dan galau.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Allah," ucap Angga penuh syukur. Dia membungkukkan badan lalu mengecup perut Sindi.
Memang rasanya aneh, tapi walau bagaimana pun anak itu adalah rezeki. Datangannya kapan itu rahasia Allah dan sebagai umatnya, yang dilakukan Angga hanya bersyukur.
"Tapi, Dok, aku 'kan sudah tua. Umurku sudah 60 dan aku sudah menopause," jelas Sindi. Nyatanya dia masih tak percaya kalau dirinya hamil.
"Terakhir Ibu datang bulan kapan?" tanya Dokter wanita. Kemudian menggeserkan benda yang menempel di perut Sindi untuk melihat perkembangan janin.
"Aku lupa, Dok."
"Sudah ada setahun?"
"Pernah mengalami bercak darah, tapi sedikit nggak, Bu?"
"Sebulan yang lalu sih kalau nggak salah, Dok."
"Sejak kapan Ibu lepas KB?"
"Kapan sih, Pa? Mama lupa." Sindi menatap ke arah Angga. Pria itu pun menggeleng.
"Papa juga lupa, Ma."
"Sebenarnya, jarang atau bahkan kecil sekali kemungkinan ... wanita yang sudah lanjut usia untuk bisa hamil, Bu. Apalagi Ibu sudah bisa dikatakan memasuki masa menopause, begitu pun dengan suami." Dokter itu menatap ke arah Angga. "Tapi yang terjadi memang Ibu hamil. Sebaiknya sekarang ... Ibu jaga kondisi Ibu dan bayi, karena hamil diusia tua beresiko sekali," tambahnya.
"Kalau kondisi bayinya sendiri bagaimana, Dok? Apa sehat dia?" tanya Angga.
"Untuk sekarang dia sehat, Pak," jawab Dokter. "Saya akan memberikan obat untuk memperkuat kandungan, supaya dia sehat sampai lahir."
"Baik, Dok. Terima kasih." Angga membantu Sindi untuk duduk, lalu menerima selembar foto USG yang diberikan oleh Dokter.
__ADS_1
Dokter wanita itu duduk di depan meja kerjanya, lalu menuliskan sebuah resep.
"Pa, Mama kok bisa hamil, sih?! Mama 'kan sudah tua," gerutu Sindi menatap kesal suaminya. Siapa lagi yang mampu dia salahkan saat ini kalau bukan Angga.
Si biang kerok yang selalu memintanya untuk bercinta tapi hanya dalam waktu 3 menit dia sudah keluar duluan.
"Lho, kan kita bercinta, ya itu sebabnya Mama hamil," balas Angga dengan santai.
"Tapi Mama nggak mau hamil lagi, Pa. Mama capek dan Mama cuma kepengen ngurus cucu dan cicit untuk sekarang. Apalagi si Nissa 'kan lagi hamil juga."
Setelah menerima resep, keduanya pun melangkah bersama menuju tempat pengambilan obat.
"Papa ngerti, tapi mau gimana? Orang dia sudah jadi, Ma, udah syukuri aja. Kan anak itu pemberian dari Allah, rezeki." Angga merangkul bahu Sindi lalu mengusap perutnya.
"Steven pasti marah sama Mama, Pa, kan dia dari dulu nggak mau punya adik." Sindi sejak tadi menatap sekitar, mencari-cari keberadaan Steven dan Citra yang tidak ada.
"Tadi sih Steven sempat marah. Tapi marahnya paling bentar kok. Sebentar ... Papa ambil obat dulu." Angga mengajak Sindi untuk duduk di kursi, setelah itu dia menuju apotek sebab namanya tadi sempat dipanggil.
Tak menunggu waktu yang lama mereka sudah mendapatkan obat, sekarang kaki keduanya melangkah menuju kamar inap Nissa.
"Sekarang Stevennya ke mana sama Citra?" tanya Sindi.
"Dia sih bilang mau pulang, mungkin mau nenangin diri."
"Papa jangan cerita-cerita sama Nissa atau Sofyan dulu, ya?" pinta Sindi.
"Kenapa memangnya?" Langkah keduanya terhenti di depan pintu. Mereka sudah sampai di depan kamar inap Nissa.
"Pokoknya jangan dulu." Sindi menggeleng, kemudian dia masuk lebih dulu ke dalam sana.
Ceklek~
"Wah, Oma ke sini," ujar Juna dengan senyum sumringah. Dia duduk di atas kasur sambil menyuapi Nissa dengan semangkuk bubur ayam. Wanita itu tengah duduk menyandar di sampingnya.
Ada Atta dan Baim juga di sana, mereka berdua duduk di sofa sambil bermain ludo di ponselnya Baim.
"Assalamualaikum," ucap Sindi yang lupa akan salamnya, karena sangking mumet isi otaknya tadi.
"Walaikum salam, Ma," sahut Nissa seraya tersenyum. "Steven sama Citra ke mana? Mama datang sendiri?"
"Mama datang sama Citra dan Steven tadi, Nis." Yang menjawab Angga. Pria tua itu pun lantas duduk di sofa menghampiri Atta dan Baim yang baru saja mencium punggung tangannya. "Tapi mereka ada urusan mendadak, jadi pulang lagi."
__ADS_1
...Kabur dari rumah noh Om Steven, karena kecewa 🤣...