Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
133. Sekali aku keluar saja


__ADS_3

Steven langsung menoleh dan seketika dia pun membuang napasnya dengan lega, kala ternyata orang yang memanggilnya itu adalah Angga.


"Lho, kenapa lagi dengan Dedek Gemes? Dia pingsan lagi?" tangan Angga perlahan terulur ingin menyentuh pipi menantunya, tetapi dengan cepat Steven menghindar.


"Dia lagi tidur, jangan diganggu, Pa!" tegas Steven pelan. Tetapi penuh penekanan.


"Kalau lagi tidur terus kenapa kamu gendong? Biarkan saja dia tidur di kasur."


"Aku mau pindah kamar." Steven menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Menunjukkan kamar yang dia maksud.


"Itu 'kan kamar Papa."


"Iya, aku mau kita tukeran kamar. Papa masuk saja ke kamar pengantinku. Mama katanya mau ngasih surprise."


"Surprise? Surprise apa itu, Stev?" Mata Angga seketika berbinar. Sepertinya dia menganggap ucapan Steven dengan serius. Padahal anaknya itu hanya asal bicara.


"Masuk saja dulu. Jangan lupa buka baju dan celana saat sudah masuk. Dan matikan lampunya juga. Mama ada di kasur, Pa."


"Kok begitu?" Kening Angga mengerenyit. Jujur dia tak paham maksud Steven, tetapi mendengar kalau istrinya berada di kasur—seketika otak mesumnya bekerja. 'Apa Mama mau melakukan malam pengantin lagi dengan Papa? Wah, mengenang masa lalu nih ceritanya. Buka puasa dong aku artinya.'


"Eh sebentar!" Angga menarik lengan Steven saat anaknya itu hendak masuk ke dalam kamar. Pintu hotel itu sudah berhasil Steven buka. "Papa mau ambil baju ganti di kamar Papa dong, Stev."


"Besok saja, jangan sekarang." Steven menggeleng cepat. "Papa bisa pakai bajuku dulu, ada di lemari. Aku masuk dulu, ya, dan jangan diganggu. Aku nggak tahan banget ini." Cepat-cepat Steven masuk ke dalam kamar, lalu meninggalkan Angga.


Tak lama, terdengar suaranya deringan ponsel milik Angga. Segera dia pun mengambilnya di dalam saku jas dan langsung mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Ali.


"Halo, Pak. Ini gawat!" seru Ali dari seberang sana dan seketika membuat mata Angga terbelalak.


"Gawat apanya?"


"Saat Fira ingin kita culik ... ternyata dia keburu diculik orang."


"Siapa orangnya?"


"Saya nggak tahu. Tapi mereka 2 orang dan sepertinya mereka orang suruhan seperti kami, Pak."


"Lalu, kalian mengikuti ke mana mereka membawa Fira, nggak?"

__ADS_1


"Iya, kami mengikutinya. Mereka membawa Fira disebuah rumah besar. Masih di daerah Jakarta. Saya sudah kirim fotonya, bisa Bapak cek."


Angga segera membuka chat yang Ali kirimkan tanpa menutup panggilan. Lantas dia pun memperhatikan foto rumah bercat cream tersebut. Tetapi sayangnya dia tak tahu rumah siapa itu.


"Aku nggak tahu itu rumah siapa. Tapi kalian cari tahu dan tetap berada disana saja untuk melihat situasi. Kalau besok Fira belum keluar juga dari rumah itu ... kalian hubungi aku lagi."


"Jadi kami begadang semalaman di sini, Pak?"


"Iya."


"Kalau kami ngantuk bagaimana?"


"Tahan. Pokoknya kalau kalian nggak berhasil membawa Fira ke hadapanku ... aku nggak akan memberikan sisa pembayarannya!" tekan Angga mengancam. Setelah itu dia pun mematikan sambungan telepon dan mematikan ponselnya.


Rasa penasarannya tentang alasan Fira pergi ke dukun tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bisa-bisa dia makin berbuat hal-hal yang tidak-tidak.


'Apa ancaman Om belum kamu takuti, Fir? Awas saja kalau kamu berbuat macam-macam. Kamu mau menggeserkan Dedek Gemes? Oh tidak bisa.'


Kemudian, Angga segera masuk ke dalam sana dan kebetulan pintunya tidak dikunci bekas Steven tadi.


'Genit banget Mama, ya? Kamar pengantin anak sendiri mau dipakai.'


Angga terkekeh kecil, lalu melangkah cepat menghampiri Sindi. Dia naik ke atas kasur, lalu tangannya dengan lihai melucuti seluruh pakaian istrinya.


Setelah sudah sama-sama polos, Angga naik ke atas tubuh wanita yang masih tertidur lelap itu, lalu dengan cepat meraup kasar bibirnya. Sontak—Sindi langsung membuka matanya dengan lebar kala mendapatkan perlakuan secara mendadak itu. Sindi hendak mendorong dada Angga, tetapi tertahan sebab suaminya menekan tubuhnya.


'Kebiasaan, dari dulu suka malu-malu kucing. Padahal kalau sudah masuk, dia yang paling aktif,' batin Angga. Dia bergelak tawa dalam hati.


*


*


Sementara itu di kamar sebelah, Steven juga melakukan hal yang sama seperti Angga. Yakni melucuti pakaian sendiri dan pakaian istri.


Dia juga sudah berada di atas tubuh Citra, lalu menautkan bibirnya. Tetapi bedanya yang Steven lakukan lebih lembut dan kedua tangannya meremmas agar-agar.


Lumattan dan sentuhan pada dadanya itu seketika membuat Citra membuka matanya secara perlahan. Dia tampak mendelik karena kaget.

__ADS_1


"Maaf, kalau aku mengagetkanmu, Cit," ucap Steven lembut saat melepas ciuman. Mata Citra langsung berkeliling menatap sekitar dan menoleh ke samping. Keningnya mengerenyit, dia merasa bingung.


"Di mana Mama, Om? Dan di mana kita?"


"Aku ngajakin Papa tukeran kamar. Ini kamar mereka."


"Oh, terus Mama ada di kamar kita?" Citra menatap lekat wajah Steven yang merah padam dan berkeringat. Beberapa kali dia melihat jakun pria itu naik turun seperti tengah menelan ludah.


Steven melakukan hal itu sebab tak tahan melihat pemandangan indah di depannya. Ingin langsung menghajar rasanya tak tega. Mungkin jauh lebih baik untuk meminta izin terlebih dahulu, meskipun saat berciuman tadi tanpa izin.


"Iya, Mama dan Papa ada di sana." Steven mengangguk cepat dan tersenyum manis. "Oh ya, kamu masih ingat nggak saat aku mengajakmu bercinta sambil melihat bintang?"


"Masih."


"Aku mau kita sekarang melakukan, Cit. Tapi badan kamu lemes nggak? Kalau lemes nggak usah dipaksakan." Didalam hatinya—Steven berdo'a supaya Citra tak akan mengatakan kata 'lemes' yang dia mau Citra lincah memimpin permainan.


"Aku nggak lemes, cuma ngantuk Om." Citra langsung menutup mulutnya saat tiba-tiba menguap.


"Ditahan sebentar nggak bisa?" Steven melirik ke arah jam weker yang berada di atas nakas. Disana menunjukkan pukul 12 malam. "Kita bercinta sekali aku keluar saja, Cit. Aku janji. Yang penting Elangku sudah muntah. Biar kepalaku nggak pusing," pinta Steven memohon dengan mata berkaca-kaca. Dia mengecup bibir Citra singkat.


Citra orang yang tidak tegaan, wajar kalau sekarang dia tidak menolak. Apa lagi bercinta adalah aktivitas yang sangat enak menurutnya.


"Oke deh. Tapi kita bercintanya di mana supaya bisa lihat bintang, Om?" Citra menatap jendela yang tertutup gorden. Jarak kasur dan jendela itu begitu jauh, berbeda dengan kamar pengantin mereka.


Sebab memang kamar pengantin itu Sindi yang riques, jadi wajar kalau semuanya tertata rapih sesuai keinginan Steven.


"Kalau bercinta di balkon kamu kedinginan nggak kira-kira?"


"Kayaknya dingin, Om. Dan lagian itu alam terbuka. Malu kalau ada yang lihat."


"Iya juga sih." Steven mengangguk-anggukan kepala, lalu terdiam sesaat seraya menatap hordeng. Dia memikirkan sebuah ide.


Setelah beberapa menit, Steven yang bertubuh polos itu lantas turun dari tempat tidur. Lalu mendorong sebuah sofa single di depan gorden. Baru setelahnya dia membuka setengah dari gorden itu supaya bisa memperlihatkan bintang diluar sana.


"Di sofa bagaimana, Cit? Kita juga belum pernah bercinta di sofa. Mau coba?" tawar Steven dengan salah satu mata yang berkedip. Sengaja, menggoda istrinya yang sejak tadi memperhatikannya.


...Ada aja akalnya si Omes 🤣...

__ADS_1


__ADS_2