
"Kamu kenapa?" tanya Kevin yang baru saja hinggap di bahu Dika, pria itu pun langsung menoleh. Matanya agak mendelik, terkejut akan kehadirannya.
"Yang nanya kamu?" Dika berbalik tanya. Heran saja pada burung yang bisa bicara.
"Iya! Saya! Kamu kenapa?"
"Aku berak di celana. Aku bingung harus ...." Ucapan Dika menggantung kala Kevin langsung terbang menuju pos satpam, menghampiri Bejo yang tengah berdiri.
"Om Bejo! Ada yang berak di celana!" ujarnya memberitahu. Niat Kevin bukanlah ingin mempermalukan Dika, akan tetapi ingin membantunya.
"Siapa yang berak di celana? Kamu?" tanyanya.
Aneh sekali pertanyaan Bejo, jelas Kevin tak pakai celana.
Kevin langsung menarik turunkan sayapnya, kemudian terbang lagi menghampiri Dika. Bejo melangkah mengikutinya.
"Bapak kenapa?" tanya Bejo dengan kening yang mengerenyit. Dia memperhatikan Dika yang tengah memegang bokongnya, seperti menahan sesuatu yang takut keluar dari celana.
Keringat di wajah pria itu mengalir membasahi wajah tampannya.
Namun, mendadak dia mencium aroma tidak sedap. Cepat-cepat Bejo menutup hidung dan dia langsung paham dengan apa yang Kevin ucapkan barusan.
"Bapak yang berak di celana, ya? Ayok ikut ke kamarku. Bapak bisa pakai kamar mandinya." Bejo melangkah lebih dulu ke arah samping rumah Angga.
Di sana ada sebuah ruangan satu petak, tempat di mana dia dan Dono beristirahat. Ada kasur, televisi dan dispenser. Juga ada kamar mandi di dalam.
Ruangannya itu dekat dengan pintu yang mengarah ke arah dapur. Jika memasuki waktu makan, Bibi pembantu sering membawakannya lewat pintu itu.
"Boleh nanti saya pinjam celana Bapak juga?" pinta Dika sebelum masuk ke dalam ruangan itu.
"Boleh, Bapak masuk saja dulu, ayok." Bejo segera masuk ke dalam mengantar Dika, Kevin juga ikut.
Sementara itu di dapur, Steven tengah membaca aturan pemakaian sebotol racun yang ada di dalam genggamannya.
Racun berupa cairan itu harus dilarutkan dengan air, 1:1. Steven segera mengambil mangkuk kecil, lalu menuangkan racun dengan ukuran tutup botol. Kemudian menuangkan air di teko setutup botol juga. Setelah itu dia aduk-aduk dengan sendok, supaya tercampur rata.
Cepat-cepat Steven membuka kulkas, mengambil dua buah apel merah. Dia teringat jika Kevin doyan buah itu.
Segera Steven memotong-motong buah itu menjadi empat bagian, kemudian satu persatu dia celupkan ke dalam larutan racun di dalam mangkuk. Kemudian menatanya di atas piring.
"Om ternyata di sini!"
Steven langsung terperanjat saat tiba-tiba Citra datang mendekapnya dari belakang. Untungnya piring dengan apel di atasnya itu tak jatuh di tangannya.
"Wah, apa itu untukku, Om? Terima kasih." Tangan Citra terulur hendak mengambil salah satu potongan buah apel, namun dengan cepat Steven menahannya.
"Ini buat Kevin, Cit!" sergahnya cepat.
__ADS_1
"Serius? Tapi kok tumben, Om?"
"Tumben gimana?" Steven segera mencuci tangan, lalu membalik tubuhnya dan mengecup kening Citra. Lengan Citra melingkar pada pinggang Steven.
"Tumben Om baik sama Kevin. Sampai membuatkannya sarapan."
"Aku 'kan memang baik orangnya. Bi! Sini!" Steven menggerakkan tangannya ke arah Bibi yang baru saja keluar dari kamar. Wanita berdaster yang tampak habis mandi itu segera berjalan cepat menghampirinya.
"Selamat pagi Pak Steven, Nona Citra," sapanya sambil tersenyum.
"Pagi juga, Bi. Wah ... Bibi wangi dan cantik banget. Habis mandi, ya?" tanya Citra sambil tersenyum. Mimik wajahnya tampak begitu ceria.
"Iya, Nona juga wangi dan cantik." Bibi mengangguk dan tersenyum.
"Aku bau, Bi, belum mandi."
"Bibi tolong antarkan apel ini untuk Kevin. Suruh makan dan habiskan!" titah Steven.
Bibi pembantu mengangguk cepat. "Baik, Pak." Meraih piring itu, kemudian melangkahkan kakinya. Berlalu pergi.
Steven tersenyum menyeringai. Merasa puas dan yakin akan misinya berhasil. 'Selamat sarapan, Vin. Itu makanan terakhirmu di rumah ini,' batinnya.
"Om, kita mandi terus sholat subuh, yuk!" Citra menarik lengan Steven membawanya melangkah sama-sama menaiki anak tangga. Steven mengangguk dan tersenyum manis, kemudian tak lama terdengar suara adzan berkumandang.
*
*
Dia berbicara dengan Bejo yang tengah duduk di kursi di depan meja sambil ngopi. Kevin juga ada di sana, sedang duduk di pangkuannya.
Dika sudah pulang tadi setelah melanjutkan buang hajat di kamar mandi pada ruangan Bejo, juga mengganti celana.
"Untuk Kevin doang? Buat saya mana, Bi?" tanya Bejo seraya mengelus perutnya yang tiba-tiba berbunyi.
"Itu dari Pak Steven, bukan saya yang buat, Pak."
"Oh, dari Pak Steven. Kirain dari Bibi. Masak nasi goreng dong, Bi. Terus bagi-bagi ke saya. Nasi goreng Bibi 'kan enak banget." Bejo mengedipkan salah satu matanya, menggoda Bibi.
Memang dia suka sekali menggoda Bibi, hanya saja Bibi begitu cuek tak menanggapi.
"Nanti kalau ada nasi lebih saya goreng. Dan Bapak saya kasih."
"Oke deh."
Bibi pembantu mengangguk, lantas melangkahkan kakinya pergi. Bejo menatap bokong Bibi yang tampak berlenggak-lenggok. Seketika dia pun menelan ludah.
"Bibi cantik ya, Vin. Kalau dia mau, akan kujadikan istri ketiga," ucapnya pelan pada Kevin.
__ADS_1
"Biasa saja! Dia sudah tua. Lebih cantikan Nona Cantik!"
"Tapi Nona Cantik sudah ada pemiliknya. Yang punyanya juga galak." Bejo meletakkan Kevin di atas meja, supaya dia gampang untuk makan buah apel. Akan tetapi, Kevin tampak diam saja, hanya menatap makanan itu. "Kenapa dilihat doang? Ayok makan. Dari semalam kamu terus ngoceh bilang laper, sampai nasi Padangku kamu minta."
"Saya tidak mau!" Kevin menggelengkan kepala. Padahal buah itu terlihat segar dan begitu menggoda, namun Kevin tak berselera untuk memakannya.
"Kenapa? Bukannya kamu suka buah apel?" Bejo mengambil potongan buah itu, kemudian menyodorkan ke paruh sang burung. Kevin mundur beberapa langkah, lalu menggeleng lagi.
"Itu dari Kakak Steven, saya tidak mau."
"Kakak?" Bejo langsung terkekeh mendengar burung itu memanggil Steven dengan sebutan Kakak. Lucu sekali dan menurutnya tidak pantas. Steven terlalu tua dipanggil Kakak oleh seekor burung.
Kemarin sore Bejo dengar sendiri, sebelum Angga pergi bersama Sindi, pria itu berbicara dengan Kevin dan mengajarinya untuk memanggil Steven dengan sebutan Kakak. Ternyata baru diajarkan tadi sore sudah berhasil dia tangkap dan dipraktekkan. Sekarang terbukti.
"Memang kenapa kalau dari Pak Steven?" tanya Bejo.
"Tidak mau! Dia galak!" Kevin memalingkan wajahnya.
"Kalau kamu nggak mau buat aku saja deh, ya? Boleh nggak?" Sayang kalau dibuang, mubazir juga menurut Bejo. Ditambah perutnya memang sedang lapar.
"Silahkan."
Tanpa basa basi Bejo langsung melahap potongan buah apel di tangannya, mengunyahnya dan menelan secara perlahan. Rasanya enak sekali, manis dan bikin nagih.
Bejo mengambil satu potong lagi, kemudian melahapnya. Dua potong itu berhasil masuk ke dalam perut.
Namun, tiga potong berikutnya Bejo tak jadi melahapnya sebab tiba-tiba merasakan perutnya sakit dan bergejolak. Mual dan ingin muntah.
"Uhuk! Uhuk!" Mendadak Bejo tersendak kala merasakan tenggorokannya sakit dan seperti tercekat.
"Om kenapa?" tanya Kevin. Dia menatap Bejo yang tengah mengangkat bokongnya secara perlahan. Tangan satunya memegang perut dan satunya memegang lengan kursi.
"Perutku sakit banget, Vin, dan ... Uuek!" Bejo langsung muntah-muntah dan mengeluarkan buah apel yang sudah sempat masuk ke dalam perut. "Ueek ... Uuek!"
Gejolak di perut membuatnya tak tahan ingin muntah. Kemudian tak berselang lama kepalanya terasa berat, pandangannya seketika buram.
Dan tiba-tiba.....
Bruk!!
Tubuh Bejo seketika ambruk. Terjatuh tak sadarkan diri dengan posisi terlentang.
Kevin yang melihatnya sontak terkejut, dia pun langsung mengibaskan sayap seraya berteriak. "Tolong! Tolong!"
"Om Bejo pingsan!"
__ADS_1
...Yang diracun siapa yang keracun siapa 😵 kasihan Om Bejo, padahal udah ada niat nambah istri. Eh malah keracunan, hiks ðŸ˜ðŸ¤§...
...Vote dan hadiahnya dong dibagi, biar Author semangat nulisnya 🤧...