
...21+...
"Seger banget, Yang. Ini enak," kata Tian saat baru saja melepaskan dada istrinya. Kemudian naik ke leher untuk menjilati dan mengigit kecil.
Nissa hanya bisa mendeesah, menikmati setiap sentuhan apa saja yang Tian berikan. Setelah itu, kepala Tian turun lagi pada pusat kenikmatan, lalu membuka kedua paha istrinya lebar-lebar.
Tian menjulurkan lidahnya dan mulai mendekat, kemudian langsung melahapnya.
"Aaahh!" desah Nissa dengan kedua mata yang melebar. Kedua tangannya itu langsung meremat rambut kepala Tian. Seluruh tubuhnya meremang tak karuan. 'Enak banget. Tian pintar sekali,' batinnya.
Cukup lama Tian bermain di sana, sampai Nissa tak kuasa untuk mengontrol diri. Alhasil dia keluar lebih dulu.
Nissa mendeesah kuat hingga pinggulnya terangkat. Tian tersenyum dengan bangga sebab sudah berhasil memuaskannya. Segera dia pun menghisap penuh sisa pelepasannya.
"Maafin aku, Yang. Aku keluar duluan," kata Nissa dengan napas yang terengah-engah. Suaminya itu sudah kembali di atasnya, kemudian perlahan melakukan penyatuan.
"Nggak masalah. Aku malah akan membuatmu keluar lebih dari sekali," jawab Tian dan langsung menghentakkan bokongnya.
"Aahh!" desah Nissa kala merasakan kejantanan suaminya yang sudah masuk dan keluar secara berulang-ulang.
Hentakkan demi hentakkan itu bermula pelan, hingga makin lama menjadi kencang. Milik Tian juga terasa sangat besar, seakan memenuhi ruang di dalam sana.
Bukan hanya tubuhnya yang terguncang, tetapi kasur size bag itu pun ikut-ikutan. Selimut dan bantal di atas sana sampai tak terasa berjatuhan di lantai. Tian seperti memakai tenaga dalam dan membuat Nissa tak kuasa untuk menjerit nikmat.
Berbagai gaya yang pria itu punya sudah dilakukan, semuanya atas kendalinya. Nissa sudah berhasil keluar untuk kedua kali.
Sekarang, wanita itu sudah tengkurap atas arahan Tian. Kemudian pria itu naik ke atas tubuhnya. Kedua kaki istrinya dia buka, pelan-pelan dia kembali memasukkan miliknya dan kembali mengguncang.
Nissa meremmas seprei kuat-kuat, bibir bawahnya dia gigit supaya tidak terus mengeluarkan suara nakal. Rasanya malu, sebab sejak tadi suara dia lah yang paling nyaring mengisi kamar.
"Nggak usah ditahan, Sayang. Aku ingin mendengar suara seksimu," ucap Tian yang masih beratraksi, dia mengecupi punggung istrinya dengan penuh naffsu.
"Ah! Ah!" Akhirnya Nissa kembali meloloskan dessahannya. Guncangan itu makin kasar saja dan tiba-tiba terdengar suara kayu ranjang yang berdenyit.
Kreekkk ... krreeekk
Ranjang itu mulai goyang seperti hendak roboh, tetapi Tian seperti tak tahu atau mungkin tahu namun tak peduli.
Dia masih terus bermain di atas sana dengan ganas, birahinya sangat menggebu-gebu.
Sampai beberapa menit berlalu akhirnya Nissa berhasil meraih pelepasannya untuk ketiga kali. Tian juga ikut menyusul meraihnya, tetapi berbarengan dengan dipan kayu yang berada di depan langsung menimpa kepala belakangnya.
__ADS_1
Bruuk!!
Niat ingin mendesaah karena puas, akhirnya tidak jadi dilakukan Tian. Sebab rasa sakit pada kepalanya seakan mengalihkan kenikmatan yang barusan terjadi.
"Aawww!" pekiknya menjerit, kemudian tak lama ranjang itu roboh. Keempat kakinya masing-masing patah.
Brukk!!
Beruntung kasur itu cukup tebal dan kokoh, jadi Nissa masih aman di bawah sana. Hanya Tian lah yang menjadi korban.
***
Di rumah sakit.
Nurul yang tengah berbaring di tempat tidur perlahan mengerjapkan matanya. Lalu menatap Fira yang duduk di sofa dengan ponsel yang menempel di pipinya. Wajahnya tampak memendam kekesalan.
"Fir," kata Nurul lirih. Suaranya tertahan sebab dia memakai ventilator pada hidung dan mulutnya. Dari kemarin sore, dia bernapas dengan menggunakan selang oksigen.
Fira menoleh dan langsung mengulum senyum. "Akhirnya Mama sudah sadar juga. Aku khawatir dari kemarin, Ma." Berdiri, kemudian mendekat ke arah Nurul. Lantas menarik kursi kecil di sampingnya, lalu duduk di sana.
"Pak Angga mana?" Nurul menatap sekitar ruang rawatnya. Mencari-cari keberadaan Angga.
"Om Angga sudah pulang dari kemarin, Ma."
"Aku pengennya juga nggak." Fira menggelengkan kepalanya. "Tapi nggak tahu. Mama tolongin aku dong, Om Angga bilang dia akan menyeretku ke penjara kalau Mama sudah sembuh."
Dari semalam Fira menghubungi Rizky, tetapi tak ada jawaban. Ingin menelepon Hersa tapi nomornya hilang entah ke mana. Niatnya sekarang mau ke kantor, tetapi Nurul keburu bangun.
"Kenapa kamu mengacaukan pestanya Nissa dan Tian, Fir? Kenapa kamu buat ulah sampai Pak Angga marah?" Bukannya menanggapi ucapan Fira, Nurul justru memberikan beberapa pertanyaan kepada anaknya.
"Jelas aku marah. Kan Mama tahu aku belum berhasil mendapatkan Pak Rizky, tapi masa Mas Tian yang lebih dulu bahagia? Ini nggak adil namanya, Ma!"
"Tapi Tian dan Nissa nggak salah apa-apa. Sudah lah, Fir. Berhenti mengurusi hidup orang, Mama capek kayaknya." Nurul mengelus dadanya yang terasa sakit.
"Capek? Capek apanya? Yang menderita 'kan aku, bukan Mama!" Fira menggerutu dengan emosi yang menggebu, kemudian berdiri. "Sudah ah, aku mau ke pergi ke kantor saja. Aku mau menemui bosku. Meminta tolong padanya."
Fira melangkah keluar dari kamar inap itu kemudian menutup pintu.
Namun tiba-tiba dia dikejutkan karena ada dua perwira polisi yang tengah duduk di kursi di depan kamar. Fira yang tampak panik itu langsung masuk kembali ke dalam kamar, lalu berlari mendekati Nurul.
"Ma, di depan ada polisi! Mereka pasti akan menyeretku! Mama coba telepon Tante Sindi. Meminta tolong sama dia!" pinta Fira ketakutan. Tubuhnya tampak menegang dan keringat di wajahnya seketika mengalir.
__ADS_1
"Meminta tolong apa?"
"Ya supaya mencabut tuntutan Om Angga. Mama sama Tante Sindi 'kan temenan, masa dia nggak mau ngebantu." Fira membuka tas Nurul yang berada di atas nakas, mengambil ponsel milik sang Mama kemudian menghubungi Sindi. Saat sudah tersambung dan diangkat, dia langsung memberikannya kepada Nurul.
"Ha-halo, Bu," kata Nurul dengan suara terbata. Benda pipih itu sudah menempel pada telinga kanan.
"Halo, ada apa?" Suara itu bukan milik Sindi, melainkan Angga. "Kamu sudah sembuh, Nur? Syukurlah. Berarti sebentar lagi anakmu akan masuk penjara."
Nurul membulatkan matanya. Jantungnya seketika berdebar kencang dan panggilan itu langsung dimatikan oleh seberang sana.
Ceklek~
Pintu kamar inap itu dibuka oleh seseorang. Dan ternyata dua orang polisi itu lah yang membukanya.
"Selamat pagi, maaf menganggu. Kami ingin membawa saudari Safira Ayunda ke ...." Ucapan salah polisi itu terhenti kala melihat Fira berlari keluar dari sana.
Mereka berdua tersentak, kemudian langsung berlari mengejarnya.
Fira berlari tak tentu arah, hingga menabrak beberapa orang yang lewat. Jantungnya berdebar kencang dan sungguh dia merasa takut, kalau sampai dia benar-benar tertangkap.
"Berhenti Nona!" pekik Pak Polisi yang mengejar. Wanita itu sudah berlari menuju parkiran, lalu masuk ke dalam sebuah bagasi belakang mobil. Mengumpet di sana.
Entah mobil milik siapa itu, tetapi yang jelas, hanya itu lah jalan yang Fira pikirkan supaya mampu meloloskan diri dari polisi.
'Nggak! Aku nggak mau di penjara. Penjara itu seperti neraka. Aku nggak bisa shoping dan makan daging. Tempat tidurnya pun hanya tikar. Badanku yang seksi dan mulus ini pasti sakit. Nggak level banget,' batin Fira.
Seorang wanita seksi dengan buah dada yang hampir menyembul keluar masuk ke dalam mobil tersebut, kemudian langsung mengemudikan mobilnya. Dilihat dari usia, sepertinya dia sudah kepala empat. Sudah berumur, tetapi pakaiannya begitu mini. Memakai dress ketat sepaha. Tanpa lengan.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Gegas dia mengambil di dalam tas, kemudian mengangkat panggilan itu.
"Halo, Mi. Ada di mana?" tanya seorang pria dengan suara mendayu dari seberang sana.
"Lagi di jalan, mau otewe pulang. Ada apa?"
"Kita butuh satu wanita lagi, Mi, untuk di kirim ke Samarinda."
"Harus yang perawan nggak? Mami lagi susah nyari yang virgin nih. Cewek zaman sekarang 'kan kalau pacaran suka bablas."
"Nggak musti, yang penting cantik, bahenol dan berwarna pink, Mi."
...Noh yang di bagasi mobil aja tuh 🤣 ada cewek cantik yang lagi ngumpet....
__ADS_1
...btw kasihan Om Tian ya, Guys 🤭 kepalanya kena dipan ranjang🤣...