
Cepat-cepat Nissa menopangnya, khawatir kalau Tian sampai terjatuh.
"Ambilkan air, Pak!" titah Nissa pada salah satu penggali kubur seraya menunjuk kardus yang ada di tanah. Di dalam sana ada beberapa botol air mineral.
"Ini, Bu." Pria itu memberikan dan sudah dibukakan segelnya.
"Minum dulu, Yang." Nissa membantu Tian menenggak air minum itu. Dia mengerti, pasti sang suami sangat syok mendengar apa yang Robi dan Zaenal katakan. Sejujurnya dia juga sama. Dan merasa heran juga. "Tenang dulu, Yang. Tarik napas, lalu keluarkan." Nissa mengelus-elus dada Tian, suaminya itu langsung mengatur napasnya yang terdengar terengah-engah.
"Fira, dia membohongiku, Yang," lirih Tian sambil menangis. "Bisa-bisanya dia membuat makam kosong, lalu dimana anakku, Yang? Di mana Tina?" Tian langsung meraih tubuh Nissa, lalu memeluknya dengan erat dan menciumi rambutnya.
Kesedihan kembali mengisi hatinya. Akan tetapi kali ini dia beruntung, sebab ada Nissa dan Juna di sampingnya. Yang menyayanginya dengan setulus hati.
"Kita coba tanya ke Firanya saja, Yang. Ayok kita ke rumahnya," usul Nissa. Dia mengelus-elus punggung Tian dengan lembut. Mencoba menenangkan hatinya yang kalut.
"Kita pergi naik mobil, Yang. Aku mau telepon Papa dulu." Tian teringat kalau Angga pernah mengatakan Fira akan dimasukkan ke dalam penjara. Dia sendiri belum tahu jelas, wanita itu sudah ada di penjara atau belum.
"Ayok," ajak Nissa. Dia melepaskan pelukan erat suaminya, lalu menaruh lengannya pada bahu. Sopirnya yang baru saja datang ikut membantunya.
"Terus ini bagaimana, Pak? Apa pekerjaan kami sudah selesai?" Salah satu penggali kubur mengejar Tian sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Kalian bisa pulang dulu. Nanti kalian kirim nomor rekening masing-masing via wa. Sisa upah kalian akan aku kirim," jawab Tian lalu masuk ke dalam mobil bersama Nissa di kursi belakang.
"Baik, Pak." Pria itu mengangguk. "Bapak hati-hati dijalan."
"Iya," jawab Tian. Kemudian mobil yang dia tunggani melaju pergi dari sana. Tian langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, lalu menelepon Angga.
"Kita mau ke rumah sakit dulu nggak, Yang?" tanya Nissa seraya menyentuh dada Tian yang masih ada tangan pria itu. Dia merasa khawatir sekali melihat keadaan suaminya tadi, terlihat jelas jika Tian terguncang.
"Aku baik-baik saja, Yang. Kamu nggak perlu khawatir," sahut Tian lalu mengelus puncak rambut sang istri. Dadanya masih sakit, tetapi sudah agak lebih baik.
Tak lama kemudian, panggilan yang dia lakukan itu pun diangkat oleh seberang sana.
"Halo," ucap Angga.
"Assalamualaikum, Pa. Maaf aku ganggu."
"Walaikum salam. Ada apa?" tanya Angga.
__ADS_1
"Fira di penjara di kantor polisi mana, Pa? Aku mau menemuinya dengan Nissa, ada urusan penting."
"Fira belum dipenjara."
"Kok belum? Kata Papa Fira mau dimasukkan ke penjara gara-gara berniat mengacaukan pernikahan aku dan Nissa?" tanya Tian heran.
"Iya. Tapi dia kabur pas mau ditangkap. Sampai sekarang polisi belum berhasil menemukannya."
"Oh ya sudah kalau begitu, selamat si—"
"Kalau boleh tahu, kamu dan Nissa ada perlu apa mau ketemu Fira?" sergah Angga cepat. Dia merasa penasaran.
"Mau nanya makam Tina, Pa. Ternyata makam itu kosong, Fira selama ini membohongiku." Bola mata Tian kembali berair.
"Tina itu siapa?"
"Anakku sama Fira."
"Oh. Kok bisa makamnya kosong?"
"Aku juga nggak ngerti, apa maksudnya Fira melakukan hal seperti itu. Rencananya sekarang aku mau pergi ke rumah Mama Nurul, Pa. Mau tanya sama dia."
"Lho, kok diusir? Memangnya rumah Mama Nurul itu rumah Papa?"
"Bukan, tapi Nurul punya hutang. Karena nggak bisa melunasi dan saat itu Papa jengkel banget sama si Fira ... jadi Papa sita rumahnya. Soalnya jaminannya kemarin adalah sertifikat," jelas Angga.
"Kok kejam banget, Pa."
"Mana ada Papa kejam, Papa segini baiknya ngasih Nurul hutang. Si Firanya aja yang kurang ajar, jadi Nurul kena imbas!" Angga mendengkus kesal.
"Kasihan Mama Nurul, terus aku mau ketemu Mama Nurulnya bagaimana sekarang? Aku nggak punya nomor hapenya lagi." Tian menjambak rambutnya dengan frustasi. Menurutnya sekarang, hanya Nurul yang dapat membantu memecahkan masalahnya.
"Coba kamu ke Panti Asuhan Cinta Kasih Geraldo. Terakhir ketemu, Nurul bilang dia mau kerja di sana," saran Angga.
"Lokasinya di mana?"
"Nanti Papa kirim alamatnya." Angga langsung memutuskan panggilan, padahal Tian ingin mengucapkan kata 'terima kasih'. Tak lama kemudian, dia pun mengirimkan lokasi panti asuhan yang dimaksud melalui via chat.
__ADS_1
Ting~
***
30 menit kemudian, mobil Tian berhenti di halaman panti asuhan. Sebelum Nissa turun, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Baim.
"Dari siapa, Yang?" tanya Tian yang melihat istrinya hendak mengangkat telepon.
"Baim, Yang."
"Oh. Coba diangkat." Tian menatap arlojinya. Sontak dia terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11.30. Tidak terasa sekali, sepertinya Juna sudah pulang sekolah.
"Iya." Nissa mengangguk, lalu mengusap layar itu ke atas dan menempelkan benda pipihnya ke telinga kanan. "Halo."
"Halo, Tante, ini Juna mau ngomong." Terdengar suara Baim dari seberang sana, kemudian sepi sebentar lalu terdengar suara Juna.
"Mami lagi sama Papi, nggak? Kok Papi belum jemput? Juna sudah pulang sekolah nih."
"Juna pulangnya sama Pak Sopir dulu saja, ya? Papi lagi sibuk, ada urusan," ucap Nissa.
"Urusan apa? Papi 'kan sudah ngomong tadi pagi, kalau nanti siang mau temui Juna beli anting buat Dedek Silvi terus ke panti asuhan, Mi," ujar Juna.
"Iya, tapi Papinya lagi sibuk, Jun. Oh, bagaimana kalau kamu perginya sama Opa saja, ya?" bujuk Nissa.
"Nggak mau, Juna mau perginya sama Papi. Kan Papi yang mau beliin anting buat Dedek Silvi, bukan Opa," rengek Juna. "Mana Papinya? Juna mau ngomong."
"Kamu nurut dulu, ya, kali ini sama Mami. Kasihan sama Papi, dia lagi ada masalah. Setelah urusan Papi dan Mami selesai, Papi akan turuti permintaanmu." Nissa mencoba menjelaskan dengan penuh kelembutan. Menurutnya sekarang, mencari tahu di mana Tina jauh lebih penting ketimbang menuruti permintaan Juna. Hal semacam itu bisa dilakukan lain waktu.
"Papi ada masalah apa, Mi?" tanya Juna penasaran.
"Nanti kalau kita sudah ketemu, Mami akan jelaskan. Kamu jangan keluar dari gerbang dulu sebelum Pak Sopir jemput kamu, ya?" Nissa memperingatkan.
"Iya. Tapi Juna izin main ke rumah Dedek Silvi boleh nggak? Sama Atta dan Baim juga. Juna kangen sama dia, Mi. Pengen cium."
"Boleh, tapi jangan bandel dan sebelum main kalian semua musti makan dulu," tegur Nissa.
"Iya, Mi. Semoga masalah Papi cepat beres, bilang padanya kalau Juna sayang Papi." Juna tampak mengerti.
__ADS_1
...Tumben Juna nurut 🤔 Oh habis ultah sih, ya, jadi udah dewasa 😀...