
Seusai mandi bersama Tian dan memakai seragam sekolah, Juna masuk lagi ke dalam kamar Angga untuk mengecek si kembar. Sebab dia ingin sekali mencium kedua bayi itu yang menurutnya pasti sudah mandi.
"Wih, si botak sudah mandi. Wangi nih kayaknya!" seru Juna seraya berjingkrak menghampiri Vano yang tengah dipakaikan kain bedong oleh Sindi di atas kasur. Dia pun mengendus semerbak aroma bayi yang begitu menggiurkan. Dan membuatnya menelan saliva.
"Eh, Kakak Juna noh, Van. Udah pakai baju sekolah," ujar Sindi sambil tersenyum menatap Juna.
Juna duduk di atas kasur, lalu mendekat ke wajah Vano. Baru saja lidahnya menjulur hendak menjilat pipi kanannya, tetapi tiba-tiba saja terdengar suara Steven yang baru saja datang.
"Vano anak Ayah!" seru pria itu. Juna cepat-cepat melipat bibirnya lalu menempelkan bibirnya saja di pipi gembulnya.
Cup~
'Ah Om Steven. Kenapa datang, sih? Kan Juna belum jilat Ipin,' batin Juna kesal. Dia menatap Steven yang mengecupi hampir seluruh wajah si Vano. Ada rasa iri di dalam hati. Juna juga ingin menciumnya seperti itu tetapi takut dimarahi.
"Kamu hari ini sekolah, Jun? Om kira mau nganter Jordan sunat," ucap Steven seraya mengelus rambut keponakannya. Dia memakai setelan jas berwarna coklat kotak-kotak.
"Memangnya dia sunatnya sekarang? Mami bilang nanti siang."
"Oh siang. Om nggak tahu. Ayok ke ruang makan, Mami tadi nanyain kamu," ajak Steven seraya merangkul bahu Juna. Bocah itu turun dari kasur lalu melambaikan tangannya kepada Vano sebelum keluar kamar.
"Dedek Upin ... eh, maksud Juna Dedek Varo. Kemana dia, Om? Kok nggak ada?" tanya Juna.
"Lagi berjemur sama Tante Citra diluar."
"Oh ya, Juna sebentar lagi punya adik lho, nanti mau Juna kasih nama Melati, Om."
"Giliran buat adik sendiri bagus kamu, giliran buat sepupu jelek," komentar Steven. Keduanya melangkah turun dari anak tangga.
"Dih, sejak kapan nama yang Juna kasih jelek? Semuanya bagus kok. Omnya saja yang nggak mau pakai," gerutu Juna. Dia lantas berlari menghampiri Tian yang berada di ruang makan bersama Angga dan Nissa. Tetapi hanya Angga yang sudah mulai makan.
"Pagi Opa, Mami, Papi."
"Pagi," balas mereka semua.
"Ayok sarapan sama Papi," ajak Tian.
Juna langsung naik ke kursi Tian dan duduk di atas pangkuannya. Sedangkan Steven memilih keluar dari rumah untuk menghampiri Citra dan Varo.
"Jun, tadi pagi Mami ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya Papimu kritis. Kamu sebelum berangkat sekolah mampir dulu ke sana buat jenguk, ya?" pinta Nissa seraya mengusap puncak rambut Juna. Bocah itu tengah mengunyah roti berselai coklat yang Tian berikan.
"Pak Abi kritis lagi, Yang?" tanya Tian.
"Katanya sih begitu."
"Kasihan sekali, padahal kemarin-kemarin pas aku menemuinya dia seperti sudah baikan."
"Juna nggak mau ketemu Papi ah, males amat. Dia saja pas Juna sakit nggak pernah jenguk!" ketus Juna seraya menggeleng.
__ADS_1
"Kamu nggak boleh begitu. Walau bagaimanapun dia Papimu. Jenguk saja sebentar sebelum sekolah." Nissa tak mau, jika nantinya Abi berpikir kalau dialah yang melarang Juna untuk bertemu. Padahal memang anaknya yang tidak pernah mau.
"Kamu jenguk Papimu yang nggak tahu diri itu bareng Opa saja. Sekalian Opa juga antarkan kamu sekolah, bagaimana?" tawar Angga.
"Juna ...." Ucapan Juna terhenti lantaran mendengar dering ponsel yang berasal dari jas yang Nissa kenakan. Wanita itu segera merogoh saku dan ternyata panggilan masuk dari Bu Guru Gisel.
"Halo Bu selamat pagi," sapanya dari seberang sana.
"Pagi," jawab Nissa.
"Maaf, Bu, kalau mendadak. Saya ingin memberitahu kalau ada saya ada rapat guru. Jadi kelas TK B hari ini diliburkan," jelas Gisel.
"Oh begitu. Ya sudah, terima kasih infonya."
"Sama-sama."
Nissa mematikan sambungan telepon, lalu menatap ke arah Tian. Entah mengapa dia justru memikirkan momen indah semalam. 'Kalau Juna libur sekolah, aku nggak bisa bercinta siang-siang dengan Tian dong?' batinnya. 'Eh, tapi Tian 'kan juga kerja. Dan kenapa juga aku malah memikirkan tentang bercinta? Mesum banget!' Nissa menggeleng cepat, mencoba menghilangkan pikiran kotornya yang mulai memenuhi isi otak.
"Siapa yang meneleponmu, Yang?" tanya Tian seraya menyentuh punggung tangan Nissa. Wanita itu sontak terperangah. Lalu mengusap keringat yang baru saja mengalir membasahi kening.
"Ah ini, gurunya Juna. Dia bilang Juna hari ini libur sekolah, ada rapat."
"Hore!!" seru Juna sambil menaik turunkan lengannya di udara. Dia tampak senang sekali.
"Perasaan Juna kok sekolah sering libur, Nis. Rapat guru mulu lagi," ucap Angga.
"Nggak juga sih, Pa. Memang lagi libur saja kali," sahut Nissa.
"Boleh. Tapi mainnya di depan rumah Opa saja, ya?" pinta Nissa. Juna mengangguk. "Tapi sebelum itu kamu ganti baju dan ikut Opa dulu jenguk Papimu. Nggak boleh bilang nggak mau."
Juna mengerucutkan bibirnya dan menghela napas dengan lesu. "Ya sudah deh, tapi memangnya nggak apa-apa, Papi nggak cemburu, kan?" Juna mendongakkan wajahnya menatap Tian. Pria itu menggelengkan kepala sambil mengunyah sarapannya.
"Cemburu kenapa? Dia 'kan Papimu, Papi juga Papimu. Kamu punya Papi dua."
"Papi memang pengertian. Juna sayang Papi." Juna memeluk tubuh Tian dengan erat lalu mencium dadanya.
***
Di dalam mobil, Juna dan Angga duduk di kursi belakang. Bocah itu sudah memakai pakaian ganti yakni stelan kaos pendek berwarna hijau daun. Sedangkan yang mengemudi adalah Dono.
"Kita mau langsung ke panti asuhan atau bagaimana, Pak?" tanya Dono sembari menatap kaca di depan mobil. "Saya sudah menghubungi Della untuk bersiap."
"Kita ke Rumah Sakit Harapan dulu, baru ke sana."
"Baik, Pak." Dono mengangguk.
"Opa ke panti asuhan mau apa? Kan acara syukuran Dedek kembar sudar selesai," tanya Juna sembari makan kripik kentang.
__ADS_1
"Opa mau mengantar Om Dono, dia mau mengadopsi bayi, Jun."
"Mengadopsi bayi itu apa, Opa?" Kening Juna mengerenyit.
"Mengadopsi itu mengangkat bayi dari panti asuhan untuk menjadi anaknya. Biar nanti bisa tinggal sama Om Dono," jelas Angga.
"Memangnya Om Dono duda, ya?"
"Punya istri." Yang menjawab Dono.
"Kok mengadopsi bayi? Kenapa nggak istri Om saja yang dikencingin."
"Mana berani Om kencingin istri Om. Yang ada dia marah, nggak sopan namanya, Jun," balas Dono.
"Kok nggak sopan? Mami saja semalam dikencingin Papi Tian. Dan sepertinya Mami seneng tuh."
"Maksud Juna itu proses bikin anak, Don." Angga memberitahu supaya Dono tak salah mengartikan.
"Oh, berhubungan badan, Pak?"
"Iya."
"Om sudah mencobanya, Jun. Tapi Allah belum ngasih," jawab Dono.
"Mungkin Omnya kurang jago kali. Coba tanya Om Steven, Om. Pasti dia lebih jago, soalnya anaknya saja kembar."
"Iya. Nanti Om tanya Om Steven." Dono tersenyum canggung.
"Opa ... memangnya ada bayi dipanti asuhan? Bukannya cuma anak seumuran Juna doang, ya?" Juna menoleh ke arah Angga.
Dia teringat pada beberapa anak dari panti yang diundang ke pesta. Semuanya hampir seumuran dengannya.
"Jangankan bayi, yang gede saja ada."
"Tapi kok Juna merasa aneh, ya. Itu kalau panti asuhan orang tua mereka ke mana sebenarnya? Apa meninggal?"
"Macam-macam. Ada yang meninggal, dibuang dan bahkan sengaja dititipkan," jelas Angga.
"Oh kasihan ya, Opa. Jadi mereka nggak punya Mami dan Papi, ya?"
"Iya. Mereka nggak punya orang tua dan keluarga. Maka dari itu banyak orang tua yang ingin mengadopsi mereka."
"Cuma orang tua saja yang boleh? Kalau Juna boleh nggak mengadopsi bayi?"
"Ngapain kamu ngadopsi bayi?"
"Supaya bisa jilat pipi mereka, Opa. Kan enak tuh setiap hari jilat pipi bayi."
__ADS_1
"Mana boleh begitu." Angga menggeleng cepat. "Masa orang mau adopsi alasannya mau jilat pipinya. Lagian kamu 'kan masih kecil. Yang boleh mengadopsi bayi itu orang yang sudah berumah tangga dan mampu, Jun."
...Suruh jilatin anaknya Kevin aja si Juna, Opa, kan sama-sama bayi tuh 🤣...