
"Oe ... Oe ... Oe." Terdengar suara isak tangis bayi dari dalam kamar yang tertutup. Juna yang hendak mengetuk pintu tersebut segera dicegah oleh Tian.
Namun tak lama, pintu itu pun dibuka oleh Della. Dia tengah menimang-nimang Silvi yang masih menangis dalam gendongannya. Tangan kanan Della memegang kipas angin mini dan mengarahkan ke wajah anaknya.
Terlihat jelas jika bayi mungil itu berkeringat banyak. Bahkan seluruh wajahnya.
"Eh, Jun," ucap Della yang tampak kaget melihat Juna dan Tian. Keduanya berada di depan dan Tian tampak memperhatikan wajah Silvi dengan seksama.
Ternyata melihatnya secara langsung, wajahnya jauh lebih mirip dengannya. Hanya mungkin versi cewek saja. Ada manis dan imutnya.
Seketika Tian pun teringat tentang Tina anaknya, dan tak terasa air matanya mengalir tanpa permisi. 'Mungkin kalau Tina masih hidup, dia pasti sebesar Silvi, kan? Cantik dan manis. Ayah jadi rindu sama kamu, Nak,' batin Tian sedih.
"Tante, ini Papi Tian," ucap Juna mengenalkan.
Cepat-cepat Tian menyeka air matanya, lalu tersenyum manis. "Aku Tian, Bu. Papinya Juna. Itu Silvi kenapa? Kok nangis?" Entah mengapa, ada keinginan untuk menggendong Silvi dalam hatinya. Hanya saja Tian merasa tak enak.
"Dia tadi lagi tidur terus kegerahan, Pak. Memang dari kemarin seperti itu. Kalau tidur kegerahan suka kebangun terus nangis," jawab Della seraya mengusap keringat pada dahi anaknya.
"Memangnya di kamar Ibu nggak ada AC?"
"Nggak ada." Della menggeleng. "Suami saya sudah memesan kipas angin untuk tambahan, tapi belum sampai-sampai barangnya."
"Semalam Juna juga gerah tahu Tante, sampai buka baju," ucap Juna.
"Mau aku pasangkan AC mau nggak, Bu? Kebetulan ada temanku penjual AC," tawar Tian. Dia pun memundurkan tubuhnya lalu duduk di sofa, tak enak rasanya jika berdiri di kamar orang.
"Nggak usah, Pak," tolak Della halus. "Aku dan suami sudah ada rencana membeli AC kok. Tapi tunggu suamiku gajian bulan ini."
"Tanggal berapa memangnya?"
"Akhir bulan kira-kira."
"Pak Tian mau ngopi apa teh?" tanya Dono yang baru saja masuk ke dalam rumah bersama Kevin.
"Saya buatkan, ya, Om Hidung Belang?" tawar Kevin.
"Nggak usah, Vin." Tian menggeleng. "Aku cuma sebentar kok." Tian kembali menatap ke arah Silvi lalu perlahan dia mengelus keningnya. Dan entah mengapa, dalam sekejap bayi mungil itu sudah berhenti menangis. "Kalau tunggu akhir bulan kayaknya lama, Bu. Kasihan Silvinya kalau tidur. Aku pasangkan AC saja deh, ya?" Kembali, Tian membujuk.
"Nggak usah Pak Tian. Nanti saya pasang sendiri." Sekarang yang menolak Dono.
"Om Dono dan Tante Della kok nolak?" tanya Juna menatap kedua pria dan wanita itu bergantian. "Kata Opa, kalau ada orang yang ngasih sesuatu. Itu harus diterima, namanya rezeki," tegurnya.
__ADS_1
"Om tahu, Jun," jawab Dono. "Tapi nggak apa-apa. Nggak usah."
"Ya sudah kalau Bapak dan Ibu nggak mau. Aku nggak maksa," ucap Tian. "Semoga kipas anginnya cepat sampai, ya?"
"Iya, Pak." Dono dan Della mengangguk.
"Kalau begitu, aku dan Juna permisi pulang." Tian perlahan berdiri. "Terima kasih dan maaf kalau Juna merepotkan Bapak dan Ibu."
"Juna nggak merepotkan kok, Pak, santai saja," sahut Dono.
Tian merogoh kantong celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan di dalam dompetnya. Kemudian memberikan kepada Della. "Ini buat Silvi, Bu."
"Untuk apa, Pak? Nggak usah," tolak Della dengan gelengan kepala.
"Buat beli susu."
"Susunya Silvi masih ada kok, Pak."
"Oh ya sudah." Tian menghela napasnya lalu menaruh uang itu kembali. Sedih rasanya karena lagi-lagi ditolak. Padahal niat Tian memberi sangat ikhlas. "Kami pulang ya, Pak, Bu. Assalamualaikum."
"Walaikum salam," jawab Dono dan Della.
Juna menarik lengan Della, memintanya untuk membungkuk sebentar sebab dia ingin mencium wajah Silvi.
Kening, dagu dan kedua pipi bayi itu berhasil Juna cium.
"Dedek Silvi yang manis kayak buah apel, Kakak Juna pulang dulu, ya? Jangan kangen lho ... he he he," kekeh Juna lalu mencubit lembut hidung Silvi. "Nanti besok, gantian Dedek Silvi yang main ke rumah Papi Tian. Kakak Juna ulang tahun. Nanti kita makan ikan lelenya Papi Tian, ya?"
Setelah itu, Juna melambaikan tangan. Kakinya melangkah pergi bersama Tian menuju mobil. Kevin pun segera terbang ikut bersama mereka.
"Pulang dari sini, ke makam anak Papi dulu ya, Sayang? Nggak apa-apa, kan?" tanya Tian yang berada di kursi kemudi. Juna duduk pada pangkuan Nissa yang berada di kursi di sampingnya.
"Iya, Yang," jawab Nissa.
Tak lama mobil itu pun melaju pergi. Tian mengemudikannya dengan kecepatan sedang.
"Papi dan Mami kangen Juna nggak kemarin?" tanya Juna sambil memeluk tubuh Nissa dengan erat.
"Kangen dong, masa nggak." Tian dan Nissa menyahut secara bersamaan.
"Juna juga kangen," jawab Juna. "Oh ya, nanti habis dari makamnya anak Papi ... kita ke mall, ya? Juna mau beli baju buat besok pas acara ultah." Juna menatap ke arah Tian.
__ADS_1
"Oma sudah belikan baju untukmu katanya, Jun." Nissa menyahut. "Buat Papi sama Mami juga."
"Baju apa, Mi?"
"Baju India. Begini gambarnya." Nissa mengambil ponselnya pada tas jinjing. Kemudian memperlihatkan sebuah foto yang dikirim oleh Sindi sejam yang lalu. Foto pria dewasa dan wanita dewasa, dengan bocah laki-laki yang seumuran Juna.
Pakaian pria dan anak kecilnya sama, hanya berbeda ukuran. Sedangkan wanitanya memakai sari dan tampak seperti pengantin.
"Nggak mau ah, Mi, jelek," tolak Juna sambil menggelengkan kepalanya. Sebenarnya bagus, hanya saja dia sudah punya rencana sendiri ingin memakai pakaian apa.
"Terus kamu kepengennya baju apa?" tanya Tian. "Nanti Papi belikan."
"Kostum Superman. Tapi Juna juga mau Papi memakainya, eh Mami juga pakai."
"Masa pakai kostum Superman? Jeleklah, Jun." Nissa tampak tak setuju.
"Jelek apanya? Orang bagus. Mami nggak ingat memangnya, si Atta pas ulang tahun saja dia pakai kostum Spiderman. Sama Papanya. Masa Juna nggak, sih?" Juna mengerucutkan bibirnya. Kesal rasanya jika permintaannya tak dituruti.
"Nggak apa-apa, Yang. Kita pakai kostum itu. Kayaknya lucu," ucap Tian. Apa pun permintaan Juna dia sama sekali tak menolak.
"Malu lah, Yang," jawab Nissa. "Lagian, kostum Superman 'kan buat laki-laki. Masa aku pakai juga?"
"Yang buat ceweknya juga ada tahu, Mi," Juna menyahut. "Ayoklah, Mi. Mau, ya? Apalagi Papi Tian sudah jadi bagian keluarga kita. Jadi Juna juga mau baju kita kompak pas Juna ulang tahun," rengeknya manja. Dia menatap Nissa dengan wajah memelas sambil menangkup kedua tangannya.
Nissa menghela napasnya. "Ya sudah, tapi nanti cari dulu. Barangkali nggak ada. Itu 'kan kostum buat main film."
"Ada, Mi. Juna tahu tokonya. Nanti belinya di tempat si Atta beli saja."
"Iya." Nissa mengangguk pasrah.
***
30 menit kemudian, mobil Tian pun berhenti di tempat pemakaman umum. Mereka bertiga langsung turun dari mobil.
Namun sebelum masuk ke dalam gerbangnya, Tian lebih dulu membeli bunga dan air mawar pada pedagang yang berjualan di samping pemakaman itu.
Setelah selesai, mereka sama-sama masuk ke dalam. Juna sudah Tian gendong sebab bocah itu menginginkannya.
"Lho, kok banyak orang. Ada apa?" tanya Tian yang tampak heran.
Dari kejauhan, dia melihat makam Tina dikelilingi lima Bapak-bapak. Entah siapa mereka dan mau apa?
__ADS_1
Karena penasaran, Tian gegas melangkah cepat sambil menggandeng Nisse arah sana.
...Ada apa kira-kira? 🤔...