
"Ini fotonya," ujar Mbah Dijah seraya memperlihatkan layar ponselnya pada Tian dan Nurul.
Dua orang itu langsung memperhatikan, akan tetapi sontak keduanya terkejut dengan bola mata yang membulat, sebab foto bayi yang tengah digendong oleh suami Mbah Dyah sangatlah familiar menurut mereka.
Bayi yang dimaksud Mbah Dijah adalah Tina itu tengah memakai kain bedong berwarna pink.
"Lho, kok wajahnya mirip Silvi?" ujar Nurul bingung, sama halnya seperti Tian. Perlahan pria itu mengambil ponsel android itu dan memegangnya. Melihat lagi dengan seksama untuk memastikannya.
'Iya, ini seperti Silvi. Apa jangan-jangan Silvi adalah anakku?' batin Tian menebak. Jantungnya eketika berdebar kencang.
"Mbah nggak salah, kan, kalau ini fotonya Tina?" Nurul yang masih belum percaya kembali bertanya.
Wanita itu mengangguk. "Iya, ini foto Tina dan diambil sebelum Fira malamnya datang untuk mengambilnya," jawabnya dengan jujur.
"Ti, jangan-jangan Tina ini adalah Silvi, dia bayi yang diadopsi sama satpam di rumahnya Pak Angga," ucap Nurul memberitahu seraya menoleh kepada mantan menantunya.
"Mama tahu Silvi dari mana? Dan kok Mama juga tahu Pak Dono mengadopsinya?" tanya Tian heran.
"Silvi ini 'kan bayi di panti asuhan tempat di mana Mama kerja, Ti. Kebetulan ... pas Mama baru mau melamar, Pak Angga, Juna, satpam rumahnya sama istrinya itu datang untuk mengadopsi bayi. Dan Silvi lah yang mereka adopsi, karena Silvi satu-satunya bayi di sana," jelas Nurul apa adanya.
"Berarti sekarang kita langsung ke rumah Pak Dono, ambil Tina, Ma." Tian langsung berdiri, lalu mengirimkan foto tersebut ke ponselnya. Setelah itu barulah dia memberikan ponsel itu ke tangan Mbah Dijah. "Terima kasih ya, Mbah, sudah mau jujur kepadaku. Aku akan do'akan semoga hidup Mbah selalu bahagia."
"Sama-sama, amin." Mbah Dijah mengangguk.
"Tunggu dulu, Ti!" Nurul langsung mencekal lengan kanan Tian saat pria itu hendak melangkah. Perlahan dia pun menarik tubuhnya untuk duduk. "Kita jangan langsung ke rumah Pak Dono," larangnya.
"Terus ke mana?" Kening Tian mengernyit. "Kan Tina ada di sana."
"Kita pastikan dulu sama Bu Wiwik dan Bu Andin. Kita tanya padanya, takutnya kita salah, Ti. Karena bayi itu banyak yang mirip," usulnya. Ada benarnya juga dengan apa yang Nurul katakan.
"Bu Andin itu siapa, Ma?"
__ADS_1
"Pemilik panti asuhan. Sekarang kita balik lagi ke panti."
"Ya sudah, ayok," ajak Tian. Dia pun melangkah lebih dulu berlalu dari sana.
"Aku permisi ya, Mbah, terima kasih sekali lagi," ujar Nurul pamit. Mbah Dijah pun mengangguk dan tersenyum menatap wanita yang berlalu pergi dari hadapannya.
"Bagaimana, Yang?" tanya Nissa seraya berdiri dari duduknya. Sejak tadi dia menunggu.
"Ternyata Tina masih hidup, Yang. Dan kemungkinan dia adalah Silvi," ucap Tian, dia langsung merangkul bahu istrinya dan mengecup pipi kanannya.
"Kok bisa Silvi?" Nissa tampak bingung dan tak mengerti. Alis matanya bertaut.
"Menjelaskannya sambil kita naik mobil saja. Ini sudah malam, takutnya Bu Wiwik atau Bu Andin sudah tidur," saran Nurul sambil mendengkus. Dia tampak tak menyukai Tian yang memberikan kecupan tadi, kakinya dia hentakkan dengan kasar kemudian berlalu pergi.
Nissa dan Tian langsung menyusulnya, kemudian mereka menaiki sebuah mobil taksi.
Di dalam perjalanan itu, Nissa merasakan perutnya begitu sakit. Entah karena apa, tetapi yang jelas, ada mualnya juga.
Nissa memperhatikan, lalu mengangguk. "Iya, mirip sekali ... dia ... Uuekk!" Rasa mual itu bergejolak, cepat-cepat Nissa membungkam bibirnya sebab seperti ads sesuatu yang ingin keluar.
"Lho, Yang, kamu kenapa?" tanya Tian yang tampak khawatir. Dia menangkup kedua pipi Nissa dan terasa begitu panas, wanita itu juga menyentuh handle pintu mobil. Seperti ingin turun dari sana. "Pak, berhenti dulu, Pak!" perintahnya pada sang sopir.
Mobil berwarna biru telor asin itu langsung berhenti di sisi jalan, lalu Nissa bergegas turun dari sana sebab sudah tak tahan sekali ingin mengeluarkan isi di dalam perutnya.
"Uueekk! Uueek!" Nasi dan lauk makan siangnya tadi Nissa keluarkan, mengurasnya sampai habis. "Uueek! Uueek!"
Tian ikut turun dan menghampiri. Perlahan dia memijat tengkuk putih istrinya dengan lembut, lalu menoleh kepada sopir taksi yang masih duduk di dalam mobil.
"Bapak punya air mineral yang masih disegel sama tissue, nggak?" tanya Tian.
"Ada, Pak." Sopir itu mengangguk. Tak lama dia turun dari mobilnya lalu memberikan apa yang Tian minta.
__ADS_1
Tian menuangkan air itu pada telapak tangan, lalu membasuh bibir Nissa supaya membersihkan bekas muntahannya. "Minum dulu, Yang." Setelah itu dia membantu sang istri untuk menenggak air minum tersebut, kemudian menyeka bibirnya dengan tissue.
"Kamu sepertinya masuk angin dan demam, kita ke rumah sakit saja, ya?" tawar Tian yang baru saja merangkul punggung istrinya. Tubuh Nissa juga seperti lemas, tadi dia hampir saja oleng.
"Nggak usah, Yang. Kita 'kan harus ke panti katanya." Nissa menyentuh kepalanya yang mendadak sakit. Pandangan matanya pun buram dan wajah Tian terlihat memutar dalam penglihatannya.
"Habis dari rumah sakit kita ...." Belum sempat Tian menyelesaikan ucapannya, akan tetapi Nissa sudah terlanjur jatuh pingsan dalam pelukannya. "Astaghfirullah, Sayang! Kamu kenapa?!" Tian membulatkan matanya dengan lebar, lalu menggendong tubuh istrinya.
Sopir itu langsung membukakan pintu mobil dan Tian masuk kembali ke dalam sana bersama Nissa yang sudah tak sadarkan diri.
"Kita ke rumah sakit, cepat, Pak!" teriak Tian panik.
Sopir itu gegas berlari masuk ke dalam mobil, kemudian menancapkan gasnya dengan penuh kecepatan. Mencari rumah sakit terdekat.
"Kalau ke rumah sakit dulu, ke pantinya bisa kemaleman, Ti. Bu Wiwik dan Bu Andin pasti sudah tidur," ujar Nurul seraya memutar kepalanya ke belakang.
Dia saat ini duduk di kursi depan, di samping sopir. Melihat jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul 9 malam, dia menghitung perjalanan juga yang akan memakan waktu 30 menit.
"Ke pantinya besok saja, Ma," jawab Tian. "Yang terpenting sekarang sudah ada pencerahan di mana Tina berada. Aku juga kasihan sama Nissa, dia pasti kecapean gara-gara ikut aku, sampai makan pun telat." Tian menatap wajah Nissa dengan penuh penyesalan, wanita yang ada dalam pangkuannya itu perlahan dia peluk dan langsung dia cium keningnya. 'Ya Allah, kenapa lagi ini? Kenapa dengan Nissa? Dia harus baik-baik saja. Aku sangat mencintainya.'
*
*
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka tiba di rumah sakit terdekat. Tian langsung menggendong Nissa dan membawanya berlari menuju ruang IGD.
"Tolong istriku, Dok, dia pingsan!" seru Tian panik seraya membaringkan tubuh Nissa di atas tempat tidur. Ada dokter wanita berhijab yang baru saja menghampiri sambil memakai masker.
"Silahkan tunggu diluar, Pak. Saya akan memeriksanya," titahnya dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu.
Tian mengangguk, lalu melangkah keluar dari sana dan langsung menelepon Angga.
__ADS_1
...Hari Senin nih, saatnya vote dan hadiahnya. Biar semangat ngasih imun buat Author 🙏🙂...