Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
218. Kedua bayi


__ADS_3

Bejo membuka pintu sangkar burung itu, lalu Kevin mengambil uang tersebut dengan kakinya. Perlahan dia kibaskan sayap putihnya itu.


"Kamu jangan dulu pulang sebelum kuacinya dikasih ya, Vin," tegur Bejo.


"Warungnya ada di mana, Om?" tanya Kevin.


"Itu di seberang jalan, ada warung." Bejo berjalan ke arah gerbang, lalu menunjuk ke seberang jalan.


Kevin yang sudah terbang itu langsung mengangguk, lantas pergi dari sana. Jaraknya tidak terlalu jauh, maka dari itu ia cepat sampai.


"Saya beli kuaci!" seru Kevin seraya berdiri di atas toples permen. Warung itu memang kecil, namun banyak sekali cemilan di sana. Minuman dingin di dalam kulkas pun ada.


"Saya beli kuaci!" Kevin menyeru lagi. Sebab sang pemilik warung belum terlihat batang hidungnya. Burung itu menatap beberapa rentengan makanan ringan yang berada di atas, kepalanya mendongak.


Ia mencari-cari di mana kuaci, sayangnya tak ketemu.


Tak lama, keluar seorang bocah laki-laki yang mungkin seusia Juna. Dia menatap ke arah Kevin, lalu menoleh ke kanan dan kiri.


"Perasaan tadi ada yang beli? Tapi ke mana orangnya?" Bocah itu bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tampak kebingungan.


"Saya yang beli," kata Kevin yang mana membuat bocah itu mengerutkan keningnya.


"Kamu yang ngomong?"


"Ya." Kevin mengangguk cepat.


"Wow, kamu bisa bicara? Hebat sekali. Ini menakjubkan." Bocah itu langsung mengelus jambul Kevin. Bibirnya sudah monyong hendak mencium bulu putihnya, namun burung jantan itu segera mengibaskan sayapnya. Terbang untuk menghindari.


"Cepat ambilkan kuaci untuk saya bocil, saya ingin membeli 5 ribu,“ pinta Kevin yang sudah tak sabar.


"Apa tadi kamu bilang? Enak saja aku bocil! Kecilan juga kamu!" pungkasnya. Bocah itu merengut kesal.


"Iya, kamu sudah besar. Cepat ambilkan kuaci, nanti istri saya marah karena lama menunggu."


"Memang kamu sudah punya istri?"


"Iya dong."


"Apa burung sepertimu juga?"


"Iya."


"Apa punya nama?"


"Punya, namanya Janet. Cepat ambilkan kuacinya, lama sekali. Saya pergi ke warung lain saja deh."


"Tunggu!" seru bocah itu menahan tubuh Kevin yang hendak terbang. Dia mengambil plastik kresek dan memasukkan kuaci 10 biji sebab hari perbungkusnya 500 perak.

__ADS_1


"Ini." Dia memberikan kepada Kevin, dan Kevin memberikannya uang. "Tunggu dulu, namamu siapa?" Mencekal kaki kiri Kevin yang hendak terbang.


"Kevin."


"Kamu tinggal di mana?"


"Lepaskan saya, nanti Janet marah!" Burung Kakatua itu memberontak, sebab merasa risih.


Kevin juga tak mau jika lamanya membawa kuaci akan membuat burung betina itu kesal kepadanya. Ia tentu ingat ucapan Angga tadi, yang meminta untuk membantu mengurus Janet selama ia bertelur. Juga dengan menuruti segala permintaannya.


Kalau ia tak menurut, ia takut diusir. Meskipun Angga terkadang menyebalkan, namun Kevin dapat melihat jika pria itu sangat menyayanginya. Dan makanan yang Angga berikan padanya, jauh lebih enak daripada makanan yang Tian berikan.


Selain itu, di rumah Angga tentu ada Citra. Setiap bertemu, suasana hati Kevin menjadi selalu berbunga. Bahkan hanya dengan melihat senyumannya saja.


Merasa kesal sebab bocah pemilik warung itu terus menerus menarik-narik kakinya, terpaksa Kevin mematuk salah satu punggung tangannya. Alhasil bocah itu langsung melepaskannya lalu menangis, sebab paruh Kevin cukup tajam hingga membuat kulitnya tergores.


"Dasar burung si*lan! Awas kamu, ya!" jeritnya sambil terisak.


*


"Ini, Om." Kevin memberikan kantong kresek berwarna hitam yang ia bawa kepada Bejo, seolah meminta pria itu untuk membuka dan menaruhnya ke dalam tempat makan.


Setelah dimasukkan ke dalam tempat makan, Kevin pun mendorong benda berbentuk mangkuk itu hingga masuk ke dalam glodok, kemudian mendekatkannya ke arah Janet yang sejak tadi duduk menunggu di sana.


"Lama sekali kamu, Vin," gerutu Janet.


Janet langsung menempelkan paruhnya ke dalam tempat air minum, lalu menenggaknya. Air putih itu di dalamnya sudah ditetesi vitamin oleh Angga.


"Kok diam? Kenapa tidak makan?" Kevin tampak heran, sebab burung betina itu sejak tadi hanya memperhatikan kuaci yang banyak itu, namun tidak mematuknya sama sekali.


"Saya mau kamu suapi."


"Manja sekali. Memang tidak bisa sendiri?"


"Saya mau disuapi!" tekan Janet menegaskan.


Kevin tak banyak cincong. Ia langsung mengigit salah satu kuaci itu dengan paruhnya, lalu mengarahkannya pada paruh Janet. Tidak masalah juga menurutnya, malah dengan begitu sama saja mereka saling mencium.


"Enak, Vin." Janet mengangguk-ngangguk sambil mengunyah. "Ayok, kamu juga juga makan."


"Iya."


Sepasang burung itu pun lantas makan bersama.


***


Sampainya di rumah sakit dan setelah mendaftar, kini Citra tengah berbaring di atas ranjang. Dokter kandungan wanita berambut pendek itu memeriksa jantung dan tensi darahnya terlebih dahulu dengan di bantu suster, lalu setelahnya dia melakukan pemeriksaan USG.

__ADS_1


"Jantungnya normal, tapi kalau darahnya kurang. Sepertinya ... akhir-akhir ini Nona Citra kecapekan, ya?" tebak sang dokter seraya tersenyum menatap Citra, lalu beralih ke arah Sindi.


Ada Steven dan Angga juga di sana. Tapi mereka diancam oleh Sindi untuk tidak berbicara, takutnya berdebat lagi.


"Itu sih, Dok, suaminya ...," kata Sindi menoleh sebentar pada Steven dengan tatapan sengit. "Setiap hari maunya bercinta mulu."


"Suaminya yang mana?" Dokter itu menatap ke arah dua pria di depan. Namun konyolnya mereka berdua sama-sama tunjuk tangan. "Eh, dua-duanya suaminya?"


"Yang keriput bukan, Dok." Yang dimaksud Sindi adalah Angga. "Dia suami saya, mertuanya Citra."


Angga langsung merengut kala istri tercintanya itu mengatakan dirinya keriput, meskipun memang itu benar. Sedangkan Steven, dia justru senang mendengarnya, malah sekarang sedang tertawa jahat.


"Kurang ajar kamu ya, Stev!" bisik Angga dengan nada menekan. Dia pun mencubit kecil perut Steven hingga membuat pria itu memekik.


"Aaww! Sakit, Pa!"


"Sssttt!" desis Sindi dengan jari telunjuk yang menempel bibir. Sorotan matanya tajam menatap mereka.


Mereka semua pun lantas menatap ke arah monitor USG, dan melihat mahluk kecil yang tengah bergerak-gerak di sana.


Namun, mahluk itu terlihat ada dua dan bergerak begitu lincah.


"Bagaimana bayiku, Dok?" tanya Steven penasaran. Dia mendekat ke arah Citra lalu mengusap lembut keningnya.


"Kedua bayi Anda sehat, Pak."


"Kedua bayi?" Alis mata Steven bertaut. "Maksud Dokter apa?"


"Wah, apa jangan-jangan Dedek Gemes hamil anak kembar ya, Dok," tebak Angga dengan mata yang berbinar.


"Betul sekali, mereka kembar dua," jawab Dokter sambil tersenyum.


Steven dan Angga langsung sujud syukur di lantai, mereka sungguh merasa bahagia. Untuk pertama kali, Angga mempunyai cucu kembar, itu sangat menakjubkan menurutnya.


"Alhamdulillah ya, Allah, terima kasih." Setelah berpelukan dengan Angga, Steven langsung memeluk Citra yang masih berbaring itu. Kemudian mengecupi seluruh wajahnya. "Anak kita kembar, Cit. Bibitku sangat unggul, ya, ini pasti karena aku sering nengokin mereka."


"Iya, A." Citra tersenyum, namun tak terasa air matanya itu jatuh membasahi pipinya.


"Lho, kok kamu nangis? Kenapa? Nggak seneng kamu bayi kita kembar?" tanya Steven bingung. Cepat-cepat dia mengusap pipinya, lalu mengecup singkat bibir merah muda itu.


"Aku sebenarnya senang, A, bahkan sangat. Tapi aku sedih karena Ayah nggak bisa mengendong cucunya. Aku kangen sama Ayah." Isakan tangis Citra makin pecah, dia pun menangis tersedu-sedu dalam pelukan Steven.


"Nggak usah sedih, Sayang," ucap Angga seraya mengelus rambut kepala Citra. Namun tangannya itu segera ditepis oleh Steven. Pelit sekali memang pria itu. "Walaupun Ayahmu nggak bisa mengendong cucunya, tapi 'kan Papa bisa. Papa 'kan Ayah dari suamimu. Berarti Ayahmu juga," tambah Angga.


"Tumben Papa omongannya bener?" Bukannya terharu, Sindi justru merasa aneh. Sebab dia tahu kalau Angga terkadang genit pada Citra.


"Lha, ya emang bener. Semua omongan Papa memang bener, Ma."

__ADS_1


...Likenya jangan lupa tinggalkan ya, Guys, komennya apa lagi 🙏...


__ADS_2