Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
104. Tinggalin aku dan Citra berdua


__ADS_3

"Aku sebenarnya kenapa sih, Pa? Kok bisa ada di rumah sakit lagi?" tanya Steven sembari menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit. Dia berjalan keluar dari rumah sakit digandeng Angga. Di belakang mereka ada Jarwo dan Bejo.


"Kamu hampir kecelakaan gara-gara kebanyakan ngehalu," jawab Angga seraya masuk ke dalam mobil saat pintunya dibuka oleh Bejo. Steven juga ikut masuk dan duduk di sampingnya.


"Ngehalu?" Alis mata Steven bertaut.


"Iya, kamu berhalusinasi gara-gara terus memikirkan Dedek Gemes. Sekarang makan dulu, habis ini minum obat." Angga memberikan sebuah kotak makan berisi nasi goreng. Sebelum mengajak Steven pulang dia menyuruh Bejo untuk membelikan makan. Sebab dia tahu, kalau Steven pasti belum mengisi perutnya dengan nasi dari pagi.


"Ya gimana aku nggak memikirkannya, orang akunya kangen." Steven mengerucutkan bibirnya.


"Papa juga kangen, Stev. Tapi jangan sampai karena kangen buat kamu gila dong. Nanti pas ketemu yang ada Dedek Gemes ilfil sama kamu."


Melihat Steven tak kunjung mengambil nasi goreng di tangannya, akhirnya Angga membuka kotak itu lalu menyendokkan nasi tersebut ke bibir Steven.


"Dedek Gemes itu cinta banget sama aku, dia nggak mungkin lah ilfil." Steven menggelengkan kepala, menolak nasi goreng yang Angga berikan. "Dan lagian ... siapa juga yang gila? Aku sehat, Pa. Nggak mungkin aku gila. Kalau gila aku jalan-jalan nggak jelas dan mengoceh."


"Ini kamu sedang mengoceh! Cepat makan dulu terus minum obat!" tekan Angga marah. Dia pun menyuapi Steven secara paksa sebab sejak tadi pria itu terus menolaknya. Bahkan suapan yang Angga lakukan dengan tangan langsung.


"Papa kasar banget ya Allah. Aku hampir tersendak." Steven menutup mulutnya yang penuh akibat nasi goreng itu, perlahan dia pun mengunyahnya. Matanya sampai berair.


"Lagian kamu bandel, suruh makan saja susah. Kayak anak kecil!" Angga mendengkus kesal.


"Papa juga belum makan 'kan sama. Pakai ngatain aku anak kecil," cibir Steven sembari memutar bola matanya dengan malas.


"Kata siapa? Ini Papa makan." Angga langsung mengambil nasi goreng itu, lalu menyuapi ke dalam mulutnya sendiri.


"Papa cuci tangan nggak itu, makan pakai tangan dan segala nyuapi aku?" Steven menatap jijik Angga yang makan dengan lahap. Tetapi pertanyaannya sukses membuat sang papa menjeda aktivitasnya. "Tuh 'kan nggak cuci tangan dulu pasti," tebaknya curiga. Sebab Steven tahu bagaimana pikunnya Angga.


"Iya, Papa lupa." Angga tampak syok. Tetapi dia menelan makanan yang sudah dikunyah hingga masuk ke dalam perut.


"Dih, Papa jorok. Kalau Papa habis ngupil bagaimana?" Steven bergidik menatap Angga. Pria tua itu sudah menghentikan aktivitas makannya.

__ADS_1


"Ngupil?" Angga terdiam beberapa saat sambil mengingat-ingat dia sempat ngupil atau tidak.


"Pak Angga nggak ngupil kok, saya ingat." Bejo yang tengah mengemudi menyahut. Ucapannya langsung membuat dua pria beda usia di belakang itu menghela napasnya dengan lega.


"Tuh 'kan, apa kata Bejo. Papa nggak mungkin ngupil. Papa 'kan bersih orangnya," kata Angga dengan penuh percaya diri.


"Bapak nggak ngupil emang. Tapi saya nggak sengaja melihat Bapak garuk-garuk panntat," ujar Bejo yang mana membuat Steven membelalakkan matanya. Seketika perutnya bergejolak dan rasanya begitu mual. Cepat-cepat dia pun menurunkan kaca mobil, lalu menyembulkan kepalanya keluar dan tak lama Steven pun mengeluarkan isi di dalam perutnya.


"Uueekk! Uueekk!"


"Bejo! Apa yang kau katakan?" teriak Angga marah saat melihat Steven muntah-muntah. Pasalnya, nasi yang baru saja masuk itu keluar lagi dan dengan begitu perut Steven kosong. "Kapan aku garuk panntat? Jangan mengada-ada kamu, Jo!" sentaknya.


Angga bangun sedikit untuk mendekati Steven. Tangannya perlahan menyentuh tengkuk anaknya, tetapi segera ditepis kasar oleh Steven.


"Saya jujur, saya melihatnya pas Bapak jalan habis mengambil obat."


Mata Angga terbelalak. Ya, dia ingat. Namun rasanya saat menggaruknya Angga sudah melihat situasi sekitar yang menurutnya cukup aman.


"Itu bukan menggaruk bod*h! Tapi cellana dalamku keselip," elak Angga. Sengaja dia berbohong supaya Steven tak marah dan berhenti muntah-muntah.


"Iya iya, keselip." Bejo terkekeh.


*


*


Setelah beberapa menit, akhirnya mobil hitam itu sampai di depan rumah Angga. Lantas, ayah dan anak itu berjalan sama-sama masuk ke dalam rumah, tetapi tampak Steven menjaga jarak dengan Angga dan wajahnya terlihat masam.


"Yang diomongin Bejo nggak benar, kamu nggak perlu mengingat-ngingatnya. Nanti mual," kata Angga menegurnya dengan halus.


Steven tak menjawab, dia langsung berlari begitu saja menaiki anak tangga menuju kamarnya. Lantas, perlahan dia pun menurunkan handle pintu dan membukanya.

__ADS_1


Ceklek~


"Stev, akhirnya kamu sudah pulang. Kenapa kamu dan Papa susah dihubungi, sih?" tanya Sindi dengan suara yang terdengar menahan amarah.


Sontak—mata Steven langsung melolot kala melihat ada seseorang yang tengah berbaring di atas kasurnya. Dia adalah Citra, gadis itu masih memejamkan mata.


"Citra? Apa ini benar kau, Cit?" Steven langsung berlari dan naik ke atas kasur begitu saja, juga naik ke atas tubuh gadis itu dan menangkup kedua pipinya dengan mata yang berbinar. Dia pun memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama, lalu perlahan bibirnya mendekat. Mungkin sedikit lagi dia dapat mengecup bibir merah muda itu, tetapi urung terjadi sebab terhalang oleh telapak tangan Sindi.


Wanita tua itu sejak tadi duduk di samping Citra, dia juga tampak syok melihat anaknya yang tiba-tiba naik dan langsung menindih tubuh gadis itu. Sedangkan Citra, belum bangun juga dari pingsannya.


Padahal, Sindi sudah menempelkan minyak angin ke hidungnya, juga sempat mendatangkan seorang dokter untuk memeriksa keadaannya.


Kata dokter sih Citra hanya terkena efek obat bius, dan akan sadar oleh sendirinya. Tetapi Sindi merasa takut sebab pingsannya Citra sudah cukup lama menurutnya.


"Main nyosor aja kamu! Dia itu lagi pingsan dari siang nggak bangun-bangun, Stev!" tegur Sindi marah.


Steven menoleh pada Sindi, mimik wajahnya tampak kaget. "Pingsan? Kenapa dia bisa pingsan dan kenapa dia bisa tiba-tiba ada di kamarku, Ma?" Awalnya ekpresi wajah Steven memang kaget, tetapi langsung berubah kala kedua pipinya terlihat merona. Hatinya begitu berbunga dan jantungnya pun tiba-tiba berdebar kencang.


Dia sungguh bahagia sekali dan seperti mimpi, melihat Citra berada di kamarnya dan bahkan tengah berbaring di atas kasur.


"Ini semua gara-gara kedua anak buahmu. Mereka katanya disuruh menculik gadis yang bernama Sisil, tapi mereka malah membawa Citra."


"Ali dan Aldi?" Kening Steven mengerenyit.


"Mama nggak tahu namanya, tapi mereka seperti sopirnya Nella dan Maya."


"Iya, berarti itu mereka." Steven tersenyum lebar dan tiba-tiba saja miliknya di dalam celana terasa menegang. "Eemm ... Mama bisa nggak tinggalin aku dan Citra berdua di kamar?" pinta Steven dengan malu-malu. Wajahnya sudah merah seperti udang rebus.


...Idih, mau ngapain berdua-duaan coba? 🤣Udah gatel banget ya, Om 🤭...


...Lanjut laginya nanti ya, Guys. Nunggu kalian pada ngevote dan kirim hadiah 😁✌️...

__ADS_1


__ADS_2