Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
175. Jelas itu masalah


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok.


Terdengar ketukan pintu dari luar. Ah ralat, itu gedoran pintu. Sebab sangat kencang hingga Adam yang tengah minum saja hampir tersendak sangking kagetnya.


"Masuk!" pekik Pak Adam, segera dia pun mengambil masker kemudian memakainya.


Ceklek~


Pintu itu dibuka lalu mendorongnya dengan kuat oleh Sugiono. Pria tanpa baju itu tampak emosi, wajahnya merah padam dan kedua tangannya mengepal.


"Maaf ketidaksopanan Bapaknya Udin, Pak," ucap sang satpam. Dia justru yang merasa tak enak telah menganggu waktu istirahat Dekan. Sebab baginya, orang yang paling dihormati dan disegani di kampus itu adalah Adam.


Sugiono masuk ke dalam, melangkah cepat dan langsung duduk di kursi di depan Adam tanpa disuruh.


Udin dan satpam juga ikut masuk, lalu menutup pintu. Namun mereka berdiri di depan Sugiono. Terlihat satpam berseragam hitam itu memakai masker.


Adam pun mengambil masker lagi, lalu memakainya dengan cara mendoubel. Sebab aroma terapi milik Sugiono sama dahsyatnya seperti Udin.


'Buset, ternyata Bapaknya Udin juga bau bangkai. Apa mungkin bau keteknya si Udin karena turunan?' batin Adam.


"Saya nggak terima Udin dikeluarkan!" teriak Sugiono seraya menggebrak meja. Adam sontak terperanjat dari duduknya.


"Maaf Pak Sugiono, tapi ini sudah keputusan dari pihak kampus," jawab Adam lembut. Dia pun menatap Udin. Pemuda itu tampak cemberut, namun seketika Adam terkekeh kala melihat wajahnya yang cemong. "Wajahmu kenapa cemong begitu, Din? Kayak pantaat panci."


Satpam itu ikut terkekeh juga.


"Enak saja!" tukas Sugiono tak terima, dia pun menoleh ke arah Udin. Anaknya itu sedang mengusap wajahnya kasar. "Jaga ucapan Bapak, ya! Udin memang hitam! Tapi hitam manis, bukan hitam cemong!"


Rupanya dia tak sadar jika memang Udin cemong. Itu semua karena serbet yang Yanti usapkan ke wajahnya.


"Saya nggak ada maksud menghina, Pak," ucap Adam.


"Saya minta Bapak tarik kembali atas pengeluaran Udin dari kampus. Udin ini murid yang pintar, berprestasi, sopan dan teladan. Bapak kok tega mengeluarkan murid emas kayak Udin?!" teriaknya kencang.


Kalau sopan dan teladan mungkin iya, tapi kalau pintar dan berprestasi sih seperti tidak. Otak Udin masih standar. Sengaja Sugiono melebih-lebihnya demi merayu Adam.

__ADS_1


"Maaf, Pak, nggak bisa. Udin sudah dikeluarkan dari kampus," jawab Adam yang masih sabar.


"Tapi masa alasan mengeluarkan Udin karena dia bau ketek? Ini nggak masuk akal." Kening Sugiono mengerenyit. Wajahnya tampak tegang. "Dan perlu Bapak ketahui, Udin itu nggak bau ketek! Dia wangi!" tegasnya.


"Dikeluarkan Udin dari kampus bukan karena dia bau ketek saja, tapi karena dia menganggu mahasiswi lain. Dan gara-gara menghirup aroma Udin ... dia sampai masuk rumah sakit, Pak," jelas Adam.


"Mustahil," elak Sugiono yang masih tak terima.


Udin pun seketika mengingat Citra. Padahal Adam tak menyebutkan nama, tapi dia ingat jika Citra kemarin pingsan dan dibawa ke rumah sakit.


Namun, dia tak percaya kalau Citra masuk rumah sakit karena keteknya, sebab Udin meyakini dia tak bau ketek.


"Apa mahasiswi yang Bapak maksud itu Citra?" tebak Udin.


"Oh, jadi Citra yang cari gara-gara lagi," ucap Sugiono.


"Siapa pun orangnya ... intinya Udin sudah dikeluarkan. Saya mohon Bapak dan Udin bisa legowo, nanti saya yang urus Udin pindah kuliah," jelas Adam. Malas sekali dia berdebat, ditambah perutnya juga masih lapar. Namun dadanya terasa sesak sebab pernapasannya tidak lancar. Aroma ketek milik Sugiono masih mampu dia cium.


"Nggak! Saya nggak terima!" tegas Sugiono. "Pokoknya saya mau Bapak ganti rugi!"


"Jelas Bapak salah karena Bapak tega. Alasan dari Citra yang masuk rumah sakit itu tidak masuk akal, tapi Bapak dengan jahatnya mengeluarkan Udin!"


"Bawa Pak Sugiono keluar dari sini!" titahnya sambil menatap satpam. Perut Adam terasa mual melihat mulut Sugiono yang mengoceh hingga air ludahnya muncrat-muncrat.


Satpam itu menarik lengan Sugiono, hingga membuatnya berdiri dari kursi. Namun untuk beranjak dia menahan diri.


"Bapak akan menyesal melakukan hal ini kepada Udin! Saya akan laporkan tindakan ketidakadilan Bapak ke polisi!" ancam Sugiono sambil mengebrak meja dan menjatuhkan barang di atas sana hingga berhamburan di lantai. Setelahnya dia ditarik paksa oleh satpam hingga akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Aku harap Bapak berubah pikiran, ini nggak adil bagiku," ucap Udin marah. Dia pun berlari keluar menyusul papanya.


*


*


"Sekarang bagaimana, Pa? Aku nggak mau keluar dari kampus itu," ujar Udin sambil menangis. Dia duduk membonceng di belakang Sugiono yang menyetir. Mereka menaiki motor Mio.

__ADS_1


"Papa juga nggak mau, Din. Eeemm ... kamu tahu rumahnya Pak Steven nggak? Nanti biar Papa ke sana menemuinya, Papa akan buat perhitungan padanya." Kalau sudah mengenai Citra, pastinya Steven adalah dalangnya. Sugiono tahu itu.


"Aku tahu apartemennya, Pa. Sekarang kita ke sana."


"Oke."


***


"Nona, apa nggak apa-apa Nona ada di cafe?" tanya Jarwo dengan perasaan tak enak. Dia berdiri di samping Citra yang duduk.


Mereka berada di sebuah cafe yang terletak tepat di depan kantor Steven. Sebetulnya sejak tadi Citra berada di dalam ruangan suaminya sambil menunggu dia selesai meeting, namun sekarang Citra justru ingin pergi ke cafe.


Dia ingin mencoba minuman dan cemilan yang ada si sana.


"Nggak apa-apa, Om. Lagian aku sudah chat Om Ganteng kok," ucap Citra santai sambil menatap Jarwo. "Ayok duduk, Om. Om mau pesan apa? Pasti haus daritadi berdiri mulu." Citra menunjuk bangku kosong yang berada di depan.


"Ah saya—"


"Nona Citra ada di sini?" sela seseorang yang baru saja datang menghampiri. "Sedang apa?" tanyanya yang ternyata dia adalah Gugun. Pria itu menatap di atas meja Citra ada jus mangga dan kentang goreng.


"Eh, Om Gugun. Aku lagi nunggu Om Ganteng selesai meeting. Kok Om ada di sini?" tanya Citra sambil tersenyum manis menatap Gugun. Pria berkumis tipis itu langsung duduk tanpa meminta izin.


"Saya kebetulan baru saja selesai meeting sama dia, Nona."


"Oh, Om Gugun juga ikut meeting."


"Iya." Gugun mengangguk. "Bagaimana kabar Nona? Kata Sisil Nona masuk rumah sakit. Sakit apa kata Dokter?" tanya Gugun sembari mengulurkan lengannya, lalu menyentuh punggung tangan Citra dengan lembut. Namun segera ditepis oleh Jarwo.


"Maaf, Bapak dilarang menyentuh Nona Citra, dan sebaiknya Bapak pergi dari sini sebelum singanya tahu lalu ngamuk," ujar Jarwo memperingati. Dia melolot tajam ke arah Gugun.


"Kenapa? Saya di sini hanya ingin mengobrol dengan Nona, memang masalah?" Gugun menatap sengit Jarwo.


"Jelas itu masalah!" teriak seseorang yang baru saja datang. Dan secara tiba-tiba dia pun langsung menonjok pipi kiri Gugun dengan kuat.


Bugh!!

__ADS_1


...Wah, ada yang ngamuk🤣...


__ADS_2