
"Menguras harta tapi nggak perlu pakai korupsi juga, Fir," bantah Tian.
"Lha, terus gimana? Ini jelas kesempatan emas untuk, Mas, supaya cepat ngambil hartanya. Nggak usah langsung banyak, sejuta atau dua juta, tapi rutin. Nanti juga akan jadi banyak dan nggak akan ketahuan, Mas."
Tian geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan ide Fira yang makin gila. Tian kira, dia hanya disuruh mendekati dan menguras harta dengan cara meminta langsung, atau sekedar meminjam.
Sebagai seorang pacar, nantinya Nissa tak akan minta untuk dikembalikan, karena dia tak tega kepada Tian.
Hanya itu yang terlintas dalam benaknya. Namun, bukan dengan cara korupsi.
Tentunya dia juga seorang pengusaha, pernah menjadi pemimpin. Tidak ada kamus di hidup Tian untuk berencana melakukan hal tersebut.
Dulu, dia memang gila harta. Ingin membagi dua harta Danu dengan Tegar. Namun, yang dia lakukan adalah meminta. Bukan mencurinya. Ya meskipun caranya juga salah, dengan mencelakai terlebih dahulu.
Namun dibalik semua itu, intinya dia tak korupsi.
"Kalau harus korupsi aku nggak mau, Fir." Tian menggeleng cepat. "Aku juga baru kerja sehari, aku nggak mau mengecewakan Nissa."
"Kenapa nggak mau? Kan aku bilang Mas ambilnya sedikit-sedikit saja. Biar nggak ketahuan."
"Nissa itu pintar, Fir. Kamu jangan terlalu ngegampangin. Pokoknya aku nggak mau!" tegasnya.
Fira menggertakkan gigi. Geram rasanya mendengar jawaban Tian. Bisa-bisanya suaminya itu membantah. Namun, menekan terlalu keras juga sepertinya tak baik. Nanti yang ada Tian justru menghancurkan segalanya.
"Ya sudah, tapi Mas harus secepatnya pacaran sama dia. Membuatnya jatuh cinta sampai bertekuk lutut. Lalu setelah itu Mas minta apa pun padanya."
"Memang kamu pikir membuat orang jatuh cinta itu gampang? Nggaklah, Fir. Aneh deh kamu."
"Tapi dia 'kan teman SMA, Mas. Pastinya ada kenangan di masa putih abu-abu. Dan Mas juga bukannya dulu buaya darat, ya? Suka godain perempuan. Masa godain janda satu anak saja nggak bisa? Aku saja yang perawan bisa Mas godain."
'Kamu sama Nissa itu beda, Fir. Kamu diberi duit bisa langsung ngangk*ng, sedangkan Nissa ... jangankan ngangk*ng, disapa saja aku sudah bersyukur. Dan duitnya si Nissa juga jauh lebih banyak daripada aku. Mana mau dia sama pria kere kaya aku,' batin Tian sembari mengurut dahinya. Lama-lama makin sakit saja kepalanya, seperti mau pecah.
"Nanti malam 'kan malam Minggu, aku akan pesankan Mas tiket nonton berdua. Sekarang Mas telepon Mbak Nissa, ajak dia. Mas harus nembak dia malam ini juga."
"Kalau dia tolak bagaimana?"
"Tolak apa? Nonton apa pas Mas nembak?"
"Dua-duanya."
__ADS_1
"Dicoba dulu."
Tian mengambil ponselnya di saku jas, lalu menghubungi Nissa. Tadi dia sempat meminta nomor.
Belum juga diangkat, tapi jantungnya sudah berdegup kencang. Jangan lupakan wajahnya juga, sudah merona.
"Halo, Ti," ucap Nissa dari seberang sana yang mana membuat Tian mengulum senyum. Suaranya yang begitu lembut itu seketika membuat hatinya meleleh.
"Halo, Nis. Lagi apa kamu?"
"Aku baru selesai mandi. Ada apa?"
'Selesai mandi? Pasti tambah wangi. Eh, tapi dia sudah pakai baju belum kira-kira? Wah bahaya nih,' batin Tian dan seketika otaknya travelling.
"Tian, ada apa?" tanya Nissa yang mana membuat Tian terperanjat. Fira sejak tadi memperhatikan suaminya itu, dia menatap aneh.
"Ah nggak, itu aku cuma mau nanya. Kamu mandi sehari berapa kali?"
Mata Fira terbelalak. Dia tampak kaget dengan pertanyaan Tian yang tak masuk perintahnya. Namun, dia diam saja. Tak ingin menganggu sebab takut jika Nissa curiga.
'Kok malah nanyain mandi? Apa pentingnya?' batin Fira.
"Kamu telepon cuma nanyain aku mandi berapa kali? Memang itu penting?"
"Jadi mau apa kamu telepon?" Suara Nissa terdengar tegas dan agak keras. Tian yang mendengarnya langsung menelan saliva.
"Nanti malam kamu ada acara nggak? Aku mau ngajak nonton bioskop."
"Aku kebetulan malam ini mau pergi nonton sama Juna. Maaf, aku nggak bisa."
"Juna itu siapa? Pacarmu?"
"Bukan, dia anakku."
"Oh, kalau begitu aku ikut gabung saja gimana?"
"Maksudnya bertiga?"
"Iya."
__ADS_1
"Eemm ... gimana ya, Ti. Nanti aku tanya dulu sama dia deh, ya. Tapi maaf kalau misalkan dianya nggak mau. Berarti nggak bisa."
"Nggak masalah. Nanti kamu hubungi aku saja kalau sudah nanya ke anakmu, ya?"
"Iya."
Tian mematikan sambungan telepon, lalu mencium layar ponsel itu berkali-kali.
"Gimana? Mbak Nissa mau, Mas?" Yang ada difikiran Fira, apa yang dilakukan Tian sampai mencium ponsel itu lantaran senang Nissa mau diajak nonton. Padahal, bukan hanya itu saja. Tian juga senang karena kembali mendengar suaranya.
"Dia mau nanya anaknya dulu katanya, Fir."
"Kok anaknya? Maksudnya minta izin?"
"Iya. Kebetulan dia dan anaknya mau pergi nonton. Jadi aku minta gabung."
"Dih kok begitu?" Fira tampak tak setuju. "Harusnya Mas berdua saja sama Mbak Nissa, nggak usah ngajak anaknya."
"Kenapa emang?" tanya Tian.
"Hubungan Mas sama Mbak Nissa jangan sampai diketahui oleh orang lain. Termasuk anaknya, nanti dia bisa ngadu ke Om Angga."
"Tapi Nissa 'kan punya anak. Jadi kalau ngajak pergi wajar juga kalau anaknya ngikut."
"Tapi ini nggak bagus untuk rencana kita, Mas. Mas batalin saja. Nggak usah ikut. Ribet bawa anak, nanti dia menganggu acara Mas sama Mbak Nissa. Kan Mas mau nembak dia."
Belum sempat Tian menjawab kembali, namun tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk dari Nissa. Segera dia pun membukanya.
[Kata Juna kamu boleh ikut, asal nontonnya harus film keinginan dia, Ti. Gimana?]
[Nggak masalah, asal aku ikut.] Tian membalas.
"Dih, Mas, kan aku bilang batalin. Kenapa malah ikut?" Fira membaca isi pesan dan balasan Tian. Dia tampak kesal tak setuju.
"Sudah sih, nggak masalah kalau anaknya Nissa tahu hubunganku. Ada pepatah bilang ... kalau mau mendekati anaknya, harus dekati Ibunya dulu. Tapi 'kan Nissa itu janda dan punya anak satu. Jadi istilah itu bisa dibalik. Siapa tahu dengan aku dekat dengan anaknya ... Nissa akan mau sama aku, Fir."
'Siapa tahu juga, si Juna mau punya Papa baru, kan? Aku bisa jadi Papa barunya nanti,' batin Tian. Dia pun menyeruput secangkir kopi yang sudah agak dingin itu, lalu berdiri.
"Siapkan aku air untuk mandi, Fir, jangan lupa kasih sabun yang wangi. Suamimu ini nanti malam mau malam mingguan," ujar Tian sambil menepuk dada diiringi dengan wajahnya yang berseri. Perlahan kakinya melangkahkan menaiki anak tangga. Fira segera menyusul sambil memperhatikan prilaku suaminya yang terkesan aneh itu.
__ADS_1
'Kok kaya seneng banget Mas Tian? Ah tapi bagus juga sih, berarti itu tandanya dia cinta banget sama aku, kan? Jadi nurutin kemauan aku dengan senang hati. Kelihatan nggak terpaksa,' batin Fira sambil mengulum senyum. Dia berpikir positif.
...Iya, Fir. Om Tian kan emang udah bucin akut, ga perlu diragukan lagi 🤣...