
"Om datang ke sini karena ingin meminta maaf padamu, Cit." Tian menatap sendu manik mata Citra.
"Minta maaf?"
"Ya ..." Mengangguk samar. "Om mau minta maaf atas semua yang telah Om perbuat padamu. Om begitu jahat selama ini." Tian menatap ke arah Steven, perlahan dia pun mengulas senyum. "Om juga mau minta maaf padamu, Stev. Mungkin selama Om begitu menyebalkan. Tapi sekarang, Om telah menyadari semua kesalahan Om. Dan Om juga nggak akan menganggu rumah tangga kalian lagi."
'Apa yang Om Tian inginkan sebenarnya? Kenapa dia sok-sokan minta maaf segala? Oh, pasti ini semua karena Mbak Nissa dan Juna,' batin Steven menerka-nerka.
"Selama ini aku nggak pernah menanggap Om jahat," ujar Citra sambil tersenyum. "Bagaimana pun Om dulu, aku tetap menyayangi Om."
Dada Tian terasa hangat, apalagi melihat senyuman tulus yang terpancar jelas dari wajah Citra. Gadis itu memang berhati bersih, tidak pernah menaruh dendam pada siapa pun. Tian jadi makin bersalah, karena telah menjahatinya. "Syukurlah. Om senang mendengarnya, Cit. Semoga kamu selalu bahagia, dan sekarang Om juga sadar ... kalau Steven memang pantas menjadi suamimu."
"Iya, Om." Citra mengangguk.
"Selain minta maaf, apa ada lagi tujuan, Om?" tanya Steven dengan tatapan curiga. Sama sekali dia tak memerdulikan permintaan maaf yang terlontar dibibir Om mertuanya. Malah Steven berwaspada, bisa saja Tian mempunyai maksud tertentu dibalik semua itu.
"Hanya itu. Om memang sengaja datang ingin minta maaf sekalian bersilaturahmi." Tian masih memaksakan untuk tersenyum, meskipun sebenarnya situasinya terasa tak nyaman. "Ini Om beli bolu tadi." Tian menggerakkan dagunya ke arah meja sambil menatap Citra. "Om mau minta maaf juga, karena Om nggak tahu makanan kesukaanmu, Cit. Jadi Om hanya membeli bolu gulung untukmu."
"Nggak apa-apa. Aku juga suka bolu, Om. Terima kasih." Citra meraih plastik itu, lalu menaruhnya di atas paha.
"Sama-sama." Tian beralih menatap Angga yang sejak tadi tak bersuara. "Pak Angga, aku minta maaf kalau aku punya salah sama Bapak." Tian bingung, dia sendiri merasa tak punya salah kepada pria itu. Tetapi sikap Angga membuktikan jika dirinya seolah mempunyai salah. "Tapi, aku nggak ada niat untuk menyakiti Nissa atau pun Juna, Pak."
Angga perlahan berdiri. "Aku ingin bicara empat mata denganmu. Tapi jangan di sini."
"Di mana, Pak?" tanya Tian.
"Papa mau bicara apa?" tanya Steven.
"Nanti Papa ceritakan, Stev." Angga menatap sebentar ke arah Steven yang tiba-tiba berdiri, lalu melangkah pergi. Tian langsung berdiri dan segera mengekorinya.
__ADS_1
"Kamu dan Citra berangkat ke kampus dan ke ke kantor saja, Stev," pinta Sindi seraya menatap anak dan menantunya.
Dia tahu, kalau Steven pasti sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan antara Angga dan Tian. Sindi sendiri juga tak tahu akan apa yang mereka bahas. Akan tetapi, sangat tidak sopan rasanya, jika mereka diganggu.
"Iya, A. Kita berangkat sekarang saja. Aku juga ada kelas pagi," ujar Citra seraya berdiri lalu bergelayut di lengan Steven. Pria itu pun mengangguk, lalu tersenyum menatap istrinya.
Setelah berpamitan kepada Sindi, mereka pun lantas pergi.
***
"Kita ke mana, Pak?" tanya Tian seraya mengemudikan mobilnya. Angga berada di sampingnya dan dia memang mengajak pergi dari rumah.
"Kita cari cafe terdekat," titah Angga. Dia pun mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu mengirim pesan kepada Mbah Yahya untuk mengajaknya ketemuan sekitar sejam berikutnya.
Tak menunggu waktu yang lama, mobil putih Tian terparkir di sebuah cafe, mereka pun duduk di salah satu meja dan memesan secangkir kopi hitam.
"Sebenarnya, dari kemarin-kemarin aku ingin bertemu denganmu. Tapi ada saja halangan," ucap Angga memulai obrolan sebelum kopi mereka sampai.
"Ada perlu apa, Pak?" Tian mengulas keringat di dahinya. Dan mencoba untuk bersikap tenang.
"Aku tahu kamu dan Nissa teman SMA. Dan aku sendiri nggak terlalu mengenalmu, kita hanya bertemu sekali saat kamu menjual Kevin. Tapi ... apa alasan utamamu mendekati Nissa? Apa benar, karena hartanya?" tanya Angga penasaran.
Tian menghembuskan napasnya dengan berat. "Ini semua karena Fira, Pak."
"Fira? Kok Fira?" Kening Angga mengerenyit. Angga sendiri belum tahu ceritanya dengan jelas. Sebab Nissa memang belum cerita.
"Iya. Fira yang memintaku untuk mendekati Mbaknya Steven demi menguras hartanya. Tapi aku sendiri baru tahu, kalau ternyata Mbaknya Steven adalah Nissa. Teman SMAku," ujar Tian pelan.
"Katanya kamu dan Fira sudah bercerai? Kok mau menuruti permintaannya?"
__ADS_1
"Saat itu belum. Aku dan Fira sedang proses persidangan sekarang. Dan benar apa yang Bapak katakan dulu, kalau Fira memang tidak benar-benar mencintaiku, Pak." Bola mata Tian tampak berkaca-kaca, dia menatap Angga dengan sendu. Tian tentu ingat, saat dulu berniat menjual Kevin, Angga pernah mengatakan hal itu sebab dia awalnya curhat.
"Memang, apa yang Fira lakukan sampai kamu berpikir dia nggak mencintaimu?"
"Fira selama ini banyak menuntut. Ya, aku akui ... sebagai seorang suami, tugasku adalah menafkahi dan memenuhi kebutuhannya. Tapi, apa yang aku berikan selalu kurang di mata Fira. Sampai akhirnya dia nekat mengancamku untuk mendekati Nissa, tapi dengan cara menguras hartanya. Dia bilang, kalau aku nggak mau menuruti permintaannya, dia mau pulang ke rumah orang tuanya sekaligus meminta cerai."
"Lalu?"
"Aku putuskan untuk menceraikannya. Dan membiarkan dia pulang ke rumah orang tuanya."
"Kenapa begitu? Bukannya kamu sangat mencintai Fira?"
Tian mengangguk samar. "Iya. Aku sangat mencintainya, Pak. Bahkan apa pun yang aku punya aku berikan. Sampai aku rela dililit hutang demi memenuhi permintaannya. Tapi, permintaan Fira yang satu itu terlalu berat untukku."
"Kenapa musti berat? Nissa itu hanya teman SMAmu."
"Karena aku mencintai Nissa sejak dulu, Pak. Tapi sayangnya aku nggak pernah berani mengungkapkannya." Tian menyentuh dadanya dengan tatapan kosong. Terasa berdebar di dalam sana. "Aku juga baru tahu kalau ternyata pernikahan Nissa hancur karena suaminya dulu menyakiti. Dan sekarang, aku nggak mau menyakitinya. Nissa terlalu cantik untuk disakiti, Pak."
Angga manggut-manggut. Kalimat terakhir Tian terdengar seperti sebuah gombalan.
Perlahan dia pun meraih secangkir kopi di atas meja, lalu menyesapnya. Dia sendiri baru sadar pesanan mereka sudah ada di atas sana entah sejak kapan. Keasikan ngobrol jadi tidak memperhatikan.
"Terus, apa keinginanmu sekarang terhadap Nissa? Terlepas dengan apa yang sudah terjadi," tanya Angga.
Tian membulatkan matanya. Merasa kaget dengan pertanyaan Angga. Apakah kalau dia mengutarakan isi hatinya, Angga akan menerimanya sebagai menantu? Itulah hal yang terlintas di otaknya saat ini.
"Sejujurnya, kalau boleh, aku ingin memilikinya, Pak. Aku mulai sekarang akan menabung untuk bisa menikahi Nissa dan setelah aku resmi menjadi duda ... aku akan menikahinya," ujar Tian dengan sungguh-sungguh.
...Boleh ga nih Opa?😢...
__ADS_1