
"Lha, apa hubungannya dikencingi sama kamu ada di dunia, Jun?" Wajah Nissa makin terlihat bingung, ucapan Juna benar-benar terdengar aneh.
"Ya ada, kata Opa ... dulu sebelum Juna lahir, Juna itu masih ada di tubuh Papi. Masih berupa air kencing. Terus air kencingnya dipindahkan ke Mami, supaya Mami bisa hamil Juna, terus melahirkan. Cara mindahin kencingnya bagaimana coba kalau bukan dari Papinya sendiri yang sengaja kencingi Mami? Mami ini nggak usah bohong deh, Juna tahu. Juna 'kan sudah dewasa!" tegasnya kesal. Dia pun melepaskan pelukan itu lalu mengusap air mata di pipi.
Nissa tercengang sesaat dengan apa yang didengar. Benar-benar Papanya itu berbicara dengan asal, jadi Juna menyalah artikan proses reproduksi.
Nissa hanya menghela napas, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak ada niat untuk menjelaskan, sebab bingung juga kalau Juna nanti akan meminta penjelasan.
'Papa benar-benar gila. Ngapain sih, segala cerita tentang Juna yang belum lahir. Mana pakai perumpamaan air kencing lagi, apa nggak geli, ya, kedengarannya?' batin Nissa.
*
*
Setelah bersiap, mereka pun menuruni anak tangga. Nanti setelah menjengkuk Tian, Juna juga sekalian pergi ke sekolah. Begitu pun dengan Nissa. Dia mengantar lalu ke restoran.
"Juna mau berangkat sekolah? Apa nggak kepagian?" tanya Citra. Dia baru keluar dari dapur dengan membawa segelas susu.
Juna menoleh ke kanan dan kiri, seperti mengamati situasi. Lalu menatap Citra dan berucap pelan, "Juna sama Mami mau ke rumah sakit, Tan. Jenguk Om Tian."
"Apa Om Tian sudah sadar?" tanya Citra.
"Sudah, tapi Tante jangan kasih tahu Om Steven dan Opa sama Oma, ya, kalau Juna dan Mami mau jenguk Om Tian," pinta Juna yang masih berucap pelan.
"Memang kenapa?"
"Nanti takutnya mereka marah, Juna dimarahi, Mami dimarahi."
"Tapi Tante ikut, ya? Tante juga mau ketemu Om Tian." Citra sudah melangkah hendak naik satu anak tangga. Akan tetapi dengan cepat Juna menahan ujung baju tidurnya.
"Jangan! Tante jangan temui Om Tian dulu. Nanti Om Steven marah. Nanti saja kalau dia sudah keluar dari rumah sakit." Juna tak mau, jika nantinya Citra dimarahi Steven seperti saat makan malam yang membahas Tian. Dia paling tidak suka dan kasihan, jika melihat ada wanita yang dimarahi oleh suaminya. Juna merasa, seperti melihat Nissa yang sering dimarahi Papinya.
"Ya sudah, tapi Tante titip salam kepadanya. Nanti kamu sampaikan, ya?"
"Iya." Juna mengangguk cepat. "Juna mau susu dong, Tan, ini buat Juna, ya?" Menunjuk segelas susu yang Citra pegang.
"Jangan, ini susu Ibu hamil."
"Kalau Juna minum nantinya bisa hamil juga kayak Tante?"
__ADS_1
"Ya nggaklah. Juna 'kan cowok. Susu ini memang khusus buat ibu hamil. Bukan untuk anak kecil, Jun," jelas Citra.
"Juna udah dewasa, Tan. Udah gede."
"Udah, Cit, jangan dengarkan Juna. Kami berangkat dulu, ya?" Nissa memeluk tubuh Citra, lalu mencium keningnya.
Citra juga membungkuk untuk mencium kening Juna, lalu bocah itu mencium punggung tangannya. "Hati-hati Mbak, Juna."
"Iya." Nissa menjawab.
***
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Harapan. Nissa meminta antar sopirnya untuk menyetir mobil, juga membawa beberapa hal yang dia beli sebelum sampai di rumah sakit.
Juna meminta bubur ayam, jadi Nissa membeli tiga porsi bubur dan yang satunya untuk Tian. Juga dengan tiga susu putih.
Selain itu, Juna juga meminta untuk membeli satu parsel buah. Tapi Nissa membeli dua, sebab dia teringat dengan anaknya Mbah Yahya. Sekalian juga mau menjenguk, siapa tahu dia masih dirawat.
"Jun, jangan lari-lari!" tegur Nissa seraya mencekal lengan sang anak. Bocah itu terlihat tak sabar dan senang sekali, ingin segera bertemu Tian. Sampai saat tiba dia sudah berlari.
"Takutnya Om Tian keburu sarapan, Mi."
"Nggak—
Sejak semalam, dia menunggu Nissa dan Juna. Untuk segera datang menjenguk Rama yang sudah begitu tak sabar ingin pulang. Tapi ditahan-tahan oleh Mbah Yahya.
"Pagi, Om," sapa Nissa seraya tersenyum.
"Pagi. Om sejak tadi menunggu kalian, akhirnya kalian sampai. Ayok." Mbah Yahya langsung merangkul bahu Nissa, mengajaknya melangkah pergi. Namun dengan cepat, tubuh Juna berada di tengah-tengah mereka. Mencoba menghalangi.
"Ayok ke mana, Kek? Kakek jangan genit, ya, sama Maminya Juna!" tegas Juna sambil melotot. Lalu segera merangkul punggung Nissa. "Kakek inget umur, kan sudah tua!"
"Jun, jaga bicaramu!" tegur Nissa seraya menutup bibir Juna sebentar.
"Kan kemarin Mamimu bilang ingin menjenguk anak Kakek. Kamu juga harus bertemu dengannya. Dia sudah menunggu," jawab Mbah Yahya sambil mengusap lembut rambut bocah itu.
"Tapi aku dan Mami mau menjengkuk—"
"Kita ke kamar anaknya Kakek Yahya dulu sebentar, Jun," potong Nissa cepat. Dia merasa tak enak jika menolak atau mengulur waktu. Walau bagaimanapun Mbah Yahya itu teman Papanya, Nissa harus menghargai itu.
__ADS_1
"Tapi nanti Om Tiannya kasihan dong, Mi."
"Kasihan kenapa? Kita 'kan nanti menjengkuknya, tapi sekarang ke anaknya Kakek Yahya dulu."
"Tian itu siapa, Nis?" tanya Mbah Yahya. Kakinya melangkah bersama-sama menuju kamar inap Rama. Dilihat Juna seperti terpaksa sekali ikut dengan mereka. Wajahnya merengut.
"Tian itu temanku, Om. Dia yang kemarin habis dioperasi."
"Teman apa pacar?"
"Teman. Aku juga nggak punya pacar." Nissa menggeleng sambil tersenyum. Mbah Yahya menatap lekat bola matanya itu, memastikan jika Nissa jujur atau tidak.
'Bagus deh kalau belum punya pacar,' batinnya.
Ceklek~
Handle pintu itu dibuka, lalu Mbah Yahya mendorong pintunya untuk mereka masuk bersama-sama. Sopirnya Nissa juga ikut masuk.
"Ram ...," panggil Mbah Yahya pada sang anak. Pria itu tengah duduk selonjoran di atas kasur sembari menggambar desain gelang pada iPadnya. Dia memakai seragam pasien, dipaksa oleh Mbah Yahya.
Rama menatap ke arah mereka, lalu tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan Nissa. 'Apa dia yang namanya Nissa? Ternyata wajahnya jauh lebih cantik daripada di foto.'
"Selamat pagi," sapa Nissa dengan ramah.
Wajah wanita itu tampak berseri sekali lantaran senyuman yang terukir jelas. Namun, berbeda dengan Juna. Wajah bocah itu masih merengut, kedua pipinya sampai mengembung seperti balon.
"Pagi juga," jawab Rama.
"Dia yang namanya Nissa, Ram, dan ini Juna," ucap Mbah Yahya mengenalkan. Kakinya melangkah menghampiri Rama dengan Nissa dan Juna. "Dia anak Om, Nis, yang nomor dua. Namanya Rama." Sekarang dia mengenalkan Rama sembari menoleh sebentar kepada Nissa.
Mereka pun lantas berjabat tangan. Rama dapat merasakan betapa lembutnya telapak tangan Nissa.
'Serius Nissa ini janda? Tapi nggak kelihatan. Berapa umurnya kira-kira?' batin Rama.
"Hai Jun, kamu ganteng banget, ya," kata Rama sambil tersenyum. Lalu mengusap rambut kepala Juna.
"Aku memang sudah ganteng sejak lahir, Om," jawabnya dengan pede. Dia pun memperhatikan wajah Rama yang tampak tak asing dalam penglihatannya. "Kayaknya aku pernah ketemu sama Om deh," ujar Juna mengingat.
"Masa sih? Kapan?" tanya Rama penasaran.
__ADS_1
...Guys, tolong bantu vote novel ini biar Author menang dan lebih semangat update 🙏...