
"Mami!" seru Juna seraya berlari menghampiri Nissa yang berdiri di depan mobilnya, pada halaman sekolah.
Wanita itu datang untuk menjemputnya pulang dan sekaligus ingin mampir ke rumah Tian, memberikan uangnya yang sempat tertinggal.
Alamat rumah Tian sendiri Nissa tahu dari surat lamarannya.
"Tumben Mami nyetir sendiri? Sopir Mami ke mana?" tanya Juna saat diajak masuk ke dalam mobil, lalu duduk di sampingnya.
"Lagi pengen aja, Jun." Nissa menancapkan gasnya, lalu mengemudi. "Oh ya, tadi Mami ke mini market, beli susu kotak untukmu." Menunjuk plastik putih yang ada ditempat duduk Juna.
Bocah laki-laki itu langsung mengambil dan meminumnya. "Mami, kan hari ini Juna nggak ada PR, jadi habis makan dan ganti baju ... Juna mau main ke kantornya Om Tian, ya? Sama Kevin juga."
"Mau ngapain?" Nissa menoleh sebentar ke arah Juna. "Lagian, Om Tian itu nggak punya kantor sekarang, Jun."
"Kata siapa Om Tian nggak punya kantor? Om Tian sendiri yang ngomong kok pas kita nonton, dia mau mengajakku ke kantornya, Mi."
"Tapi kata Om Steven, dia sudah nggak punya kantor, Jun."
"Masa, sih?" Juna tampak tak percaya. "Jadi maksud Mami, Om Tian bohong sama Juna?"
"Nanti kamu tanya langsung saja padanya, saat kamu bertemu." Nissa menggerakkan dagunya ke arah samping. Mobil berwarna silvernya itu telah berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah. Kebetulan gerbangnya terlihat tak dikunci dan terbuka sedikit.
Juna menatap ke arah rumah tersebut dengan kening yang mengerenyit. "Ini rumah siapa, Mi? Bagus."
"Rumah Om Tian." Nissa mengambil amplop di dalam tasnya, lalu memberikan pada Juna. "Sekarang kamu turun dan temui dia, nanti berikan ini padanya. Bilang ini uangnya yang tertinggal di restoran."
"Kenapa nggak sama Mami? Kita temui Om Tian sama Mami saja."
Nissa menggeleng. "Kamu saja, Mami mau menyuruhmu. Tapi jangan lama-lama. Setelah kamu berikan uang ini dan bertanya tentang kantornya ... kamu langsung ke sini, ya? Mami tunggu disini." Mendekat, lalu mengecup puncak rambut anaknya. Nissa juga melepaskan tas ransel yang ada di punggung Juna sejak tadi.
Juna menurut, gegas dia pun turun dari mobil dan masuk ke dalam gerbang. Segera, dia berlari menuju pintu utama rumah itu.
Nissa hanya menatap punggung kecil anaknya, sambil memperhatikan sekitar rumah yang terlihat sepi itu. Namun ada mobil putih Tian di halaman sana.
'Kok rumahnya Tian sepi banget, dia tinggal sama siapa di rumah kira-kira selain istrinya? Ah ... tapi dia bilang 'kan ingin bercerai, berarti sudah nggak ada istrinya di rumah dong, ya.' Nissa mendadak teringat ucapan Tian kemarin, saat pria itu mengatakan kata terima kasih. 'Oh ya, kenapa dia kemarin mengatakan karena aku dia tahu istrinya nggak mencintainya? Memang apa yang aku lakukan?' Kening Nissa mengerenyit, bertanya-tanya sendiri. 'Tapi perasaan aku nggak ngapa-ngapain deh.'
Pintu itu baru saja hendak diketuk sebab jarak belnya terlalu tinggi, namun tiba-tiba seseorang membuka pintu tersebut dan Juna pun langsung menatapnya.
__ADS_1
Dia adalah Tian. Pria itu memakai sarung dan kaos putih polos dengan membawa ember kecil yang berisi air.
"Eh Juna, kok kamu ada di sini?" tanya Tian yang tampak kaget, namun dia langsung mengulas senyum dan mengelus rambut kepalanya. Ember yang dia pegang langsung dia turunkan.
"Iya, Om. Aku ke sini sama Mami." Juna memutar kepalanya, menunjuk ke arah luar gerbang. Mata Tian pun ikut mengarah ke sana dan langsung berbinar.
"Oh begitu, ya sudah, ayok masuk ke dalam." Tian melebarkan pintu rumah. Baru saja kakinya hendak melangkah menuju gerbang, ingin menemui Nissa, namun ucapan Juna menghentikan langkah kakinya.
"Mami mau nunggu di mobil saja katanya, Om."
Tian langsung menoleh ke arah Juna, hatinya yang sempat berbunga itu kini berubah menjadi keruh. Wajahnya sendu. "Kok begitu? Kenapa nggak masuk saja?"
"Nggak tahu." Juna menggeleng. "Sudah biarkan saja, Om. Aku mau ngobrol sama Om, boleh aku masuk ke dalam?" Juna merasa penasaran, ingin melihat rumah Tian bagian dalam.
"Tentu boleh, ayok." Tian merangkul bahu kecil Juna, lalu mengajaknya masuk. Namun pintunya sengaja dia buka. 'Kenapa Nissa menunggu di mobil? Apa dia nggak mau bertemu denganku lagi?' batin Tian sedih. 'Apa sampai sekarang kamu juga masih kecewa padaku? Maafkan aku, Nis.'
Juna menatap sekeliling rumah itu, rumah Tian tampak rapih dan wangi. Namun begitu sepi.
"Ke mana keluarga Om yang lain? Kok sepi?" Juna duduk di sofa ruang tamu.
"Om hanya tinggal sendiri di sini, Jun. Oh ya, kamu mau minum apa?"
"Sebentar, tunggu, ya." Tian tersenyum lalu melangkah pergi. Tak berselang lama, dia pun kembali bersama Kevin yang tengah berdiri di bahunya.
"Kevin. Kok kamu ada di sini?" Juna tampak terkejut sekaligus tak menyangka. "Opa nyariin kamu nggak nanti?"
"Kamu juga kenapa ada di sini? Nanti Mbak Nissa mencari." Kevin berbalik tanya. Dia pun duduk di sebelah Juna.
Setelah menaruh segelas susu itu di atas meja, Tian pun duduk di samping kiri Juna. Bocah laki-laki itu berada di tengah.
"Ayok diminum, Jun."
Juna mengangguk, dia langsung meraih gelas itu, lalu menenggaknya hingga tersisa setengah.
"Kok nggak ada cemilannya, Om? Masa orang bertamu dikasih minum doang?"
"Om nggak ada stok cemilan. Kamu mau apa memangnya? Biar Om beli dulu." Tian langsung berdiri.
__ADS_1
"Nggak usah deh, nanti kelamaan. Ini, aku mau kasih ini saja." Juna mengulurkan tangannya, memberikan amplop yang sejak tadi dia pegang. Pria itu tampak mengerutkan keningnya, sepertinya dia lupa, amplop apa itu.
"Apa ini, Jun?" tanya Tian seraya mengambil amplop.
"Kata Mami, itu uang Om yang tertinggal di restoran. Jadi Mami menyuruhku memberikannya kepada Om."
Perkataan Juna langsung membuat Tian teringat, akan dimana dirinya dipecat. Perlahan dia pun duduk kembali di samping bocah itu, lalu menaruh amplop tersebut di atas pahanya.
"Ini untukmu saja, Jun."
"Kok untukku? Ini 'kan uangnya, Om."
"Iya, tapi nggak apa-apa. Untuk kamu saja, untuk jajan." Tangan Tian terulur, lalu menyentuh punggung tangan Juna. Terasa lembut sekali kulitnya. "Jun, Om minta maaf ya, sama kamu."
"Minta maaf untuk apa?" Kening Juna mengerenyit.
"Kemarin, pas nonton, kamu 'kan minta Om untuk mengajakmu pergi ke kantor Om ... tapi kayaknya Om nggak bisa mengajakmu."
"Nggak bisa kenapa?" Apa yang dikatakan Tian adalah apa yang ingin Juna tanyakan. Tetapi, bocah itu sengaja berpura-pura tidak tahu, sebab penasaran dengan jawaban Tian.
"Kantor Om sudah beberapa bulan yang lalu bangkrut, disita bank." Tian memberanikan diri untuk bicara terang-terangan meskipun sejujurnya dia malu.
Untuk apa lagi dia berbohong. Toh, menurutnya, Nissa juga sudah tak bisa dia dapatkan.
"Jadi waktu itu Om bohong sama aku? Tapi kenapa, Om?"
"Karena Om malu." Tian tersenyum sendu.
"Malunya kenapa? Om 'kan pakai baju."
"Bukan masalah pakai baju. Tapi malu karena Om yang nggak punya apa-apa, tapi Om dengan nggak tahu dirinya menyukai Mamimu." Bola mata Tian tampak berkaca-kaca.
Dia kembali teringat saat dimana Juna bertanya, akan apa yang dia punya. Sampai berani menyukai Maminya.
Tian mengelus rambut kepala Juna dengan lembut. "Tapi kamu tenang saja ... Om nggak akan gangguin Mamimu lagi kok, apalagi menyakitinya. Itu nggak akan Om lakukan." Tian menggeleng samar, lalu menatap bola mata Juna yang begitu dalam menatapnya.
...***...
__ADS_1
...Author mau nanya nih, tolong dijawab, ya, kalau misalkan Author bikin cerita baru tokoh utamanya si Udin, kalian mau pada baca nggak? 🙈...