Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
395. Sepertinya aku kena pelet


__ADS_3

"Lho, Aa ... kenapa hidung Aa berdarah?"


Sedang sibuknya berimajinasi sembari membayangkan ketiak sang istri, Steven sampai tidak menyadari jika lubang hidungnya mengeluarkan darah segar.


Entah apa sebabnya, sehingga membuatnya mimisan.


"Lho, kok bisa aku mimisan, Cit?" Steven baru tahu saat menyentuh hidungnya dengan khayalan yang seketika menjadi buyar. Padahal dia sudah sempat membayangkan tengah menjilat ketiak istrinya, tapi belum bisa mengetahui rasanya.


"Aa sakit kepala nggak? Apa pusing?" Segera, Citra mengambil beberapa lembar tissue, lalu mengusap sembari menekan hidung Steven supaya menghentikan aliran darah yang keluar.


"Enggak kok." Steven menggelengkan kepalanya.


"Kalau Aa sakit, mending kita masuk aja ke rumah yuk, A. Kita nggak jadi berangkatnya." Citra sudah menarik tangan Steven untuk ikut turun dari mobil bersama, namun pria tampan itu justru menahannya.


"Kan aku udah bilang tadi, kalau aku enggak sakit atau pusing, Cit. Aku baik-baik saja."


Citra menatap wajah Steven dengan raut khawatir. "Baik-baik saja tapi Aa mimisan. Aku takut Aa pingsan seperti kemarin. Kan bahaya."


"Kemarin yang mana?"


"Yang waktu aku tawari susu."


Wajah Steven seketika merona, dan dia juga langsung mengingat momen itu. "Oh itu. Tapi pas itu memang kepalaku sakit, Cit. Kalau sekarang nggak. Jadi nggak apa-apa. Ayok kita berangkat saja, biar pulangnya nggak kemaleman."


Cekalan tangannya kepada Citra perlahan Steven lepas, lalu dia menyalakan kembali mesin mobilnya.


"Aa yakin ... jadi berangkat sama aku?" Citra terlihat ragu. Itu semua karena dia takut Steven kenapa-kenapa dijalan. Apalagi dengan keadaan sedang menyetir.


"Nggak apa-apa. Kamu pikir aku selemah itu, ya? Masa cuma mimisan aja kita nggak jadi berangkat. Kan kamu yang minta aku antar buat jenguk Kak Rama." Steven tak menggubris ucapan Citra, karena menurutnya sendiri—dia dalam keadaan baik-baik saja.


*


*


Meskipun Citra diawal tampak was-was untuk pergi bersama Steven, tapi akhirnya terlaksana juga. Hanya saja rencananya diubah, menjadi menjenguk Rama dulu, barulah ke restoran untuk makan malam.


Sebelum masuk ke dalam rumah sakit, keduanya membelikan buah tangan terlebih dahulu. Pada restoran dan toko terdekat sana.


"Sil ... bagaimana keadaan suamimu? Yang sabar, ya?"


Citra dan Steven langsung menghampiri Sisil. Perempuan sebayanya dan mertua perempuannya bernama—Yenny, tengah duduk bersama di depan ruang operasi.


Sebelumnya, Citra sudah diberitahu oleh Angga kalau Rama memang berada di sana untuk di operasi. Jadi itulah alasan mereka langsung ke sana.


"Citra!" Sisil segera berdiri saat sudah menoleh.


Dan melihat itu—Citra langsung memeluk tubuhnya, lalu mengusap punggung Sisil untuk mencoba menenangkan. Sebab raut wajah perempuan sebayanya itu tampak begitu sendu.


Citra dapat memahami dengan apa yang dia rasakan, karena dia juga pernah ada di posisinya.


"Yang sabar ya, Sil. Aku yakin ... Om Rama pasti kuat. Dia akan baik-baik saja."


"Amin ... terima kasih sudah datang ya, Cit," jawab Sisil dengan lirih dan tetesan air mata.


"Sama-sama."

__ADS_1


"Jadi benar, ya, apa yang dikatakan Rama ... kalau kamu nggak beneran meninggal, Stev? Cuma mati suri?" ujar Yenny yang menatap Steven dengan mata yang tampak berbinar. Dia pun berdiri, lalu mendekat dan perlahan menangkup kedua pipi pria berlesung pipit itu.


"Iya." Steven mengangguk, lalu tersenyum canggung dan mundur beberapa langkah supaya tangan Yenny terlepas dari pipinya. Sebab dia merasa risih, apalagi Yenny sedikit meremmas-remas pipi. "Tapi maaf, sebelumnya Tante ini siapa, ya?"


"Lho ... masa kamu lupa? Tante ini Mommynya Rama, Stev."


"Mommynya?!" Steven mengerutkan keningnya, lalu menatap lamat-lamat wajah dari Yenny. Dan mencoba mengingat-ingat sebentar. "Ooohh ... iya, Tante. Maaf, sempat lupa tadi." Sepertinya Steven sekarang ingat. "Tapi sepertinya ... sekarang Tante banyak berubah, ya?"


"Berubah gimana? Orang Tante masih cantik dan baik hati kok, Stev." Yenny pun menangkup kedua pipinya.


"Memang masih cantik, cuma agak kisut. Apalagi pipinya ... udah longsor, Tante," ungkap Steven dengan jujur.


"Aa! Jangan ngomong kayak gitu!" tegur Citra yang langsung menasehati. Dia juga merasa tidak enak pada Yenny, takut dia sakit hati dengan perkataan suaminya. "Tante ... maafin Aa Steven, ya, dia sedang mengalami amnesia. Jadi tolong dimaklumi kalau ada ucapannya yang terdengar nyelekit."


"Nggak apa-apa, Sayang." Yenny mengusap puncak rambut Citra, lalu tersenyum manis. "Tante memakluminya kok. Yang penting Steven sekarang terlihat sudah sehat dan segar."


"Terima kasih atas pengertiannya, Tante." Citra pun merelai pelukannya kepada Sisil, lalu mengambil parsel buah ditangan Steven dan juga beberapa paper bag kecil. "Aku bawakan buah dan cemilan, tolong diterima. Ada jus juga, Tan." Citra menyerahnya pada Yenny. Dan wanita paruh baya itu langsung menerimanya dengan senang hati.


"Duh ... repot-repot bener. Tapi terima ka ...." Ucapan Yenny seketika terhenti, kala tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang terbuka berasal dari ruangan operasi.


Ceklek~


Seorang dokter pria dengan pakaian operasi lengkap perlahan menghampiri mereka. "Apa kalian keluarga dari Pak Rama Ardiansyah?"


"Benar, Dok!" Sisil menjawab dengan cepat, lalu menyentuh dada. "Aku istrinya, Dok. Dan bagaimana dengan operasi Aa Rama? Apa lancar?"


"Puji Tuhan, Nona. Operasinya berjalan lancar. Hanya saja untuk saat ini, pihak keluarga harus bersabar."


"Bersabar?!" Yenny dan Sisil berucap bersama dengan kening yang sama-sama mengernyit. "Maksudnya gimana ya, Dok?" tambah Sisil bertanya.


"Sabar untuk pemulihannya, Nona," jawab Dokter sambil tersenyum. "Dan karena rambut Pak Rama cukup panjang dibagian belakang ... sehingga membuat saya kesulitan saat mengoperasinya, jadi saya terpaksa mengundulinya. Tidak apa-apa, kan, Nona? Bu?" Dokter itu menatap Sisil dan Yenny bergantian.


"Pak Rama akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Dan bolehkah saya minta ... Ayah dari Pak Rama untuk datang ke ruangan saya?" Dokter itu langsung menatap sekitar.


Pria yang ada di antara tiga perempuan di depannya itu hanya Steven, dan rasanya tidak mungkin jika pria itu adalah ayahnya Rama. Karena jika dibandingkan dengan Rama, wajah Steven sedikit lebih muda.


"Kebetulan Daddynya Rama sedang semedi, Dok," jawab Yenny.


"Semedi?" Kening Dokter itu terlihat mengerenyit. "Semedi dimana ya, Bu? Apa tidak bisa kalau suruh dia datang?"


"Di Banten, Dok. Tapi asistennya sudah menjemputnya ... paling sebentar lagi sampai."


"Maaf, Dok ...," kata Sisil yang mana membuat Dokter itu menatapnya. "Kalau boleh aku tau, kenapa, ya, Daddy diminta ke ruangan Dokter? Apakah ada hal lain yang dialami Aa Rama?"


Dokter itu menggeleng. "Tidak, Nona. Daddynya Pak Rama hanya diminta untuk mengisi beberapa data dan tanda tangan saja."


"Kalau diwakilkan sama aku bisa nggak, Dok? Soalnya takutnya suamiku lama." Yenny mengajukan diri.


"Tidak bisa, Bu. Karena ini harus dari wali Ayah kandungnya," jawab Dokter itu sembari menggelengkan kepala. "Saya tunggu sampai besok deh, nggak apa-apa. Kalau begitu saya permisi ya, Bu, Nona ... selamat malam."


"Selamat malam juga, Dok." Yenny, Sisil dan Citra menjawab secara bersamaan. Kecuali Steven yang diam saja.


Dokter itu pun melangkah pergi, berlalu meninggalkan mereka.


*

__ADS_1


*


*


Seusai dari rumah sakit, keduanya langsung pergi ke Restoran Nissa.


Mobil hitam milik Steven pun kini sudah terparkir rapih di parkiran khusus mobil. Lantas, keduanya itu keluar dari mobil secara bersama. Kemudian masuk ke dalam restoran dan terhenti pada salah satu meja yang sebelumnya sudah dipesan oleh Angga.


Suasana restoran itu juga cukup ramai, karena mungkin pas dijam makan makan.


"Lho, kok udah ada makanan sama minumannya, Cit?"


Steven tampak mengerutkan keningnya, lantaran bingung di atas meja itu sudah ada steak daging dan jus alpukat yang tersaji dengan rapih. Menu itu adalah menu yang sama, saat pertama kali mereka bertemu.


Citra yang mendapatkan ide, dengan meminta Angga untuk sekalian memesan menu tersebut malam ini saat keduanya akan pergi ke restoran, jadi masih terasa hangat. Yang tujuan utamanya adalah supaya Steven kembali mengingat momen bersamanya.


"Iya, A. Itu aku yang sengaja pesan. Biar kita langsung makan," ucap Citra, lalu menarikkan kursi untuk Steven duduk dan barulah dia duduk di depannya pada kursi satunya.


"Tapi aku malam ini lagi nggak kepengen makan steak, Cit." Steven menggeleng sambil mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi.


"Kenapa memangnya, A? Ini menu yang sama lho, dengan menu saat pertama kali kita ketemu."


Wajah senang Citra seketika berubah menjadi sendu, lantaran kecewa melihat Steven yang justru tak ingin makan steak pesanannya. Sekaligus pria itu juga sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda jika dia mengingatnya.


"Oh gitu. Ya sudah, aku makan sama itu saja deh." Sebenarnya ingin menolak, tapi entah mengapa Steven justru merasa tak tega. Raut sedih yang tergambar jelas diwajah cantik Citra membuat perasaannya tidak enak, sehingga dia tidak bisa menolak. 'Aku nggak tega lagi nolaknya, sepertinya aku kena pelet keteknya,' batin Steven.


"Aa inget nggak ... pas makan steak seperti ini?" tanya Citra saat baru memotong steak di atas piringnya. Kedua tangannya memegang pisau dan garpu.


"Inget apa?"


"Pas kita pertama ketemu ... aku grogi banget, A. Sampai-sampai steaknya terasa keras dan akhirnya terlempar ke arah Aa." Sembari bercerita Citra pun tertawa. Karena jujur saja dia membayangkan momen konyol itu, yang mungkin membuat Steven ilfil dihari pertemuan pertamanya.


"Terus, gimana reaksi aku, Cit?" tanya Steven sambil mengunyah potongan steak yang ada di mulutnya.


"Aa kaget. Aa juga sempat ketumpahan jus, karena awalnya steak itu mengenai jus dulu, baru kena Aa," jelas Citra.


"Oh ... jadi awal ketemu kita di restoran ini?"


"Bukan." Citra menggeleng.


"Di mana? Katanya tadi makan steak?"


"Iya, emang makan steak. Tapi bukan di restoran ini, A," jawab Citra. "Sebenarnya sih aku ada rencana mengajak Aa di restoran itu. Sayangnya ... penuh banget pengunjungnya. Sampai-sampai mau pesan meja pun nggak bisa. Jadi Papa ngusulin aku buat ngajak Aa makan di restoran Mbak Nissa."


"Ooohhh ...." Steven menganggukkan kepalanya. "Terus, dulu itu yang suka duluan itu siapa? Enggak mungkin aku, kan?"


"Memang bukan Aa. Tapi aku yang duluan." Citra tersenyum manis sambil mengunyah.


"Tapi kata Papa ... aku dulu cinta banget sama kamu. Kok bisa ya, Cit? Sedangkan kata kamu tadi ... kamu yang duluan cinta sama aku. Jadi yang bener siapa? Apa kamu bohong?" tanya Steven tak percaya.


"Dua-duanya bener kok, A. Awalnya memang Aa nggak suka sama aku. Tapi lama-lama suka."


"Kenapa bisa suka? Apa alasannya?"


"Kayaknya sih pas gara-gara aku ninggalin Aa, sekaligus minta cerai."

__ADS_1


"Ninggalin? Minta cerai?!" Mata Steven seketika membola, terkejut mendengarnya. "Lho ... katanya kamu yang suka duluan sama aku? Kenapa justru dulu kamu ninggalin aku dan minta cerai? Kok tega kamu, sama aku, Cit?" Dapat dia rasakan, dadanya sekarang berdenyut ngilu. Padahal diawal bertemu malam ini, Steven sudah ada niat ingin meminta cerai kepada Citra.


^^^Bersambung.....^^^


__ADS_2