Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Prolog


__ADS_3

Kehidupan itu penuh misteri, kita di pertemuan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak


pernah kita kenal dan kemudian menjadi sebuah keluarga. Kehidupan yang dulu


tidak pernah terbayangkan kini menjadi hidup kita.


“Sya…, gimana berangkat kuliah nggak?”


“Iya dong, satu jam lagi aku sampai!”


Gadis berhijab itu menempelkan ponselnya di daun telinga yang tertutup hijab, suaranya begitu lembut hingga siapapun yang mendengarnya akan betah berlama-lama


untuk mendengarkannya.


Gadis berhijab itu terus berjalan dengan langkah ringannya, ia menyusuri jalan


setapak untuk sampai di depan jalan raya, ia selalu berdiri di sana untuk


menunggu angkot. Supir angkot sudah sangat hafal dengan gadis lembut itu, tak


perlu melambaikan tangannya angkot sudah langsung berhenti.


“Ke kampus neng?”


“Iya pak!”


Tanpa aba-aba gadis itu masuk ke dalam angkot dan duduk di tempat duduk yang panjang saling berhadapan itu, kursi yang membelakangi jendela, kebetulan angkot masih


sepi, hanya ada dua orang di dalam sama, kini menjadi empat karena di tambah


dirinya dan seorang pria berpeci yang tiba-tiba saja ikut masuk bersamanya.


Gadis itu menggeser duduknya, merapat pada seorang ibu yang sedang membawa


sekeranjang belanjaan sepertinya baru saja dari pasar, sedangkan pria berpeci


itu duduk tepat di hadapannya, pria itu terus menundukkan pandangannya,


wajahnya begitu sejuk dengan kemeja koko-nya tampak santun dengan al-Qur’an


kecil di sakunya dan tas ransel di punggungnya.


Tidak ada percakapan selama dalam angkot kecuali suara teriakan kenek yang mencari


penumpang. Gadis berhijab itu terus menatap ke luar jendela menerabas pria


berpeci itu, menikmati suasana kota Surabaya di pagi hari.


Setelah berada di dalam angkot selama setengah jam akhirnya angkot berhenti juga di


depan kampusnya, ia segera turun dari angkot dan menyerahkan selembar uang lima


ribuan. Tapi tak di sangka ternyata pria berpeci itu juga ikut turun dan


melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh gadis berhijab itu.


“Mas juga belajar di kampus ini ya?” tanya gadis itu setelah angkot meninggalkan


mereka. Pria itu tersenyum, senyumnya begitu sejuk hingga siapapun yang akan


melihatnya merasakan kesejukannya.


“Iya …, adek belajar di sini?”


Gadis itu mengangguk dengan senyumnya selalu mengembang di setiap kesempatan.

__ADS_1


“Saya duluan ya …, assalamualaikum!”


“Waalaikum salam!”


Gadis itu adalah Aisyah Ratna, ia mempersilahkan pria itu untuk berlalu lebih dulu, tapi pesona pria itu


masih tertinggal di sana bersama kenangan yang di ingat oleh gadis itu.


“Semoga kelak allah mengirimkan iman sepertinya!” doa gadis itu sambil menatap


punggung pria yang telah menjauh darinya.


Aisyah melanjutkan langkahnya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari garis


bibirnya. Langkahnya begitu lembut bahkan debu pun tak akan bergoyang saat ia


lalui.


Tujuan utamanya saat ini adalah ke majelis pengajian yang rutin di adakan setiap hari


jum’at. Jika tidak ada kegiatan Aisyah selalu aktif mengikutinya. Ia sudah


duduk di salah satu bangku yang berada di depan masjid kampus.


Tangannya mulai membuka buku yang selalu ia bawa, buku pemberian seseorang yang begitu ia sukai Muhammad: A Prophet for Our Time by Karen Armstrong. Rasa cintanya pada Nabi Muhammad membuatnya mendapatkan hadiah buku itu.


“Assalamualaikum, sya!” tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya, gadis yang tibak biasa berhijab itu kali ini mengenakan hijabnya walaupun tidak sempurna, hanya jilbab segi


empat yang di lipat dan di lilitkan begitu saja menutup kepalanya.


“Waalaikum salam …, Bianka, kamu di sini juga?” tanya gadis itu heran. Tidak biasanya


temannya itu suka datang ke majelis pengajian.


“Iya…, aku ingin melihat salah satu idolaku!”


“Ini lebih tampan dari artis kepop, ketampanannya sampai ke surga dan sepertinya ia termasuk titisan penghuni surga.”


“Siapa?”


“Kamu tidak tahu ya kalau gus Fahmi yang ngisi materi hari ini?”


“Gus Fahmi?”


“Iya gus Fahmi, putranya kyai Abdul Hamid pemilik pondok pesantren Nurul Huda!”


“Sebegitu tampannya ya …, hingga membuat sahabatku ini berpindah haluan yang biasanya


suka nongkrong-nongkrong di kafe sekarang mendatangi majelis pengajian!”


“Sangat sangat sangat tampan …., tampannya sebelas dua belas dengan nabi yusuf. Nanti


kalau kamu lihat sendiri kamu pasti juga akan terpesona!”


“Ya sudah lah kita masuk saja, sepertinya pengajiannya sudah akan di mulai!”


Mereka pun membaur bersama anak-anak yang lainnya, memasuki majelis dan duduk bersama


mereka.


“Pantas aja hari ini yang meramaikan ukhti semua, ternyata pematerinya cowok ya!” ucap


gadis berhijab itu.


“tentu saja …, siapa juga yang nggak kenal sama gus Fahmi!”

__ADS_1


Setelah semuanya masuk, seorang pria masuk melalui pintu depan bergabung dengan


beberapa orang yang duduk berjejer di depan, Mc, pembaca Al-Qur’an, dan pria


itu.


Gadis itu, aisyah menutup mulutnya yang tidak sengaja terbuka karena terkejut saat


melihat pria yang sama yang ia temui di angkot. Pria itu masuk bersamaan dengan


sora sorai para ukhti menyambut kedatangannya.


“Aaaaa …, gus Fahmi …, gus Fahmi ….., gus Fahmi ….!” Hampir semua ukhti meneriakkan


namanya, sekarang aisyah tahu jika pria yang bersama nya di angkot tadi adalah


gus Fahmi, pria yang menjadi idola ukhti-ukhti kampus.


“Masyaallah…, dia!”


“Kenapa Sya? Kamu mengenal gus Fahmi?” tanya Bianka.


“Tidak tadi hanya tidak sengaja bertemu saja!”


Setelah semuanya kembali tenang, kini Mc sudah mulai dengan beberapa susunan acaranya. Kini giliran Mc memanggil Gus Fahmi sebagai pembicaranya kali ini.


“Assalamualaikum Gus fahmi!”


“Waalikum salam!”


“Nah pasti sudah tidak salah lagi kalau gus Fahmi ini di sebut sebagai idolanya para


Ukhti, dan untuk materi hari ini sangatlah cocok dengan fenomena anak muda jaman


sekarang, tentang cinta. Benar gus Fahmi?”


“benar sekali!”


“Ya sudah sekarang silahkan di mulai gus Fahmi, nanti akan ada sesi tanya jawab


ya!”


“Terimakasih atas waktunya, assalamualaikum semuanya. Mari kita belajar bersama sekarang


karena saya juga masih belajar di sini. Yang akan kita bahas adalah cinta dalam


fersfektif islam!”


“Siapapun pasti pernah merasakan cinta, karena semua pasti pernah merasakan yang namanya cinta atau jatuh cinta. …., cinta yang benar dan ada cinta yang salah …!”


“Nah untuk ukhti semuanya sehendaknya bijaklah dalam memilih laki-laki yang akan


menjadi imam mu kelak!”


“Nilailah laki-laki dari akhlak dan agamanya, bagaimana laki-laki yang kita nilai akhlak


dan agamanya baik. Lihatlah dia dari bagaimana kebiasaan sholat subuhnya dan


yang ke dua adalah dari bagaimana marahnya …., maka nanti kalian akan tahu


bagaimana dia akan mencintai kalian dan mencintai allah!”


Materi singkat itu begitu terasa jalan merasuk ke dalam hati dan perasaan Aisyah. ada


hal yang istimewa yang membuatnya tidak bisa melupakan kata-kata itu. Begitu

__ADS_1


istimewa hingga berada di dalam tempat yang begitu istimewa juga.


Bersambung


__ADS_2