
Gus Raka begitu senang saat mendapatkan ucapan terimakasih dari sang istri.
"Manis sekali dia!"
Ia pun segera kembali ke dapur, ia sampai lupa belum memanasi makanannya, Asna pasti akan lapar setelah mandi.
Setelah semuanya sudah siap, Gus Raka pun kembali ke kamar untuk memanggil Asna,
"Dek, ayo makan!" sebelum Gus Raka membuka pintu, Asna lebih dulu membukanya dari dalam.
"Mas, tadi maaf ya!"
"Maaf untuk kesalahan yang mana?"
"Kesannya banyak banget salahku, nggak jadi ah!" Asna berlalu begitu saja meninggalkan Gus Raka karena sebenarnya ia merasa malu dan menyadari kesalahannya yang entah di sengaja atau tidak, tapi ia sudah melakukan banyak sekali kesalahan.
Ia segera duduk di meja makan dan siap untuk makan, Gus Raka mengikutinya dan ikut duduk.
"Dek, kamu jangan suka ngambekan loh, nanti kalau cepet tua bagaimana?"
"Mas Raka aja yang baperan!"
"Kok jadi mas yang di salahin!"
Asna tidak lagi bicara, ia memilih diam dan makan. Ia sebenarnya bersyukur karena suaminya cukup sabar menghadapinya.
"Dek, Minggu depan Abizar mau ada olimpiade sains, dia ingin kamu hadir untuk menyemangatinya, kita hadir ya!"
Asna diam, ia meletakkan sendoknya, tidak berani menatap suaminya. Menghadiri acara itu berarti harus siap untuk bertemu dengan orang banyak, dan hatinya merasa belum siap saat ini.
"Dek, usahakan ya! Insyaallah semua akan baik-baik saja, kan ada mas! Abizar pasti akan sangat kecewa kalau kita tidak hadir!"
"Nggak tahu mas, kita bicarakan nanti saja!"
Srekkkk
Tiba-tiba Gus Raka menggenggam tangannya,
Aku tidak terkejut, aku benar-benar tidak pa pa di pegang mas Raka.
Asna merasa heran dengan dirinya sendiri, ia menatap tangannya yang di genggam sang suami.
__ADS_1
"Dek, jangan lama-lama ya mikirnya, kamu harus berusaha untuk melawan rasa takut kamu!"
"Mas, ini aku tidak pa pa loh kamu sentuh!" bibir Asna mulai tersenyum saat menyadari dirinya mulai nyaman berada di dekat sang suami.
Tadi pas belanja memang tidak sadar memegangi aku terus! Gus Raka tersenyum.
"Aku tahu, kamu tidak bisa jauh saat tidur, kamu selalu memelukku saat tidur! walaupun dalam keadaan sadar kamu menghidariku, tadi hati kecilmu mengatakan kalau kamu masih sangat mencintaiku!"
Asna melotot dan menarik tangannya agar lepas dari genggaman suaminya,
"Kamu kok ngomongnya nyampek situ sih mas! Nggak ada hubungannya!" Asna beranjak dari duduknya, "Aku sudah kenyang!"
Ia membawa piring kotornya ke dapur dan segera mencucinya, kemudian berlalu ke ruang keluarga, menyalakan tv dan membiarkan Gus Raka mencuci sendiri piring kotornya.
"Dia benar-benar, di kasih hati minta jantung!" gerutu Asna sambil mengambil camilan yang entah sejak kapan berada di situ. Sepertinya baru saja beli, mungkin tadi pas belanja.
Asna baru ingat dia tidak punya uang yang cukup untuk membeli keperluannya.
"Aku kenapa bisa nggak ingat sih? Masak aku mau minta papa sih!?"
Asna memang menyalakan tv nya, tapi saat ini pikirannya sedang tidak di sana, ia malah tanpa sengaja mengganti canel tv beberapa kali tanpa henti.
"Masak aku minta mas Raka! Aku kan belum bisa ngasih hak dia, masak aku berani-beraninya meminta hak ku sih, jangan sampai dia minta ganti ya nanti!"
Tanpa di sadari oleh Asna, Gus Raka ternyata sudah berdiri di belakangnya, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan beberapa kali menggelengkan kepalanya.
Hingga akhirnya Gus Raka membungkukkan tubuhnya dan meraih tangan Asna yang menggenggam remot hingga membuat Asna menghentikan jarinya yang terus meningkat tombol dengan asal.
"Dek, kalau mau aku bisa loh ngasih hak kamu!" Gus Raka berbisik di telinga Asna, wajah mereka begitu dekat sekarang, bibir Gus Raka tepat berada di telinga Asna, Asna menoleh sedikit saja sudah pasti mereka akan berciuman.
"Mas, apaan sih! Jangan gitu deh!"
"Kenapa? Aku nggak gigit kok!"
"Mas, kalau mas tetap begini aku teriak nih!" Asna benar-benar tidak berani bergerak saat ini.
Gus Raka tersenyum, ia sengaja menggoda istrinya, sebenarnya hanya trik saja supaya istrinya bisa lebih dekat lagi dengannya. Ia pun segera menjauhkan tubuhnya dan berjalan mengitari sofa lalu duduk di samping Asna, mengambil remote yang di bawah oleh Asna dan mengganti Chanel tv dengan siaran sepak bola kesukaannya.
"Kok di ganti bola sih mas, aku kan nggak suka!"
"Dari pada tv nya mubazir cuma di mainin aja, mending aku nonton bola!"
__ADS_1
Asna menatap suaminya yang sedang fokus menonton bola, sekarang sudah lebih dari jam sebelas malam. Seharusnya mereka sudah tidur, tapi mereka baru saja makan jika langsung tidur tidak baik untuk kesehatan.
"Mas, sebenarnya aku pengen belanja lagi, tapi_!" Asna tidak melanjutkan ucapannya. Rasanya sangat memalukan meminta pada suami yang haknya tidak di penuhi.
Gus Raka menoleh dan tersenyum lalu ia mengambil sesuatu di balik buku yang ada di atas meja,
"Ambil lah, ini untukmu, passwordnya tanggal pernikahan kita!" Gus Raka menyodorkan sebuah kartu, "Bawalah ini untuk keperluan kamu sehari-hari, isinya tidak banyak tapi insyaallah cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu!"
Sesaat sebelum menikah, Gus Raka sengaja membuat kartu ATM baru atas nama Asna, kartu itu sengaja ia pisahkan dari kartu tabungannya agar tidak bercampur antara nafkah untuk istrinya dan tabungan yang akan ia gunakan untuk membayar toko. Walaupun saat ini ia sedang ada masalah ekonomi, tapi dia tidak mau membebankan masalahnya pada Asna, ia ingin hak Asna sebagai seorang istri tetap terpenuhi.
Asna mengambil kartu itu lalu kembali menatap suaminya, "Tapi aku nggak perlu ini, aku hanya ingin pinjam uang saja sama mas!"
"Memang ada istilah pinjam meminjam dalam suami istri, kamu tahu nggak kalau ada ulama mengatakan harta suami adalah harta istri sedangkan harta istri adalah harta istri, jika pun kamu nanti mampu mencari uang lebih banyak dari aku, aku akan tetap memberikan hak kamu ini!"
"Aku jadi nggak enak!"
"Kalau kamu nggak enak, bisa deh mulai nyicil dari malam ini!" ucap Gus Raka sambil tersenyum.
Asna mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan suaminya itu, "Aku mana punya uang untuk menggantinya malam ini!"
"Siapa juga yang minta uang!?"
"Trus apa dong?"
"Hak ku sebagai seorang suami!"
plekkk
Tiba-tiba bantal sofa melayang di wajahnya, "Jangan harap ya mas, ingat perjanjian kita!"
"Ingat, hanya sampai kamu siap kan? Sekarang sudah siap belum!"
"MASSS!" Asna benar-benar melotot kali ini.
"Maaf, mas cuma becanda!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...