Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (3)


__ADS_3

Beberapa dokter sedang melakukan penanganan intensif pada pasien yang sudah koma selama dua bulan itu, kini pria itu sudah di pindahkan ke rumah sakit umun dengan peralataan yang tentunya lebih lengkap.


Leon yang mendengar kabar baik tentang saudaranya segera menuju ke rumah sakit, sebenarnya Nisa ingint ikut tapi untuk sementara waktu Leon tidak mengijinkannya.


Hingga sesemapai di rumah sakit, kedatangannya langsung di sambut oleh Bu Merry.


"Bagaimana keadaannya BI?"


"Dokter sedang mengecek semua syarafnya, semoga tidak ada yang serius!"


Leon pun memilih menunggu di luar bersama bi Merry dan tidak berapa lama Alex pun datang,.


"Bagaimana?"


Bu Merry pun mengatakan seperti apa yang di katakan pada Leon tadi dan tidak berapa lama dokter yang bertugas menangani Gus Raka pun keluar.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Alhamdulillah, apa yang kita khawatirkan tidak terjadi! Seluruh sistem sarafnya berfungsi dengan normal, dia bisa berbicara, mengingat dan berjalan seperti biasanya setelah mengalami fase pemulihan."


"Alhamdulillah!" ucap Leon dan Alex bersamaan, "Apa kamu bisa melihatnya?"


"Bisa tapi jangan lama-lama, biarkan dia banyak istirahat untuk beberapa waktu ke depan!"


"Baik dok, kami mengerti!"


Akhirnya dokter tadi di susul oleh beberapa dokter lain yang juga keluar dari ruangan itu, mereka berjalan beriringan meninggalkan ruangan itu dan kini giliran Alex dan Leon yang masuk.


"Kamu saja dulu yang masuk, aku mau menghubungi keluarga angkatnya, mereka berhak tahu keadaan yang sebenarnya putra angkat mereka!"


"Baiklah!"


Akhirnya Leon masuk sendiri ke dalam ruangan itu.


Sebenarnya selain itu memang Alex sengaja memberi kesempatan pada Leon untuk berdua saja bersama dengan saudara kembarnya, mereka pasti ingin meluapkan rasa rindunya.


Leon masuk, kedatangannya langsung di sambut senyum tipis oleh pria yang aensag terbaring lemah dia tas tempat tidur dengan beberapa alat yang masih terpasang di seluruh tubuhnya.


"Kamu sudah baik-baik saja?" Leon benar-benar tidak bisa berbasa-basi. Pria itu duduk di samping saudara kembarnya itu.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Gus Raka dengan suara yang masih terdengar berat, "Terimakasih ya!"


"Memang apa yang aku lakukan hingga berterimakasih padaku?"


"Kamu terus memanggilku agar aku kembali! Apa semuanya sudah baik-baik saja?"


"Menurutmu? Kamu itu sudaj tidur terlalu lama, mau sampai kapan tidurnya, cepat bangun kalau kamu tidak ingin kehilangan semua pekerjaan kamu!"

__ADS_1


Gus Raka kembali tersenyum, "Memang kamu sudah melakukan semua saranku?"


"Sudah, aku sudah membuat kamu di pecat dari kampus, tidak boleh ngajar di pesantren, kurang apa coba!"


Lagi-lagi Gus Raka tersenyum, ia menyukai sikap Leon yang seperti ini.


"Terimakasih ya!"


"Jangan berterimakasih terus, berterimakasihlah kalau kamu sudah bangun atau mungkin sebenarnya kamu harus minta maaf karena sudah membuatku khawatir selama ini!"


"Aku senang kamu khawatir!"


"Jangan mulai ya!"


Mereka terdiam, saling mensyukuri dalam hati dengan apa yang terjadi.


Setalah sepuluh menit dokter memintanya untuk keluar. Walaupun berat ia tetap meninggalkan ruangan itu karena memang sudah peraturan dari dokter. Itu semua juga demi kebaikan pasien.


Ya Allah terimakasih, engkau telah memberiku kesempatan kedua untuk hidup, aku ingin di hidup keduaku ini bermanfaat untuk orang lain.


Doa Gus Raka, tanpa sadar sudut matanya menitikkan air mata.


***


Di rumah sakit lainnya, terlihat gadis itu masih diam seribu bahasa, hanya sesekali sudut matanya mengeluarkan air mata.


Seperti tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh sang mama, Asna memilih untuk tetap diam dan menikmati kesedihan sendiri.


"Mama bingung harus bagaimana lagi sayang, bicara sama mama, kamu maunya apa?"


"Ma!" untuk pertama kalinya Asna berbicara setelah beberapa hari terdiam.


Gadis yang biasa ceria dengan gaya ceplas ceplosnya itu tiba-tiba terdiam seribu bahasa.


Mama Asna begitu senang karena akhirnya sang putri bicara juga.


"Iya sayang, kamu mau apa? Mama akan Carikan buat kamu!"


"Ma, Asna kotor! Mama jangan pedulikan Asna lagi! Mama pasti malu karena punya anak Asna!"


"Enggak sayang, mama nggak akan malu! Kamu tetap putri kesayangan mama dan papa sampai kapanpun!"


"Asna sudah membuat mama sama papa malu!"


"Enggak! Ini hanya musibah sayang, jangan mengatakan hal itu! Ini bukan salah Asna!"


Asna terus menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia bahkan sama sekali tidak mau menemui siapapun selain papa dan mamanya.

__ADS_1


Papa dan mama Asna sekarang lebih bisa legowo, ia tidak lagi menyalahkan Nisa, Leon ataupun Alex dengan apa yang menimpa putrinya tapi memang Asna sendiri yang tidak mau di temui oleh siapapun.


***


Dua Minggu kemudian akhirnya Asna pun di perbolehkan pulang begitu juga dengan Gus Raka.


Orang tua Asna mengajak Asna untuk pulang ke rumahnya bukan ke kos-kosan Asna.


Sesampai di rumah, Asna segera masuk ke dalam kamar dan tidak mau keluar kamar kecuali saat dia makan atau sholat, selebihnya ia lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar, hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apapun.


Ia bahkan tidak berani memengan benda tipis miliknya, semenjak kejadian itu ia bahkan membiarkan ponselnya mati karena kehabisan batrei. Ia sama sekali tidak berani menyalakan ponselnya.


Kabar buruk tentangnya sudah pasti sampai ke seluruh teman-teman nya, rekan kerjanya,


"Mereka pasti pura-pura bersimpati padahal niatnya ingin menertawakan keadaanku!" gumamnya kesal saat ia berniat untuk menyalakan ponselnya, lalu kembali ia urungkan. Ia hanya berniat untuk mengisi baterai nya saja.


Ia memilih kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menutup tubuhnya dengan selimut dan tidak ada niatan untuk pergi ke manapun.


Bahkan hal yang paling dia sukai pun ia abaikan saat sang mama mengajaknya.


"Asna sayang, mama mau belanja ke mall, ayo ikut mama, kali ini kamu boleh deh minta apa aja, papa nih yang ijinin!"


"Nggak sih ma, Asna di rumah saja, mama perginya sama Aslan atau sama Abizar!"


"Nggak enak nak kalau belanja sam a cowok, temenin mama ya!"


"Enggak ma!"


Mama Asna hanya bisa nyerah sekarang. Ia sebenarnya tidak benar-benar berniat untuk belanja, ia hanya ingin mengalihkan perhatian Asna agar tidak semakin terpuruk.


Asna malam menurut dan mengunci pintunya dari dalam, sekali lagi ia pasti akan memilih untuk duduk di sudut ruangan dan menangis. Tetap saja, meskipun dia berusaha keras untuk melupakan semuanya, malah rasanya semakin sakit saja.


"Aku benar-benar tidak berguna!" rancaunya di sela Isak tangisnya, hingga ia melihat sebuah later yang tergeletak di atas meja rias.


Tatapan Asna tertuju pada benda itu, ada dorongan kuat untuk mengambil benda tajam itu.


...Aku tak bisa terus hidup seperti ini. Tetapi aku tak bisa kembali ke tempatku semula. Terikat dengan ketakutan ini, bahwa aku takkan pernah menemukan sebuah cara untuk menyembuhkan jiwaku. (Evanescence – My Heart Is Broken)...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2