Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (49)


__ADS_3

"Sudah berlalu mas, dan Asna sekarang bahagia!" Asna memeluk sang suami dengan begitu erat hingga mereka jadi pusat perhatian karena berpelukan di depan umum.


"Memang ya anak muda jaman sekarang, suka nggak tahu malu!" bisik ibu-ibu yang melintas di samping mereka.


Asna yang mendengarkannya dengan cepat melepaskan pelukannya tapi Raka tidak membiarkan begitu saja, ia menarik kembali tubuh Asna.


"Kenapa di lepas?"


"Mas, dilihat orang!"


"Biarkan saja, mereka kan tidak mengenal kita!"


"Tapi mas_, lepasin dulu!" akhirnya Raka melepaskan pelukan Asna juga.


"Padahal aku masih ingin berlama-lama berpelukan!"


"Nanti saja di rumah!" bisik Asna dengan menjinjitkan kakinya agar bisa mencapai telinga sang suami.


"Aku tagih ya nanti!" goda Gus Raka sambil mencubit hidung sang istri.


Yang di goda kini tengah menyembunyikan wajah meronanya di balik bahu sang suami,


"Udah ah mas, ayo cepetan om sama Tante pasti sudah nungguin!" Asna sedikit mendorong bahu sang suami agar berjalan.


Mereka terus bergandengan tangan sambil memilih beberapa camilan dan juga kopi hangat untuk papa dan mama Nisa.


Setelah mendapatkan yang di cari, mereka segera keluar dan berjalan menuju ke tempat Nisa.


"Mas, aku sudah nggak sabar lihat baby kembar Nisa sama mas Leon!"


"Kalau nanti baby kita kembar, pasti juga akan lucu!"


"Mas_!" Asna segera mencubit pinggang sang suami.


"Aughhh sakit, sayang!" Raka pura-pura kesakitan sambil mengusap pinggangnya yang baru di cubit oleh Asna.


"Suka banget goda istri!"


"Cie yang sudah seneng jadi istri!" lagi-lagi Raka menggoda istrinya.


"Apaan sih mas!?"


Hingga candaan mereka terhenti saat hampir sampai di ruang operasi Nisa dan di sana sudah ada Leon juga.


"Mas, kayaknya operasinya udah selesai!"


Raka dan Asna pun mempercepat langkahnya dan menghampiri Leon serta kedua orang tua Asna.


"Bagaimana?" melihat kedatangan Raka, Leon pun segera memeluknya.


"Aku sekarang sudah jadi ayah!" sudut mata Leon terlihat berair karena haru bahagia, "Dua jagoan kecilku sudah lahir!"


"Alhamdulillah!" Raka mengusap punggung saudara kembarnya itu setelah Asna mengambil barang belanjaannya yang di bawa oleh Raka tadi.

__ADS_1


Orang tua Nisa pun tidak kalah bahagianya, meskipun ini bukan cucu pertamanya tapi ini cucu pertamanya yang lahir kembar.


Mereka harus menunggu hingga bayi di pindahkan ke ruang bayi dan Nisa di pindahkan ke ruang perawatan untuk melakukan pemulihan.


Leon menyuruh kedua orang tua Nisa untuk pulang dulu istirahat agar mereka tidak jatuh sakit karena menunggui Nisa semalaman.


Asna memilih melihat bayi Nisa yang sedang di rawat oleh para perawat. Sedangkan Raka menemani Leon yang sedang menunggu Nisa sadar karena masih dalam pengaruh obat bius.


"Le, apa pak Alex tidak kamu beritahu?"


"Nanti saja, mas Alex masih beberapa hari di sana, kasihan kalau mereka harus kembali ke sini! Nanti saja pas acara syukuran aku akan mengundang mereka!"


"Jika butuh apa-apa, kamu bisa menghubungiku!"


"Aku tahu! Oh iya, sebaiknya kalian pulang saja, kasihan Asna kalau semalaman di sini!"


"Asna belum mau, dia masih mau di sini!"


"Kalian bahagia?"


"Seperti yang kamu lihat!" Raka mengangkat kedua bahunya seolah ingin menunjukkan betapa bahagianya dia sambil tersenyum menatap istrinya yang asik berbicara Dengan bayi-bayi mungil yang ada di balik ruang inkubator.


"Sepertinya Asna sangat menyukai bayi, apa kalian sudah memproduksinya?"


"Bukan sudah lagi, hampir setiap hari!"


Leon begitu terkejut, "Secepat itu? Maksudku kamu tahu caranya?"


"Makanya belajar itu dari gurunya, jangan hanya dari buku!"


"Memang yang begituan ada gurunya?!" Leon menampakkan wajah kesal dan menyebarkannya. Wajah dingin yang selalu tidak mempan untuk saudara kembarnya itu.


"Kamu polos sekali, bapak yang polos!"


"Jangan mengejekku! Aku tidak suka ya, kau ini seolah-olah mengatakan kalau aku ini bodoh sekali!"


"Ya tipis-tipis!"


"Apanya yang tipis-tipis!"


"Pinternya, yang tebal bodohnya!" Raka mengatakan hal itu sambil tertawa, apalagi melihat wajah kesal sang adik kembarnya. Percakapan mereka sepanjang malam benar-benar berhasil menghilangkan rasa kantuk.


Hingga hampir dini hari barulah Leon tertidur di dalam ruangan karena menemani Nisa. Sedangkan Asna juga tertidur di samping Raka sambil duduk.


Raka dengan cekatan memindahkan kepala Asna di pangkuannya dan menaikkan kaki agar posisinya lebih nyaman. Beruntung dia memakai jaket, jadi ia gunakan jaket itu untuk menyelimuti tubuh Asna agar tidak kedinginan karena mereka tidur di luar ruangan.


"Mungkin memang sebaiknya kita segera mencetak anak!" ucap Raka sambil mengusap wajah tenang Asna yang tertidur. Sesekali Raka kembali tersenyum saat mengingat kembali percakapannya dengan Leon dan keinginannya untuk memiliki buah hati. Ia bisa membayangkan betapa lengkapnya kehidupan mereka nanti, saat pulang kerja ada langkah-langkah kecil yang menyambutnya di depan pintu sambil memanggilnya ayah. Dengan tangan-tangan mungilnya menarik jaketnya minta di gendong.


Hingga tanpa sadar ia ikut tertidur sambil menggenggam tangan Asna.


Samar-samar Asna mendengarkan suara azan, ia segera membuka matanya. Ia baru tersadar jika tertidur di pangkuan suaminya. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya dan melihat suaminya terlelap dalam posisi duduk.


"Kasihan sekali mas Raka!" ingin sekali menyelimutkan jaketnya tapi saat ia kembali teringat dengan suara azan, ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Pasti dia capek sekali sampai tidak mendengarkan suara adzan!"


Asna pun memutuskan untuk membangunkan sang suami.


"Mas, mas Raka, sudah subuh!" Asna menggoyang Pelang tubuh sang suami dan dengan sigap Raka membuka matanya walaupun mungkin baru setengah jam ia memejamkan mata.


"Ahh iya, ayo kita ke mushola!"


"Pamit dulu mas sama mas Leon, sekalian bangunin!"


"Iya!" Raka segera berdiri dan masuk ke ruangan Nisa, ia membangunkan Leon dan pamit untuk ke mushola.


...***...


Setelah agak siang, Raka dan Asna berpamitan untuk pulang karena kedua orang tua Nisa sudah kembali.


Raka hanya mengantarkan Asna dan mandi saja lalu kembali lagi untuk berangkat bekerja.


"Mas beneran nggak istirahat dulu? Mas Raka nggak tidur loh semalam!"


"Nggak pa pa, nanti di toko mas akan tidur sebentar! Soalnya hari ini jadwalnya pengiriman sebagian buku, nggak enak kalau ketunda karena mas!"


"Tapi hati-hati ya mas! Kalau asna_!" ucapan Asna terpotong karena Raka segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Asna.


"Jangan kemana-mana sendiri, nanti kalau mau ke mana-mana telpon mas!"


"Tapi mas, motor Asna masih di rumah sakit!"


"Nanti biar karyawan mas yang ambil, tapi nggak akan mas taruh di rumah lagi!"


"Kenapa?" Asna mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Takut kamu ilang!"


"Ihhhh, aku serius mas!"


"Aku juga serius, kalau kamu pergi-pergi sendiri, gimana kalau ilang? Aku nyarinya di mana?"


"Dasar posesif!"


"Soalnya istri aku cantik banget!"


Setelah berpamitan akhirnya Raka benar-benar berangkat dan meninggalkan Asna bersama mbak Rumi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2