
Asna akhirnya sampai juga di rumah kedua orang tuanya,
Aslan yang melihat kedatangan Asna segera menyambut ke depan,
"Assalamualaikum Aslan!"
"Waalaikum salam!" tapi Aslan masih mengedarkan pandangannya mencari sosok yang seharusnya berada di belakang kakak perempuannya, "Kak Raka mana kak?"
"Di rumah!"
"Kok nggak ikut?"
"Kakak sengaja mau ke sini sendiri!"
"Kok gitu sih kak!" Aslan terlihat kecewa, ia segera berbalik dan berjalan dengan langkah gontai, ia sudah berharap kakak iparnya itu ikut datang dan ia bisa cerita banyak.
Abizar yang sedang bermain dengan Shahia pun ikut melihat kedatangan Asna yang sendiri, Abizar memang tidak terlalu banyak bicara seperti Aslan jadi ia memilih memendam apa yang ingin dia tanyakan dari pada bertanya langsung pada kakak perempuannya itu.
"Shahia, ini mama ....!" Asna segera merentangkan tangannya dan putri kecilnya itu segera berdiri begitu saja meninggalkan mainannya tapi tetap saja, bayi cantik itu belum bisa melangkahkan kakinya dan langsung kembali terjatuh di tempat.
"Uhhhhhh, rindu ya sama mama?" Asna pun segera melempar tasnya asal dan meraih bayi mungilnya itu.
Mama Ayu yang baru saja dari dapur dan mendapati putrinya datang sendiri pun segera mendekati sang putri,
"Sayang, kamu tidak ada masalah kan sama suami kamu?"
"Nggak ada ma, tadi Asna memang sengaja mau ke sini sendiri!"
"Raka tidak marah?"
Asna hanya menggelengkan kepalanya dan kembali asik berbicara dengan putri kecilnya itu.
"Mandilah, sebentar lagi sholat ashar, biar Shahia sama mama!" mama ayu pun segera mengambil alih baby Shahia.
"Asna ke atas dulu ya ma!"
...***...
__ADS_1
Raka seperti biasa ia akan pulang setelah sholat isya',
"Biar aku antar ya Gus!?" Bilal yang melihat Raka berjalan sendiri pun menawarinya.
"Nggak usah, aku sengaja pengen jalan kaki buat sekalian olah raga!"
"Tapi ini malam loh Gus!"
"Nggak pa pa, kalau malam kan malah nggak panas! Sudah jangan khawatir, aku pulang dulu ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Raka pun pulang dengan jalan yang tidak secepat orang normal berjalan, beberapa kali ia berhenti untuk mengistirahatkan kakinya, ia memang membawa tongkat tapi sengaja tongkat itu tidak ia gunakan. Seharusnya hanya butuh waktu sepuluh menit dari rumah hingga ke masjid kini butuh waktu hampir setengah jam.
Akhirnya setelah perjuangan panjang, Raka sampai juga di depan pagar rumahnya. Ia menatap rumah yang masih terlihat gelap.
Hehhhhh ....
Raka menghela nafas, ia sudah bisa menebak jika Asna belum pulang. Raka pun segera membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Ia segera menyalakan lampu, rumah yang biasanya saat ia masuk ada suara tawa bayi kecil kini terlihat begitu sepi.
Ia yang biasanya mendengarkan betapa cerewetnya Asna tiba-tiba suara itu tidak ada. Ini baru saja beberapa jam saja, Raka sudah merasakan ada yang hilang dalam hidupnya.
Lagi-lagi Raka hanya bisa menghela nafas dan berjalan ke dapur, mengambil air minum dan mulai untuk makan malam.
"Dia pasti sudah makan di sana!" gumamnya saat ragu untuk menyantap makanannya.
Saat baru menyantap satu suapan saja, ia mendengarkan ponselnya berdering. Dengan cepat Raka kembali berdiri dan mencari keberadaan benda pipih itu yang ternyata sedang ia cas di samping meja tv.
Raka bisa melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Asna,
"Hallo assalamualaikum, Asna!" ia begitu senang Asna menelponnya.
"Waalaikum salam mas, mas Raka sudah makan belum?" tetap saja Asna tidak bisa mengabaikan suaminya.
"Ini baru saja makan, mbak Rumi sudah memasak makanan tadi sebelum pulang!"
"Syukurlah!"
__ADS_1
"Kapan pulang?"
"Maaf ya mas, kayaknya malam ini Asna tidur di rumah mama, kasihan Shahia kalau di ajak pulang, dia sudah tidur dan lagi pula malam-malam nggak ada yang ngantar, papa tiba-tiba ada kerjaan di luar kota!"
"Baiklah tidak pa pa, nikmati saja liburannya di rumah papa dan mama kamu, salam buat mereka!"
"Iya mas!" terdengar suara Asna kecewa, karena ternyata tetap saja suaminya belum mengenal papa dan mamanya begitu juga dengan dua saudaranya. "Ya sudah ya mas, mama manggil Asna, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Sambungan telpon terputus, tapi Raka masih enggan menggeser benda pipih itu dari telinganya. Dengan perlahan ia menurunkan ponselnya, mendengar Asna tidak pulang membuatnya merasa ada yang kosong.
Raka sudah tidak berniat untuk melanjutkan makannya, ia memilih. merapikan kembali tempat makannya dan berjalan menuju ke kamarnya.
Walaupun sudah satu jam merebahkan tubuhnya tapi tetap saja ia tidak bisa memejamkan matanya,
"Sebenarnya ada apa denganku?"
Raka pun kembali bangun, ia memilih keluar dan menonton tv. Tidak ada yang istimewa, walaupun sudah hampir tengah malam tetap saja matanya tidak bisa di pejamkan.
Hal itu ternyata juga di rasakan oleh Asna, niatnya untuk menghindari sang suami ternyata menyiksa dirinya. Ia tidak bisa memejamkan matanya, matanya terus menatap bayi mungil dengan wajah suaminya itu.
"Apa mama salah ya? Tapi mama sedang ingin memberi waktu untuk papa sayang, biar papa bisa mengenali kita!"
"Apa papa sudah tidur ya sayang?"
"Mama jadi khawatir!"
Asna berniat untuk menghubungi sang suami tapi kembali ia urungkan,
"Nanti mas Raka malah merasa terganggu!" Asna pun berusaha keras untuk memejamkan matanya walaupun itu sangat sulit.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...