Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Kenapa harus debat


__ADS_3

Alex masuk lebih dulu, tapi Aisyah segera berjalan mendahuluinya, membuat Alex menghentikan langkahnya lagi dan mengerutkan keningnya.


"Sekarang apa lagi?" tanya Alex dan Aisyah segera menoleh pada pria arrogant itu. Ia tersenyum seperti biasanya dan berlalu begitu saja.


Ternyata Aisyah berjalan terburu-buru karena ingin merapikan tempat tidur untuk suaminya. Alex hanya bisa diam mengamati betapa lincahnya wanita itu, seakan tidak punya lelah.


"Sudah siap!!!" ucap Aisyah sambil merentangkan kedua tangannya.


Kenapa dia menggemaskan sekali? Apa karena dia masih kecil, batin Alex sambil menatap wajah imut Aisyah,


Tidak ...., tidak ...., apa-apaan sih ini ....., menyebalkan sekali ....., batin Alex tapi tanpa sadar kepalanya menggeleng membuat Aisyah heran.


"Ada apa mas? Kenapa menggeleng? Apa ada yang kurang?" tanya Aisyah dengan begitu polosnya.


"Aaa ....., nggak siapa?!" ucap Alex menyangkal,


"Itu tadi Aisyah lihat!"


Alex pun melangkahkan kakinya mendekati Aisyah, sehingga mereka begitu dekat. Sangat dekat membuat Aisyah memundurkan langkahnya dan sekarang kakinya sudah mentok di tempat tidur tidak bisa mundur lagi.


“Makasih ya!” bisik Alex kemudian, hingga hembusan nafasnya menyapu pipi Aisyah. Membuat Aisyah terpaku, ia merasa semakin ke sini wajah pria di depannya semakin tampan saja hingga ia tidak mampu berpaling dari wajahnya.


Mata mereka saling bertemu, Alex seperti merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya setiap kali dekat dengan Aisyah. Perasaan yang lama hilang dari dirinya, bahkan mungkin selama ini hatinya terlanjur mengering tapi tiba-tiba saja ada hujan yang sedikit demi sedikit menetes di sana dan membuatnya kembali hidup.


"Mas ..., nanti jatuh! Kakinya kan masih sakit!" ucap Aisyah saat menyadari jika tubuh Alex belum bisa menopang tubuhnya dengan benar.


"Iiiissstttt!" decit Alex. Ucapan Aisyah benar-benar berhasil membuyarkan suasana, Alex segera menarik tubuhnya dari Aisyah dan ia pun memilih untuk duduk di samping Aisyah membuat Aisyah segera berdiri dari duduknya karena terlalu terkejut. Karena begitu dekatnya bahu mereka saling berhimpitan.


"Kenapa berdiri?" tanya Alex.


"Ya karena mas Alex terlalu dekat duduknya, nggak enak di lihat orang!"


"Emang siapa juga yang liat kalau di kamar pribadi gini!" gumam Alex lirih sambil memalingkan wajahnya agar Aisyah tidak bisa mendengarnya.


"Ya udah aku mau istirahat, sekarang lakukan apa saja yang ingin kau lakukan!" ucap Alex dan segera duduk berselonjor di atas tempat tidur dengan punggung yang bersandar sandaran tempat tidur.


Ia memainkan ponselnya dan sesekali melihat wanita yang sudah berstatus istrinya itu.


Aisyah bukannya meninggalkan suaminya itu, ia malah sibuk mengamatinya. Ia merasa ada yang berbeda. Karena terus di perhatikan membuat Alex salah tingkah sendiri.

__ADS_1


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Alex,


"Boleh nggak aku jujur mas?" tanya Aisyah. Bukannya ingin bohong tapi ia masih tidak terlalu berani terbuka pada pria yang sudah menikahinya itu mengingat betapa kasarnya dia.


"Kalau aku nanya, berarti jawab yang jujur!" ucap Alex yang di buat ketus.


"Kalau aku liat-liat, mas alex akhir-akhir jadi murah kata makasih ya!” ucap Aisyah, dan memberi jeda pada ucapannya, "Maksudku mas Alex lebih manis, tenang dan nggak gampang marah!"


Alex menatap Aisyah, sebenarnya ia senang dengan kata-kata Aisyah. Walaupun itu sebuah pertanyaan tapi isinya adalah pujian untuknya. Aisyah sudah mulai memujinya bukan terus menghakiminya seperti dulu.


Pengen banget sebenarnya bilang makasih karena sudah di puji tapi sifat bawaan Alex yang arrogant membuatnya begitu sulit berkata manis. Alih-alih mau mengucapkan terima kasih yang keluar malah hal lain.


“Protes aja, kasar salah. Sekarang aku berusaha buat manis juga salah! Emang ya wanita sulit di mengerti!” ucap Alex dengan nada arrogant nya yang khas.


"Mas .... , aku tanyanya baik-baik loh, lembut juga! Kenapa mas Alex nya nyolot sih!" ucap Aisyah kesal.


"Bukan nyolot, tapi aku bicara realitisnya, memang benar kan wanita itu makluk yang sulit di mengerti!? Trus kalau bosan tinggal pergi aja! Cuma bilang maaf! bulsitttt dengan kata maaf ...!" ucap Alex. Ia sudah terlalu banyak terluka dengan kata maaf.


Ibunya yang sengaja mengkhianati ayahnya juga cuma bilang maaf, Hanna melepasnya dengan kata maaf. Tapi maaf tidak bisa menyembuhkan apapun, hanya meninggalkan luka yang tertutup dengan rapi oleh plester maaf.


Sekarang Aisyah tahu apa maksud dari ucapan suaminya itu. Tanpa sadar ia sudah membuka luka lama,


"Sudah cukup! Aku mau tidur!" ucap Alex berusaha mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa ia selalu saja mengaitkan segala sesuatu dengan luka lamanya.


“Mas .....! Wanita itu nggak semuanya seperti yang mas kenal!” teriak Aisyah. Membuat Alex kembali menatapnya.


“Apa maksudmu?” tanya Alex.


"Mas, tidak semua wanita itu mas! Mungkin sebagian wanita akan dengan mudah melepaskan apa yang dia punya dan meninggalkan luka bagi orang yang di cintainya


tapi sebagian lain lebih memilih bertahan walaupun tidak semuda jalan tol!”


"Terserah lah ....!" ucap Alex, tapi Aisyah tidak mau menyerah untuk meyakinkan pada pria itu jika semua akan membaik dengan berjalannya waktu.


Aisyah memilih kembali duduk dan meraih tangan Alex, membuat Alex terkejut dan hampir menarik tangannya. Tapi saat menatap mata Aisyah, ia membiarkan tangan itu berada dalam genggaman wanita itu saat melihat mata tulus wanita itu.


"Aku Aisyah mas, istri mas Alex! Genggam Aisyah seperti Aisyah menggenggam tangan mas Alex saat ini, maka aku tidak akan meninggalkanmu!"


"Sudah terlalu banyak luka yang kamu hadapi mas, Allah pasti akan menggantinya dengan kebahagiaan!" ucap Aisyah lagi. Alex hanya bisa diam mencerna ucapan wanita yang sudah ia nikahi hampir setengah tahun itu.

__ADS_1


Aisyah pun melepaskan tangan Alex dan berdiri, “Ya udah mas, aku mandi dulu …!” ucap Aisyah lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


Alex masih terbengong di tempatnya, begitu banyak yang Aisyah ucapkan.


“Apa maksud gadis itu?”


***


Di tempat lain, gus Fahmi yang sudah menyelesaikan muroja'ah nya dengan sang abi, gus Fahmi segera menemui abi dan uminya di ruang keluarga. Ia duduk di depan abi dan uminya di sofa yang terpisah. Abi nya sedang membaca buku sedang uminya menonton televisi.


“Umi, abi …, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama abi dan umi!” ucap gus Fahmi membuat kedua orang tuanya itu menoleh pada gus Fahmi.


"Mau membicarakan apa, nak?” tanya Kyai Hamid, ia menutup buku yang sedang ia baca dan memperhatikan apa yang akan di bicarakan putranya itu. Bu Nyai Sarah pun melakukan hal yang sama, ia mengecilkan volume televisi nya dan memperhatikan putra semata wayangnya itu.


“Teman Fahmi sedang dalam kesulitan, abi, umi!”


"Lalu?”


“Fahmi menawarinya untuk tinggal di pesantren, supaya ia aman dari orang-orang jahat itu, itupun kalau abi dan umi mengijinkan!”


“Lalu, temanmu mau?”


“Iya, untuk itu Fahmi minta ijin sama abi dan umi dan sekalian biar dia belajar agama di sini!”


“lalu apa masalahnya?” tanya Bu Nyai Sarah.


"Dia perempuan, Abi, umi! Apa abi dan umi tidak keberatan? Dia juga belum pakek hijab!” ucap Gus Fahmi lagi membuat abi dan uminya menatap gus Fahmi.


“Besok bawalah dia ke sini, biar umi bicara padanya!” ucap Kyai Hamid.


Gus Fahmi tersenyum, “jadi abi setuju?”


“Iya!” jawab sang abi.


“makasih ya abi, umi!” ucap gus Fahmi, Ia begitu senang sekaligus lega.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2